Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 42


__ADS_3

Anin menyandarkan tubuhnya di sofa yang berwarna hitam ini. Buku yang tadinya sudah ia ambil pada akhirnya ia baca juga sembari menunggu Shan yang tadi pergi meninggalkannya.


Waktu berlalu dengan cepat. Anin pun sudah merasa kebosanan. Sudah setengah jam lamanya, namun Shan belum datang juga bahkan memberi kabar pun enggan.


Anin menatap ponselnya, ingin sekali ia menghubungi Shan, namun ia urungkan karena takut nanti akan mengganggu pekerjaannya. Ponsel itu pun ia letakkan lagi di atas meja.


Rasa bosan menunggu pun akhirnya terobatkan setelah Shan memberinya sebuah pesan.


Anin, aku ada di sebuah kafe yang ada di depan kantor. Datanglah kesini, aku akan menunggumu.


Begitulah pesan yang Shan kirimkan padanya.


Tak perlu berpikir lama, Anin pun segera bergegas menemui Shan di sana. Mempercepat langkahnya karena ia tak ingin Shan menunggunya terlalu lama.


Di tengah perjalanan, Anin bertemu dengan Disti yang sedang menunggu di depan lift. Anin langsung menyapa dan menghampirinya.


 


“ Kak Disti, “ sapanya.


“ Anin, kamu ada di sini?”


“ Iya Kak”.


“ Sendirian? Shan mana?”


“ Shan tadi ada urusan, lalu sekarang aku mau menemuinya di kafe depan kantor.”


“ Oh begitu.”


“ Iya Kak.”


Suara lift pun berbunyi. Disti yang memang akan memakai lift itu lalu pamit pada Anin. Ia memang tak bisa lama mengobrol dengannya karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Setelah kepergian Disti, Anin pun kembali melangkahkan kakinya menuju tempat Shan yang sudah menunggunya.


Saat ia akan menyeberang, langkahnya sempat terhenti saat melihat seorang wanita datang menghampirinya Shan. Wanita yang terlihat sangat cantik nan anggun dengan rambut panjangnya.


Siapa wanita itu? Pertanyaan itu langsung muncul di benaknya. Ia hanya memandang dari jauh apa yang dilakukan oleh Shan dan wanita tersebut. Mereka terlihat berbicara serius, namun entah mengapa Shan pergi meninggalkannya. Sang Wanita terus mengikuti kemana Shan pergi hingga membuat sedikit kegaduhan di sana.


Shan tak sengaja menangkap sosok Anin dari kejauhan. Tatapan mata Anin memandang kearahnya mengisyaratkan hal yang tidak baik untuknya. Shan pun segera beranjak dari sana walaupun masih dihalangi oleh wanita tersebut.


“ Shan...” Wanita itu terus memohon padanya agar di beri kesempatan untuk berbicara. “ Kumohon, aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar saja. Beri aku waktu.”


Shan masih bingung apa yang harus dilakukannya. Apa harus memberinya kesempatan untuk berbicara atau tidak. Karena ia berpikir ini bukan hal yang tepat untuknya.


“ Nada, siapa yang memberitahumu aku ada disini?”


“ Disti.”

__ADS_1


“ Disti.."


“ Jangan salahkan dia. Aku memaksanya untuk memberitahu dimana kamu berada. Aku sudah menunggu begitu lama, aku hanya ingin bicara.”


“ Akan ada yang tidak senang melihat kita berdua, Nada.”


“ Siapa? Maksudmu Anthony?”


“ Bukan, tapi istriku.”


“ Istri?” Shan mengangguk. “ Kamu sudah menikah Shan? Kapan? Kenapa tidak memberitahukanku.”


“ Untuk apa Nada? Kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Lagi pula kamu menghilang begitu saja kan.”


“ Aku minta maaf soal itu Shan. Padahal aku yang meninggalkan tapi malah aku yang mencarimu lagi. Tapi, kali ini saja Shan, beri aku kesempatan untuk bicara padamu.”


Shan menghela napas panjang. Ia tahu harus mengambil keputusan yang akan membuat permasalahan pada dirinya.


Ia pun mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya, lalu menekan nomor sang istri. Shan menunggu panggilan itu di jawab olehnya, namun tak ada respon dari Anin.


Pada akhirnya Shan memutuskan untuk mengirim pesan padanya.


Anin, tunggu aku di rumah, akan aku jelaskan semua saat aku sampai nanti.


