Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 25


__ADS_3

Anin berulang kali melihat jam tangannya. Sebenarnya ia terlalu awal menunggu Shan karena ia takut kalau pria itu akan lama menunggu dan harus mencarinya.


“ Nin, kita pulang duluan," ujar Alex membunyikan klakson mobilnya. Kedua sahabatnya yang lain pun ikut pamitan.


“ Iya, bye." Anin melambaikan tangannya.


“ Bye." Mobil itu pun melaju meninggalkan Anin sendiri.


Tak lama mereka pergi, Shan pun datang menghampiri. Anin bergegas masuk ke dalam mobil.


Alunan musik menemani perjalanan mereka menuju rumah sakit. Sesekali Anin melirik Shan, tapi tak satu kata pun meluncur dari bibirnya. Ia tak tahu harus mulai dari mana membicarakan perihal besok. Ia bingung dengan situasi yang serba salah ini.


“ Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Shan tiba-tiba. Entah kenapa ia bisa mengetahui kegelisahan Anin sejak tadi.


“ Itu...., apa kita tidak membelikan sesuatu untuk Papa?”


“ Hm? Jadi itu yang kamu khawatirkan sejak tadi?”


“ Sebenarnya ada yang ingin aku katakan. Besok Anin ada acara, apa boleh Anin pergi?"


“ Acara apa?”


“ Hanya makan."


“ Dengan siapa? Ketiga sahabatmu?”


“ Bukan, tapi dengan orang lain, seorang dosen di kampus."


“ Dosen? Memangnya ada acara apa sampai kamu pergi dengan dosen?”


“ Waktu itu Anin di minta bantuan sama dosen, jadi sebagai rasa terima kasih, dia mengajak Anin untuk makan."


“ Dosen kamu baik sekali."


“ Iya, sebenarnya Anin sudah menolak, tapi jadi tidak enak menolak terus."


“ Dosen kamu pria? Dia dosen muda di kampusmu? ”


“ Bagaimana kamu bisa tahu?”


“ Tentu saja aku tahu, mana ada dosen yang begitu baik pada mahasiswinya sampai di ajak makan kalau dia bukan pria yang sedang tertarik denganmu."


“ Ha?”


“ Pergilah karena kamu sudah membuat janji terlebih dahulu."


“ Pergi??”


Shan menganggukkan kepalanya. “ Kalau aku melarangmu, nanti situasi mu malah semakin rumit. Jadi pergilah. Aku berbicara seperti ini bukan karena aku marah, tapi lain kali setidaknya diskusikan dulu denganku baru membuat keputusan."


Anin menundukkan kepalanya. Ia jadi merasa bersalah sudah membuat keputusan yang gegabah hingga membuat Shan harus mengalah untuknya.


“ Maaf Shan."


“ Jangan meminta maaf dan jangan memasang wajah yang muram begitu," ujarnya sambil mengelus lembut rambut istrinya ini.

__ADS_1


Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah sakit. Kedatangan mereka itu di sambut senyuman kebahagiaan oleh orang tuanya. Banyak hal yang mereka ceritakan hingga membuat sang Papa terus tersenyum. Kebahagiaannya kian bertambah melihat Shan telah menikah dengan seorang wanita yang sudah di kenalnya sejak dulu.


“ Papa masih tidak percaya kalau kalian sudah menikah. Waktu tidak terasa bergulir cepat, dulu Anin masih sekolah waktu Papa sama Shan hijrah ke Paris, sekarang sudah besar, sudah jadi istri Shan lagi. Rahasia Tuhan memang tidak bisa di tebak. Papa hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua saja."


“ Maka dari itu Pa, sekarang Papa harus cepat pulih, supaya kita bisa berkumpul."


“ Papa sudah merasa lebih sehat, sebentar lagi juga pulang Shan."


“ Kalau papa pulang nanti, Anin akan buatkan Papa makanan yang enak."


“ Anin sudah bisa masak?” Anin menggelengkan kepalanya. “ Lalu?”


“ Kan ada Mama."


“ Kamu ini dasar nakal."


Suara tertawa pun pecah. Suasana sore itu pun terasa sangat menyenangkan. Apalagi mereka mendapatkan kabar bahwa dua hari ke depan pasien sudah di perbolehkan untuk pulang.


Seusai magrib Anin dan Shan pamit untuk pulang. Di dalam mobil lagi-lagi mereka hanya diam. Hanya ada suara alunan musik yang mengiringi kesunyian mereka.


