Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 7


__ADS_3

Anin dan Tasya tengah duduk manis di sebuah kursi tempat mereka menghadiri sebuah acara. Tasya tampak antusias dengan acara yang mereka hadiri ini, sedangkan Anin hanya sibuk dengan makanan yang di dapatnya dari sogokan Tasya itu.


" Lihat Nin, mereka modis-modis ya."


" Hm, ya." Anin hanya menjawab seadanya, ia hanya sibuk mengunyah makanannya itu tanpa henti. " Kenapa sih Tasya suka datang ke tempat begini."


" Sebenarnya bukan suka gitu sih Nin, tapi karena aku penasaran sama pemilik brand ini. Soalnya aku dengar kabar kalau dia itu good looking banget."


" Ha?? hanya itu alasannya kamu datang kesini?"


" Itu alasan terbesarnya loh."


" Kasihan dong Yogi kalah saing."


" Lah kenapa bawa Yogi sih."


" Ya kan dia pacar kamu."


" Anin, itu sih beda situasi. Masa gitu aja kamu tidak mengerti."


" Terserah deh."


" Eh Nin."


" Hm."


" Pakaian yang aku pakai bagus kan?"


" Bagus kok."


" Syukurlah, kan tidak lucu ke acara begini pakai pakaian yang biasa aja. Lihat aja mereka itu, keren kan?"


Anin sesaat tercengang melihat gaya berbusana orang-orang yang datang ke tempat ini. Mereka sangat memperhatikan fashion yang mereka pakai. Anin jadi merasa minder sendiri karena ia merasa biasa-biasa saja.


" Wah, cuma Anin sepertinya mirip gembel."


" Siapa bilang? Anin keren kok."


" Terima kasih pujiannya walaupun tidak tulus kelihatannya."


Tasya tertawa mendengar celetukan sahabatnya ini.


Tak lama acara pun di mulai. MC yang membawa acara ini pun sudah membuka pembicaraan.


Sebelum acara utama di mulai terlebih dahulu dilakukan fashion show kecil untuk memperkenalkan produk mereka.


Tasya tampak sangat antusias dengan munculnya para model itu. Tasya memang termasuk orang yang mengerti fashion dibanding Anin. Bahkan Anin terkadang tak mengerti arah pembicaraan Tasya kalau sudah antusias membicarakan tentang hobinya itu.


" Inilah sesi yang kita tunggu-tunggu, di sesi ini kalian bisa bertanya langsung dengan beliau. Mari kita sambut Shandika Ali Dimitri." Suara tepuk tangan pun langsung menggema.


" Shandika Ali Dimitri? kok kayak pernah dengar namanya," gumam Anin mengernyitkan dahinya mencoba mengingat siapa pemilik nama itu.


" Nin, lihat itu orangnya," senggol Tasya yang membuat Anin fokus melihat orang tersebut. Anin langsung shock melihat orang yang di maksud Tasya itu.


" Gawat, itu kan Shan," ujarnya pelan. Anin langsung mengambil topi yang di pakai Tasya, berusaha menutupi wajahnya. Tasya agak bingung dengan kelakuan Anin yang tiba-tiba jadi gelagapan.


" Kenapa sih Nin?"


" Sudah sana fokus saja ke depan dan tolong jangan sebut namaku."


" Memang kenapa?"


" Tidak apa-apa, biar kamu lebih fokus dengan acaranya."


" Apaan sih kamu Nin, tambah buat bingung."


Untungnya Tasya tak mengambil pusing dengan ucapan dan kelakuan Anin itu. Ia memilih fokus mengikuti pembicaraan mereka, sedangkan Anin berusaha tenang agar tidak ketahuan oleh Shan.


" Di sini, boleh saya memanggil seorang audiensi untuk maju?" Tanya Shan pada sang MC sambil memperhatikan orang-orang yang sudah hadir.

__ADS_1


" Tentu". MC itu menyambut baik usulan Shan. " Bagaimana semua? di antara kalian akan di pilih oleh Shan untuk maju ke depan." Suara riuh pun menggema.


" Saya minta wanita yang memakai topi baret hitam untuk maju ke depan."


Mereka pun saling melirik mencari wanita yang di maksud oleh Shan itu. Sesaat suasana menjadi riuh karena mereka sibuk mencari wanita itu.


Tasya sibuk menyenggol Anin yang tidak menyadari kalau dia lah orang yang di maksud oleh Shan. Tasya berkali-kali memberi kode padanya untuk menyadari situasi yang ia hadapi karena saat ini semua mata tertuju padanya.


" Mbak yang memakai topi baret hitam dan memakai pakaian berwarna putih bisa untuk hadir ke depan," ucap MC menekankan siapa wanita yang di maksud oleh Shan.


Sekali lagi Tasya menyenggolnya. " Anin, itu kamu," bisiknya.


Anin bukannya tak sadar tapi ia berusaha untuk tidak menyadari siapa yang di maksud olehnya.


" Apa perlu kita jemput mbak nya nih," ucap sang MC yang membuat Anin makin serba salah.


Mau tak mau Anin berdiri dan menghampiri panggung yang ada di depan. Perasaannya sudah tak enak sejak nama Shan di sebutkan. Ia tak mengerti kenapa mata Shan sangat jeli melihat keberadaannya di antara banyak orang di sini.


" Mbak nya datang juga," ucap MC itu menyambut kedatangan Anin.


Shan tersenyum melihat Anin yang berada di hadapannya itu. Ia seperti mendapatkan lotre besar mendapati Anin berada di tempat ini.


