
Anin dan Tasya berjalan santai menuju kelas untuk perkuliahan selanjutnya. Kedua sahabat itu tak henti-hentinya bercanda gurau saling menjahili satu sama lain.
Anin tak sengaja melihat seorang wanita berbaju hitam dan bercelana panjang serta memakai topi duduk di sebuah bangku di dekat pepohonan. Kalau ia tak salah ingat, sudah sejak tadi sang wanita ada disana. Wanita itu sibuk dengan lensa kameranya memotret kesana kemari.
Anin tak ingin menaruh curiga dengan wanita itu, namun gerak-geriknya sedikit aneh menurutnya. Ia pun menghentikan langkahnya sambil memperhatikan wanita tersebut.
" Tas, lihat deh cewek itu. Bukannya dari tadi dia di situ terus ya?"
" Yang mana?"
" Itu loh, yang duduk di dekat pohon," tunjuknya tepat pada wanita itu.
" Oh."
" Ya kan?"
" Perasaan kamu itu, mungkin dia lagi menunggu teman atau menunggu masuk pelajaran, kan biasa begitu Nin."
" Apa iya."
" Ya iyalah, untuk apa juga di pikirkan. Sudah ayo ke kelas."
" Iya."
Walaupun begitu, Anin tidak bisa melepaskan pandangan matanya terhadap wanita tersebut. Ia ingat betul kalau wanita itu sudah terlalu lama duduk di tempat yang sama.
" Hei! Anin! jangan lihat orang kayak gitu."
" Penasaran."
" Jangan buat yang macam-macam ya, cukup satu macam, masuk ke kelas."
" Ish, gitu banget sih. Bentar loh Tas."
" Jangan ya! sudah ayo."
" Iya deh." Anin pun terpaksa menghentikan rasa penasarannya terhadap wanita itu dan mengikuti Tasya yang sudah berjalan terlebih dahulu.
------
Wanita yang di maksud oleh Anin ternyata sedang menunggu seseorang. Tak lama setelah Anin dan Tasya pergi, orang yang di tunggu olehnya pun datang juga. Seorang wanita dengan tinggi semampai.
" Kenapa kamu harus ke sini Mentari?"
Ya, wanita yang datang itu adalah Mentari. Demi menutupi kedatangannya di tempat ini, ia berdandan tak seperti biasa, menggunakan pakaian sederhana dan memakai kacamata.
" Aku tidak puas hanya melihat gambar yang kamu kirim itu. Aku ingin melihat wanita itu secara langsung. Wanita seperti apa yang sudah merebut Shan dari genggamanku."
" Aku sudah memperingatkanmu Mentari, kalau sampai Shan tahu tentang semua ini. Aku dan kamu akan habis."
" Kalau begitu lakukan dengan baik dan rapi. Jangan sampai Shan atau Reno apalagi Adrian dan Disti tahu mengenai ini. Kamu mengerti kan."
" Mentari."
__ADS_1
" Nita, aku tidak main-main dengan ucapanku maupun tindakan ku kali ini. Aku tidak mengenal kata kalah, kalau aku tidak bisa mendapatkan Shan, wanita itu juga tidak akan mendapatkannya."
" Aku harap kamu tahu konsekuensi perbuatan yang kamu lakukan ini."
" Aku tahu dan kamu harus membantuku, seperti dulu."
Wanita yang bernama Nita itu pun menghela napas panjang. Ia sudah terlanjur terbawa ke dalam permainannya, sudah masuk terlalu dalam. Ia bahkan tak bisa keluar dengan mudah karena sebuah kebutuhan yang tak bisa ia abaikan.
Semua hutang keluarganya, Mentari lah yang menanggulanginya, otomatis ia pun terikat dan tak bisa lepas. Untuk membayarnya saja, gajinya sebagai manajer tidak akan lunas secepat itu apalagi kebutuhan keluarga besarnya yang menjadi tanggungannya.
Padahal dulunya Mentari tak ubahnya mirip dengannya, namun entah mengapa wanita itu berubah seperti lupa dengan kehidupannya yang pahit itu. Bertindak semaunya dan berpikir dunia ada di genggamannya.
" Aku punya info yang akan membuatmu senang."
" Apa itu?"
" Sepertinya ia dekat dengan seorang pria. Aku sudah memastikan kalau pria ini bukan sahabatnya melainkan orang lain, yang tak lain adalah dosennya sendiri. Aku perhatikan mereka sering bersama dan mengobrol."
" Benarkah." Raut wajahnya terlihat senang mendengar info yang di sampaikan oleh manajernya itu. " Ini bahkan lebih mudah dari yang aku kira."
" Apa yang akan kamu lakukan?"
" Akan kuberitahu nanti, yang jelas aku sudah memikirkan rencana yang akan membuat mereka meragukan satu sama lain."
