Ketika Cinta

Ketika Cinta
Bab 50


__ADS_3

Setelah kepergian Nada, Anin masih tertegun di kursinya. Ia masih memikirkan ucapan wanita cantik itu padanya. Nada, wanita yang baik, bahkan ia mengatakan perasaan Shan padanya. Sebenarnya Anin sudah tahu bagaimana perasaan Shan padanya dari dulu, tapi terkadang Anin ragu, apa itu tulus atau tidak, padahal Shan sudah berkali-kali menegaskan soal perasaannya itu. Tapi, dengan pembicaraannya ini, Anin memikirkan perasaan suaminya itu lebih dalam.


“ Apa aku harus menemuinya.”


Pertanyaan itu terus hadir di pikirannya. Memang beberapa hari ini, Anin tak pernah bertemu secara langsung dengan Shan. Kalau rasa rindu itu datang, Anin hanya bisa menatap wajah sang suami saat sedang tertidur. Ego yang terkadang menjadi penghalang di antara mereka.


“ Aku harus menemuinya.”


Sebuah keputusan yang sudah bulat Anin ambil.


Anin bergegas ke tempat Shan bekerja. Sebuah taksi mengantarkannya ke sana. Anin sengaja tak memberi tahu kedatangannya itu. Ia ingin melihat Shan tanpa memberitahukan kedatangannya ke sana.


Setengah jam perjalanan ia tempuh untuk sampai di tempat itu. Setelah membayar ongkos taksi, Anin bergegas menemui Shan disana.


Tapi, langkahnya harus terhenti karena melihat Mentari yang sedang menunggu di depan pintu lift.


Ironisnya mata mereka pun saling memandang. Mentari dengan sikap angkuhnya itu datang menghampiri Anin.


“ Wah, sudah lama tidak bertemu,” ujarnya basa basi. Mentari menatap tajam Anin. “ Apa yang sedang kamu lakukan disini?”


“ Apa tidak terbalik. Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kamu di sini.”


“ Ha.”


“ Ini kantor suamiku, tidak perlu aku melapor padamu. Apa pun yang aku lakukan di tempat ini tidak ada hubungannya denganmu”


“ Oh, sebelum dia menjadi suamimu, aku sudah mengenalnya terlebih dahulu bahkan aku bebas keluar masuk tempat ini. Apa itu masalah untukmu?”


“ Ya! Apa kamu tidak tahu malu selalu mengincar sesuatu yang bukan milikmu?”


“ Apa!”


“ Aku...tidak akan segan melakukan kekerasan padamu jika itu diperlukan. Jangan kamu pikir aku seperti orang yang sudah kamu sakiti.”


“ Apa kamu mengancamku?”

__ADS_1


“ Ya! Apa itu membuatmu takut.”


“ Aku? Takut? Padamu? Anak kecil sepertimu hanya embusan angin bagiku.”


“ Anak kecil?” Anin tersenyum menyeringai. “ Anak kecil saja tidak bisa kamu kalahkan. Apa yang hebat darimu. Faktanya Shan adalah suamiku dan itu tidak bisa terbantahkan.”


“ Lancang sekali kamu! Kamu sudah berani padaku!”


“ Aku tidak pernah takut padamu . Aku bukan orang yang bisa kamu gertak Semaumu.”


“ Berani sekali kamu!” Anin menangkap tangan Mentari yang hendak memukulnya. Tapi, tanpa disangka Mentari tiba-tiba terjatuh. Anin pun kaget bukan main dengan tingkahnya itu. “ Shan....” rengeknya.


Anin menoleh ke belakang begitu Mentari menyebut nama Shan. Benar saja ada Shan tepat dibelakangnya. Anin pun menyadari mengapa Mentari tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke lantai agar terlihat seolah-olah ia berbuat hal jahat padanya.


