
Shan memandangi sebuah kotak yang ada di atas mejanya. Reno baru saja menyerahkan hadiah pemberian Mentari padanya. Shan sedikit merasa heran dengan sikap Mentari kali ini.
Di dalam pikirannya Shan masih menelaah apa yang sedang di lakukan oleh Mentari. Rencana apa yang sedang di buatnya dan siapa targetnya kali ini.
" Bukankah ini aneh?" celetuknya mengernyitkan dahinya. " Dia tahu pasti kalau kamu itu orang kepercayaanku, tapi kenapa dia malah meminta bantuanmu."
" Apa ini sebuah jebakan Tuan?''
" Pasti," jawab Shan tegas. " Tapi aku tidak tahu apa yang akan di lakukannya. Aku harap targetnya bukanlah Anin."
" Saya harap juga begitu Tuan."
" Lalu apa kamu sudah mengatur jadwal pertemuan dengan Anthony?"
" Sudah Tuan, pertemuan akan di lakukan dua hari lagi."
" Lalu bagaimana dengan jadwal Mentari? apa ada yang aneh dengan jadwalnya itu?"
" Tidak ada Tuan, sepertinya ada penambahan jadwal di luar kota."
" Oh ya?"
" Iya Tuan."
" Mengapa aku tidak tahu apa-apa soal itu. Tidak ada yang melaporkannya padaku."
" Jadwal itu memang mendadak Tuan."
" Mendadak?"
" Karena itu sebuah event yang sangat besar Tuan. Kesempatan seperti itu tidak akan datang untuk kedua kalinya dan si penyelenggara perlu jawaban secepatnya."
" Tapi seharusnya mereka memberitahukannya terlebih dahulu. Aku akan bicara dengan mereka nanti."
" Iya Tuan."
------
Malam sudah semakin larut, Shan baru saja tiba di rumah. Keadaan rumah sudah terlihat sepi. Tuan Adi pun sudah terlelap tidur di kamarnya.
Sebelum naik ke atas, Shan kembali ke dapur mengambil segelas air untuk di minumnya. Air di dalam gelas itu perlahan habis di teguknya.
Langkah kakinya membawanya menyusuri anak tangga yang akan membawanya ke tempat yang paling ternyaman di muka bumi, apalagi kalau bukan ranjang yang empuk dan istri di sampingnya.
Shan menyunggingkan senyuman begitu membuka pintu, terlihat sang istri yang masih terjaga tersenyum manis padanya. Anin melangkahkan kakinya mendekati Shan yang masih berdiri di depan pintu.
Sesaat melihat jam yang ada di tangannya. Sedetik, dua detik, tiga detik.
" Happy Birthday to you
Happy Birthday to you
__ADS_1
Happy Birthday
Happy Birthday
Happy Birthday to you "
" Happy Birthday Shan," ucapnya dengan manis.
Shan pun tersenyum bahagia. Ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan manis di hari ulang tahunnya.
" Terima kasih."
" Aku pikir kamu tidak akan pulang, hampir saja aku tertidur, tapi mendengar suara mobilmu, aku jadi semangat lagi."
" Kamu menungguku karena ingin mengucapkan selamat padaku?"
" Iya."
" Terima kasih istriku."
" Aku tidak tahu kado apa yang kamu suka, jadinya aku tidak punya apa-apa. Tapi, kamu boleh minta apa saja."
" Apa saja? benarkah?" Anin mengangguk. " Kalau begitu aku ingin istriku, bagaimana?"
" Ha?"
Shan memandang istrinya ini lalu tanpa aba-aba ia menggendong tubuh Anin. Sontak Anin kaget dan sedikit berteriak karena ulahnya ini.
Shan tersenyum sesaat lalu berdiri dengan masih memandangi istrinya.
" Tidurlah," ujarnya mengelus rambut Anin. Shan beranjak memasuki kamar mandi setelah mengambil pakaiannya di lemari. Ia mencuci mukanya dengan sabun pembersih lalu di bilasnya dengan air.
Shan membuka pakaiannya lalu menggantinya dengan pakaian tidurnya. Sebuah kaos dan celana panjang jadi pilihannya. Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar mandi. Terlihat Anin sudah terbaring di tempat tidur.
Shan memilih keluar dari kamar itu lalu menuju ruang kerjanya. Bukan karena dia tak ingin tidur dengan Anin, tapi lebih kepada ia harus mengontrol hasrat yang tiba-tiba muncul itu.
