
Bulu kuduk Anin langsung merinding mendengar ucapan Shan yang menggodanya itu. Memang salahnya sendiri karena sudah berbicara tanpa di pikirkan terlebih dahulu, jadilah Shan benar-benar mengganggunya.
“ Cepat lepaskan selimutmu ini! Bagaimana kamu bisa tidur dengan selimut membalut semua tubuhmu!” perintah Shan karena Anin menggenggam erat selimut itu.
" Tidak mau!" jawabnya bersikeras.
" Kenapa? apa kamu terbiasa tidur dengan selimut seperti ini."
" Kalau aku membukanya, kamu akan menggangguku."
Seketika Shan tertawa mendengar jawabannya itu. " Baiklah- baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang buka selimutnya," ujarnya berjanji.
" Benar ya, soalnya aku sudah tertipu dua kali."
" Dua kali?" Shan terlihat bingung dengan ucapan Anin itu.
" Iya, pertama kamu tiba-tiba menciumku, kedua, tidur di tempat tidurku..."
" Lalu?" Dengan terus melontarkan pertanyaan, diam-diam Shan mencari celah karena Anin yang terus sibuk menjawab pertanyaannya.
Alhasil Anin menjerit keras karena Shan berhasil menarik selimutnya.
" Akhirnya melihat wajahmu juga."
" Aku minta maaf," ucapnya tiba-tiba.
" Ha?" Shan bingung se bingung-bingungnya.
" Jangan siksa aku," ocehnya lagi.
Suara tertawa yang tertahan itu pun akhirnya lepas juga. Shan tak tahan dengan kepolosan istrinya ini, semua yang keluar dari bibirnya selalu sukses membuatnya sakit perut.
" Sudah jangan tertawa terus," ujarnya kesal. " Kenapa kamu selalu menertawaiku, ha!"
" Karena kamu itu lucu."
" Anin bukan badut."
" Yang bilang Anin badut, siapa?"
Anin memalingkan wajahnya.
" Kenapa memalingkan wajahmu? Kamu marah?" Anin mengangguk. " Kenapa marah?"
" Karena....” Anin menghela napasnya. “ Ya sudahlah.”
“ Apanya ya sudahlah?”
“ Ya sudah, ayo tidur.”
“ Apa istriku sedang menggoda suaminya ini.”
“ Shan..”
“ Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang tidurlah."
__ADS_1
Anin yang memandang Shan tanpa memalingkan wajahnya sedikit pun malah membuat Shan gelagapan. Ia sedikit bingung kenapa Anin terus memandanginya. Apa ada yang salah dengan wajahnya ini.
" Apa wajahku sangat tampan sampai-sampai kamu terus memandangiku seperti ini." Anin mengangguk dengan polosnya. Shan jadi tak karuan karena tingkahnya ini. " Kenapa kamu malah begini, aku sudah menahan diri sejak tadi."
" Ha??"
" Sudahlah aku tidak peduli lagi," ucapnya memeluk Anin erat.
" Hei Shan!"
Tok..tok..tok...
terdengar suara ketukan pintu. Anin dan Shan langsung mengalihkan pandangan ke arah suara itu berasal.
" Siapa?"
" Maaf Tuan, saya mengganggu."
" Aisssh..Apa dia ini tidak tahu waktu."
" Bukankah itu Reno?" celetuk Anin semringah. Shan yang melihat raut wajah Anin berubah senang jadi ingin membuat perhitungan dengan sekretarisnya itu.
" Kenapa kamu jadi senang begitu, apa sebegitu sukanya kamu dengan kedatangan Reno?"
Anin mengangguk sebagai jawabannya.
" Kamu ini!"
" Tuan," panggilnya sekali lagi karena sejak tadi Tuannya itu tak bersuara.
" Tuan besar ingin bertemu dengan Anda."
" Baiklah, aku akan ke sana."
" Saya permisi Tuan," ujarnya pamit. Tapi, tiba-tiba Shan membuka pintu, Reno pun kaget bukan main.
" Istirahatlah di sini. Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali."
" Baik Tuan."
----------
" Papa belum tidur?” tanyanya sesaat membuka pintu kamar. “ Reno bilang Papa mau bicara.”
“ Iya, tadi Papa menyuruh Reno memanggilmu.”
“ Ada apa Pa? Apa Papa merasa ada yang sakit?”
“ Tidak, Papa baik-baik saja. Papa cuma mau mengobrol denganmu sebentar. Tapi, apa Papa tadi mengganggu tidurmu?”
“ Tidak Pa, lagi pula tadi kami belum tidur.”
“ Hoo, syukurlah. Papa jadi tidak enak kalau mengganggu kalian.”
