
Saat keluar dari toilet, Anin dan Tasya tak sengaja bertemu dengan Kemal.
Seperti biasa mereka menyapanya dan untuk ke sekian kalinya Tasya masih belum terbiasa mendapatkan senyuman dari dosen tampannya itu.
Anin mengguncang tubuh Tasya karena ia tak berhenti memandangi Kemal.
" Bangun, jangan mengkhayal terus," celetuk Anin.
" Seandainya aku kayak kamu Nin ketemu laki-laki dewasa kayak Kak Shan, pasti nyaman banget."
" Berantem sama Yogi ya?"
" Menurut kamu?"
" Is, malah main tebak-tebakan."
Tasya hanya tersenyum.
" Anin, Tasya cepat masuk," perintah Kemal yang membuat Anin dan Tasya jadi kalang kabut.
" I-iya Pak," ujar Anin dan Tasya setengah berlari.
----
Anin segera menarik tangan Tasya begitu kelasnya berakhir. Ia sangat penasaran dengan cerita Tasya yang tiba-tiba mengeluh dengan hubungannya. Padahal yang Anin tahu, Tasya dan Yogi baik-baik saja dan cenderung jarang bertengkar.
" Ada apa sih Nin?" tanya Tasya yang bingung dengan kelakuan Anin yang tiba-tiba membawanya pergi dari kelas.
" Ceritakan soal yang tadi."
" Yang tadi mana?"
" Soal Yogi, kalian bertengkar?"
" Oh, yang itu. Kami baik-baik saja."
" Lalu kenapa Tasya bicara kayak tadi."
" Ya cuma unek-unek Nin. Kayaknya punya pasangan lebih tua itu menyenangkan ya, ada yang mengayomi gitu. Waktu lihat Pak Kemal malah jadi mengkhayal sendiri," ucapnya tertawa.
" Tapi Yogi kan baik sama kamu, Tas."
" Yang bilang Yogi jahat siapa? Tidak ada kan?"
" Iya sih."
" Terkadang hubungan itu ada titik jenuhnya sendiri, jadi perlu waktu lagi buat memperbaikinya. Ya seperti kami, untuk sementara ini kami tidak bersama dulu, mencoba untuk menenangkan diri."
" Kalian putus?"
Tasya menggelengkan kepalanya.
" Hanya break sementara ini."
" Yogi setuju?"
" Awalnya ya tidak, tapi setelah penjelasan yang panjang akhirnya dia mengerti."
" Tapi kalian jangan putus ya."
" Tenang saja."
Anin menatap Tasya lirih. Ia sangat sedih mengetahui hubungan kedua sahabatnya ini sedikit ada terjal di dalamnya. Tasya bukan tipe orang yang suka bercerita mengenai hubungan pribadinya, ia hanya bercerita seadanya dan berusaha untuk tetap bersikap seolah-olah baik-baik saja.
Pun, dengan Yogi seperti tidak terjadi apa-apa padahal mereka selalu bersama. Ternyata ada hal-hal yang bahkan sahabat sendiri tidak akan tahu.
Anin menaruh tangannya di pipi kanannya, pandangannya pun lurus ke depan. Tasya meninggalkannya karena ada sesuatu yang harus dilakukannya.
Alex yang melihat Anin sendiri pun menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
" Kenapa tuh muka?" tanyanya sedikit meledek. " Jelek tahu."
" Jelek-jelek gini sudah laku!"
" Ciee...yang sudah jadi istri, sombong betul."
" Kapan lagi bisa bicara sombong," ujarnya tertawa. " Eh Lex."
" Hm."
" Yogi sama Tasya."
" Iya, kenapa dengan mereka?"
" Kamu benaran tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
" Anin!!!'"
__ADS_1
Anin pun tertawa.
" Iya, maaf."
" Untung sudah jadi istri orang kalau tidak sudah aku jitak kamu."
" Jahat ah"
" Jangan panjang deh, cepat cerita."
" Iya, sabar dong. Tasya sama Yogi lagi break. Aku juga tidak tahu jelas kenapa, Tasya juga ceritanya cuma seadanya, intinya ya mereka perlu waktu karena ada titik jenuh katanya. Aku juga baru tahu cerita ini, aku pikir kamu tahu, soalnya kamu kan lebih dekat sama Yogi, Lex."
" Kayak kamu baru kenal mereka Nin. Itu dua pasangan kan memang begitu, waktu jadian juga diam-diam, ada masalah ya tidak mungkin berkoar. Mungkin mereka tidak mau buat kita jadi khawatir."
" Iya sih, cuma kalau nanti mereka putus gimana?"
" Ya, itu namanya tidak jodoh. Biar deh mereka begitu, jangan di cecar sama pertanyaan yang malah buat mereka ke pikiran."
" Tumben."
" Apanya?"
" Cerdas."
" Mulai lagi, aku pikir bakalan berubah setelah nikah, ternyata sama saja. Baguslah."
" Apaan sih, Lex," ujar Anin memukul Alex.
------
Setelah jam kuliah selesai, Anin terpikir untuk menemui Shan di kantornya.
Anin memesan transportasi online yang akan membawanya kesana.
10 menit menunggu, akhirnya yang di tunggu pun datang juga. Anin sengaja tak memberitahu Shan akan kedatangannya ini. Sedikit memberikan kejutan begitulah pikirnya.
