Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 24


__ADS_3

Disti berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Shan. Raut wajahnya sangat serius dengan kaki yang mengentak keras. Di depan ruangan Shan terlihat Reno sedang berbicara dengan ponsel berada di telinganya.


Samar-samar terdengar ia menyebut nama Mentari. Kelihatannya Reno tengah kesusahan dengan wanita yang meneleponnya itu.


Disti menepuk punggung Reno dan ia pun berbalik. " No..." Disti mengisyaratkan untuk tidak berbicara lalu mengambil ponsel yang ada di tangannya.


" Apa kamu mencari Shan? Oh...sayang sekali Shan tidak ada."


" Disti."


" Hm iya, ini aku."


" Disti, katakan padaku di mana Shan. Sejak semalam aku meneleponnya tapi ia tidak merespons."


" Mungkin dia sedang sibuk."


" Sesibuk apa sampai dia tidak merespons teleponku."


" Wah, kamu pikir kamu siapa! Mengharapkan sesuatu yang tak mungkin kamu dapatkan, bangunlah dari mimpimu itu."


" Apa maksudmu!"


" Shan sedang sibuk dengan istrinya. Honeymoon, kamu tahu kan kalau pasangan pengantin baru, hot..." Disti mulai memanaskan pembicaraan.


" Pengantin baru apa, apa kamu sedang mabuk saat ini."


" Wah, bukankah Reno sudah memberitahukan padamu kalau Shan sudah menikah. Sampai kapan kamu mengabaikan fakta ini."


" Aku tidak percaya dengan ucapanmu atau pun Reno, kalian hanya ingin menjauhkan Shan dariku."


Tut!


" Dasar tidak waras, tidak sopan," gerutunya karena sambungan telepon itu tiba-tiba mati.


" Nona, apa saya harus memberitahukan pada tuan Shan kalau Nona Mentari menelepon?"


" Tidak perlu, jangan melakukan hal yang tidak penting."


" Baiklah."


Disti kembali ke ruangannya setelah melakukan hal yang di anggapnya sangat penting. Menjauhkan Mentari dari Shan, ia tak ingin Mentari mengganggu hubungan Shan dan Anin yang kini sudah resmi menjadi pasangan suami-istri.


Dia ingat betul bagaimana wanita itu selalu membuat masalah untuknya, Shan dan Adrian. Hal fatal yang pernah ia buat dan sampai sekarang tak akan ia lupakan adalah saat dimana Mentari berniat menggoda Adrian. Entah apa yang ada di pikirannya itu hingga semua lelaki ingin ia genggam walaupun ia tahu lelaki itu sudah berumah tangga.


Disti sangat puas sudah membuat perhitungan dengannya. Mentari pun sangat takut dengan sikap Disti yang terkesan bar-bar itu. Terakhir kali mereka bertemu Mentari harus meminta perlindungan pada Shan karena sikap Disti yang tidak bersahabat.


" Kenapa wanita itu selalu saja membuatku kesal. Apa tidak bisa dia tidak mengganggu kehidupan yang tenteram ini, dasar menyebalkan!!!"


" Apa yang terjadi denganmu?" tanya Shan yang terkejut dengan ucapan Disti yang mengagetkan itu.


" Sejak kapan kamu di situ?" tanyanya heran karena Shan tiba-tiba saja muncul.


" Sejak kamu mengutuk seseorang, “jawabnya asal.


" Cihhh...". Disti tersenyum menyeringai. " Kenapa kamu ada disini? tidak ada acara bulan madu atau apa pun itu."


" Tidak ada."


" Kenapa? Apa kamu takut perusahaan mu ini bangkrut karena ditinggal oleh pemiliknya."

__ADS_1


" Ya!"


" Wah, mood mu sedang tidak baik ternyata. Ada apa? gagal malam pertama?"


" Kenapa setiap perkataan yang keluar dari bibirmu itu selalu membuat orang tercengang, ha!"


" Tapi aku tidak salah kan?"


" Kapan kamu salah."


" Aisssh."


" Apa tadi Mentari meneleponmu?"


" Tidak."


" Benarkah?"


" Untuk apa dia meneleponku, memangnya hubungan kami se harmonis itu. Lagian kenapa kamu bertanya tentangnya, apa kamu khawatir padanya."


" Aku tidak khawatir padanya, aku hanya terganggu dengan panggilan dan pesannya sejak semalam. Barusan dia mengirimkan ku pesan, dia bilang kalau kamu sudah menyakitinya."


