
Anin melirik Shan yang hanya diam sedari tadi. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sesekali Shan menghela napas panjang lalu berdecap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Kalau tidak bisa berkonsentrasi jangan menyetir,” celetuk Anin memainkan ponselnya. “ Anin masih mau hidup Shan.”
“ Ha.” Shan pun akhirnya tertawa karena menyadari ucapan istrinya itu. “ Maafkan aku karena tidak fokus padahal sedang menyetir.”
“ Ada apa? Sejak keluar dari kamar, sikap kamu berubah, malah jadi diam begini.”
“ Tidak apa-apa.”
“ Hm, benarkah?”
“ Iya.”
“ Ya sudah kalau memang begitu. Menyetir yang baik Pak sopir,” ujarnya tersenyum.
Shan pun hanya tersenyum
"Maaf Anin untuk satu ini aku belum bisa cerita, mungkin nanti. Aku akan menceritakannya padamu," gumamnya.
-------
Shan pun sampai di kantornya setelah mengantarkan Anin ke kampus. Terlihat Reno sudah menunggunya di depan pintu untuk membahas semua pekerjaan hari ini.
“ Tuan, Tuan Anthony tadi menghubungi saya. Dia bilang ingin bertemu dengan Tuan.”
“ Membahas apa?”
“ Membicarakan kerja sama.”
“ Bukankah kita sudah menolaknya?”
“ Iya, tapi Tuan Anthony ingin membahasnya kembali. Dia juga ingin membahas mengenai Nona Mentari.”
“ Mentari?”
“ Iya.”
“ Apa hubungannya dengan Mentari? Apa mereka saling kenal?”
“ Saya juga tidak tahu Tuan.”
Shan terenyak sesaat. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, mengapa Anthony tertarik dengan Mentari, hubungan apa yang mereka punya dan apakah ada hubungannya dengan pesan yang di kirim oleh Nada. Semua pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
“ Reno, buat jadwal untuk pertemuan dengannya dan cari tahu hubungan antara mereka, jangan sampai merugikan perusahaan ini.”
“ Baik Tuan.”
Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka. Terlihat Disti memasuki ruangan dengan wajah masam. Reno yang membaca situasi itu pun langsung mengundurkan diri agar kedua sahabat itu leluasa untuk bicara.
“ Ada apa dengan wajahmu itu,” celetuk Shan menghampiri Disti yang duduk di sofa.
“ Aku sedang kesal Shan.”
“ Aku tahu. Melihat wajahmu saja aku sudah tahu kalau kamu sedang kesal.”
“ Benarkah? Apa wajahku terlihat menyeramkan kalau sedang kesal?” Shan mengangguk dengan polosnya. “ Kamu ini!” amuk Disti melempar sebuah bantal padanya.
__ADS_1
“ Katakan padaku apa yang membuatmu kesal.”
“ Kamu," tunjuknya.
“ Tolong keluar dari ruanganku.”
“ Tidak mau!”
“ Apa lagi salahku kali ini Dis?”
“ Model kesayanganku, dia tidak mau membantuku lagi.”
“ Anin?”
“ Ya siapa lagi Shan kalau bukan Anin. Dia tidak mau menjadi modelku karena dia bilang sibuk dengan kuliah dan rumah tangga. Kenapa dia bisa berkata seperti itu, Anin menghancurkan angan-anganku.”
Shan malah tertawa mendengar keluhan sahabatnya ini.
“ Kenapa kamu malah tertawa! Pasti kamu yang melarangnya kan!”
“ Aku tidak melakukan apa-apa.”
“ Jangan bohong!”
“ Aku tidak berbohong, lagi pula untuk apa aku berbohong padamu. Dari awal Anin juga tidak mau kan, kamu nya saja yang terlalu berharap, jadinya dia tidak enak sendiri. Biarkan dia memilih jalan yang dia mau, jangan di paksa begitu Dis.”
“ Apa aku terlalu memaksanya?” Shan mengangguk. “ Benarkah?”
“ Iya.”
“ Ya sudahlah kalau begitu kalau memang itu maunya Anin, aku bisa apa,” ujarnya lirih.
“ Tentu saja.”
“ Cih.”
Shan dan Disti selalu saja begitu, bertemu hanya untuk berargumen bahkan terkadang tak tentu arah, tapi itulah persahabatan yang mereka jalani, tak ada yang di tutupi, semua berjalan apa adanya.