Tubuh yang lelah itu ia baringkan di atas sofa. Matanya belum bisa terpejam walaupun tubuhnya sudah sangat lelah. Pikirannya melayang entah kemana, tatapan matanya lurus pada satu titik.
Kedua mata itu mencoba untuk mengatup, berharap akan tertidur dengan sendirinya. Namun usahanya harus terhenti karena deringan ponselnya. Ada sebuah pesan masuk di dalamnya.
Shan mengambil ponselnya itu dan terkejut dengan nama si pengirim pesan.
" Anin," ucapnya. " Apa dia terbangun".
Apa kamu marah padaku?
Shan tak mengerti kenapa Anin menanyakan hal itu padanya.
Kenapa bertanya seperti itu?
Karena saat aku tiba-tiba terbangun, kamu tidak ada di sini. Aku pikir kamu marah padaku. Apa karena tidak ada hadiah untukmu?
__ADS_1
Tidak, aku tidak marah. Aku hanya ingin sendiri sementara ini.
Kenapa?
Apa kamu tidak ingat apa yang aku minta padamu tadi?
Istri, itu yang kamu katakan. Apa maksudnya itu aku?
Ya, aku menginginkanmu, meminta hak ku kepadamu. Tapi, aku langsung sadar tidak boleh memaksamu. Aku takut nantinya kamu akan membenciku. Makanya, aku memilih tidak tidur bersamamu.
Kenapa kamu selalu lebih dulu memikirkan perasaanku?
Karena aku menyayangimu. Dulu aku membuatmu menyetujui menikah denganku, paling tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya. Jadi, aku tidak ingin melakukannya lagi, aku ingin semuanya berdasarkan perasaan bukan paksaan.
Jadi, intinya aku tidak marah padamu, tidurlah, bukankah besok kamu ada kuliah.
Tidak ada balasan lagi dari Anin setelah pesannya di baca. Shan berpikir kalau Anin pasti tidur karena memang dia lah yang menyuruh sang istri untuk tidur.
Shan meletakkan kembali ponselnya. Saat ingin menutup mata, terdengar suara ketukan pintu. Tak ada suara hanya ketukan pintu berkali-kali.
Ia pun bangkit lalu bergegas melihat siapa yang mengetuk pintunya itu. Gagang pintu itu di pegangnya lalu menekannya ke bawah, perlahan pintu terbuka, terlihatlah siapa yang sejak tadi mengetuk pintu berkali-kali.
" Anin." Shan terkejut melihat Anin ada di depan pintu. " Kenapa kamu belum tidur."
" Aku tidak bisa tidur karena aku tidur sendirian."
" Lalu?"
Anin terdiam. Bibirnya komat kamit seperti sedang membaca mantra.
" Ayo tidur," ucapnya tiba-tiba.
" Ha?"
Cup. Sebuah ciuman mendarat di bibir Shan. Anin hanya menundukkan kepalanya setelah mencium suaminya. Entah bagaimana ia harus menatapnya kini. Ia merutuki dirinya kenapa bisa senekat itu, seolah-olah ia sedang menggoda Shan.
Shan menelan ludahnya. Pikirannya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi. Padahal tadi ia sudah susah payah meredamnya.
Shan menarik tangan Anin masuk ke dalam ruangan itu lalu menguncinya.
Di tatapnya dalam wajah istrinya ini. Menyentuh tiap inci dari wajah cantik Anin. Bibir yang berwarna merah muda itu begitu sangat menantangnya. Bibir yang membuatnya mabuk kepayang.
Shan memegang kedua pipinya. Mendaratkan sebuah ciuman di dahinya. Lalu kedua matanya, mengecup hidungnya dan kedua pipinya. Terakhir, bibir Anin yang sejak tadi menggodanya, ia kecup dengan lembut.
Perlahan namun pasti, ciuman yang mulanya biasa itu berubah menjadi ciuman penuh gairah. Shan ******* tiap inci bibir sang istri. Ciuman yang semakin lama semakin intim.
Shan melepaskan ciumannya, memberikan jeda agar Anin bisa bernapas kembali. Wajahnya memerah dan bibirnya bengkak karena ciuman Shan yang intens itu.
Shan mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Anin. Namun kali ini ia bukan mau mencium Anin, tapi membisikkan sesuatu ke telinganya.
" Malam ini akan jadi malam pertama kita."
__ADS_1
Sontak wajah Anin merah padam karena ucapannya itu. Ia pun sama sekali tidak menolak karena sudah memikirkannya dengan baik, menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya ini. Tak akan menundanya lagi karena inilah yang harus ia lakukan untuk suaminya.