Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 17


__ADS_3

Anin menghela napas panjang. Beberapa kali ia terlihat berdecak sambil mengacak-acak rambutnya. Sejak pagi tadi Anin terlihat tidak semangat, hingga Ia tak fokus dengan pelajarannya hari ini. Anin lebih banyak di dalam dunia lamunannya ketimbang dunia nyata. Ketiga temannya yang memperhatikannya sejak tadi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


" Kenapa sih Nin? dari tadi tuh muka kagak enak di lihat," celetuk Alex.


" Iya, dari tadi cemberut terus," timpal Yogi.


Anin hanya diam dengan ucapan kedua sahabatnya itu.


" Ada apa sih Nin?" tanya Tasya mendekatinya.


Anin menghela napasnya. " Lagi pusing nih."


" Gara-gara Pak Kemal ya?" ujar Alex


" Bukan," jawab Anin seadanya.


" Lalu?" sambung Yogi. " Apa karena Kak Agni bentar lagi mau ijab kabul, jadi kamu nya sedih gitu."


" Bukan," jawabnya lagi.


" Terus apa dong Nin!!!!" seru mereka bertiga.


" Tidak tahu ah!!" kesalnya pergi meninggalkan ketiga temannya. Alex, Yogi dan Tasya hanya saling memandang bingung dengan tingkah sahabatnya itu.


"Ini tidak bisa dibiarkan, bisa-bisa nanti semua orang salah paham dengan ucapannya kemarin. Masa iya Anin nikah sama Shan. Dia kan sudah ada pacar, namanya Mentari, kemarin mereka menyebut nama itu," gerutunya.


Anin berjalan menyusuri lorong gedung kampusnya bermaksud untuk mendatangi Shan di kantornya. Ia mempercepat langkahnya karena ojek online nya yang sudah di pesannya tak lama lagi akan segera tiba.


Di tengah perjalanan terlihat Pak Kemal yang berjalan menuju ke arahnya. Anin ingin berbalik begitu melihat dosennya itu tapi tak mungkin karena ia sedang terburu-buru.


" Siang Pak," sapanya seraya tersenyum.


" Siang", jawabnya menyambut sapaan Anin itu. " Oh ya, saya lupa mengucapkan terima kasih sama kamu karena sudah membantu saya beberapa hari ini."


" Iya Pak, tidak apa-apa, saya juga senang bisa membantu Bapak," ujarnya sedikit basa basi.


" Oh ya, apa hari ini kamu ada waktu?"


" Waktu??" Pertanyaan dosennya ini membuat Anin menjadi bingung. " Maksudnya Pak?"


" Iya, saya cuma mau mentraktir kamu makan sebagai balasan sudah membantu saya."


" Oh...". Anin mulai bingung harus menjawab apa atas ajakan dosennya ini. Ia mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. " Sebenarnya tidak perlu repot Pak, saya membantu ikhlas kok," ujarnya kebingungan.


" Jadi kamu tidak bisa?" tanyanya yang membuat Anin jadi tak enak sendiri.

__ADS_1


" I...itu...bukan begitu Pak," ucapnya jadi salah tingkah. " Lain kali mungkin Pak, soalnya hari ini saya ada urusan mendadak." Mau tak mau ia pun harus mengatakan hal itu juga.


" Oke kalau begitu, saya tunggu waktu free kamu," ujarnya tersenyum.


" Buset....dia senyum. Ada apa nih dosen yang di juluki dingin ini senyum-senyum, mana senyumnya manis lagi," gumamnya memalingkan wajah.


" Anin....," panggilnya karena Anin terlihat melamun.


" Ah, ya Pak, maaf," ujar Anin tersenyum kecil.


Deringan telepon dari ponselnya mengagetkan Anin. Anin segera mengangkatnya karena ojek pesanannya telah sampai.


" Iya Pak, tunggu ya, saya ke sana," ujarnya begitu menjawab telepon itu.


" Pak, maaf, saya harus pergi."


" Ya, silakan."


" Permisi Pak," pamitnya berlalu meninggalkan dosennya itu.


Anin berlari menghampiri Bapak ojek yang sudah menunggunya sejak tadi.


" Maaf ya Pak lama menunggu."


" Tidak apa-apa Mbak," ujarnya memberikan sebuah helm pada Anin.


Di dalam kepalanya sudah banyak kata-kata yang ingin di ucapkannya pada pria yang sudah membuatnya tak tidur tenang itu. Pernyataan Shan yang akan menikahinya di depan keluarga membuatnya uring-uringan. Ia tak ingin ada kesalahpahaman yang akan muncul saat wanita yang bernama Mentari mengetahui berita ini.