" Hai dengan siapa?" tanya Shan mengulurkan tangannya.


" Dia ini sedang akting ya," gumamnya.


" Anin," ujar Anin menjabat tangan Shan. " Kamu mau mati ya Shan! memanggilku ke depan," ucap Anin berbisik.


" Aku tidak tahu kalau itu kamu."


" Oh ya, kamu pikir aku percaya."


" Aku tidak peduli."


" Is, sekarang lepas dong tangan Anin."


" Kalau boleh tahu kenapa kamu tertarik memanggil mbak Anin, Shan?"


" Karena dia menarik perhatianku, bukan berarti di sini tidak bagus bahkan aku sangat terkejut melihat style yang mereka pakai. Aku bukanlah ahli dalam hal ini."


" Shan jangan merendah begitu."


" Tidak sama sekali aku bicara sebenarnya."


Mereka berdua pun tertawa yang di ikuti oleh para audiensi.


Anin hanya terdiam melihat interaksi mereka ini. Sungguh ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi ini. Anin berusaha tenang karena berada di depan orang banyak walaupun ia ingin sekali pergi dari tempat ini.


" Kapan ini berakhir ya Allah," gumam Anin.


Shan memandang Anin lalu menjelaskan bagaimana ia tertarik dengan style yang di pakai oleh Anin.


Di dalam hati Anin menggerutu sumpah serapah. Ia tak mengerti apa Shan sedang memujinya atau sedang mengejeknya. Apalagi aksesoris topi yang di pakainya bukanlah miliknya melainkan milik temannya Tasya.


" Oke mari tepuk tangan untuk mbak Anin," ucap MC itu dan riuh tepuk tangan pun menggema. " Bagaimana kalau mbak Anin dan Shan kita poto sebagai kenang-kenangan."


" Ha??? cobaan apa lagi ini. Kenapa harus di poto segala sih", gumam Anin tak percaya harus melakukan sesi poto dengan pria yang ada di hadapannya ini.


" Oke, tidak masalah," ucap Shan yang membuat Anin langsung menatapnya karena ucapannya itu.


" Ayo mbak Anin lebih dekat dengan Shan."


" O...oke." Anin bergerak selangkah mendekati Shan, melihat Anin bergerak hanya sedikit, Shan menariknya ke dekatnya dan merangkulnya. Anin kaget bukan kepalang, ia menatap Shan yang juga menatapnya.


Tanpa aba-aba sang MC sudah mengambil poto mereka.


" Oke, bagus," ucapnya. Anin sontak kaget entah sejak kapan MC itu mengambil poto mereka padahal bergaya saja belum. " Terima kasih mbak Anin sudah berpartisipasi dalam acara ini. Silakan mbak Anin kembali ke tempatnya."


" Oke," ujar Anin tersenyum. Anin kembali ke tempat duduknya. Tasya tampak senang melihat Anin. Dia tak henti-hentinya mengacungkan jempol padanya.

__ADS_1


" Keren Nin." Tasya memberikan dua jempol padanya.


" Apanya yang keren."


Tanpa terasa acara pun usai, waktu satu setengah jam begitu tak terasa bagi Tasya tapi untuk Anin bagaikan satu tahun menunggu acara ini selesai.


" Akhirnya selesai juga, lain kali jangan ajak Anin lah. Enak tidur di rumah."


" Dasar, kerjanya tidur terus. Di ajak ke tempat acara bagus juga. Lihat, kita dapat bingkisan lagi."


" Bingkisannya sih boleh juga."


" Ayolah kita pulang."


" Iya, ayo pulang. Anin sudah capek."


" Anin." Terdengar suara seseorang memanggil namanya. Anin dan Tasya menoleh. Tasya tampak shock melihat orang yang menghampiri mereka.


" Mau pulang?" tanya Shan.


" Iyalah mau kemana lagi," jawabnya santai tapi Tasya mulai tidak santai karena kebingungan dengan situasi ini.


" Ya sudah ayo sama."


" Tidak mau, Anin pulang sama Tasya aja. Iya kan?"


" Ah." Tasya kelihatan kebingungan. " Kalian ini saling kenal?"


" Tanya saja Anin," celetuk Shan.


" Anin." Tasya memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan. Anin mulai kelimpungan menjawab pertanyaannya itu.


" Intinya Anin kenal sama Shan, sudah itu saja."


" Kok baru cerita sekarang?"


" Apa untungnya cerita tentang dia."


" Anin jahat. Sudah sana pulang sama kak Shan saja."


" Apa!!! kita kan janji pulang sama."


" Siapa bilang?"


" Tasya!"


" Mau pulang tidak?" tanya Shan sekali lagi.


" Anin bisa pulang sendiri kok," jawabnya.


" Tapi ini mau bunda loh."


" Bohong."


" Tidak mau ya sudah, jangan salahkan aku kalau bunda marah."


" Ya...ya...tunggu." Anin menghentikan langkah Shan. " Tasya, Anin pulang duluan ya."


" Oke. Tapi boleh tanya tidak, hubungan kalian itu sebenarnya seperti apa. Kenapa kak Shan dekat sama Bunda."


" Kami ini hanya......" Shan membungkam mulut Anin.


" Kalau menurut kamu apa?"


" Tu....tunangan," jawab Tasya ragu.


" Anggap saja seperti itu," ujar Shan asal." Bye Tasya." Shan melambaikan tangannya sambil tersenyum padanya.


" Bye." Tasya melambaikan tangannya seakan terhipnotis dengan ucapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2