Anin menatap dengan padangan kosong jalanan yang ada di luar sana. Sebenarnya pikirannya sudah bercabang kemana-mana. Ia masih memikirkan janjinya pada sang dosen. Di sisi lain ia memikirkan perasaan Shan, di sisi lain ia tak enak dengan dosennya sendiri.


Berulang kali ia menghela napas panjang. Tak ayal membuat Shan terheran melihat sikap istrinya ini.


" Apa kamu masih memikirkan ucapanku tadi?" Anin memandangnya sekilas sambil mengangguk kecil. " Apa aku harus melarangmu?"


" Kenapa berkata seperti itu?"


" Karena aku tidak tahu harus bagaimana denganmu. Di satu sisi aku tak ingin mengekang kehidupanmu karena pernikahan ini, di sisi lain aku punya hak atas dirimu, melarangmu bertemu dengan pria yang tidak seharusnya kamu temui, sekali pun itu dosenmu karena saat ini dosenmu tak tahu kalau kamu adalah wanita bersuami."


" Aku tahu dan aku percaya."


" Perkataan mu seperti beban untukku, Shan. Jangan seperti itu, aku semakin tak enak."


" Kamu belum nyaman bersamaku?"


" Ha??"


" Aku mengerti."


" Shan..."


Sesaat Shan memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Ia menatap Anin yang berada di sampingnya.


" Anin, aku bukannya ingin membuatmu tak nyaman. Terima kasih sudah menganggapku sebagai suami, meminta izin padaku. Kalau ada perkataanku yang membuatmu tak enak, aku minta maaf. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mengizinkanmu pergi karena aku tahu, akan ada beban berat untukmu menolak kembali ajakannya. Aku tidak marah dan jangan berasumsi yang tidak-tidak, jangan suka mengambil kesimpulan sendiri, aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita. Aku harap kamu mengerti maksud dari ucapanku ini."


Anin menundukkan kepalanya.


" Anin..." Belum lagi Shan melanjutkan ucapannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia lalu mengambil ponselnya yang berada di kantong celana. Begitu mengetahui nama si penelepon, Shan langsung tak bersemangat.


" Maukah kamu mengangkat telepon ini?"


" Ha?"


Shan menyodorkan ponsel itu padanya. Mau tak mau Anin pun mengambilnya. Anin menatap nama yang tertera di layar itu.

__ADS_1


" Halo".


" Halo." Terdengar suara wanita dari ujung telepon. " Ini siapa? bukankah ini ponsel milik Shan?"


" Ya, ini milik Shan."


" Aku ingin bicara dengannya!"


" Katakan saja, aku akan menyampaikannya."


" Memangnya kamu ini siapa, jangan sok dekat dengannya. Berikan ponsel ini padanya sekarang juga."


" Sayang", ujar Anin berpura-pura. " Dia tidak mau bangun, aku harus bagaimana".


" Apa maksudmu."


" Apa maksudku, tidak ada, kami sedang tidur lalu apa. Kenapa kamu cerewet sekali".


" Tidur?"


" Ya, kami sedang tidur. Memangnya tidak boleh?"


" Kenapa kamu bisa tidurnya dengannya? Shan bukan orang yang seperti itu."


" Kenapa aku bisa tidur dengannya? karena aku istrinya, Shan tidur dengan istrinya."


" Istri? kenapa hari ini semua orang suka bercanda. Shan belum menikah, kenapa dengan kalian."


" Sudahlah, jangan mengganggu Shan lagi! aku tidak suka, aku bisa mematahkan lehermu jika kamu berani melakukannya!"


Tut!


Anin langsung memberikan ponsel itu pada Shan yang ada di sampingnya. Shan hanya tersenyum melihat istrinya itu.


" Kamu puas?"


" Ya, terima kasih."


" Kenapa tidak dijawab saja tadi?"


" Karena aku tidak mau, aku juga tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita hanya karena sebuah telepon. Bukankah kamu selalu penasaran dengan Mentari?"


" Itu..." Anin tak melanjutkan ucapannya.


Shan membelai rambut Anin seraya tersenyum.


" Apa kamu sudah baik kan?"


" Hm?"


" Apa kamu mau makan sesuatu?"


" Piza, aku mau makan itu."


" Piza. Baiklah, kita akan makan piza," ujar Shan melajukan mobilnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2