“ Shan, kamu lihat bagaimana Anin mendorongku sampai terjatuh,” ujarnya. Shan hanya diam sambil membantunya untuk berdiri. “ Dia tidak suka melihatku ada di tempatmu, bahkan ia tak segan melukaiku.”


“ Dasar pembohong, aku tidak melakukan apa pun padamu. Semua ini hanya trik kotor yang kamu lakukan untuk menjebakku.”


“ Yang benar saja. Sekarang kamu malah menuduhku seperti itu, dasar tidak tahu malu.”


“ Hentikan!!” titah Shan. Raut wajah Shan terlihat sangat menakutkan. “ Kalian tahu ini dimana! Kalau kalian ingin bertengkar jangan di tempat ini, lakukan di luar sana. Jangan mengganggu ketenteraman di kantor ini.”


Seketika Anin mengepalkan kedua tangannya. Ada rasa sedikit tak senang dengan ucapan Shan barusan. Terlihat ia seperti membela Mentari.


“ Maaf sudah membuat keributan di sini,” ujar Anin berlalu pergi. Shan dengan cepat menarik tangannya. Sontak Anin kaget dengan sikap Shan itu.


Shan membawanya tanpa berkata sepatah kata pun bahkan saat Mentari mengatakan sesuatu, ia tak peduli, yang ia tahu bahwa saat ini, ia ingin Anin tak pergi.


Shan sebenarnya sangat frustrasi dengan keadaannya bersama dengan istrinya itu. Perselisihan tiada henti terjadi pada mereka akhir-akhir ini. Bermula dari ucapannya yang seperti akan menyerah dengan hubungan mereka, membuat Anin marah besar. Dan untuk pertama kalinya Shan merasakan tamparan dari tangan Anin.


Beberapa hari ia tak melihat wajah istrinya, hanya wajah yang sedang tertidur yang bisa mengurangi rasa rindunya terhadap Anin. Saat di kantor pun, ia tak bisa berkonsentrasi seperti biasanya.


“ Bukankah sebaiknya kamu pulang saja,” ujar Adrian karena melihat Shan tidak fokus.


“ Tidak.”

__ADS_1


“ Kenapa Shan? Bukankah kamu sangat merindukan Anin?”


“ Ya, tapi hubungan kami sedang tidak baik.”


“ Kamu ini bukan Shan yang aku kenal. Kenapa denganmu kali ini?”


“ Aku sudah mengatakan hal yang menyakitkan padanya. Aku tidak punya kepercayaan diri lagi untuk bicara padanya.”


“Ada apa denganmu, Shan? Kenapa jadi lemah begini? Bukankah rencana bulan madu kalian telah selesai kamu urus?”


“ Ya, tapi aku tidak tahu harus bagaimana.”


“ Kamu takut kehilangan Anin, kan?”


“ Ya.”


“ Kalau begitu jangan diam saja. Mau sampai kapan kalian seperti ini.”


Shan tertunduk dan terdiam.


“ Tuan.” Suara Reno memanggil Shan membuat mereka menoleh. “ Sudah saatnya untuk pergi.”


“ Baiklah,” ujar Shan bangkit dari tempat duduknya. “ Adrian, aku harus pergi.”


“ Tapi, tolong dengarkan apa yang kukatakan tadi.”


“ Baiklah.”


Shan dan Reno pun pergi meninggalkan Adrian. Hari ini Shan harus menghadiri pertemuan dengan Anthony yang sudah tertunda lama.


Di tengah perjalanan mereka inilah, Shan melihat Anin dan Mentari ribut di depan lift. Bagaimana ia melihat sang istri dengan beraninya melawan semua ucapan Mentari.


Saat Mentari terjatuh pun, Shan sudah tahu kalau itu hanya triknya agar mendapatkan perhatiannya.


Begitu melihat Anin, Shan berpikir inilah saatnya ia berbicara dengannya. Jadilah ia menarik tangan istrinya itu menjauh dari Mentari dan tempat ramai itu.

__ADS_1


__ADS_2