Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 8


__ADS_3

Anin berjalan kesal memasuki rumahnya. Bunda yang membukakan pintu merasa bingung dengan tingkah Anin itu. Bunda langsung menatap Shan meminta jawaban kenapa anak bungsu kesayangannya tiba-tiba bersikap seperti itu. Tapi Shan hanya menaikkan bahunya karena ia sendiri pun tidak tahu pasti apa penyebab dari kekesalan Anin itu.


" Anin kenapa Bun?" tanya Agni yang melihat adiknya itu cemberut berjalan melewatinya.


" Bunda juga tidak tahu," jawab bunda. " Tanya deh sama Shan."


" Shan."


" Apa?"


" Ada apa ini?"


" Tidak ada, aku tidak melakukan apa pun."


" Kamu pikir aku percaya begitu saja."


" Kamu sama saja dengan Anin."


" Kamu mengerjainya ya?"


" Tidak."


" Lalu? kenapa Anin jadi kesal gitu Shan."


" Aku tidak tahu. Kenapa aku jadi tersangka sekarang?"


" Kamu memang tersangka kalau sudah menyangkut Anin. Sudah sana bujuk dia, aku tidak mau tahu ya kamu harus membuatnya jangan cemberut lagi, mengerti!" hardik Agni pergi meninggalkan Shan yang kebingungan dengan situasi aneh ini.


" Hei...hei Agni." Agni tidak menggubris panggilan Shan itu dan terus berjalan menaiki tangga. " Aiss....kenapa jadi begini." Shan mengacak-acak rambutnya.


Dengan terpaksa Shan menghampiri Anin yang berada di kamarnya. Shan tampak ragu untuk mengetuk pintu itu. Ia mencoba untuk menenangkan diri dan meyakinkan dirinya. Setelah mantap, ia pun mengetuk pintu itu perlahan. Namun tak ada jawaban dari dalam sana. Shan mencoba mengetuk pintu itu lagi namun untuk sekian kalinya Anin tak menggubris ketukan pintu itu.


" Anin, tolong buka pintunya," pintanya. " Anin....".


" Shan mau apa! Terdengar suara Anin dari dalam sana. " Anin tidak mau bicara sama Shan, pergi saja sana."


Shan menghela napasnya. Baru kali ini ia harus membujuk dan berurusan dengan seorang wanita seperti Anin.


" Kalau Anin tidak mau keluar, aku akan tetap di sini sampai besok atau besoknya lagi sampai kamu keluar dan mau bertemu denganku," ancam Shan.


" Terserah, Anin tidak peduli," ucap Anin keras. Shan tampak shock dengan ucapan Anin itu.


Pada akhirnya ia pun menunggu sampai sang pemilik kamar membukakan pintu untuknya. Shan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia menyilangkan tangannya sembari menunggu Anin untuk membuka pintu itu.


" Ha......Anindira. Aku harus melakukan apa padamu agar kamu melihatku. Setiap kali kita bertemu hanya pertengkaran yang terjadi di antara kita. Sekarang pun seperti itu, kamu terus marah dan kesal padaku. Apa aku tidak cukup baik untukmu?"


" Shan....". Suara lembut itu menggema di telinganya. Shan menoleh, sudah ada Anin di sana berdiri terpaku memandangnya." Anin kan sudah bilang untuk pergi."


" Lalu kenapa Anin buka pintunya."


" Soalnya kak Agni bilang Shan masih di sini."


" Memangnya kenapa kalau aku tetap di sini?"

__ADS_1


" Itu....." Anin hanya menunduk tak tahu harus mengatakan apa.


" Kemarilah, duduk di sebelahku," ujar Shan. Anin menuruti permintaan Shan itu dan duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk di lantai di tempat Shan tadi berdiri. " Kamu marah padaku?"


" Hm."


" Kenapa?"


" Karena Shan sudah membuat Anin kesal."


" Yang mana? Anin marah karena masalah di acara tadi atau karena masalah tunangan?"


" Ha??"


" Atau ada yang lain?"


" Anin juga bingung, Anin hanya kesal saja."


" Yang benar saja Nin, bunda sama Agni sampai marah loh."


" Shan di marahi?" Shan mengangguk. " Itu kan salah Shan, kenapa waktu Tasya bilang tentang tunangan Shan malah ngomongnya gitu bukannya di bantah."


" Memangnya kenapa?"


" Karena kita tidak ada hubungan yang seperti itu."


" Lalu kenapa dulu kamu bisa mikir aku dan Agni tunangan. Memangnya apa bedanya sekarang?"