Setelah mengirim pesan itu, Shan menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Di tatapnya wanita yang ada dihadapannya ini, wanita yang dulu pernah berarti di dalam hidupnya. Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ia tampak kurus dan pucat. Entah bagaimana ia menjalani kehidupannya selama ini.


“ Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kamu sampaikan. Aku tidak punya banyak waktu Nada.”


“ Ya, aku bahagia.”


“ Syukurlah,” ujarnya tersenyum. “ Aku sempat khawatir saat aku pergi meninggalkanmu. Tapi, mengetahui kalau kamu sudah menikah dan bahagia, aku merasa lega.”


“ Apa yang terjadi padamu? Saat kamu mengirimkanku pesan, kamu bilang kalau Anthony berselingkuh, apa itu benar?”


“ Ya.” Raut wajahnya berubah sedih. Nada terlihat berusaha menenangkan dirinya karena beban berat yang harus dipikulnya.


“ Bagaimana kamu tahu kalau Anthonya berselingkuh?”


“ Karena Anthony berubah sejak ia memulai bisnis barunya.”


“ Apa dia berhubungan dengan salah satu staffnya?” Shan berusaha mengorek sejauh mana Nada mengetahui hubungan suaminya. Walaupun ia mengetahui sedikit siapa wanita yang bersama dengan Anthony, namun karena ia tak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, Shan berusaha tidak mengetahui apa pun.


“ Awalnya aku pikir begitu.”


“ Lalu?”


“ Mentari.” Shan terkejut mendengar nama Mentari keluar dari bibir Nada. “ Aku pernah melihat Anthony bersama Mentari.” Suara Nada mulai terdengar lirih. Ia seakan menahan air matanya jatuh.


“ Perhiasan, apartemen, apa pun Anthony berikan untuknya. Sebenarnya aku tidak peduli apa pun yang Anthony berikan, tapi saat melihat mereka keluar dari hotel, hatiku benar-benar hancur. Apa yang kamu pikirkan saat seseorang keluar dari tempat itu setelah tidak pulang ke rumah.”

__ADS_1


“ Nada, apa kamu mengikuti mereka?”


“ Ya, dari Anthony keluar dari rumah sampai ke hotel. Aku sangat shock saat melihat Mentari bersamanya. Aku tidak mengerti kenapa dia selalu mengusik kehidupanku, Shan.”


“ Apa Anthony tahu kalau kamu mengetahui tentang perselingkuhannya?”


“ Tidak,” jawabnya. “ Aku harus bagaimana Shan saat sedang tidak bisa melakukan apa pun.”


“ Apa maksudmu?”


“ Aku sedang mengandung anak Anthony. Seandainya tidak ada anak di kandunganku, aku sudah meninggalkannya. Tapi, anak ini perlu seorang ayah, Shan.”


“ Berapa bulan usia kandunganmu?”


“ Sebulan.”


“ Dan Anthony tidak tahu?”


“ Tidak.”


“ Kenapa kamu tidak memberitahukannya.”


“ Sama saja kan, dia tidak akan peduli.”


“ Nada, tenangkan dirimu, kamu sedang mengandung.”


“Aku tahu Shan. Tapi, setiap melihatnya, aku sangat membencinya. Aku harus bagaimana menghadapinya.”


“ Walaupun kamu tak ingin, tapi memberitahukannya adalah jalan yang terbaik. Terlepas dia menerima atau tidak, itu lain cerita. Anak di dalam kandunganmu adalah anaknya. Anthony berhak tahu.”


Nada terdiam sejenak.


“ Nada, kamu menginginkan anak itu kan?” Nada mengangguk. “ Beritahu dia.”


“ Haruskah?”


“ Harus.”


“ Shan, seandainya anak ini adalah buah cinta kita, mungkin ceritanya akan lain.”


“ Nada, semua sudah terjadi. Takdir kita tidak bersama. Kita sudah memilih jalan masing-masing, jangan mengingat masa lalu lagi. Sekarang fokuslah dengan kehamilanmu, jaga baik-baik.”


“ Shan, apa kamu sangat mencintainya? Istrimu itu?”


“ Aku sangat mencintainya. Sekarang dia bagian hidupku.”


“ Beruntung sekali dia. Semoga pernikahanmu berjalan dengan baik Shan.”


“ Terima kasih. Aku juga berharap kamu juga bahagia.”

__ADS_1


“ Semoga saja, aku akan berusaha bahagia demi anakku ini.”


 


__ADS_2