“ Tidak Pa. Sekarang ceritakan apa yang ingin Papa ceritakan.”
__ADS_1
“ Shan, kalau nanti Papa sudah tidak ada, tolong jagalah Anin dengan baik. Sekarang dia tanggung jawabmu, jangan pernah menyakitinya."
" Iya Pa, tapi Papa pasti akan baik-baik saja. Jangan bicara hal yang menakutkan seperti itu, Pa."
" Papa tahu, tapi dengarkan Papa. Entah mengapa Papa merasa kalian menikah karena terpaksa. Apa mungkin karena perdebatan kita waktu itu hingga kamu mengajak Anin menikah? Papa mencoba untuk memahami keputusan kalian. Naluri orang tua tidak akan salah, maka dari itu Papa berharap kalian tetap bersama sampai kapan pun walaupun nanti kami sudah tidak ada, Shan."
" Pa..."
" Papa ingin bertanya padamu dan jawablah dengan jujur. Apa kamu masih menunggu Nada atau mungkin kamu menyukai Mentari?"
" Tidak untuk keduanya. Shan tidak menunggu Nada lagi atau pun menyukai Mentari. Nada sudah menikah Pa dan itu adalah pilihan hidupnya, sedangkan Mentari, Shan tidak pernah menaruh hati padanya. Shan mengerti mengapa Papa khawatir, tapi yang jelas Shan tidak ada hubungan dengan kedua wanita itu."
" Lalu bagaimana dengan Anin? bagaimana perasaanmu pada anak itu?"
" Shan perlahan menyukai Anin, Pa. Anin lah yang membuat Shan melupakan kejadian pahit itu. Walaupun pernikahan kami terkesan mendadak dan terpaksa, tapi Shan serius dengan keputusan Shan menikahinya. Hanya saja, tidak mudah untuk Anin menerima pernikahan ini, tapi Shan berusaha untuk tetap memegang teguh pernikahan ini sampai kapan pun."
" Bagaimana kalau Anin menyukai pria lain dan meminta untuk berpisah, Shan?"
Shan langsung tertohok dengan pertanyaan dari Papanya itu. Ia pun tak mampu menjawab pertanyaan yang sangat serius itu.
" Pa."
" Ini adalah segala kemungkinan Shan dan kamu harus tahu bagaimana menanganinya. Apakah melepaskan Anin demi kebahagiaannya atau berjuang menyelamatkan pernikahan kalian, semua itu harus kamu pikirkan dengan matang dan tidak boleh gegabah."
" Baik Pa, Shan mengerti."
" Tapi kamu memang menyukai istrimu kan?"
" Tentu Pa, Shan menyukai dan menyayangi Anin."
" Papa sangat lega, dengan begitu Papa bisa yakin kalau suatu hari nanti kalau memang kalian berjodoh, perasaan kalian pasti akan menyatu."
" Iya Pa."
" Istirahatlah."
" Iya Pa. Papa juga harus istirahat," ujarnya membetulkan selimut Papanya itu.
Shan pun keluar dari kamar sang Papa setelah memastikannya tertidur.
Ia jadi ke pikiran dengan ucapan Papanya tadi. Tak ada yang salah dengan semua ucapannya itu karena memang segala kemungkinan bisa saja terjadi karena Shan tidak tahu bagaimana perasaan Anin padanya.
Yang terlihat hanya lah Anin melakukan tugasnya karena sebuah status. Belum terlihat ia melakukannya karena memang perasaan yang sama dengan Shan. Bahkan hingga sekarang Anin belum bisa menyerahkan dirinya walaupun mereka sudah pernah berciuman mesra.
Shan membuka pintu kamarnya perlahan. Terlihat istrinya itu sudah tidur dengan lelapnya. Shan menghampirinya lalu duduk di atas ranjang sambil memandangi wajah yang sedang tertidur itu.
Wajah yang mengguratkan senyuman, marah dan takut, semua ekspresi yang telah Shan lihat.
" Apa suatu hari nanti, kamu akan meninggalkanku?"
Kalimat itu mendadak keluar dari bibir seorang Shan. Terdengar lirih karena tiba-tiba rasa khawatir itu muncul.
Kecupan di dahi istrinya itu ia lancarkan. Dengan tatapan yang sedih pula.
Shan merebahkan tubuhnya tepat di sebelah Anin. Tercium aroma harum dari tubuhnya. Shan memeluk istrinya itu erat, seperti orang yang tak ingin melepaskan kekasih hatinya. Perlahan ia memejamkan matanya dan berharap akan terlelap hingga pagi tiba.
__ADS_1