Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 21


__ADS_3

Acara berlangsung dengan sangat lancar dan khidmat. Pesta pun telah usai sebelum magrib tiba. Sang pengantin pun sudah beranjak dari pelaminan, tempat dimana singgasana kebesaran mereka.


Anin sibuk mengangkat beberapa hadiah ke dalam kamar sang pengantin. Ia mondar-mandir memasuki kamar itu. Sejenak ia duduk di sebuah kursi untuk beristirahat sebentar, kakinya sudah terasa sakit karena memakai sepatu seharian.


" Anin," panggil sang bunda saat melihatnya tengah duduk.


" Iya Bun,"sahut Anin begitu mendengar suara bundanya.


" Suami kamu mana?" tanya bunda karena tak melihat Shan di mana pun.


" Suami??"


" Ya ampun Anin, malah bingung di tanya suaminya di mana, aneh nih anak. Suaminya bukannya diperhatikan."


" Maaf Bun,"ujarnya cengengesan. " Anin mana tahu Shan di mana bun, dari tadi Anin sibuk di belakang."


" Ya sudah cari suami kamu sana, istirahat, bawa dia ke kamar."


" Kamar???" Anin malah kalang kabut mendengar kata kamar.


" Ya iyalah Nak, terus Shan mau istirahat di mana, ha?? di kamar Bunda?"


" Kalau bunda tidak keberatan."


" Is, dasar nih anak, buat kesal Bundanya. Sudah sana cari Shan."


" Iya bun."


Memang sejak tadi Shan tidak terlihat di mana pun. Entah kemana ia pergi sejak Adrian dan Disti berbicara serius dengannya.


" Kemana juga tuh anak," gerutunya. " Tapi, bukannya bagus ya kalau Shan tidak ada. Lebih bebas jadi lebih leluasa, jadi kan Anin bisa tidur sendiri, tinggal kunci pintu, beres."


" Lagi pidato ya." Anin sontak kaget mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Ia berbalik lalu tersenyum kecil.


" Shan."


" Iya, kenapa? seperti lihat hantu saja," ocehnya. " Aku mau ke kamar."


" Ke...kamar???"


" Iya, kamar. Aku mau mandi, badan sudah lengket semua."


" Oh," ujar Anin mematung.


" Memangnya kamu mikir apa?" tanya Shan dengan tatapan menggoda.


" Apaan, sudah sana mandi". Anin tersipu malu berlalu melewati Shan yang tersenyum melihat tingkah Anin itu.


-------


Shan meletakkan koper yang ia bawa dari rumahnya. Untuk beberapa hari, ia akan berada di rumah mertuanya ini. Kamar Anin memang tak terlalu besar, tapi sangat rapi dan tertata dengan baik.


Anin duduk di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik Shan yang tengah mengambil pakaian ganti dan handuk. Tak lama ia pun memasuki kamar mandi dan seketika itu juga Anin menghela napas entah karena apa.


Ponsel yang ada di tangannya tiba-tiba berdering, terlihat sebuah panggilan masuk. Terpampang nama Alex di sana. Sebenarnya ia tak ingin mengangkatnya, tapi kalau sekali saja Anin mengabaikannya, maka akan ada ratusan kali panggilan sampai ia mengangkat panggilannya itu.


" Halo."

__ADS_1


" Anin!!!" Terdengar suara menggelegar dari sana.


" Tas, jangan teriak dong."


" Sorry, semangat soalnya."


" Nin, Anin, kalian lagi apa, mau malam pertama ya." Terdengar suara si empunya ponsel berteriak.


Anin menghela napasnya, ia sudah tahu bakalan di goda oleh ketiga temannya ini.


" Jadi kalian nelepon cuma mau tanya itu doang?"


" Ya iyalah, kita kan mau tahu," timpal mereka serempak. Anin kaget-sekaget nya mendengar ucapan yang super luar biasa itu.


" Dasar kurang kerjaan!!!" ujar Anin mematikan ponselnya. " Dasar!!!"


" Kamu kenapa Nin?" Anin langsung kaget mendengar suara Shan.


" Sudah selesai mandinya?"


" Sudah," ujar Shan duduk di sebelah Anin. " Kenapa tadi teriak-teriak?"


" Itu tadi teman-teman Anin."


" Oh..."


" Shan wangi banget," celetuk Anin pelan.


" Apa??" tanya Shan sepertinya ia mendengar Anin mengatakan sesuatu. " Kamu bilang apa?"


" Tidak ada," jawabnya asal.


