Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 15


__ADS_3

Anin terlihat bingung dengan kesibukan bunda dan ayahnya yang sedari tadi mondar-mandir. Ayah yang masih memegang telepon di telinganya tampak mengkhawatirkan sesuatu, sedangkan bunda tampak sibuk memasak sesuatu di dapur. Padahal waktu makan sudah usai sejak tadi.


" Dek, kamu ikut tidak?" tanya Agni tiba-tiba, Anin sangat bingung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu.


" Kemana Kak?" tanyanya balik. " Ini kok pada sibuk begini, memangnya mau kemana?"


" Ke rumah sakit,"ujar Agni sambil lalu.


" Siapa yang sakit?"


" Om Adi, sayang", timpal Bunda. " Tadi Shan telepon, kalau Om Adi masuk rumah sakit."


" Tapi kemarin-kemarin Om Adi masih baik-baik aja Bun."


" Iya, Bunda juga kaget. Ternyata selama ini Om Adi sudah lama sakit."


" Tapi kenapa waktu itu Shan tidak bilang apa-apa ya," ujarnya sedikit berbisik.


" Dek, jadi ikut tidak?" tanya Agni membuyarkan lamunannya.


" Ikut," ujarnya mengikuti langkah kakaknya.


Di depan rumah ayah dan bunda sudah menunggu mereka di dalam mobil. Setelah mereka masuk, mobil itu pun melaju ke rumah sakit yang di tuju.


Setengah jam kemudian mereka pun sampai di tempat itu. Terlihat papanya Shan tengah berbaring di atas tempat tidur. Shan yang menyadari kedatangan keluarga Anin itu lalu menyambutnya dengan senyum.


" Maaf sudah merepotkan Tante sama Om," ujarnya tak enak.


" Siapa yang repot Shan, Om sama Tante tidak merasa di repotkan," ujar Bunda. " Sudah lama Papa kamu tertidur?"


" Sudah Tante".


" Dokter bilang apa Shan?"


" Jantung Tante, Om".


" Sudah lama?"


" Sebenarnya sudah lama, tapi Papa tidak pernah bilang apa-apa. Baru setahun ini juga Shan tahu Papa punya penyakit ini."


" Papa mu itu memang tidak pernah berubah, selalu memendamnya sendiri."


Shan memandang papanya yang tengah berbaring lemah di sana. Baru saja seminggu sejak kepulangannya dari Paris, Shan harus menghadapi kembali hal tersulit dalam hidupnya.


Terkadang rasa takut itu muncul saat mengingat bagaimana papanya menahan rasa sakit yang tidak tertahan itu. Ia tak ingin terjadi hal yang sangat buruk dari ini karena di dunia ini hanya papanya yang ia punya setelah kematian ibunya beberapa tahun yang lalu.


Shan terduduk lemas di kursi tunggu di depan ruangan dimana papanya di rawat. Anin yang melihat Shan keluar langsung menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


Anin tak pernah melihat Shan begini, yang ia tahu Shan selalu terlihat ceria dan selalu usil padanya. Raut wajahnya yang cemas itu jelas terpancar. Bahkan saat Anin duduk di sampingnya, Shan tidak menyadarinya.


" Shan...." Anin memanggilnya lembut. Perlahan Shan mengalihkan pandangannya pada gadis yang ada di sampingnya ini.

__ADS_1


" Maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu."


Anin menggelengkan kepalanya. " Jangan meminta maaf. Anin mengerti bagaimana perasaan Shan sekarang."


" Sangat tidak menyenangkan melihatku seperti ini, terlihat lemah di depanmu."


" Semua orang mempunyai sisi lemahnya sendiri Shan, tidak ada orang kuat di dunia ini. Terkadang memperlihatkannya pada orang lain akan membuatmu sedikit lega."


Mendengar ucapan Anin itu membuat Shan tertegun. Gadis kecil yang di kenalnya dulu kini sudah dewasa.


" Anin, tahukah kamu kalau ucapanmu ini membuatku semakin tak ingin melepaskan mu."


" Ha???" Anin terlihat bingung dengan maksud ucapan Shan ini. Shan tersenyum kecil melihat reaksi lucu yang di tunjukkan oleh Anin. Anin yang menyadari kelakuan Shan itu lalu memukulnya bertubi-tubi. " Shan jahat, Anin sudah baik-baik dengan Shan, tapi Shan malah bikin Anin kesal," ujarnya.


" Iya...iya...maaf." Shan menangkis pukulan Anin itu kemudian meraih kedua tangannya. Anin sontak kaget, ia menatap Shan. Mata mereka saling beradu.


