
Setelah mendapatkan kabar dari Reno, Shan dan Anin bergegas ke rumah sakit. Di sana tampak Reno yang berdiri di luar pintu kamar Mentari dan sayup-sayup terdengar suara bising dari dalam sana.
“ Reno.”
“ Tuan, Nyonya.”
“ Apa belum bisa di atasi?”
“ Belum Tuan, Nyonya itu terus bersikeras tidak ingin keluar.”
Perlahan Shan membuka pintu itu. Terlihat seorang wanita paruh baya, dua orang suster, satu orang satpam, Mentari dan Manajernya. Wanita paruh baya itu tampak sangat emosi meluapkan segalanya kepada Mentari. Sesekali Mentari menanggapi ucapan wanita itu dan selebihnya hanya terdiam tak menanggapi.
Langkah Shan memasuki ruangan itu membuat mata tertuju padanya. Shan dengan sopan meminta maaf kepada wanita paruh baya itu selaku orang yang bertanggung jawab terhadapnya.
" Nyonya, saya meminta maaf atas nama Mentari. Saya yang bertanggung jawab atas dirinya."
" Jadi kamu ini bos dari wanita ****** ini!"
" Nyonya, tolong jangan berkata kasar seperti itu."
" Halah.., apa kamu tidak bisa mendidik karyawanmu, ha!. Apa kamu tahu apa yang sudah di lakukannya!"
" Maka dari itu, saya minta maaf dan ke depannya tidak akan terjadi lagi."
" Apa kamu bisa menjamin itu."
" Tentu saja." Shan melirik Mentari, memberi kode agar dia bereaksi dengan ucapannya barusan.
" Ya, tidak akan terjadi lagi," ucap Mentari lalu memalingkan wajahnya.
" Nyonya sudah dengarkan. Mentari sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi."
" Baiklah, saya percaya dengan perkataanmu kali ini. Aku harap itu tidak akan terjadi lagi."
" Tentu saja Nyonya."
" Kalau begitu saya permisi!"
" Silakan Nyonya, hati-hati di jalan." Shan pun mengantarkan wanita itu sampai ke depan pintu. Tak lupa ia meminta maaf kepada para staf rumah sakit karena sudah membuat kehebohan.
Ia pun berbalik kembali masuk ke dalam. Mentari dengan semringahnya menyambut Shan, namun raut wajahnya yang riang itu kemudian berubah masam karena Shan tidak sendiri namun bersama dengan Anin yang muncul dari belakang dengan tangan mereka yang saling menggenggam.
" Aku pikir kamu sendiri," ucapnya kesal. " Aku tadinya senang melihatmu datang karena kamu pasti mengkhawatirkanku."
" Maaf sudah mengecewakanmu. Lagi pula Anin adalah istriku, jadi aku berhak membawanya kemana pun aku melangkah termasuk ke sini."
Mentari langsung cemberut mendengar ucapan Shan itu.
" Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Anin khawatir
" Kamu mulai berakting," ucapnya kesal.
__ADS_1
" Akting?" Anin sedikit bingung dengan reaksi Mentari yang tidak bersahabat itu. " Oh!" Anin merespons. " Ya, aku hanya berakting, lagi pula apa peduliku kalau terjadi sesuatu padamu."
" Kamu!"
" Bukankah itu yang ingin kamu dengar dariku. Lalu kenapa kamu marah?"
Shan tersenyum kecil melihat Anin yang beradu mulut dengan Mentari. Ia tak habis pikir dengan ucapan Anin pada Mentari yang sangat spontan itu.
" Apa sekarang kamu merasa hebat karena Shan bersamamu."
" Tentu, aku menyombongkan diriku."
" Kamu!" Pada akhirnya Mentari menatap Shan seolah meminta pembelaan. " Shan, apa ini yang menjadi pilihanmu?"
" Ya." Shan menjawab dengan tegas. " Dia pilihanku."
" Dasar bodoh!" Mentari kehabisan kata-kata.
" Mentari, sudah, hentikanlah, tak ada salahnya menghentikan semua perbuatan tak baikmu ini."
" Apa maksudmu, Shan!"
" Kamu tak sadar kalau kamu sudah banyak berubah? Mentari yang kukenal dulu bukanlah Mentari yang ada di hadapanku ini. Mentari yang kukenal sudah berubah menjadi orang yang sangat mengerikan. Dulu, kamu wanita yang baik dan lembut. Tapi, sekarang entah dimana sosok itu pergi. Apa aku salah meminta Mentari yang dulu untuk kembali."
Mentari sangat terkejut dengan perkataan Shan itu. Tak pernah terpikirkan olehnya akan mendengar kata-kata itu langsung darinya.
