Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 11


__ADS_3

Matahari memasuki ruangan yang tak begitu besar itu. Perlahan sang pemilik kamar mulai terganggu dengan suara-suara bising dari sebelah kamarnya.


Anin mengucek-ngucek matanya, sedikit mengomel karena kesal tidurnya terganggu.


Setelah habis salat tadi, ia malah tertidur lagi. Dalam hati hanya sebentar tapi nyatanya bablas sampai hampir dua jam.


Anin bergegas mengambil handuk untuk membersihkan dirinya karena dia sudah kesiangan. Walaupun ini hari libur tapi bunda dan ayah bakal marah padanya kalau bangun terlalu lama.


Setelah selesai, Anin memakai pakaian yang sudah ia siapkan tadi. Sebuah celana hitam dan kaos berlengan pendek menjadi pilihannya.


Anin bergegas turun ke bawah yang kemudian di sambut celetukan dari kakaknya, Agni. " Putri Cinderella sudah bangun ya," ejek Agni sambil menggigit roti yang ada di tangannya.


" Apaan sih kakak," protesnya seraya duduk di kursi. Bunda meletakkan teh manis panas di atas meja lalu tersenyum pada Anin. " Bunda kenapa lagi tuh senyum-senyum."


" Loh memangnya salah kalau bunda senyum sama kamu," ujar bunda sambil melanjutkan pekerjaannya di dapur.


" Iyalah bun, senyum bunda tuh lain. Kayak ada arti tersembunyi gitu," ucapnya yang di sambut senyuman dari Agni. " Tuh kan kak Agni juga gitu."


" Apaan coba, senyum doang kok jadi sensitif gitu kamu, Dek."


" Terserahlah," ucapnya sambil menyendok kan nasi goreng ke dalam mulutnya.


" Kamu sudah bilang terima kasih belum sama Shan."


" Belum lah." Sesaat Anin teringat dengan kejadian semalam dimana ia tiba-tiba memeluk pria itu.


" Ya sudah kamu hubungi Shan sana."


" Gimana mau menghubungi sih kak, ponsel sama tas Anin kan di copet."


" Ya Allah kakak lupa, kamu sih kenapa coba main sejauh itu sampai kecopetan lagi."


" Kenapa jadi marah-marah sih."


" Lain kali jangan kemana-mana kalau tidak bersama keluarga, teman ataupun Shan, mengerti kamu."


" Iya kakakku sayang," ujarnya. " Eh tunggu, kenapa ada nama Shan juga," protesnya menyadari ucapan kakaknya itu.


" Memangnya kenapa, dia kan keluarga juga."


" Oh."


" Jadi tidak kamu menghubungi Shan. Ini pakai ponsel kakak saja."


" Kakak saja lah, bilang kalau Anin berterima kasih."


" Anin....memangnya bunda sama ayah mengajari kamu begitu Nak." Bunda langsung bereaksi mendengar anaknya bicara tidak baik seperti itu. Anin tertunduk karena memang ucapannya itu salah. " Sana telepon Shan. Kamu tidak tahu bagaimana dia membawa kamu pulang. Sampai harus basah begitu."


" Iya bunda," ujarnya mengambil ponsel kakaknya lalu pergi meninggalkan ruangan makan untuk menelepon.


Anin meletakkan ponsel itu di telinganya sesaat ia memencet nomor itu. Tak lama terdengar suara dari ujung telepon.


" Ya Agni, ada apa?"


" Ini Anin bukan kak Agni," ucap Anin. " Anin pakai ponselnya kak Agni soalnya ponsel Anin kan hilang."

__ADS_1


" Iya, semalam kan Anin kecopetan."


" Iya. Anin cuma mau bilang terima kasih karena Shan sudah menyelamatkan Anin."


" Iya, terima kasih kembali."


" Ya sudah ya itu saja."


" Hei!!!"


" Apa lagi? kan Anin sudah bilang terima kasih."


" Cepatlah keluar."


" Apa?? keluar?"


" Iya."


Anin tak mengerti dengan maksud Shan itu. Tapi ia malah penasaran sendiri. Ia pun mengintip dari balik gorden jendela sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Shan.


" Kamu mencariku?"


" Shan bohong ya."


" Berarti kamu mencariku kan."


" Kan Shan yang suruh Anin keluar tadi."


" Tapi aku tidak berbohong kok, tunggu aku di depan pintu. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat."


" Kenapa bunda harus marah?" ucap bunda tiba-tiba. Anin kaget mendengar suara bunda yang tiba-tiba ada di dekatnya.


" Bunda kok menguping sih."


