
“ Bunda, apa ini? Agni menunjukkan sebuah poto di dalam ponsel Bundanya. " Ini ulah Bunda ya." Bunda mengangguk dan tersenyum.
" Bunda juga mengirim poto itu pada Om Adi," ujarnya.
" Ya Allah, Bunda, terus Om bilang apa?''
" Welcome besan."
" Jadi sah nih jadi menantu keluarga Dimitri."
" Tinggal merekanya saja yang bagaimana."
" Tenang bunda kalau Shan sih sudah klepek-klepek sama Anin. Nah, Anin nya ini yang bagaimana, masih perlu di telusuri."
" Kamu atur deh adik kamu itu. Bunda berharap mereka bisa dekat, soalnya mereka bertengkar terus."
" Dari bertengkar nih bunda, bisa jadi dekat, percaya deh sama Agni."
" Semoga saja sih Ni."
" Oh ya, Bun, Agni ke kamar Anin dulu ya. Mau ganggu dia."
" Iya sudah sana."
Agni mendatangi Anin yang sedang berada di kamarnya. Ia mengetuk pintu kamarnya itu tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Ia pun membuka pintu perlahan, tapi tidak terlihat Anin di dalam kamarnya.
" Di mana dia ya?" ujarnya pelan memasuki kamar adiknya itu.
" Akhhhh! Suara teriakan Anin membuat Agni terkejut. " Kakak sedang apa di kamar Anin?''
" Kenapa harus teriak-teriak sih".
" Anin kaget kak, tiba-tiba kakak ada di sini."
" Ya salah kamu dari tadi kakak ketok pintu tidak ada jawaban, ya sudah kakak masuk saja ternyata kamu ada di kamar mandi."
" Iya Anin baru mandi."
" Eh Nin sini deh."
" Apaan sih kak."
" Menurut kamu Shan itu bagaimana?''
" Kenapa dengan Shan, mentang-mentang kakak milih kak Bimo."
" Ih, Anin, sampai kapan sih kamu tuh sadar kalau kakak sama Shan itu tidak pernah di jodohkan. Kamu itu salah paham, lagian kamu juga kan yang buat kesimpulan sendiri."
" Ha? Jadi salah Anin?''
" Iya salah kamu, jangan aneh-aneh makanya."
" Jadi Anin doang yang mikir kayak gitu?'' Agni mengangguk. ''Anin sebodoh itu ya kak."
" Baru sadar."
" Jahat banget kak Agni."
" Kamu sih."
Anin menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata selama ini hanya dia saja yang berpikir tentang perjodohan itu. Ia tak mengira akan sebodoh itu membuat kesimpulan dan mempercayai apa yang ia pikirkan selama ini.
" Sekarang sudah tahu kan kalau kakak sama Shan tidak pernah di jodohkan."
" Iya, terus kenapa?''
" Ih, kamu nih Dek lambat banget sih."
" Kalau masalah Shan, Anin tidak mau bahas lagi. Sekarang kakak keluar deh, Anin masih banyak tugas."
__ADS_1
" Kamu usir kakak nih Dek?''
" Iya, sudah sana."
" Iya...iya jahat banget sih sama Kakaknya."
" Masa bodoh."
Brakkk....
Anin menutup pintu itu setelah kakaknya keluar dari kamarnya. Ia hanya tak ingin membahas Shan lebih banyak lagi karena itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Ia menyadari sesaat ia terbawa perasaan apabila bersama dengan pria itu. Kali ini bukan karena permasalahan perjodohan lagi tapi lebih kepada ia harus menerima kenyataan kalau ini hanya sesaat. Ia harus bangun dari khayalan yang indah itu.
" Haaa....''. Anin menghela napasnya. " Sadarlah Anindira, dia terlalu jauh untuk kamu gapai."
Anin menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya. Ia sangat lelah hari ini dan ingin beristirahat sejenak karena besok ia harus masuk kuliah pagi hari.
--------
" Pagi Bunda." Suara sapaan di pagi hari yang selalu bunda dengar dan sangat tidak asing di telinganya.
" Yogi, Alex''. Dua pria itu pun tersenyum saat Bunda menyapa mereka dengan ramah. Seperti biasa dua pria yang merupakan sahabat baik Anin sejak SMP menjemput ia untuk berangkat ke kampus bersama. " Anin masih di kamarnya sebentar lagi juga keluar."
'' Iya Bun, kita tunggu di sini saja," ujar Yogi.
" Bun, ada yang bisa di makan tidak? Minimal rendang semalam deh Bun," pinta Alex tanpa basa basi.