Tak berselang lama, Anin tiba di depan gedung tempat Shan bekerja. Di depan lobi ia tak sengaja bertemu dengan Reno yang baru saja sampai dengan menggunakan taksi.
" Nyonya," sapanya.
" Kakak dari mana? kenapa naik taksi?"
" Oh itu, mobil baru saja masuk bengkel. Jadi, naik taksi kesini."
" Oh begitu."
" Iya, apa dia ada di ruangannya?"
" Mungkin saat ini rapat belum selesai, tapi Nyonya bisa menunggunya di ruangan Tuan."
" Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan menunggunya."
" Kalau begitu saya antar Nyonya kesana."
" Terima kasih."
Reno mengantarkan Nyonyanya itu menuju ruangan Tuannya. Saat ini Shan memang tidak ada di ruangannya karena rapat yang belum selesai. Jadilah Anin menunggu sang suami sendiri.
" Maaf Nyonya harus saya tinggal karena masih banyak pekerjaan yang harus kerjakan."
" Tidak apa-apa Kak, terima kasih sudah mengantarkanku kesini."
" Sama-sama Nyonya. Kalau begitu saya tinggal, permisi."
" Silakan."
Sepeninggalan Reno, Anin mengamati setiap detail ruangan ini. Beberapa buku tersusun rapi di rak kecil yang ada di sudut. Anin mengambil satu buku yang ada di rak itu dan berniat untuk membacanya sambil menunggu Shan selesai dengan rapatnya.
Saat melewati meja kerjanya, Anin melihat sebuah kotak terletak di sana. Anin yang penasaran mengecek kotak tersebut. Tak ada nama yang tertera dan kotak yang tak terlalu besar itu pun masih dalam keadaan terbungkus.
" Anin."
Anin terkaget dengan suara yang memanggilnya itu.
" Shan," ujarnya tersenyum.
" Sudah lama? Aku langsung kesini saat Reno mengatakan kalau kamu menungguku."
" Tidak juga, aku bahkan belum sempat membaca buku yang aku ambil di rak itu."
" Bawalah kalau kamu ingin membacanya."
" Boleh? benarkah?"
" Tentu saja," ujar Shan membelai lembut rambut istrinya.
" Oh ya, aku menemukan ini di atas mejamu." Anin menunjukkan kotak tersebut. " Ini apa?"
__ADS_1
" Oh, sebuah hadiah."
" Hadiah? dari siapa?"
" Kamu ingin aku berbohong atau mengatakan yang sebenarnya?"
" Ha? kenapa begitu?"
" Cepat katakan pilihanmu."
" Tidak jadilah, aku juga tidak ingin tahu. Takutnya malah sakit."
" Benar?"
Anin mengangguk.
Shan menyunggingkan senyumannya.
Ia mengambil kotak itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Anin terkaget dengan tindakan Shan itu. Ia tak mengerti mengapa Shan melakukannya.
" Shan, tidak baik seperti itu, jangan di buang."
" Aku tahu, tapi kotak ini akan jadi sumber masalah."
" Maksudnya?"
" Ini dari Mentari. Kemarin ia mengirimkan ini padaku, aku tidak tahu harus aku apakan kotak ini. Aku ingin menyingkirkannya tapi malah ketahuan sama kamu."
" Kamu takut aku marah?"
" Tentu saja."
" Aku malah marah sama diriku sendiri karena tidak tahu hari ulang tahunmu kalau bukan Kak Reno yang memberitahu, bahkan sebuah kado saja tidak aku persiapkan, istri macam apa aku ini."
" Tapi aku sudah mendapatkan kado yang lebih baik dari ini semua," ujarnya semakin mendekatkan diri dengan tubuh Anin.
Wajah Anin pun memerah mendengar ucapan Shan padanya. Ia paham apa maksud dari ucapannya itu.
" Itu..."
" Hm."
" Shan!" Anin tak tahan dengan tatapan Shan yang mengintimidasi dirinya.
" Sayang." Shan pun memeluk Anin. Tiba-tiba Shan bertingkah seperti anak kecil. " Aku jadi merindukanmu."
" Aku kan ada di sini, kenapa merindukanku."
" Tentu saja."
" Hei Shan." Shan mulai melancarkan ciuman ke seluruh wajahnya. " Nanti ada yang datang."
" Biarkan saja."
" Shan..."
Tok..tok
Shan dan Anin pun terkaget.
" Tuan."
Shan menghela napas, selalu saja Reno mengganggu kebersamaannya dengan Anin.
" Kenapa kamu malah tertawa?"
" Raut wajahmu itu lucu."
" Apa aku harus memecatnya?"
" Shan!" Anin memukulnya.
" Dia selalu mengganggu kita."
" Sudah sana temui dia."
" Baiklah Nyonya."
Dengan terpaksa Shan pun membuka pintu itu.
Cukup lama mereka berbincang hingga membuat Anin penasaran.
" Shan."
" Anin, bisakah kamu menunggu. Ada yang harus aku kerjakan."
" Tentu."
__ADS_1
" Tunggu aku ya," ucapnya mengecup dahi sang istri. Anin pun mengangguk dan menatap kepergian Shan bersama Reno.