Mentari, nama wanita yang selalu ia dengar malam itu. Wanita yang menjadi topik pembicaraan dan konflik antara ayah dan anak. Sehingga membuatnya bertanya-tanya apakah yang di nyatakan Shan hanya untuk membuat ayahnya tenang karena hubungannya tak di setujui oleh om Adi.


Tapi melihat raut wajah Shan yang begitu serius malam itu malah membuatnya semakin bingung. Shan dengan tegas dan yakin tanpa ada keraguan sedikit pun melontarkan kalimat yang tak main-main itu.


" Mbak kita sudah sampai," ujar sang ojek yang sukses menyadarkan Anin dari lamunannya.


" Terima kasih ya Pak," ujar Anin yang turun dari sepeda motor.


" Sama-sama Mbak," sambutnya sembari melajukan motornya.


Anin menatap gedung yang ada di hadapannya ini. Gedung yang cukup besar yang tak pernah ia bayangkan kalau Shan adalah pemilik gedung itu. Kalau bukan Agni yang membuka cerita mengenai pekerjaan Shan, mungkin Anin berpikir Shan hanya seorang pekerja biasa.


" Mbak, saya mau bertemu dengan Shan," ujar Anin yang malah membuat sang receptionist heran.


" Maaf Mbak bertemu dengan siapa?" tanyanya memastikan bahwa yang ia dengar tadi tidaklah salah.


" Shan...ah, Bapak Shandika Ali Dimitri."

__ADS_1


" Apa Mbak sudah punya janji?"


" Janji??" Anin menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa ia membuat janji, ia datang kesini saja karena ingin membuat perhitungan dengan pria itu. " Saya tidak punya janji," ujarnya pelan.


" Maaf kalau begitu Mbak tidak bisa bertemu dengan CEO kalau tidak punya janji."


" Begitu ya...." Anin menghela napasnya. Ia kecewa karena tak bisa bertemu dengan pemilik perusahaan ini.


" Kamu Anin, kan?" tanya seseorang yang membuat semua mata tertuju pada pemilik suara bariton itu.


" Kak Adrian," ujar Anin begitu melihat wajah pemilik suara itu.


" Jadi benar Anin ya." Anin mengangguk. " Sedang apa di sini?"


" Mau ketemu sama Shan, Kak, tapi...."


" Ketemu Shan?"


" Iya".


" Ira," panggil Adrian pada receptionist itu.


" Iya Pak."


" Lain kali kalau Nona ini datang ke sini, persilahkan saja masuk."


" Iya Pak, baik," ujarnya.


" Ayo Nin."


" Iya Kak," ujar Anin mengikuti langkah Adrian dari belakang.


" Apa kamu datang untuk membicarakan tentang semalam?" tanyanya menebak.


" Ah, iya Kak," jawab Anin.


" Kenapa? apa kamu tidak mau menikah dengan Shan?"


Pertanyaan menohok itu sukses membuat Anin shock. Bagaimana bisa Adrian bicara se gamblang itu padanya tanpa berpikir terlebih dahulu.


" Kenapa kamu diam saja? apa aku benar?"


" Maaf Kak, aku tidak bisa menjelaskan apa pun pada Kakak meski Shan adalah sahabat Kakak. Ini adalah urusan kami berdua, yang tentu saja akan mempengaruhi kehidupan kami selanjutnya. Shan mengatakan hal yang aku belum bisa pahami, apakah ucapannya itu hanya untuk pengalihan atau memang tulus dari hatinya. Sampai saat ini aku bahkan tidak mengenalnya, lalu aku mendengar sebuah nama yang menjadi keributan malam itu. Apa Kakak pikir aku akan menyetujuinya begitu saja?"


Ucapan Anin itu malah membuat Adrian tersenyum kecil. Ia tak menyangka kalau Anin akan mengucapkan perkataan yang sangat dalam itu. Awalnya ia berpikir akan mendapatkan jawaban tak berbobot dari bibirnya, tapi ia salah sangka. Sekarang Adrian tahu mengapa Shan sangat tergila-gila dengan gadis manis ini.

__ADS_1


" Baiklah, kita sudah sampai. Apa kamu siap bertemu dengannya?" Anin mengangguk pelan. " Semoga mendapatkan jawaban yang kamu inginkan," ucap Adrian membuka pintu itu. Di sana terlihat Shan dengan wajah seriusnya memandangi laptop yang berada di atas mejanya.


" Shan....".


__ADS_2