Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 35


__ADS_3

" Bibi, masak apa?" tanya Anin karena mencium aroma masakan yang begitu harum.


" Masak capcai, ikan nila asam manis, tempe goreng," jawab Bi Ani memperlihatkan masakan yang tengah di masaknya.


" Wah, enak pasti Bi, Anin bantu boleh?"


" Hm. Bantu Bibi yang satu ini saja ya?"


" Apa itu Bi?"


" Nyonya bawakan minuman Tuan Shan saja. Tadi Tuan meminta Bibi buatkan jus jeruk."


Tanpa berpikir panjang Anin pun mengiyakan permintaan Bi Ani. Bukan tanpa alasan, ini karena Shan sudah berjanji padanya akan menjelaskan semua yang terjadi hari ini padanya.


" Ya sudah Bi, biar Anin antarkan."


" Terima kasih Nyonya. Tuan ada di ruang kerjanya."


" Baik Bi, Anin bawa ya."


" Iya Nyonya, hati-hati."


Dengan hati-hati Anin pun membawa kan segelas jus jeruk permintaan suaminya itu ke lantai atas. Satu per satu anak tangga ia lewati kemudian berjalan perlahan menuju ruang kerja sang suami.


Begitu berada di depan pintu, Anin mengetuk pintu itu beberapa kali kemudian memanggil nama suaminya itu.


" Shan."


Tak lama pintu itu pun terbuka, terlihat Shan sudah berdiri di hadapannya.


" Ini jus nya," ujar Anin menyodorkan jus itu padanya.


" Terima kasih," ucapnya sambil mengambil jus itu dari tangan sang istri.


Dan keheningan pun tiba-tiba hadir di antara mereka, bahkan hanya terdengar suara detak jarum jam. Terasa sangat hening tanpa sepatah kata pun dari mereka.


" Kalau begitu, Anin permisi," ujarnya menghentikan kecanggungan itu.


" Masuklah," pinta Shan tiba-tiba. Anin seketika terdiam karena merasa tidak yakin dengan apa yang di dengarnya.


" Ha?"

__ADS_1


" Masuklah, bukankah kita perlu bicara."


" Ah." Anin mengangguk-angguk kepalanya.


Ia pun masuk ke dalam ruangan itu. Ini untuk pertama kalinya ia memasuki ruangan kerja Shan, cukup luas untuk ukuran tempat bekerja. Rak-rak dengan buku yang tersusun rapi, meja kerja, serta sofa panjang menghiasi ruangan itu.


" Duduklah disini," ujarnya menepuk sofa itu. Anin pun mengikuti permintaannya tersebut. Kini mereka saling berhadap-hadapan. " Kamu pasti kesal padaku kan?"


Anin mengangguk pelan.


Shan menyunggingkan senyuman begitu mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.


" Papa bertanya padaku, apakah aku menikahimu karena sesuatu, sama seperti pertanyaanmu waktu itu, apa aku menikah karena perdebatan kami mengenai seorang wanita. Tentu saja jawabanku sama mengenai yang satu ini, aku menikahimu bukan untuk main-main, aku benar-benar serius walaupun memang ada unsur kesepakatan di antara kita berdua, tapi tidak mengurangi sedikit pun kesakralan dari pernikahan ini."


" Lalu Papa bertanya kembali, bagaimana kalau Anin menyukai seorang pria, apa yang akan aku lakukan, merelakanmu demi kebahagiaanmu atau mempertahankan pernikahan ini. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan ini, semua terasa sama, kembali lagi seperti dulu."


" Jadi yang Papa ucapan tadi pagi, waktu Papa katakan tanyakan padamu, itu apa?"


" Yang tadi pagi itu, aku ingin menyampaikan jawabanku, tapi Papa bilang percaya padaku karena apa pun itu aku pasti sudah memikirkannya baik-baik. Kemudian aku mengatakan bagaimana kalau Anin yang ingin pergi, apa aku harus merelakannya seperti yang aku lakukan dulu. Itu lah yang kami bicarakan."


" Lalu kamu tiba-tiba datang, aku seperti tidak siap jika kamu mengetahui ini. Aku jadi takut kalau pertanyaan itu mendapatkan jawabannya karena aku menyadari sesuatu, kalau perasaanmu itu belum ada aku di dalamnya, malah semakin memperbesar ketakutanku. Makanya aku hanya mendiamkanmu saat kamu meminta jawaban. Aku benar-benar minta maaf padamu karena mengacuhkanmu."


" Jadi karena itu?" Shan mengangguk. " Apa aku terlihat seperti wanita yang akan meninggalkan suaminya?"


