
Setelah kejadian di rumah sakit, tiga hari kemudian Mentari datang menemui Shan. Shan awalnya tampak kaget dengan kedatangannya itu. Tapi, ia kemudian lega karena Mentari yang sekarang menemuinya ini sudah banyak berubah.
" Mungkin kata maaf tidak cukup mewakili semua yang sudah aku lakukan padamu, Shan."
" Tidak perlu seperti itu, aku sudah memaafkanmu."
" Aku akan pergi ke Singapura, aku akan tinggal di sana sementara ini."
" Kenapa begitu mendadak?"
" Tidak juga, aku sudah memikirkannya lama, tapi karena satu dan lainnya, aku selalu menunda keinginanku itu."
" Apa kamu yakin?"
" Tentu saja, aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya."
" Baiklah, semoga di sana kamu mendapatkan kesuksesan yang kamu inginkan."
" Terima kasih," ucapnya tersenyum. " Sudah waktunya aku pergi, tolong sampaikan salamku pada Anin."
" Ya, akan aku sampaikan nanti."
" Oh ya, semoga bulan madu kalian berjalan lancar."
" Terima kasih."
" Baiklah, aku pergi. Sampai jumpa."
" Ya, hati-hati di jalan."
Beberapa hari ini, Shan merasa sangat senang karena selalu mendapatkan berita yang sangat menyenangkan. Di mulai dari Disti yang sukses mengadakan pameran busananya, Mentari yang sudah berubah dan juga Nada yang kembali bersama dengan Anthony, terlebih Anthony sudah banyak berubah karena anak yang tengah di kandung Nada.
Semua mendapatkan kebahagiaan mereka masing-masing.
****
" Shan." Disti menghambur memeluk sang sahabat.
" Ada apa ini?" Shan tampak kaget dengan sikap Disti yang tiba-tiba ini. " Adrian..." Shan menatap sahabatnya itu.
" Ha? tanya saja Disti."
" Kalian ini mau main lempar-lemparan jawaban."
" Aku sangat senang Shan."
" Iya, senang kenapa Dis?"
" Kamu dan Anin akan menjadi om dan tante."
" Ha??"
" Kok ha!"
" Kamu hamil?"
" Iya lah, aku hamil. Barusan kami ke rumah sakit untuk cek, ternyata aku sudah hamil 2 minggu."
" Wah.... ternyata kamu bisa hamil juga, Dis."
" Apa!! kamu mengejekku ya"
Shan tertawa terbahak. " Aku hanya bercanda. "
" Kamu ini!!"
" Dasar kamu Shan, sudah tahu Disti begitu, malah di bercandai."
" Iya, maaf Tuan Adrian."
" Shan....'' Semua mata pun tertuju pada asal suara tersebut. Terlihat Anin setengah berlari menghampiri Shan, Disti dan Adrian.
'' Sudah aku bilang kan jangan suka berlarian seperti itu,'' protes Shan memarahinya. '' Kalau nanti jatuh bagaimana?''
'' Tapi aku tidak terjatuh kan.''
'' Iya, tapi lain kali jangan seperti itu. Berjalanlah yang benar."
'' Baiklah.''
'' Wah, suasana macam apa ini? tidak pernah melihat yang seperti ini,'' sindir Disti. '' Apa kalian mencoba membuat kami iri dengan keromantisan kalian, ha!''
__ADS_1
'' Kalau kamu merasa seperti itu, itu bukan salah kami,'' balas Shan.
'' Aku?'' Disti menunjuk dirinya. '' Untuk apa? hanya buang-buang waktu dan energi merasa iri dengan kalian.''
'' Dasar ibu hamil cerewet sekali,'' protes Shan.
“ Ha? Kak Disti hamil?”
“ Ya, sebentar lagi kamu akan menjadi tante,” jawab Disti tersenyum.
“ Benarkah? Senangnya....” Anin pun menghampiri Disti. “ Boleh aku mengelus...” Disti mengangguk. Anin pun dengan semangat mengelus perut Disti yang belum terlihat besar itu. “ Wah....begini ya rasanya punya perut yang akan sebentar lagi besar.”
“ Kamu juga ingin?” Anin refleks mengangguk. Dan begitu sadar dengan tindakan kecilnya itu, Anin jadi tersipu malu. “ Wah Anin, sekarang kamu tidak malu-malu lagi ya.”
“ Bu...bukannya begitu.” Anin jadi salah tingkah yang membuat mereka tertawa.
“ Shan, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan untuk membuat Anin sama sepertiku.”
Ucapan Disti yang blak-blakan itu sukses membuat Anin dan Shan kelabakan.
“ Kalau kamu tidak tahu minta Adrian untuk memberi tahumu bagaimana caranya.”