" Itu....soalnya kan kalian berdua terlihat akrab."


" Iya, maaf. Anin salah, tapi kan ini sudah beda. Tasya mikirnya jadi lain."


" Ya sudah kalau Anin tidak mau Tasya salah paham. Kita tunangan saja, ah tidak menikah saja."


" Apa!!!"


" Kan Anin sendiri yang bilang tadi."


" Bukan begitu juga Shan, selalu saja bercanda. Anin serius loh."


" Siapa juga yang bercanda."


" Anin masih kuliah".


" Terus...."


" Shan..."Anin mulai merengek.


" Bukannya dulu kamu yang memintaku menikahimu."


" Waktu itu kan Anin masih kecil, tidak tahu apa yang sudah di omongkan," ujar Anin mulai ngegas. " Masa iya Shan anggap itu serius."


" Jadi cuma bercanda?"

__ADS_1


" Itu...." Anin memalingkan wajahnya. " Anin terlalu muda untuk menikah."


" Hm....ya sudahlah kembali ke kamarmu."


" Shan mau kemana?"


" Pulanglah, memang mau kemana lagi."


" Oh."


" Nanti titip salam sama bunda, ayah dan Agni ya."


" Oke."


" Bye."


" Bye."


Akhirnya Shan meninggalkan kediaman keluarga Anin. Ia memasuki mobilnya yang terparkir di teras rumah.


Ia menghidupkan mesin mobil itu dan melajukan nya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil bergema suara nyanyian merdu dari sebuah radio yang ia putar. Suasana jalanan yang cukup sepi dengan rintik-rintik hujan menambah syahdu malam itu.


Shan menghentikan laju mobil ketika lampu lalu lintas menunjukkan tanda merah. Sejenak ia teringat dengan ucapan Anin tadi. Ia memang menyukai gadis itu dan selama ini Shan selalu memperhatikan setiap langkahnya tanpa sepengetahuan darinya.


Lamunannya itu pun langsung buyar saat lampu berubah berwarna hijau, ia kembali fokus pada jalanan sekitar.


Tak lama ia pun sampai di kediamannya. Rumah yang cukup besar untuk seorang diri. Hanya ada seorang pelayan yang tinggal bersamanya. Seorang wanita paruh baya yang sering ia sapa dengan sebutan Bi Ani. Bi Ani sudah cukup lama bersama dengan keluarga mereka bahkan sejak Shan kecil. Saat mereka di Paris pun mereka membawa ikut serta Bi Ani. Namun saat Shan memutuskan pulang, Bi Ani pun ikut bersamanya dan tinggallah papa nya di sana seorang diri.


Shan hanya menunggu beberapa bulan lagi untuk berkumpul dengan papanya yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang.


Ia banyak menghabiskan waktu untuk membesarkan perusahaan yang sudah lama di rintis oleh orang tuanya. Dan kerja keras mereka selama ini sudah menuai keberhasilan. Lambat laun perusahaan itu semakin kokoh dan anak perusahaan yang Shan bangun pun sudah mulai berkembang pesat.


Semua berkat dukungan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang bekerja dengan setulus hati dan memiliki passion dalam bidangnya.


" Tuan, ini semua berkas yang di kirim oleh Tuan Adrian," ucap sekretarisnya begitu melihat Shan sudah sampai di rumah. " Aku pikir kami sudah pulang, Ren," ujar Shan mengambil berkas yang ada di tangan sekretarisnya Reno.


" Saya menunggu Tuan pulang karena ini sangat mendesak."


" Baiklah."


" Apa ada perintah lagi Tuan?"


" Tidak, kamu boleh istirahat."


" Ha? maksudnya Tuan."


" Tidurlah di kamar tamu, aku sudah meminta Bi Ani menyiapkan semuanya. Besok kita harus pergi pagi-pagi sekali. Akan sangat tidak efektif kalau kamu pulang malam ini. Lagi pula pakaian juga sudah tersedia di sana."


" Baik Tuan kalau begitu saya permisi."


" Iya silakan."


Shan membolak-balik berkas yang ada di tangannya ini, membaca setiap detail yang tertulis di dalamnya. Malam ini ia habiskan untuk menganalisis berkas yang di kirim oleh sahabat sekaligus partner kerjanya, Adrian.

__ADS_1


Sesekali ia menguap karena mengantuk. Waktu memang sudah menunjukkan pukul satu malam, waktu yang tak terasa sudah bergulir dengan cepatnya. Ia pun memilih untuk merehat kan tubuhnya yang sudah lelah itu. Berada di alam yang membawanya ke mimpi yang indah.


__ADS_2