
“ Shan, kita mau kemana?” tanya Anin bingung karena Shan membawanya sampai ke taman belakang. Anin merasa kalau Shan akan memarahinya karena kejadian tadi. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. “ Shan...," serunya lagi karena Shan tidak menjawab pertanyaannya barusan.
Shan menghentikan langkahnya, ia pun berbalik menatap Anin. Anin yang ditatap seperti itu malah memalingkan wajahnya.
Melihat istrinya memalingkan wajah , Shan menghela napas lalu mengelus lembut rambut istrinya itu.
“ Katakan padaku, kenapa kamu bisa bertengkar dengan Mentari?”
Anin sedikit kaget dengan pertanyaannya itu. Ada rasa jengkel di dalam hatinya. Shan seperti menyalahkannya atas kejadian itu.
“ Bukan aku yang memulainya, dia yang mendatangiku dan berbicara sesuka hatinya. Lagi pula aku hanya membela diriku, apa yang salah dengan itu” ujar Anin agak emosi.
“ Dengan mengatakan hal vulgar padanya? apa begitu?”
“ Ha? Itu...” Anin memalingkan wajahnya lagi. Pertanyaan Shan itu membuat wajahnya memerah. Ia memang mengatakan hal yang tidak seharusnya pada Mentari saat mereka bertengkar tadi. Namun, dengan ucapannya itu membuat Mentari terpancing emosi.
Shan tersenyum.
“ Dasar, kamu ini. Apa kamu ingin semua orang tahu bagaimana aku mencium mu, membelai mu, ha!’'
Anin sontak kaget, ia jadi salah tingkah sendiri.
“ Bu-kan begitu. Aku jadi kesal karena ucapannya. Masih untung aku tidak melakukan apa-apa padanya.”
“ Memangnya apa yang ingin kamu lakukan padanya?”
“ Menjambak Nya, misalnya...”
“ Anin...” Shan memperingatkannya. Anin malah tertawa senang.
“ Aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku melakukannya, buang-buang tenaga saja.”
Shan tersenyum kecil.
“ Apa kamu memang mengenal Mentari sebelumnya?”
“ Tidak, aku tidak mengenalnya,” ujar Anin. “ Kalau saja aku tidak bertemu dengannya hari ini, mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau wanita yang pernah aku temui waktu itu adalah Mentari.”
“ Kalian pernah bertemu?” tanya Shan karena ia agak terkejut dengan jawaban Anin tadi. Anin mengangguk. “ Apa dia sedang memata-mataimu?”
__ADS_1
“ Aku tidak tahu soal itu.”
" Kenapa dia selalu saja membuat masalah."
" Aku baru sadar kalau banyak sekali wanita yang dekat denganmu. Malah sangat menyukaimu sebegitunya. Yang tidak bisa aku pungkiri, aku salut dengannya, dengan perasaannya yang masih begitu kuat padamu. "
" Kamu ini bicara apa? Tidak ada yang seperti itu."
" Ada Shan."
“ Sudahlah, jangan di bahas lagi," pintanya. " Yang jelas aku semakin yakin poto-poto itu jangan-jangan ulahnya juga.”
“ Mungkin saja.”
“ Tapi, tetap saja aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan dosenmu itu. Kamu pasti tidak tahu kan, kalau dosenmu itu punya perasaan padamu. Aku sudah pernah mengatakannya padamu kan?"
“ Jangan membuat kesimpulan yang tidak-tidak, Shan. Kamu sendiri apa tidak sadar bagaimana dia datang lalu memelukmu, apa kamu menolaknya, tidak kan!" ujar Anin kesal. "Lagi pula aku sudah memberitahunya kalau aku sudah menikah.”
“ Benarkah kamu sudah memberitahunya?”
Anin mengangguk. “ Awalnya dia menanyakan cincin ini,” tunjuk Anin. “ Jadi, sekalian saja aku jelaskan.”
“ Sepertinya mood kamu sudah membaik.”
“ Tentu saja. Yang jelas kekhawatiranku mulai berkurang. ”
“ Apa maksudmu?"
" Saat kita bertengkar kemarin, ada sedikit ketakutan di hatiku karena ucapanmu itu. Kamu mengatakan menyukainya atau tidak, itu adalah urusanku. Aku benar-benar terkejut, bagaimana kalau memang seperti itu, lalu apa kamu benar-benar akan melakukannya. Semua pertanyaan itu tiba-tiba muncul di pikiranku."
" Tapi, waktu itu aku hanya terpancing emosi, aku hanya asal bicara. Tidak mungkin aku melakukannya."
" Aku tidak akan memaksamu lagi. Mungkin aku akan melonggarkan pernikahan kita ini."
" A-pa maksudmu Shan?" Anin menatap dengan tatapan bingung.
" Jangan karena pernikahan, kamu merasa terkekang. Kalau memang kamu ingin bebas, kamu bisa katakan padaku.."
Plakk...Tiba-tiba Anin menampar pipi Shan.
__ADS_1
Sorotan mata Anin berbinar karena ucapannya, membuat Shan sangat terkejut.
" Sudah selesai bicaranya? apa kamu senang mengatakan hal seperti itu pada istrimu? mana ucapanmu yang sangat tegas pada Papa waktu itu, kenapa sekarang malah menyerah, apa aku ini tidak layak untukmu!" Anin menatapnya tajam. Terlihat sekali aura kemarahan terpancar dari dalam dirinya.
Mereka hanya saling memandang satu sama lain. Hingga pada akhirnya mereka saling memalingkan wajah karena panggilan Disti.
" Shan, Anin, ayo ke depan," ujarnya.
Anin dan Shan hanya mengikuti ucapan Disti tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sebenarnya Disti merasa agak aneh dengan sikap Shan dan Anin. Disti berkesimpulan kalau terjadi sesuatu pada kedua pasangan itu.
****
" Apa yang kamu lihat? serius sekali," celetuk Adrian karena melihat istrinya fokus terhadap sesuatu.
" Apa kamu tidak merasa aneh dengan sikap Shan dan Anin?" tanya Disti seperti seorang detektif.
" Apa mereka bertengkar lagi?"
Disti langsung menoleh kepada suaminya itu. " Kamu merasakannya juga?"
" Kamu ini kenapa sayang? apa sekarang kamu menjadi seorang detektif?"
" Iya," ucapnya cengengesan. Adrian menggeleng-geleng kan kepalanya melihat tingkah istrinya ini. " Aku hanya khawatir dengan hubungan mereka, terlebih masalah Nada waktu itu dan sekarang sepertinya Mentari menjadi bahan pertengkaran mereka."
" Bagaimana kamu bisa seyakin itu? bisa saja kan masalah mereka itu sebenarnya ada di dalam diri mereka sendiri. Mentari dan Nada hanya percikan kecil."
" Tapi kalau tidak diselesaikan percikan kecil bisa jadi besar kan?"
" Kamu benar, tapi pada intinya semua tergantung pada mereka sendiri, bagaimana menyikapi dan menyelesaikannya. Kalau mereka mementingkan ego, bagaimanapun masalah tidak akan selesai."
" Benar juga sih."
" Jadi biarkan saja mereka seperti itu sementara ini, biarkan mereka tenang dan berpikir. Aku yakin mereka pasti bisa menyelesaikan masalah ini."
" Baiklah."
Disti pun hanya bisa mengikuti perkataan Adrian. Ada benarnya juga ucapan suaminya itu, Shan dan Anin harus diberikan waktu untuk menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi pada mereka akhir-akhir ini.
__ADS_1
Dengan begitu ada pendewasaan dalam hubungan mereka selanjutnya.