“ Ah...dasar!!!” Shan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Adrian, lihat bagaimana istrimu itu.”
Adrian tertawa.
“ Kamu tahu kan Disti bagaimana.”
“ Iya, aku tahu sekali bagaimana istrimu itu,” oceh Shan. “ Tapi, aku senang akhirnya kalian akan menjadi orang tua.”
“ Aku juga merasa sangat senang, sudah lama kami menunggu dan akhirnya terwujud. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini.”
“ Hm. Kamu harus menjaga keduanya dengan baik.”
“ Tentu saja.”
Sesaat mereka pun terdiam.
“ Shan.” Adrian memulai percakapan kembali.
“ Ya.”
“ Tidak.”
“ Begitu?”
“ Yang aku tahu hanya mereka kembali bersama dan aku harap akan selalu begitu.”
“ Ya...semoga saja.”
“ Oh ya, apa kamu tidak ingin aku beri saran soal kehamilan.”
“ Ha! Dasar gila.”
Adrian tertawa dengan puas.
*******
Tiga hari kemudian akhirnya hari yang di tunggu telah tiba. Perjalanan honey moon yang sempat tertunda karena banyak hal.
Anin sudah tidak sabar melakukan perjalanan pertama kalinya bersama dengan Shan. Apalagi ke tempat yang sudah ia impikan sejak dulu.
Anin tak hentinya tersenyum melihat gambar-gambar yang ia lihat di ponselnya. Sampai-sampai Shan heran dengan tingkah lucunya yang seperti anak kecil itu.
“ Semoga perjalanan kalian menyenangkan,” ucap Adrian.
“ Terima kasih,” balas Shan dibarengi senyuman Anin. “ Oh ya, Disti mana?” tanya Shan karena tidak melihat batang hidungnya.
“ Disti tidak bisa datang karena sejak subuh ia tidak enak badan.”
“ Oh, begitu.”
“ Shan, Anin. Disti menitipkan ini untuk kalian,” ujar Adrian memberikan sebuah bingkisan. “ Pesan dari Disti, jangan di buka sebelum sampai di tempat.”
“ Apa ini?” Shan semakin penasaran.
“ Aku tidak tahu.”
“ Apa ini bom?”
“ Mungkin saja.”
__ADS_1
“ Oh baiklah.”
“ Kak Adrian, Shan...” Mereka pun menoleh. “ Ini serius?” Anin mengambil benda yang ada di dalam paper bag yang di berikan oleh Adrian tadi.
“ Anin!” Teriak Shan begitu melihat isi dari bingkisan yang diberikan Adrian.
“ Kenapa di buka?” timpal Adrian.
“ Hanya penasaran.” Dengan polosnya Anin hanya tersenyum.
“ Ha, dasar kamu.” Shan hanya bisa menghela napas. “ Jadi ini alasannya kenapa harus di buka di sana.”
“B egitulah.”
Tiba-tiba Shan menatap Anin.
Anin yang sadar di pandangi oleh Shan langsung memalingkan wajahnya.
“ Dasar, kalian berdua pengacau!.”
Adrian tertawa terbahak.
“ Sudah sana, pesawat kalian akan segera berangkat.”
“ Iya...iya.”
Shan mengambil tas yang ia taruh di atas kursi.
“ Kami pergi.”
“ Oke, ingat ya harus di pakai.”
“ Tidak perlu mengajari.”
“ Semoga perjalanan kalian menyenangkan,” ujar Adrian tersenyum.
Shan dan Anin pun melambaikan tangannya.
********
“ Ha....” Anin menghela napas.
“ Kenapa ?”
“ Tidak apa-apa, aku hanya merasa senang.”
“ Merasa senang kenapa malah menghela napas.”
“ Sudahlah.” Anin malah manyun.
“ Dasar.” Shan menggelengkan kepalanya. “ Oh ya apakah kamu akan memakainya?”
“ Ha?” Anin terkaget. “ Memakainya....”
Shan mengangguk.
Begitu sadar dengan maksud Shan, Anin pun memukulnya.
“ Apa aku harus memakainya!”
“ Bukankah itu sangat seksi.”
“ Shan...”
Shan tertawa. “ Aku hanya bercanda.”
Shan pun melanjutkan membaca buku yang ia bawa.
“ Hei Shan.”
“ Hm.”
“ Aku akan memakainya.”
“ Ha?”
Shan menatap Anin.
Anin pun tersenyum. Begitu pun dengan Shan.
Perjalanan panjang nan menyenangkan akan mereka tempuh saat ini. Kebahagiaan yang perlahan akan menyelimuti hari-hari mereka selamanya.
__ADS_1