
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.
(QS. Adz-Dzariyat : 49)
----------
" Saya terima nikah dan kawinnya Anindira Maheswari binti Doni Hermawan dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."
Ucapan yang begitu lantang itu meluncur dengan lancar dan tanpa keraguan sedikit pun keluar dari bibir seorang Shan. Tak ada rasa gugup yang terlihat dari bahasa tubuhnya, seakan ia sudah siap dengan situasi menegangkan ini. Situasi yang di harapkannya hanya ada satu kali dalam hidupnya.
Kata-kata " Sah" seketika menggema. Semua orang berucap syukur atas lancarnya pernikahan mereka ini.
Kini jari manis Anin telah melingkar sebuah cincin yang menjadi mahar pernikahannya. Perasaan Anin berdegup kencang saat Shan mengecup dahinya. Entah perasaan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Perasaan yang ia pun tak bisa mendeskripsikannya.
Anin memeluk kedua orang tuanya dengan air mata yang menetes di pipinya. Sekarang ia bukan anak kecil lagi yang bisa bermanja-manja seperti dulu, kini ia sudah berlabel istri Shandika Ali Dimitri. Seorang pria yang sekarang menjadi panutannya.
" Shan, Om menyerahkan Anin padamu. Tolong bimbing dia, jadikan dia istri yang Soleha. Om percaya padamu, tolong jangan gores kepercayaan Om ini." Begitulah permintaan sang ayah pada menantunya ini. Anak gadis yang dulu di timang-timang nya kini harus di relakan nya bersama dengan pria yang menjadi pilihan hidupnya.
" Iya Om, Shan akan berusaha semampu mungkin dan menjaga kepercayaan yang om berikan pada Shan."
" Terima kasih Nak, "ujar Ayah memeluk menantunya. Air mata yang meluncur dari pipinya menambah kesedihan di hati Anin. Ayah yang menjadi cinta pertamanya, tempatnya berlindung dan mengadu kini sudah di gantikan oleh suaminya sekarang.
Tak ada resepsi setelah ini, hanya ijab qabul yang menandakan mereka kini sah menjadi suami-istri. Di hari spesial ini Agni dan Bimo lah pemeran utamanya. Mereka tampak sangat bahagia menyusul kebahagiaan Anin dan Shan yang sudah sah menjadi pasangan.
Anin duduk di sebuah kursi menatap kedua kakaknya yang tak henti-hentinya mengumbar senyuman. Sesekali ia memotret momen kebersamaan mereka yang terlihat sangat bahagia hari ini. Anin memeriksa gambar-gambar yang ada di ponselnya satu per satu. Menggeser setiap slide gambar yang sudah ia ambil. Ada satu gambar yang membuatnya tertegun lama memandangi. Poto dirinya bersama dengan Shan saat berada di atas pelaminan. Tanpa terasa senyuman pun merekah di bibirnya.
Anin tak sadar kalau tingkahnya itu terus di perhatikan oleh Shan sejak tadi. Terselip niat untuk menggoda istrinya itu. Shan pun mendatangi Anin yang tengah duduk sendirian di sana.
" Apa yang kamu lihat sampai tersenyum begitu?" tanya Shan yang membuat Anin sontak kaget dan langsung menyembunyikan ponselnya.
" Tidak ada," jawab Anin gelagapan.
" Apa yang kamu sembunyikan di belakangmu?" tanya Shan mengernyitkan dahinya sambil melirik apa yang sudah di sembunyikan oleh Anin di belakangnya.
" Tidak ada, cuma ponsel kok."
" Aku tahu, tapi di dalamnya ada apa sampai kamu sumringah gitu."
" Apaan sih,"ujar Anin memalingkan wajahnya.
" Kamu menyembunyikan poto pria ya?"
" Haaa!!" Sontak Anin kaget. " Sumpah, Anin cuma lihat poto kita." Anin langsung tersadar lalu menutup mulutnya karena sudah mengatakan hal yang tak seharusnya ia ucapkan.
" Poto kita???" Shan menatap Anin yang masih kelihatan shock itu. " Ohh..." Shan hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun lagi.
__ADS_1
" Jangan kesenangan ya!"
" Memang kenapa?"
" Entah lah."
Shan hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Anin yang terkesan asal itu.
" Anin...."
" Hm."
" Apa kamu tidak iri dengan kakakmu?"
" Iri?"
