
" Pelan-pelan makannya," ujar Shan menasehatinya. " Itu makan atau marah? atau marah sama makanan?"
" Marah sama kamulah," celetuk Anin yang sukses membuat Shan tertegun. Anin yang melihat reaksi Shan yang terdiam membuatnya geli sendiri. " Aku cuma bercanda kok."
" Sekarang sudah bisa bercanda, baguslah. Jadi ingat waktu pertama kali ketemu, gadis kecil yang tidak ada akhlaknya, menatap orang dari atas sampai ke bawah. Apa waktu kecil kamu sering membuat orang kesal, ha!"
Anin mengangguk lalu cengengesan yang membuat Shan langsung tersenyum.
" Cepat habis kan, kita harus segera pulang."
" Oke."
Tak butuh waktu lama, piza yang ada di atas meja pun ludes di makannya. Padahal tadinya ia mau diet, tapi malah kebablasan karena Shan menanyakannya mau makan apa. Ya sudah dasar memang lagi mau makan makanan yang satu itu, Anin cuek saja.
" Aku ke toilet dulu ya," ujar Shan meninggalkan Anin sendiri di mejanya.
" Oke."
Jadilah Anin duduk sendiri menunggu Shan yang pergi ke toilet.
Terdengar sayup-sayup orang tengah berbisik. Seketika Anin menoleh karena penasaran apa yang mereka bicarakan. Ternyata mereka sedang memperhatikan Shan yang tengah berjalan. Mereka memuji penampilan Shan yang memang sangat menarik.
Pria berperawakan tinggi 180 itu memang sangat gagah dengan tubuhnya yang atletis. Dengan memakai setelan jas membuatnya semakin menarik untuk di pandang. Tak ayal semua mata diam-diam melirik ke arahnya.
" Kita pulang?"
" Hm," angguknya.
" Ayo," ujar Shan menarik tangan Anin. Tindakan Shan itu malah membuatnya kaget. Ia pun tak kuasa menahan malu karena terus di pandangi oleh orang-orang di sekitarnya. " Kenapa?" tanya Shan karena melihat Anin seperti tak nyaman.
" Ha? tidak apa-apa kok," jawab Anin tersenyum.
" Oh, ya sudah."
Mereka pun berjalan sampai parkiran. Lalu kembali ke rumah.
-----
"Assalamualaikum," ucap Shan dan Anin memasuki rumah.
" Walaikumsalam," ujar Bunda menjawab salam mereka. " Sudah makan belum?" tanya Bunda sambil mengambil air minum yang ada di atas meja.
" Sudah kok Bun," jawab Anin melirik botol air yang ada di tangan Bundanya. " Bunda itu untuk apa?"
" Oh. Malam ini Bunda sama Ayah mau ke rumah Nenek, kemungkinan besok pulang, itu pun kalau tidak ada halangan, mumpung Ayah bisa keluar."
" Oh, berarti Anin sama kak Agni di rumah."
" Kakak kamu sudah pergi tadi sore."
" Ha?? kemana Bun?"
" Ya jalan-jalan lah namanya juga pengantin baru."
" Jadi Anin sama Shan di rumah sendiri?"
" Ya iyalah sayang."
__ADS_1
" Tapi..." Anin menatap Shan yang tengah berbincang dengan Ayahnya di ruang tamu. Di dalam benaknya sudah terpikirkan akan menjalani malam yang panjang.
" Kok malah melamun, bantu Bunda bawa kotak makanan ini ke depan."
" Iya Bun," ujarnya mengangkat beberapa barang ke dalam mobil.
" Shan, Tante sama Om mau pergi dulu. Kalian berdua jaga rumah. Agni sama Bimo lagi keluar juga. Jaga Anin", ujar sang Ayah pada menantunya ini.
" Iya Yah, tidak perlu khawatir soal Anin, Shan pasti menjaganya."
" Baiklah, hati-hati di rumah. Kami pergi dulu, jaga rumah ya," ujar Ayah memasuki mobil.
" Ayah-Bunda hati-hati di jalan." Anin melambaikan tangannya sambil tersenyum kecil.
Mobil itu pun melaju meninggalkan kedua pasangan itu. Kekhawatiran pun di mulai di hati seorang Anin karena harus berdua dengan Shan, suaminya.
" Bagaimana kalau lain kali kita ke tempat nenek?" ujar Shan membuka pembicaraan karena suasana yang tiba-tiba canggung itu.
" Ah, boleh juga. Shan belum pernah ke sana kan? "
" Seingat ku belum."
Anin memaksakan senyuman mendengar jawaban dari Shan itu.
" Kamu takut denganku?"
" Ha?" Anin terlihat kaget dengan pertanyaannya itu. Shan hanya menatapnya. Terkadang Anin bingung, apa Shan mempunyai keahlian khusus membaca pikiran seseorang. Setiap yang di pikirkannya, Shan pasti selalu tahu.
Anin menggelengkan kepalanya. " Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
" Karena aku melihat kamu mencemaskan sesuatu."
