Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 32


__ADS_3

Shan terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap, tangannya mencari sosok sang istri yang semalam berada di sampingnya. Shan tersadar, ia tak menemukan Anin di sana. Shan bangkit dari tidurnya dan betul saja, Anin tak ada lagi di sana.


Waktu memang sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi. Ia pun segera membersihkan diri kemudian menunaikan salat dua rakaat.


Shan keluar dari kamarnya, terlihat Anin sedang berdiri di depan pintu taman belakang. Ia segera menghampirinya, namun kemudian di dapatinya Anin sedang bercanda gurau dengan seseorang. Entah dengan siapa ia tertawa se senang itu. Perlahan Shan mendekati istrinya itu dan di dapatinya ia bersama dengan sekretarisnya, Reno.


Reno yang melihat atasannya itu datang langsung berdiri dan menyapanya.


" Tuan".


Sapaan itu membuat Anin menoleh ke belakang, benar saja Shan ada di belakangnya.


Reno pun langsung meninggalkan kedua pasangan itu karena tak enak harus berada di antara mereka.


" Shan, sudah bangun?"


" Hm," jawab Shan singkat.


Anin menuangkan segelas air untuknya lalu mengoleskan sebuah roti untuk di makannya.


" Papa sudah bangun?" tanyanya karena tak melihat sang Papa di mana pun.


" Sudah, tadi Papa pergi sama Pak Udin. Katanya mau jalan-jalan pagi."


" Oh."


Anin sedikit heran dengan Shan pagi ini. Setiap jawabannya hanya Hm dan Oh, entah apa yang membuatnya jadi begitu.


" Shan, kamu tahu ternyata kak Reno itu seniornya Anin di kampus."


" Benarkah."


" Iya, tadi kami mengobrol. Anin cerita, eh ternyata kita satu kampus. Ternyata dunia ini sempit bisa ketemu senior di kampus yang sama."


" Jadi kalian tadi mengobrol?"


" Iya."


" Pantas saja kamu terlihat senang begitu."


" Ya, namanya juga ketemu senior."


" Oh."


Lagi-lagi kata Oh keluar dari bibirnya.


" Shan!"


" Hm."


" Dari tadi Anin cerita cuma Oh, Hm. Kenapa sih? Anin ada salah ya?"


" Tidak ada."


" Tapi kenapa..." Anin mulai emosi. " Kamu!" Ia pun menghela napasnya menahan kekesalan yang takutnya akan membuat masalah bertambah besar. " Sudahlah," ujarnya dengan raut wajah kekesalan.


Shan menggenggam tangan istrinya itu erat. Ada sedikit rasa terkejut karena tindakan Shan yang tiba-tiba itu. Tersungging sebuah senyuman dari bibir Shan. Keluar sebuah kata maaf yang tulus karena sudah membuat sang istri menjadi kesal.


Memang entah kenapa Shan menjadi tidak senang melihat keakraban Anin dan Reno yang tiba-tiba itu. Apalagi melihatnya tersenyum dan tertawa untuk orang lain. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba membakar hatinya. Sebuah kekesalan yang berujung kekesalan lain yang di rasakan istrinya juga terhadap dirinya.


Setelah memahami situasi yang genting itu, Shan pun menyadari kalau yang ia lakukan seperti anak kecil yang marah karena permen kesukaannya di ambil. Ia pun merasa lucu sendiri karena sudah bersikap seperti anak-anak kepada istrinya dan itu baru ia rasakan sekarang.


Anin pun luluh karena permintaan maaf dari suaminya itu. Ia pun tak permasalahkan lagi sikap Shan yang menjengkelkan barusan. Sebuah senyuman kini terkembang kembali untuk Shan. Dan Shan pun amat senang melihat senyuman manis sang istri.

__ADS_1


" Ehem." Terdengar suara mendehem dari arah sana. Shan dan Anin pun cepat-cepat melepaskan tangan mereka.


" Papa," sahut Shan melihat Papanya berjalan menuju arah mereka.


" Kalian belum berangkat?" tanya sang Papa pura-pura tak melihat kejadian barusan.


" Belum Pa," jawabnya.


" Papa, mau makan apa? biar Anin ambilkan."


" Tidak usah, Nak, Papa tadi sudah sarapan sebelum keluar. Tolong ambilkan Papa segelas air putih hangat saja."


" Iya, Pa," ujar Anin mengambil air yang di minta sang mertua.


" Kenapa sarapanmu tidak di makan, Shan?"


" Ah, iya Pa, ini juga di makan."


" Sudah kamu pikirkan apa yang Papa ucapkan semalam?"


Shan terdiam sejenak karena mendapatkan pertanyaan yang sangat serius itu.


" Sudah Pa. Apa Papa mau mendengarnya?"


" Tidak, Nak. Papa yakin dengan apa yang kamu pikirkan. Semua pasti yang terbaik untuk kalian."


" Iya Pa."


Saat Anin ingin memberikan minuman kepada mertuanya itu, tiba-tiba suasana menjadi canggung. Entah apa yang terjadi dengan anak dan orang tua yang ada di hadapannya ini. Tak pernah ia menyaksikan mereka hanya diam seribu bahasa seperti itu.