" Mentari yang dulu?" Suara lirih itu mulai tertahan. Sesaat ia mengingat apa yang menjadi maksud dari Mentari yang dulu. Terpikirkan apakah ia sudah berubah drastis hingga Shan menyinggung hal tersebut. " Shan, apa aku begitu banyak berubah?"
Mentari sontak kaget dengan ucapan Manajernya itu. " Aku....."
" Mentari, semua orang yang ada disini bukan ingin menghakimimu, tapi ingin kamu berubah. Jangan lagi menyakiti, carilah kebahagiaanmu sendiri," timpal Shan.
Mentari tampak tak senang dengan semua perkataan mereka terhadapnya. " Kalian egois," ujarnya pergi meninggalkan mereka yang ada di sana.
Anin mengikuti Mentari tanpa sepengetahuannya. Ia mengikuti wanita itu sampai ke tempat yang jauh dari ruang perawatannya.
Tampak ia terisak menangis. Untuk pertama kalinya Anin melihat seorang Mentari menangis sejadi-jadinya. Mungkin inilah tumpahan hatinya yang tak bisa ia bendung lagi. Tak pernah Anin bayangkan bagaimana ia menahan itu semua.
" Tisu," Anin menyodorkan sebuah tisu padanya. Mentari mengambil beberapa helai lalu menyeka air matanya.
" Kamu pasti ingin mengejekku."
" Kenapa pikiranmu jelek sekali."
Dan sesaat mereka pun terdiam.
" Benar." Anin menoleh padanya. " Aku memang banyak berubah, tanpa aku sadari, aku menjadi orang yang sangat buruk. Aku seperti orang yang sangat terobsesi dengan segala hal, aku harus mendapatkannya apa pun caranya, begitulah pemikiranku. Sampai aku harus kehilangan sesuatu yang berharga.....harga diri."
" Kehilangan Shan membuatku tambah gila. Apa pun sudah kulakukan untuk menarik perhatiannya tapi dia tidak melihatku sama sekali. Dia hanya menganggapku teman, tidak pernah lebih dari itu."
" Maka dari itu, kamu berusaha menghancurkan hubungannya bersama dengan Nada maupun denganku," tambah Anin.
__ADS_1
" Ya, kamu benar." Nada tertunduk. " Padahal Shan lah yang dulu membantuku keluar dari keterpurukan, namun aku pula yang menghancurkan kebahagiannya. Aku benar-benar mengerikan."
" Keluarlah dari zona itu dan kembalilah seperti orang yang mereka kenal dulu. Tidakkah kamu menyadari kalau semua orang yang mengenalmu dengan baik begitu sangat menyayangimu"
" Menyayangiku?"
Anin mengangguk.
" Coba pikirkan, jika mereka tidak menyayangimu, bukankah sudah dari dulu mereka meninggalkanmu?"
Mentari tertegun sesaat. Memikirkan apa yang barusan ia dengar dari seorang Anin. Ucapan dari seseorang dari orang yang sebenarnya tak ia harapkan.
" Pikirkanlah, menjadi lebih baik tidak ada salahnya. Sebelum terlambat dan sebelum menyesal."
Mentari hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil menatap Anin yang ada di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia harus mendapatkan wejangan dari seorang anak kecil seperti Anin yang notabene nya ia anggap sebagai penghalang hubungannya dengan Shan.
" Bisakah....kamu tinggalkan aku. Lalu saat kamu kembali katakan kepada manajerku untuk menjemputku di sini."
" Aku tidak mau."
" Kenapa? kamu takut aku akan lompat dari sini?" Anin mengagguk dan itu membuat Mentari tertawa. " Aku tidak sebodoh itu, mati tidak menuntaskan masalah, dosaku terlalu banyak. Tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Saat ini aku hanya ingin sendiri."
" Berjanjilah."
" Jangan membuatku kesal! pergilah!"
Anin menghela napas.
" Baiklah, sekarang aku akan pergi."
" Baguslah."
Anin pun pergi meninggalkan Mentari. Sesekali ia menoleh ke belakang melihat wanita itu. Anin memang agak khawatir karena saat ini Mentari agak labil emosinya. Ia pun bergegas menemui Shan, manajer Mentari dan Reno di ruangan itu.
" Anin." Shan langsung bergegas begitu melihat Anin berlari. " Ada apa denganmu? kenapa berlari?"
" Aku tidak apa-apa"
" Syukurlah," ujar Shan. " Lalu mengapa kamu sendiri?"
" Mentari ada di atas, dia ingin sendiri. Oh ya manajer, dia ingin di jemput disana, tolong pergilah segera."
" Baiklah," jawabnya bergegas pergi.
" Apa yang kalian bicarakan?"
" Banyak hal, tapi yang jelas, aku merasa Mentari akan banyak berubah."
" Benarkah?" Anin mengangguk. " Syukurlah kalau begitu."
Anin tersenyum.
__ADS_1
" Aku juga berharap yang terbaik untuknya."