
" Nin, tugas kamu sudah selesai? tanya Alex duduk di samping Anin yang baru saja datang itu.
" Sudah dong," jawabnya sedikit sombong.
" Punya softcopy nya kan?"
" Punya."
" Di bawa, kan?"
" Jangan sok oke deh, kerjakan sendiri, tugas sudah seminggu juga."
" Kejam."
" Biar, paling nanti kamu kena marah sama si dosen killer."
" Wah tambah jahat kelakuan si Anin. Senang ya temannya kena marah."
" Iya, memang kenapa? itu kan salah kamu sendiri."
" Kalian bertiga sekongkol ya," tunjuknya ke arah tiga sahabatnya itu.
" Iya," jawab Anin, Yogi dan Tasya. Alex hanya bisa manyun melihat tingkah ketiga sahabatnya ini.
" Nin, di panggil Pak Kemal tuh," ujar Eri, teman satu kelasnya.
" Di panggil pak Kemal? Serius?"
" Iya, serius."
" Di mana Ri? tanya Anin yang sedikit bingung karena pada dasarnya Anin tidak pernah berurusan dengan dosennya itu.
" Di kantor jurusan lah dimana lagi," jawabnya.
" Oh, oke. Thanks ya."
" SIP."
" Wah....Nin, ada apa gerangan Pak Kemal suruh kamu datang ke kantor jurusan?" tanya Yogi heran, Anin menggelengkan kepalanya karena tak tahu apa alasannya. " Kamu buat dia marah ya?"
" Ih, Anin mana pernah buat marah pak Kemal."
" Ya kirai gitu," celetuknya.
" Ya sudah sana cepat temui pak Kemal, nanti dia marah, baru tahu," ujar Tasya yang kemudian di amin kan oleh Alex dan Yogi.
" Iya. Iya sabar dong", oceh Anin yang sebenarnya malas menemui dosennya itu. " Ya sudah Anin pergi dulu ya."
" Semangat kakak," oceh mereka mengejek Anin.
Anin menjulurkan lidahnya membalas ejekan mereka itu.
Kemal Adijaya merupakan dosen muda berumur 30 tahun yang di kenal sangat dingin dan perfeksionis di kampusnya. Pak Kemal begitulah mereka menyapanya, selain di kenal karena sifatnya yang super menyebalkan untuk mahasiswanya tapi juga di kenal sebagai dosen yang banyak penggemarnya, siapa lagi kalau bukan para wanita. Bukan hanya mahasiswi saja bahkan para dosen wanita yang masih single diam-diam juga mengaguminya.
__ADS_1
Dosen yang berperawakan tinggi 175 cm itu memiliki wajah bak model, ya begitulah orang mendeskripsikan tentangnya. Di usianya yang terbilang cukup matang, Kemal masih betah melajang, bukan karena ia tak ingin memiliki kekasih, tapi karena kesibukan pekerjaan yang membuatnya belum berpikir ke sana.
--------
Anin menghela napas panjang mencoba menenangkan hatinya yang kini kacau karena panggilan dosennya itu. Ini untuk pertama kalinya ia harus berurusan dengan dosen muda itu.
Perlahan Anin mengetuk pintu lalu menekan engsel pintu hingga pintu itu terbuka.
Terlihat dosennya tengah duduk di kursi kerajaannya dengan laptop berada di atas meja.
" Permisi Pak," sapa Anin.
" Masuklah," titahnya begitu melihat sosok Anin. " Silakan duduk."
" Iya Pak, terima kasih," ujar Anin duduk di hadapannya. Anin terlihat gugup berada di ruangan dosennya ini. Tak pernah ter bayangkan akan berada di hadapannya seperti orang yang sedang menjalani meja hijau.
" Kenapa wajahmu terlihat ketakutan begitu?" tanyanya melihat tingkah Anin yang seperti orang yang ketakutan.
" Tidak Pak."
" Benarkah?"
" Iya, Pak. Tapi, saya boleh tanya sesuatu pak?"
" Tentu, silakan".
" Saya punya salah apa Pak sampai di panggil kesini?"
" Salah? memangnya setiap ada mahasiswa yang saya panggil kesini harus punya kesalahan?"
" Lalu?" tanyanya memandang Anin serius. Anin yang di pandang seperti itu menjadi salah tingkah sendiri.