" Ah, Shan." Disti seperti mengingat sesuatu. " Apa kamu tahu Anthony dan Mentari punya hubungan?"
" Apa?"
" Kemarin itu, aku tidak sengaja melihat mereka berdua keluar dari hotel. Kamu tahu, mereka sangat mesra saat keluar dari sana."
" Kamu yakin itu mereka?"
" Tentu saja aku yakin, bahkan aku mengambil gambar mereka dengan ponselku, lihatlah ini," ujar Disti memperlihatkan gambar di ponselnya.
" Apa Adrian tahu?"
" Tentu saja, saat itu kami berdua menemui Mahendra. Bukankah kamu yang menyuruh."
" Aish, mulai lagi. Apa kamu jatuh cinta lagi padanya, ha!"
Plak...
Disti memukul Shan sekuatnya. Shan pun meringis kesakitan memegangi kepalanya.
__ADS_1
" Kenapa memukulku!"
" Supaya isi kepalamu jadi lebih baik, sepertinya sudah mulai kotor."
" Kamu ini."
" Aku sedang serius kamu malah main-main," ujar Disti kesal. " Kamu tahu kan apa ini artinya, kalau ini benar berarti Anthony sedang berselingkuh, dan siapa yang menderita, pasti Nada dan malangnya dengan wanita yang sama yang pernah menghancurkan kehidupannya. Aku tidak mengerti mengapa Mentari selalu merusak kehidupan seseorang."
" Pantas saja," oceh Shan tiba-tiba.
" Pantas saja apa?" tanya Disti penasaran. " Kenapa malah bilang begitu."
" Bukan begitu, pantas saja Anthony ingin bertemu denganku karena ingin membicarakan sesuatu dan salah satunya tentang Mentari."
" Sudah kuduga bakalan jadi begini."
" Kamu tahu, Nada tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan hal yang sama, tapi kemungkinan Nada tidak tahu siapa wanita yang berselingkuh dengan Anthony."
" Nada menghubungimu? lalu apa yang kamu katakan."
" Tidak ada, lagi pula itu bukan urusanku, aku tidak ingin terlibat dengan kehidupannya. Aku tidak punya kapasitas untuk mengatakan apa pun."
" Shan."
" Dis, aku tahu Nada adalah sahabatmu, tapi mengenai kehidupannya tolong jangan libatkan aku di dalamnya. Aku dan dia sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Anin adalah kehidupanku."
" Aku tahu, aku tidak mungkin menjerumuskanmu, Shan. Tapi, mungkin Nada ingin bicara denganmu karena..."
" Disti," ujar Shan memotong ucapannya. " Tidak bisa, jangan bicarakan Nada lagi. Lagi pula aku sudah menyuruh Reno mencari tahu apa hubungan Mentari dengan Anthony. Setidaknya jangan sampai perusahaan terkena dampak dari hubungan mereka."
" Baiklah, Shan. Aku tidak akan memaksamu, ini juga demi kebaikan kalian."
" Oh ya, aku dan Anin akan pergi berbulan madu."
" Benarkah? kalian akan kemana?"
" Ke Eropa, Norwegia, Swiss."
" Wah, apa yang kamu lakukan pada Anin sampai dia luluh mau di ajak bulan madu."
" Tentu saja aku menjampinya, dengan bunga-bunga, kemenyan."
" Dukun mana yang kamu datangi?"
" Dukun yang membuat Adrian luluh padamu."
" Shan!"
Shan terkekeh melihat reaksi Disti. Ia jadi kesal karena candaan Shan itu.
" Makanya jangan asal bicara."
" Kan kamu yang duluan Shan. Sudahlah, aku masih banyak pekerjaan. Bicara denganmu tidak akan ada habisnya," ocehnya bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Shan sendirian di ruangannya.
Shan menyandarkan punggungnya di sofa. Ia pun sesekali menghela napas panjang. Hanya dalam sekejap permasalahan muncul tiba-tiba. Semuanya merujuk pada orang yang sama dan di lingkaran yang sama.
Ia tak habis pikir mengapa Mentari selalu mencari masalah. Kebiasaannya bermain dengan pria beristri tidak pernah hilang, entah sekedar memanfaatkan atau memang serius. Tapi, kali ini sang model bermain dengan wanita yang sama, entah apa maksud dari tindakannya itu. Sekedar menyakiti sang istri atau memanfaatkan kekuasaan dari sang suami.
__ADS_1
" Pasti ada sesuatu yang di lakukan oleh Mentari diam-diam di belakangku."