" Ya, pernikahan kita hanya seperti ini saja, tidak ada resepsi sama sekali, apa kamu tidak iri pada Agni?"
Anin menggelengkan kepalanya. " Tidak sama sekali, bukankah kata sah itu lebih penting."
Shan pun tersenyum. " Apa kamu punya impian tentang pernikahanmu?"
" Hanya impian sederhana saja, menikah di suatu tempat yang tenang dan hanya di hadiri keluarga, hanya begitu saja."
" Baiklah, suatu hari nanti, aku akan mewujudkan impianmu itu."
" Shan, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
" Tentang apa?"
" Soal persyaratan yang pernah aku ajukan padamu beberapa waktu yang lalu."
" Memangnya kenapa?"
" Bukankah aku pernah mengatakan kalau tidak ada hubungan...suami-istri."
" Lalu?"
" Aku hanya belum siap saja."
" Aku mengerti, aku juga tidak akan memaksamu melakukannya, tapi...."
" Tapi apa?"
" Aku tidak menjamin kalau aku bisa menahannya lebih lama."
" Ha??" Anin memundurkan letak duduknya menjauh dari Shan. " Bukankah tadi kamu sudah berjanji padaku," ujarnya kesal.
__ADS_1
Shan tertawa terpingkal-terpingkal dengan tingkah Anin yang lucu itu.
" Kapan aku berjanji padamu?"
" Tadi, barusan, kenapa baru se menit saja kamu bisa lupa, ha!!"
" Aku...." Shan memajukan tubuhnya lebih dekat dengan tubuh Anin yang membuatnya langsung gelagapan.
" Shan mau apa?" tanya Anin terbata-bata.
" Kamu ini lucu sekali."Shan tertawa melihat raut wajah Anin yang ketakutan.
" Dasar jahat!!". Anin memukul-mukul tubuh Shan sangkin kesalnya.
" Berani sekali kamu memukul suamimu ya.'
" Ya!"
" Kalau begitu aku...." Belum lagi Shan selesai bicara, Anin langsung berteriak memanggil bundanya, dengan cepat Shan membekap mulut Anin agar tidak ada yang mendengar teriakannya itu. " Jangan teriak, nanti mereka pikir aku melukaimu."
" Makanya jangan usil," ujar Anin dengan suara yang tak jelas karena tangan Shan masih membekap mulutnya.
Shan menatap Anin dalam. Raut wajahnya berubah serius. Shan mendekatkan wajahnya lalu mencium tangan yang mendekap mulut istrinya itu. Anin sontak terbelalak, dengan kata lain Shan tengah menciumnya saat ini walaupun ciuman itu tak langsung mengenai bibirnya.
Secara perlahan Shan melepaskan tangannya. Mata mereka masih saling memandang satu sama lain, lama sekali, kalau bukan karena suara teriakan Disti, mungkin mereka tak akan melepaskan pandangan mereka itu.
" Sedang apa kalian di sini?" tanyanya begitu melihat sepasang pengantin baru itu sedang duduk berdua.
" Kami hanya duduk kak," jawab Anin seperti kena ciduk Satpol PP.
" Kamu ini mengganggu saja," celetuk Shan.
" Wah, apa kalian sedang bermesraan sampai aku di bilang mengganggu," ujar Disti tak mau kalah.
" Kalau iya memang kenapa?"
" Tidak, kami tidak melakukan apa pun," sahut Anin yang membuat Disti dan Shan langsung memandanginya.
Suara tertawa Disti menggema seketika. Shan hanya bisa menghela napas melihat tingkah Anin yang terkadang di luar ekspektasinya.
" Sudah nikah masih di tolak juga," oceh Disti tertawa. " Sabar Shan," ujarnya menepuk pundak sahabatnya itu.
Anin jadi tak enak sendiri karena ucapannya yang tiba-tiba itu. Ia sama sekali tak memikirkan efek dari celetukannya yang membuat Shan harus mengelus dada.
Disti tak henti-hentinya menggoda sahabatnya itu. Melihat mereka yang seperti itu membuat Anin menyunggingkan senyuman. Ia menyadari kalau ia banyak di kelilingi orang-orang baik seperti mereka.
" Anin."Suara itu menyadarkan Anin dari lamunannya. Suara dari laki-laki yang kini jadi suaminya. " Ayo," ujar Shan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
" Iya," ujar Anin menyambut tangan Shan.