" Misalnya?? Hm...karena kita tinggal berdua saat ini, kamu pasti memikirkan sesuatu tentang bagaimana kita tidur nantinya, apa aku akan melakukan hal itu atau tidak, benar kan?"
" Shan, apa aku tidak bisa menyimpan pikiranku sendiri tanpa di ketahui olehmu."
Shan hanya tersenyum. " Wajahmu, menggambarkan semua yang terjadi. Ketakutan mu, kekhawatiran mu, aku bisa mengetahuinya."
" Benarkah? tapi kenapa hanya kamu, orang lain tidak pernah mengatakan itu padaku."
" Karena aku ahli dalam hal membaca pikiran mu...." Shan terdiam tak melanjutkan ucapannya lagi. " Sudahlah, mungkin aku terlalu banyak bicara, jangan di pikirkan. Istirahatlah di kamar."
Sejenak suasana menjadi hening. Anin hanya memperhatikan Shan yang duduk di sofa sambil menonton televisi. Tak ada sepatah kata keluar dari bibir mereka.
" Shan."
" Hm."
" Tidurlah bersamaku di kamar."
Shan langsung menoleh. Sebenarnya ia agak kaget dengan ucapan Anin barusan. " Kenapa?" tanyanya.
" Kalau tidak mau ya sudah," ujar Anin berlalu meninggalkannya.
Shan menyunggingkan senyumannya karena tingkah Anin yang lucu itu. " Dasar."
-------
__ADS_1
Anin terlihat sibuk dengan ponselnya, sudah 1 menit yang lalu ia mengobrol dengan Bundanya di telepon. Hujan memang tiba-tiba turun deras membuatnya agak khawatir dengan orang tuanya yang tengah dalam perjalanan. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di rumah neneknya.
" Sudah ya Bun, Assalamualaikum", ujarnya mengakhiri pembicaraan.
" Bunda sudah di mana?" tanya Shan yang malah mendapatkan teriakan dari Anin.
" Shan!!" teriak Anin karena melihat suaminya itu bertelanjang dada.
" Kenapa kamu teriak?" Shan malah kaget sendiri dengan teriakan Anin itu.
" Cepat pakai baju sana!" ujarnya melewati Shan, namun pria itu malah menarik tangannya.
" Kenapa? apa aku tidak menarik di matamu?"
" Ya!" Anin menatapnya seakan tak ingin kalah. " Kamu pikir kalau semua wanita memandang mu, tertarik padamu, aku ada di antara wanita itu?"
" Apa tidak?"
" Tidak!"
" Benarkah?"
" Hm", angguknya pelan. " Aku bukan barisan wanita itu."
" Benarkah." Shan malah mendorong tubuh Anin makin menempel ke tubuhnya. Anin kaget bukan main dengan ulah Shan padanya.
" Lepaskan aku," pinta Anin karena ia merasa tak nyaman dengan situasinya saat ini. Tubuh Shan yang tak memakai pakaian membuat Anin jadi tak karuan.
" Kenapa wajahmu memerah? katanya tadi tidak tertarik?"
" Ini karena aku kepanasan, tidak ada hubungannya sama sekali!"
" Kepanasan? padahal hujan sedang turun, kenapa kamu bisa kepanasan?"
" Memang kenapa? Apa tidak boleh kalau sedang turun hujan malah kepanasan. Apa ada hukumnya! terori nya! pasalnya! coba kata..." Anin terdiam seketika saat Shan mengecup bibirnya tiba-tiba.
" Kamu cerewet sekali". Anin masih terdiam mematung di pelukannya. Shan menyunggingkan senyuman. " Kalau kamu diam seperti ini, aku akan..." Shan menghentikan ucapannya karena raut wajah Anin berubah seketika. Anin menyentuh bibirnya yang tadi di kecup olehnya. Tindakan Anin itu malah membuatnya makin berhasrat.
" Aku sudah memperingatkanmu tadi". Bibir mungil itu kemudian di rengkuh nya. Shan menekan bibirnya cukup keras dan dalam pada bibir Anin dan menciumnya bertubi-tubi. Mencecar setiap inci bibir sang istri. Anin gelagapan dengan gerakan Shan yang penuh gairah itu. Spontan tangan Anin mulai merengkuh lengan milik Shan. Anin pun terbuai dengan ciuman yang pertama kali baginya.
Shan melepaskan ciumannya dari bibir nan ranum itu. Kedua pasangan itu mencoba mengatur napas mereka masing-masing dengan mata masih saling memandang.
" Bohong," ucap Anin tiba-tiba.
" Ha?"
" Kalau aku diam atau pun bicara, kamu tetap akan mencium ku kan."
Shan tersenyum. " Karena dari sini sampai di sini, sekarang adalah milikku."
" Apa??"
Shan tertawa geli melihat reaksi istrinya itu. Tak henti-hentinya ia memukul karena kesal oleh ucapannya itu.
" Sudah-sudah ayo tidur."
" Bagaimana aku mau tidur kalau posisinya masih seperti ini. Lepas dulu!"
__ADS_1
" Kalau begitu aku gendong saja ke tempat tidur," ujar Shan mengangkat tubuh Anin.
" Hei, Shan!!!"