" Shan." Suara itu menyadarkan kedua insan itu.


" Disti," ujar Shan. Anin pun segera bangkit dari tempat duduknya.


" Apa om baik-baik saja?" tanyanya seraya melirik Anin yang menundukkan kepalanya.


" Papa belum sadar," jawabnya. Disti menatapnya tajam. Shan tahu pasti apa arti tatapannya itu. " Ini Anin. Anin, itu Disti, temanku."


" Hai kak," sapa Anin.


" Kamu memanggilnya kakak dan aku? hanya dengan nama saja?" protesnya.


" Ya," jawab Shan tegas.


" Aku tidak mau!" ujar Anin memalingkan wajahnya.


" Kalian berdua ini sama saja, apa yang kalian ributkan," timpal Disti kesal.


" Maaf kak," seru Anin menundukkan kepalanya. Tingkah Anin itu malah membuat Disti geli sendiri. Anak polos itu sukses membuatnya terpesona.


" Kamu Anin, kan, pacarnya Shan?"


Anin terbelalak tak percaya apa yang di dengarnya dari bibir wanita cantik itu. " Bukan, Anin tidak pacaran sama Shan kok," kilah Anin cepat. " Shan, pacarnya marah tuh," ujar Anin pelan.


" Siapa yang pacarnya Shan?? Aku??" Anin mengangguk. Disti menghela napasnya. " Walaupun di dunia hanya ada satu pria dan itu adalah Shan, aku lebih memilih sendiri seumur hidupku."


" Hei Disti!! bicara jangan seenaknya ya! “protes Shan karena ocehannya itu. Yang bersangkutan tertawa dengan puasnya.


" Sayang, ada apa ini ramai sekali?" Adrian datang menghampiri mereka. Disti langsung menghambur memeluk suaminya itu. " Ada apa sayang?"


" Shan memarahiku," jawabnya dengan wajah sedih.


" Hei Shan...."


" Istrimu berbohong."

__ADS_1


" Istri??" Anin tampak bingung. Disti yang melihat ekspresi bingung Anin itu langsung menghampirinya.


" Ini suamiku," ujar Disti memperkenalkan Adrian. " Aku ini bukan pacarnya Shan, Anin."


" Oh.'


" Kamu tahu, aku sudah lama sekali ingin bertemu denganmu."


" Bertemu denganku?"


" Ya."


" Kenapa?"


" Karena ada seorang pria yang depresi karena di tolak oleh seorang gadis dan aku ingin sekali bertemu dengannya. Gadis itu adalah gadis pertama yang menolaknya."


" Disti...." Shan mulai tak senang dengan ucapan Disti yang membongkar semua rahasianya.


" Aku pikir kita bisa berteman dengan baik," ujar Disti memegang kedua tangan Anin. Anin hanya mengangguk. " Kamu ini manis sekali. Oh ya, apa kamu mau jadi modelku?"


" Mo..model?"


" Iya, model. Aku menyukaimu, makanya aku memilihmu menjadi modelku."


" Tidak...tidak..., Anin tidak bisa kak."


" Kamu pasti bisa, tenang saja aku akan mengajarimu, oke."


" Sayang, jangan memaksa orang. Lagi pula kita kesini mau melihat Om, kenapa kamu malah mencari model."


" Tapi....."


" Sudah, tidak ada tapi-tapi, kita harus masuk ke dalam dan melihat Om," ujar Adrian menggandeng tangan istrinya itu masuk ke dalam ruangan tempat papa nya Shan di rawat. Anin hanya terbengong dengan situasi yang terjadi padanya barusan.


" Tidak usah terlalu di pikirkan apa yang di ucapkan oleh Disti tadi. Kalau kamu memang tidak ingin melakukannya, ya jangan lakukan.'


" Apa kalian sudah berteman lama?''


" Ya, Disti dan Adrian adalah sahabatku. Mereka pun sudah menganggap Papa seperti orang tua mereka sendiri."


" Tuan, maaf mengganggu", sela Reno. " Ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan."


" Baiklah," ujar Shan. " Anin kembalilah ke dalam."


" Oke, tapi apa semua baik-baik saja?" tanya Anin yang kemudian mendapatkan anggukkan dari Shan. " Baiklah kalau memang begitu. Anin masuk duluan."


" Ya," ujarnya Shan tersenyum. " Kalau mereka bertanya, katakan kalau aku ada urusan mendadak dan akan segera kembali secepatnya."


" Iya, akan Anin sampaikan nanti."


" Terima kasih, bye."

__ADS_1


" Bye ."


__ADS_2