" Baiklah kalau itu yang menurutmu bagus."
" Ayo kita pergi."
" Pergi? bukankah tadi kamu bilang ingin melihat wajahnya secara langsung?"
" Apa kamu akan bertemu dengan seseorang?"
" Ya, seseorang yang sudah lama tergila-gila padaku. Bukankah aku harus memanfaatkan situasi ini."
" Mentari jangan bermain api."
" Aku tidak meminta komentarmu, akulah pemeran utamanya, ikuti saja skenarioku dan jangan banyak bicara. Antarkan saja aku ke sana."
" Terserah kamu saja."
Terlihat Nita sangat tidak senang dengan perlakuannya itu, namun ia tak bisa melakukan apa pun dan hanya mengikuti setiap ucapannya.
Ia membawa sang model ke tempat yang di maksud. Sebuah hotel mewah yang tentu saja orang yang akan di temuinya ini bukanlah orang biasa.
Mentari mengganti pakaiannya di dalam toilet sebelum bertemu dengan sang pria. Memakai pakaian yang membuatnya sangat cantik dan anggun.
Perlahan ia menemui pria itu yang berada di sebuah restoran.
Begitu mendapatkan sosok itu, ia segera menghampirinya. Memberikannya sebuah senyuman menggoda.
" Sudah lama?" tanyanya tersenyum.
" Kalau menunggu wanita cantik, waktu tidak akan terasa lama," jawab sang pria penuh gombalan.
__ADS_1
" Tuan Anthony, ucapanmu sungguh sangat membuatku senang. Aku tidak menyangka kalau wanita sepertiku akan mendapatkan ucapan manis seperti ini."
" Apa pun untukmu sayang."
" Kamu mulai lagi."
" Aku bersungguh-sungguh. Seharusnya aku bertemu denganmu terlebih dahulu, mungkin sekarang ini statusmu menjadi nyonya Anthony."
" Apa istrimu tidak memuaskanmu?"
" Hm, istriku itu sangat baik dan cantik, tapi dia itu membosankan. Tidak sepertimu yang membuatku mabuk kepayang."
" Kamu bisa saja."
" Aku tidak berbohong, aku bicara sesungguhnya."
" Tentu saja aku percaya."
Anthony menuangkan segelas anggur yang sudah di pesannya. Mereka pun menikmati minuman itu. Obrolan berlanjut seperti biasa.
Mentari tahu betul siapa Anthony sebenarnya. Selain seorang pengusaha sukses dan juga pria yang sangat tampan, ia juga seorang suami dari wanita yang pernah bersama dengan Shan dulu, Nada.
Ia sendiri pun tak menyangka akan berurusan kembali dengan Nada untuk kedua kalinya. Pria yang pernah di cintainya sudah bukan miliknya lagi bahkan kini suaminya telah menduakannya dan menaruh hati pada wanita lain. Sungguh sangat menyedihkan melihat kehidupannya yang hancur seperti itu.
Mentari sungguh sangat senang melihat barang yang diberikan oleh Anthony untuknya. Seperangkat perhiasan mahal ia berikan dengan senang hati pada wanita incarannya. Bagi Anthony memberikan barang mewah bukanlah hal berat untuknya, asalkan sang pujaan hati bahagia, ia pun akan ikut bahagia.
" Pakailah," pinta Anthony sembari mengeluarkan sebuah kalung dari dalam kotak itu.
" Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanyanya berbasa-basi. Yang tentu saja hanya sebuah akal bulus.
" Untukmu tidak ada yang berlebihan," jawabnya memastikan kalau yang ia berikan tulus adanya.
" Bagaimana dengan istrimu, bagaimana kalau ia tahu kalau kamu memberikan barang mahal untuk orang lain."
" Jangan memikirkan orang lain. Ini adalah uang dan hartaku, tidak ada yang bisa mencegahku memberikan apa pun padamu."
" Benarkah?"
" Tentu, untuk apa aku berbohong."
" Terima kasih, aku sangat terharu mendengarnya."
Mentari pun dengan senang hati memakai barang pemberiannya. Semua kepalsuan yang ia berikan sukses membuat sang pria bertekuk lutut.
" Sampai pagi nanti apa bisa kamu berdua denganku?"
" Tentu," ujarnya tanpa ragu.
" Aku sungguh sangat menyukaimu." Sebuah ciuman pun mendarat tepat di bibir sang wanita. " Aku akan menyenangkanmu hari ini"
" Aku akan menunggu," ucapnya dengan nada sensual.
Mereka pun menikmati sajian yang ada di atas meja. Tak lupa Mentari menyuruh sang manajer untuk pulang karena ia harus menemani sang target incaran.
__ADS_1
Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Semua berjalan dengan apa adanya. Apa yang sudah di rencanakannya perlahan mulai ia lancarkan dan berjalan sesuai dengan keinginannya.