" Bukan seperti itu hanya saja kita memang terikat pernikahan tapi hati dan perasaan kita?"


" Kalau begitu kamu meragukanku?"


Shan terdiam.


" Kalau diam berarti benar. Aku tidak akan menyalahkanmu karena aku sendiri tidak mengerti bagaimana mengartikan perasaanku ini. Aku, kita, perlu waktu Shan. Perkataanku yang kekanakan dulu, tolong jangan di ingat lagi. Sekarang aku berusaha memahami statusku ini. Anin, istri dan Shan, suami. Tidak ada celah untuk pria lain. Bunda, Ayah dan Kak Agni, teman-temanku serta Papa tidak henti-hentinya mengingatkanku. Aku hanya lah manusia biasa Shan, menjadi istri di usia yang sangat muda tidak mudah bagiku. Aku bersyukur semua keluarga mendukung kita berdua, itu nilai lebih dan semangat untukku. Jadi kumohon jangan berpikiran terlalu jauh."


" Kita juga bisa memulai membuka diri, Shan, membicarakan apa pun itu sekali pun hal yang sangat menyakitkan."


Shan menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka akan mendapatkan sebuah jawaban yang cerdas dari sang istri. Nasehat yang ia berikan membuatnya sangat senang.


Perlahan Shan meraih tangan Anin. Jari jemarinya mulai menggenggam tangan sang istri. Ia tersenyum dengan bahagianya.


" Terima kasih. Malah kali ini aku yang bersikap menyimpulkan pendapatku sendiri tanpa berdiskusi padamu. Ini karena aku memiliki trauma tersendiri. Aku takut akan kehilangan lagi, perlu waktu untukku untuk sembuh dan itu tidak mudah. Aku yang mengatakan kalau pernikahan ini akan sekali tapi aku juga yang menjadi ragu."


" Akhirnya kamu bicara juga kan, walaupun aku tidak tahu kejadian apa yang menimpamu dulu, Shan, tapi pernikahan ini baru saja di mulai. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, jadi saling percaya itu perlu. Tolong ingatkan aku juga tentang hal ini karena manusia itu kalau sudah di hinggapi segala ucapan yang di dengar, suka lupa untuk berpikir jernih, emosi lebih sering datang terlebih dahulu."

__ADS_1


" Aku juga, kita bersama-sama saling mengingatkan."


" Oke."


" Oh ya Nin."


" Hm?"


" Aku ingin membicarakan tentang bulan madu kita. Sejak kita menikah, kita tidak punya waktu untuk berdua. Jadi, apakah kamu mau pergi denganku?"


" Bulan madu?"


" Kalau kamu masih belum bisa, juga tidak apa-apa atau anggap saja kita berlibur. Aku akan mengambil dua kamar nantinya."


" Berikan saja uang satu kamar itu untukku."


" Ha?"


" Aku ingin ke Norwegia, Swiss, Hm. Apa kamu tidak keberatan?"


" Baiklah."


" Ha? baiklah?"


" Iya, baiklah, kalau kamu mau ke sana aku tidak keberatan."


" Tidak-tidak, aku hanya bercanda. Kenapa kamu jadi serius."


" Tentu saja aku serius. Ini untuk pertama kalinya kamu mengatakan keinginanmu padaku. Kita akan ke sana, aku akan mempersiapkannya."


" Tapi Shan."


" Tidak ada tapi-tapi. Kita akan bulan madu ke sana."


" Ha...dasar," ujarnya menghela napas. " Seharusnya aku mengatakan semua negara padamu."


Shan tercengang sesaat lalu ia pun menggelitik istrinya itu. Anin pun memohon ampun padanya agar menghentikan aksinya itu.


" Shan, hentikan," ujarnya geli. " Aku hanya bercanda."


Bukannya mendengarkan permintaan sang istri, Shan malah menarik Anin ke pelukannya. Sontak saja Anin terkejut. Dekapan erat Shan membuat jantungnya malah berdegup kencang.

__ADS_1


" Terima kasih," ucap Shan lembut. " Aku bersyukur karena bertemu denganmu. Gadis yang dulu nakal, suka bicara seenaknya, kini sudah menjadi wanita yang sangat pengertian. Wanita yang bisa meredam kekhawatiran seorang suami. Terima kasih."


Anin menjadi terharu dengan ucapan Shan itu. Perlahan kedua tangannya pun mendekap tubuh Shan. Kini mereka saling mendekap erat setelah menumpahkan segala curahan hati mereka yang paling dalam.


__ADS_2