" Pa, ini minumannya," ujar Anin meletakkan gelas kepada mertuanya.


" Terima kasih."


" Iya Pa."


Reno pun datang menanyakan kapan Tuannya itu akan berangkat. Shan pun langsung berdiri lalu berpamitan dengan sang Papa. Sedangkan Anin mengambil tasnya yang ada di kamarnya.


" Pa, Shan berangkat."


" Iya."


Shan melangkahkan kakinya beberapa langkah lalu berbalik menghampiri Papanya kembali.


" Pa, kalau seandainya yang memilih pergi adalah Anin, apa Shan harus merelakannya seperti Nada?"


Tuan Adi memandangi anaknya itu. Terlihat ia sedikit terkejut dengan pertanyaannya.


Lalu sang Papa tiba-tiba tersenyum, membuat Shan semakin bingung dibuatnya.


" Anin apakah kamu akan meninggalkan Shan?"


Shan langsung menoleh ke belakang karena Papanya melirik ke arah sana. Tepat di belakangnya sudah ada Anin yang berdiri dengan raut kebingungan.


" Maksudnya Pa?" tanyanya terbata.


" Tanyakan saja pada Shan," jawab sang mertua tersenyum.


" Shan."


Mendapatkan tatapan mengharapkan sebuah jawaban atas apa yang didengarnya barusan, Shan malah memanggil Reno untuk segera berangkat. Anin semakin bingung dengan sikap Shan yang meninggalkannya tanpa memberikan jawaban.


Bahkan di dalam mobil, mereka hanya diam, tak seperti biasanya. Shan menyibukkan dirinya dengan membaca beberapa dokumen, sedangkan Anin sibuk dengan buku pelajarannya. Anin tak mengerti kenapa sang suami tak mengucapkan kata sedikit pun atas pertanyaannya dan malah diam seribu bahasa.

__ADS_1


Reno sesekali melirik dari spion mobil mengamati kedua pasangan itu. Ia menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyuman karena tingkah Shan dan Anin. Entah apa yang terjadi dengan mereka, yang ia tahu hanya, sejak Tuannya memanggilnya untuk segera berangkat, raut wajah keduanya sudah tidak tergurat senyuman.


Anin berpamitan sesaat mobil itu berhenti. Tak ada embel-embel nama suaminya saat ia berpamitan, hanya aku pergi, lalu ia menutup pintu itu.


Saat Anin menoleh ke belakang, mobil itu pun sudah melaju meninggalkan kampusnya ini. Anin mengentakkan kakinya kesal sambil menyumpah serapah.


Alex yang melihat Anin sedang berjalan langsung mempercepat laju jalannya untuk menghampiri sang sahabat.


" Anin!" panggilnya.


Anin pun menoleh ke arah asal suara yang menyebut namanya itu. Terlihat Alex berlari menghampirinya.


" Alex," sahutnya. " Kok sendiri? Yogi sama Tasya mana?"


" Mulai sekarang jadi jomblo, Yogi naik motor bareng Tasya, jadinya sendirilah."


" Kasihan," ujarnya mengejek.


" Iya deh, yang sudah nikah mah bebas meledek ya."


Anin pun tertawa.


" Bagaimana rasanya sudah pindah ke rumah suami?"


" Biasa."


" Biasa bagaimana? yang jelas dong."


" Mau di jelaskan bagaimana lagi sih. Ya biasa kayak di rumah sana. Bedanya cuma rumahnya lebih besar, ada asistennya, itu doang."


" Bukan itu maksudnya Maemunah, kalau sudah tinggal sama suami kan beda, bagaimana sih! buat kesal ya!."


" Anin juga kesal!."


" Kenapa jadi kesal? cuma tanya itu doang kok."


" Anin mau tanya deh, kalian itu para pria, apa hobinya suka buat orang bingung dengan sikap kalian yang ambigu, di tanya malah diam, sama sekali tidak di jawab, malah buat orang jadi tambah kesal."


Alex pun terdiam.


" Tuh kan Alex malah diam."


" Bukan gitu, cuma bingung, kenapa jadi penuh emosi gitu pertanyaannya?"


" Ini memang pertanyaan penuh emosi, jadi harus di jawab."


" Ini sih pertanyaan pribadi, ada hubungannya sama Kak Shan kan?"


Sekarang giliran Anin yang malah diam.


" Kalau diam berarti benar. Kalau menurutku sih mungkin ada sesuatu yang menurut suami kamu belum siap untuk disampaikan. Dia mungkin sedang berpikir matang-matang sebelum nanti diungkapkan. Ditunggu, jangan buru-buru, penasaran pasti tapi lebih baik sabar."


" Begitu ya?"


" Iya begitu. Makanya punya suami itu diperhatikan, nanti ada orang lain yang perhatian, baru pusing."


" Apaan sih Lex!"


" Ini serius. Diingat ya", ujar Alex berjalan meninggalkan Anin yang tiba-tiba berdiri mematung.


Alhasil Anin pun jadi ke pikiran dengan ucapan Alex barusan. Sangat serius dan menakutkan.


" Anin!!!" panggilnya lagi. " Ayo cepat, nanti dosen keburu masuk."

__ADS_1


" I-iya." Anin pun berlari menghampiri sang sahabat yang menunggunya.


__ADS_2