" Iya Bun," sahut Yogi menimpali.
" Kalian ini, sudah sana ambil sendiri di dapur."
" Oke Bun."
Yogi dan Alex dengan gesit bergegas ke dapur. Mereka mengambil sebuah kotak makanan lalu mengisinya dengan nasi dan rendang yang masih ada di dalam penggorengan di atas kompor.
Begitu selesai mengemasi, mereka pun bergegas keluar.
'' Iya."
'' Pagi-pagi sudah merampok rumah orang", celetuk Anin begitu tahu apa yang sudah di lakukan kedua sahabatnya ini. '' Kenapa di kasih sih Bun, keenakan tuh, datang juga tidak."
'' Jahat banget si Anin, kan kita sudah permisi," ucap Alex yang di sambut anggukkan Yogi.
'' Banyak alasan tuh Bun''.
'' Kalian ini kenapa malah bertengkar sih."
'' Anin tuh Bun." Yogi menimpali.
'' Di pulangkan tuh tempatnya. Tahu kan itu merek apa, kalau sampai hilang habis kalian."
'' Iya tahu," sahut Alex.
'' Bagus," ucapnya. '' Bunda, Anin berangkat ya," pamitnya sambil menyalami.
'' Iya Nak, hati-hati ya. Jangan bolos."
'' Iya Bun," jawabnya polos. '' Eh, siapa juga yang bolos Bun, Anin anak rajin loh Bun."
'' Iya, Bunda percaya."
'' Bun, kami pergi juga," pamit Yogi dan Alex menyalimi Bunda.
'' Iya, kalian bertiga hati-hati."
'' Iya Bun. Assalamualaikum."
'' Waalaikumsalam."
-------
__ADS_1
'' Bagus ya kalian berdua dapat makanan gratis."
'' Menghemat pengeluaran Nin," celoteh Alex .
'' Cuma dua nih, Tasya bagaimana, Gi?'' tanya Anin yang hanya melihat dua box makanan.
'' Tahu nih si Yogi pacarnya di lupakan," timpal Alex
'' Tenang dong berdua, kita tuh romantis makan sepiring berdua."
'' Dasar pelit," oceh Anin mengejeknya.
'' Dasar sok romantis," timpal Alex lagi.
'' Kalian berdua ini teman apa bukan sih, heran lihatnya."
Anin dan Alex hanya tertawa melihat Yogi yang kesal.
Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di kampus tempat mereka menimbah ilmu. Keadaan kampus sudah ramai seperti biasa dengan orang-orang yang berlalu lalang.
Tasya yang merupakan pacar Yogi pun sudah datang dan duduk manis di kelas menunggu kedatangan mereka. Ia menyambut kedatangan trio itu dengan senyum manisnya.
'' Kok lama datangnya," tanyanya karena kedatangan mereka yang tak biasanya.
'' Tanya saja tuh cinderella kenapa lama," jawab Alex tak mau di salahkan.
'' Apaan sih, Anin kan capek karena semalam acaranya kak Agni."
'' Oh iya, acaranya gimana Nin?''
'' Lancar kok Tas."
'' Sorry ya, Tasya tidak bisa datang."
'' Iya tidak apa-apa."
'' Oh ya Nin, temani Tasya ya."
'' Kemana?''
'' Acara seminar."
'' Dimana?''
'' Di Aula kampuslah. Harusnya sih pergi sama Nadin tapi Nadin nya ada urusan mendadak, dari pada tiketnya sayang, mending Anin ikut Tasya."
'' Malas lah."
'' Anin, jangan gitu dong."
'' Tasya kan tahu, Anin paling malas ikut acara gitu."
'' Iya Tasya tahu tapi kan sayang Nin. Acaranya seru loh tentang fashion gitu, lagi tren loh tuh merek. D Fashion, masa Anin tidak tertarik."
'' Anin di tanya fashion, pakai baju normal saja sudah syukur Tas," celetuk Alex yang kemudian mendapatkan pukulan dari Anin.
'' Ayolah Nin, narasumbernya pemiliknya langsung loh, please." Tasya terus memohon dengan wajah penuh harapan.
'' Ya sudah deh Anin ikut."
'' Yes, gitu dong Nin. Terima kasih sayangku," ucap Tasya memeluk Anin.
'' Kok cuma Anin yang di peluk," protes Yogi.
'' Apaan sih si Yogi, pagi-pagi juga," celetuk Anin.
'' Iya nih," timpal Alex.
Dan Yogi hanya cemberut karena sindiran dua sahabatnya itu.
__ADS_1