" Lalu? Apa kamu akan memarahiku karena menyakitinya."


" Apa kamu sudah tidak waras! Untuk apa aku memarahi mu, yang ada aku bisa dibunuh suamimu, kamu tahu itu!"


" Baguslah kalau kamu tahu konsekuensinya."


" Iya, nyonya Adrian."


" Kalau kamu datang kesini, Anin ada dimana?"


" Dia pergi ke kampus, ada ujian katanya. Bagaimana mungkin aku mengabaikan kuliahnya."


" Tentu saja aku bahagia walaupun pernikahan ini belum seutuhnya sempurna. Kamu tahu kan kalau inilah yang aku harapkan, menikah dengan orang yang cintai."


" Ya, aku tahu". Sesaat Disti menghela napas. " Apa kamu menyuruh Adrian untuk pergi meeting hari ini?"


" Ya."


" Kenapa kamu lakukan itu!"


" Memangnya kenapa?"


" Apa kamu tidak tahu siapa yang akan ditemuinya, bukan aku mencampur adukkan urusan pribadi dan perusahaan, tapi setidaknya kamu tahu dampak dari pertemuan itu."


" Aku tahu siapa yang ditemui Adrian dan Adrian pun juga tahu apa konsekuensinya. Suamimu yang menyanggupi, aku tidak memaksanya. Lagi pula sampai kapan kamu memendam amarah terus padanya".


" Sampai kapan pun tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah memaafkannya sedikit pun."


" Disti..."


" Sudahlah, jangan bicara apa pun lagi. Aku sedang kesal hari ini."


" Apa mau ku pesankan kopi?"


" Apa kamu sedang menyogok ku dengan segelas kopi?"


" Ya!"

__ADS_1


" Terlalu biasa. Baiklah, tidak apa-apa segelas kopi".


Shan tersenyum dengan tingkah sahabatnya ini. " Baiklah, nona Disti."


------


Angka di jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Adrian yang sejak pagi melakukan pertemuan sudah kembali dan menemui Shan di ruangannya. Raut wajahnya terlihat sangat lelah.


" Apa kamu habis perang," celetuk Shan memberikan sebotol kopi kemasan padanya.


" Ini lebih dari perang," ujarnya seraya menyeruput kopi itu.


" Lalu bagaimana hasilnya?"


" Pada akhirnya sudah sepakat, tapi dia mau Disti juga ikut terlibat."


" Itu namanya cari masalah. Lalu apa yang kamu katakan?"


" Aku setuju."


" Apa Disti tahu?"


" Belum, aku akan memberitahukannya pelan-pelan. Kamu tahu kan kalau hubungannya dengan Mahendra sangat tidak baik."


" Kamu juga tahu kan hubungannya seperti apa dengan Mahendra. Kenapa kamu mau menyetujuinya."


" Aku harus menyampingkan semua itu. Ini adalah bisnis Shan, bisnis yang besar, dia adalah salah satu donatur terbesar."


" Aku percaya padamu, apa pun yang kamu lakukan pasti sudah dipikirkan dengan matang."


" Terima kasih. Lalu kenapa kamu masih bekerja, apa kalian tidak pergi berbulan madu."


" Untuk sementara tidak, Anin masih harus mengurus kuliahnya."


" Wah Shan, apa kamu tahan dengan situasi itu."


" Diam lah!"


Adrian tertawa terbahak-bahak. " Aku heran denganmu, punya istri cantik dianggurin. Sayang tuh, masih tersegel."


" Dasar tidak waras! Aku hanya mencoba bersabar dengan situasinya saat ini, jadi jangan memprovokasi ku!"


" Oke. Oke, maaf."


" Aku akan menjemput Anin, kami akan pergi ke rumah sakit menjenguk Papa."


" Om pasti sangat senang, mudah-mudahan kondisinya segera pulih dan bisa kembali ke rumah."


" Aku juga berharap begitu. Melihat Papa di rumah sakit membuatku tidak tenang. Aku juga ingin segera membawa Anin ke rumah, jadi kami bisa tinggal bertiga nantinya."


" Ya, akan lebih baik kalau kalian tinggal bersama."


" Baiklah, aku harus menjemput Anin," ujar Shan sembari melihat jam tangannya.


" Oke."


" Pokoknya jangan lupa memberitahu Disti. Beritahu dia dengan baik-baik, jangan sampai kalian bertengkar karena hal seperti itu."


" Iya, aku mengerti. Sudah sana."

__ADS_1


" Ya sudah, aku pergi."


" Oke."


__ADS_2