" Tidur? dimana?"


" Di sinilah." Shan menepuk kasur menandakan ia akan tidur di tempat itu juga.


" Tempat tidur Anin kecil, bagaimana bisa kita berdua di sini."


" Aku akan tidur sambil memelukmu."


" Ha??" Anin langsung menyilangkan kedua tangan ke tubuhnya. Shan terhenyak sesaat melihat kelakuan istrinya ini. Ia pun tertawa kecil.


" Aku hanya bercanda," ujar Shan mengelus rambutnya. " Ya sudah, kamu tidur di sini saja, aku akan tidur di bawah, beres kan."


" Oh..."


" Kamu punya seprei lagi?"


" Ada."Anin pun bangkit mengambil sebuah seprei di lemarinya kemudian ia berikan kepada Shan. Shan membentangkan seprei itu di lantai sebagai alas tidurnya.


Anin memberikan sebuah bantal padanya. Shan merebahkan tubuhnya yang sudah lelah itu, sedangkan Anin masih duduk di atas kasurnya sambil memperhatikan Shan.


" Kenapa kamu memandangiku terus. Apa kamu berubah pikiran?"


" Ha?"


" Tidurlah, kamu pasti lelah kan? aku tidak akan melakukan apa pun kalau itu yang membuatmu tak bisa tidur."

__ADS_1


" Bukan begitu."


" Lalu kenapa? apa yang membuatmu tak bisa tidur, hm?" Shan langsung bangkit lalu duduk menghadap Anin.


" Shan, apa yang kita lakukan ini benar? maksud Anin, kita menikah karena sesuatu kan".


" Karena sesuatu itulah, aku bisa menikah denganmu. Apa pun alasan kita menikah, itu tidak menjadi masalah. Keluarga kita bahagia itu yang paling penting. Kebahagiaan kita pasti akan datang seiring waktu. Aku akan menunggu sampai kamu bisa menerimaku seutuhnya. Ingatlah, pernikahan ini hanya sekali".


Anin mengangguk.


" Ya sudah, jangan berpikir yang rumit lagi. Sekarang waktunya istirahat."


" Iya," ujarnya seraya merebahkan tubuhnya. Perlahan Anin menutup matanya, berharap akan terlelap di alam mimpi.


Shan menyunggingkan senyuman begitu melihat Anin yang sudah memejamkan matanya.


Saat ia akan terlelap juga, getaran ponselnya membuatnya kaget. Terpampang nama Mentari di layar ponsel itu. Shan hanya memandanginya tanpa melakukan apa pun.


Sudah berapa kali panggilan masuk dengan namanya di layar hari ini. Shan tak memedulikannya. Ia tak ingin berbicara dengan wanita itu. Yang ada hanya permasalahan yang datang kalau ia meladeni wanita yang berprofesi sebagai model itu.


Shan langsung menghubungi sekretarisnya begitu deringan telepon dari Mentari tak berbunyi lagi.


" Tuan,"ujarnya.


" Apa di sana semuanya baik-baik saja."


" Baik Tuan, di sini semuanya baik-baik saja. Tapi, sejak tadi nona Mentari terus menelepon tuan karena Tuan tidak menjawab, nona menghubungi saya."


" Aku tahu. Apa yang kamu katakan padanya sesuai apa yang aku perintahkan, kan."


" Iya Tuan, saya mengatakan apa yang tuan perintahkan. Tapi, Nona tidak percaya dan langsung marah-marah."


" Biarkan saja, untuk sementara dia tidak akan berani keluar dari persembunyiannya. Saat ini berita skandal yang menimpanya belum mereda. Dia tidak akan melakukan hal yang merugikannya sekarang ini."


" Baik Tuan, saya mengerti."


" Baiklah, terima kasih untuk hari ini. Beristirahatlah."


" Iya Tuan."


Shan pun menutup teleponnya. Sesaat ia menghela napas panjang.


" Apa terjadi sesuatu?" Suara Anin mengagetkan Shan yang masih fokus dengan ponselnya.


" Apa aku mengganggu tidurmu?"


" Sedikit."


" Maafkan aku."


" Kamu belum menjawab pertanyaan ku Shan, apa semuanya baik-baik saja?"


Shan tersenyum kecil. " Semua baik-baik saja," ujarnya mengelus lembut rambut istrinya ini. " Sekarang tidurlah lagi, aku juga akan tidur."


" Baiklah."


" Selamat tidur."

__ADS_1


" Selamat tidur Shan."


__ADS_2