" Siapa yang menguping? Bunda cuma heran saja, kamu dari sana terus ke depan cuma buat mengintip."


" Bukan gitu Bun."


" Sini teleponnya," pinta bunda.


" Tapi bun......" Dengan terpaksa Anin pun menyerahkan ponsel itu pada bunda.


" Halo Shan."


" Tante."


" Kamu mau bawa Anin kemana?"


" Shan mau mengajak Anin jalan, Tan. Sekaligus memberikan sesuatu pada Anin Tante, kalau Tante tidak keberatan."


" Kenapa tante harus keberatan Shan. Sekarang kamu ada dimana?".


" Masih dalam perjalanan Tan, sekitar 10 menit lagi Shan sampai di sana."


" Kalau begitu Tante tutup teleponnya ya biar Anin dandan dulu."

__ADS_1


" Iya Tante."


Bunda pun mematikan telepon itu dan menatap anak gadisnya. Anin yang merasa sudah tidak enak perasaan berniat untuk kabur sebelum bundanya melancarkan aksinya. Namun apa daya kakaknya Agni malah bersekongkol dengan bunda, alhasil Anin pun pasrah dengan ulah kedua orang kesayangannya itu.


Agni mendandani Anin sedangkan bunda mencari pakaian yang cocok dengannya. Setelah mengubek-ubek lemari anaknya itu, akhirnya bunda mendapati gaun yang pernah bunda belikan tapi tak pernah sekalipun ia pakai.


" Pakai ini saja ya," ujar bunda menunjukkan gaun pendek di bawah lutut dengan lengan seperempat berwarna putih. Anin langsung melotot pada bundanya karena memilih pakaian itu. " Semenjak bunda kasih, kamu belum pernah sekalipun memakainya, kan?" Anin mengangguk karena memang benar apa yang di ucapkan Bunda. " Ya sudah pakai ini." Bunda memberikan pakaian itu. " Lalu sepatunya....."


" Pakai sepatu yang biasa saja, please Bunda. Anin sudah ikuti mau Bunda loh pakai ini, tapi sepatunya jangan yang itu."


Bunda menghela napasnya. " Baiklah sayang, pakai yang nyaman saja."


" Terima kasih Bunda."


Setelah selesai di dandani oleh Agni, Anin pun memakai pakaian yang sudah bunda pilih. Bunda dan Agni tersenyum melihat bagaimana penampilan Anin yang sangat cantik hari ini.


" Anak bunda cantik sekali," puji bunda tak henti-hentinya.


" Iya, gini dong Nin kalau mau jumpa calon," ujar Agni yang di sambut tatapan tajam Anin.


" Calon apa!! sembarangan," protes Anin. Bunda dan Agni tertawa geli melihat tingkah Anin itu.


" Ya sudah kamu cari sepatunya sana. Bunda sama kakak turun ke bawah dulu, mana tahu Shan sudah sampai."


" Iya Bun."


Bunda dan Agni pergi meninggalkan Anin di kamarnya. Setelah beberapa langkah mereka berjalan terdengar suara mobil terparkir di depan rumah.


Agni bergegas turun dan langsung membuka pintu. Si pemilik mobil tersenyum melihat Agni yang sudah berada di depan pintu.


" Pangerannya sudah datang. Cinderella lagi dandan tunggu ya."


" Oke", ucap Shan tersenyum.


" Kalian mau kemana?"


" Rencananya aku mau membelikan Anin ponsel baru. Tapi, dia nanti marah tidak ya?"


" Coba saja Shan, awalnya Anin pasti menolak, tapi kamu bujuk baik-baik deh."


" Iya sih nanti aku coba."


Tak lama Anin pun keluar dari kamarnya dan menemui Agni dan Shan yang sedang mengobrol di teras depan.


" Anin sudah siap," ujar Anin berdiri di depan pintu. Sesaat Shan terpana dengan penampilan Anin yang tidak biasa itu. Anin yang sadar kalau Shan terus memandanginya menjadi kikuk sendiri. " Biasa aja lihatnya." Shan pun memalingkan wajahnya sedangkan Agni tersenyum kecil melihat tingkah dua pasangan ini.


" Ya sudah kalian pergi sana. Anin sudah pamitan sama bunda belum?"


" Sudah kak."


" Ya sudah, pergi deh sana. Semoga perjalanannya menyenangkan."


" Terima kasih, kami pergi ya."


" Oke, bye." Agni melambaikan tangannya saat Shan dan Anin pergi meninggalkan kediaman keluarga mereka.

__ADS_1


__ADS_2