" Ma. Maaf, Pak," jawabnya terbata karena tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Kemal menghela napasnya melihat tingkah mahasiswinya ini.
" Kamu saya panggil kesini bukan karena kamu punya masalah. Hanya saja saya ingin meminta bantuan kamu."
" Bapak meminta bantuan saya?"
" Iya, apa kamu bisa?"
" Bantuan apa ya Pak?"
" Hanya membantu saya, mengambil beberapa tugas dari kelas yang saya masuki."
" Kenapa saya, Pak?"
" Kamu keberatan?"
" Bukan begitu maksud saya, Pak. Saya cuma bingung saja kenapa bapak memilih saya."
" Itu karena dari beberapa mahasiswa yang saya kenal, saya anggap kamu yang bisa di andalkan. Ini hanya berlangsung dua minggu, saya meminta bantuan kamu karena saya akan melakukan penelitian, jadi ada beberapa momen saya tidak bisa masuk ke dalam kelas. Jadi kamu yang bertanggung jawab saat komting menyerahkan tugas yang sudah dikumpulkannya."
__ADS_1
" Saya Pak?"
" Iya.''
Anin jadi lemas seketika, ia tidak mungkin menolak permintaan dosennya ini. Bisa-bisa nilainya terancam gara-gara masalah ini.
" Bagaimana Anindira?"
" Iya Pak, saya terima tugas dari Bapak."
" Oke, terima kasih. Sekarang kamu bisa kembali ke kelas."
" Iya Pak, permisi."
Ingin rasanya ia berteriak kencang karena kesal. Baginya bukan karena tugas itu berat tapi lebih kepada ledek kan teman-temannya kalau sampai mereka tahu tentang hal ini.
Anin berjalan lemas menuju kelasnya. Sesampainya di sana, ia di sambut bak putri raja begitu ia memasuki kelasnya.
" Duduk Nin," ujar Alex mempersilahkan Anin untuk duduk. Anin pun duduk di kursinya itu dengan di kelilingi tiga sahabatnya. Tatapan mata mereka yang tak biasa itu membuat Anin langsung bergidik. Ingin rasanya ia kabur dari situasi ini tapi apa daya ia sudah di kepung oleh teman-temannya.
" Kalian mau apa?" tanya Anin seakan tak mau tahu dengan keinginan mereka yang sebenarnya.
" Jangan berlagak bodoh, nanti benar-benar bodoh baru tahu," celetuk Yogi.
" Iya benar tuh," timpal Alex. Sedangkan Tasya hanya tersenyum menatapnya.
" Kalian ini teman apa bukan sih?" Kesalnya karena malah mendapatkan todongan pertanyaan yang tak ingin ia jawab.
" Tergantung situasilah," celetuk Alex yang membuat Anin murka.
" Dasar kamu, Lex. Balas dendam nih!" ujar Anin dengan mata melotot. Yogi dan Tasya malah tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
" Jadi sebenarnya gimana tadi di sana Nin?" tanya Tasya lagi.
" Bukan hal yang penting juga," jawab Anin. " Pak Kemal cuma minta bantuan".
" Bantuan apa?" tanya Tasya tambah penasaran.
" Cuma bantu mengambil tugas dari beberapa kelas yang dia masuki. Intinya mempertanggung jawab kan setiap tugas yang sudah di kumpulkan komting, soalnya Pak Kemal agak sibuk beberapa minggu ke depan."
" Intinya kamu jadi asistennya Pak Kemal?" tanya Tasya lagi.
" Asisten??" Anin malah bengong dengan kata asisten yang Tasya lontarkan. " Anin bukan asistennya Pak Kemal kok."
" Tapi dari cerita yang kamu katakan tadi, malah mengarah kesana," ujar Yogi.
" Wah selamat ya Nin," oceh Alex sambil menjabat tangannya. " Suatu kehormatan itu," ucapnya dengan wajah serius.
" Jahat kamu Lex," ujar Tasya yang kemudian diiringi tertawaan dari Alex dan Yogi. " Kasihan tuh Anin jadi bingung gitu."
" Tahu nih si Alex," timpal Yogi.
" Sorry Nin."
__ADS_1
" Maka nya tadi Anin malas cerita, pasti di ledeki begini, pada jahat semua."
Keluhan Anin itu sukses membuat ketiga sahabatnya itu tertawa melihat tingkahnya itu.