
Anin membuka matanya perlahan karena tidurnya terjaga. Samar-samar ia melihat jam yang tergantung di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 04.45. Anin membalikkan tubuhnya ke samping, terlihat Shan sedang membentangkan sajadah di sana. Anin segera bangkit dari tidurnya.
" Sudah bangun?" Anin mengangguk pelan. " Mau salat?"
" Iya".
" Mandilah. Aku akan salat sama Ayah di mesjid."
" Iya."
Anin bergegas bangkit lalu mengambil handuk yang tergantung rapi di jemuran kecil dekat pintu kamar mandi. Ia membersihkan dirinya sebelum melaksanakan salat subuh.
Tak lama, ia pun keluar dengan memakai daster pendeknya. Ia segera mengambil mukena dan memakainya karena memang waktu salat sudah tiba. Sajadah sudah di bentangkan oleh suaminya tadi sebelum ia berangkat salat ke mesjid bersama ayahnya.
Anin memulai salat dua rakaat itu dengan khidmat. Setelah selesai, tak lupa ia menyematkan doa.
Hari ini Anin masih tetap kuliah karena memang ia tidak mengambil libur. Lagi pula tak ada yang tahu ia menikah kecuali ketiga sahabatnya itu.
Anin mengganti daster yang ia pakai tadi dengan celana jeans dan kemeja motif berwarna cream . Anin membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara pintu terbuka. Terlihat Shan memasuki kamar itu dengan masih menggunakan perlengkapan salatnya tadi.
" Hari ini ada kuliah?" tanya Shan begitu melihat Anin sudah rapi.
" Iya, hari ini ada jadwal kuliah pagi," jawabnya sambil menyisir rambutnya.
" Aku akan mengantarmu nanti, sekalian aku pergi kerja."
" Oke".
" Bisa ambilkan pakaianku di dalam koper," pinta Shan, Anin pun mengiyakan permintaan suaminya itu.
" Kenapa pakaianmu hanya sedikit Shan?" tanyanya sambil memberikan pakaian itu padanya.
" Harus sebanyak apa aku membawa pakaian. Kita tidak mungkin tinggal di sini lebih lama. Aku akan membawamu ke rumah kita."
" Ke rumah kita?"
" Iya, ke rumah siapa lagi. Papa juga akan segera keluar dari rumah sakit. Atau jangan-jangan kamu tidak mau tinggal berdua denganku?"
" Bu. Bukan begitu, kemana kamu pergi bukankah aku juga harus ikut."
Shan tersenyum kecil. " Terima kasih istriku," ujarnya mengacak rambut Anin yang sudah rapi di sisirnya.
" Argh!!! Shan!!!" teriaknya kesal karena rambutnya kembali acak-acak kan.
" Jangan teriak, nanti di kira kamu kenapa-kenapa."
" Memang kenapa-kenapa, rambut Anin tadi sudah rapi," ujarnya kesal.
" Maaf tuan putri," ujarnya tersenyum, tapi Anin masih kesal padanya.
" Ini dasinya!" ujarnya memberikan dasi dengan mode kesal. " Eh tunggu biar Anin pakaikan." Pikiran untuk mengerjai pria ini tiba-tiba muncul untuk balas dendam karena sudah membuatnya kesal.
" Memang Anin bisa?" Shan mengernyitkan dahinya.
" Bisalah," ujarnya dengan senyuman liciknya. Anin memakaikan dasi itu lalu mengikatnya kuat sampai Shan tercekik.
" Anin!"
__ADS_1
" Maaf."
" Sengaja pasti."
" Memang."
" Sudah berani?"
" Ya!" Anin menarik dasi Shan yang sudah terikat itu. Alhasil Shan menjadi lebih dekat dengan tubuh Anin. Ini di namakan terkena karma sendiri. Mau memberi perhitungan pada suaminya itu malah jadi salah perhitungan.
Anin cepat-cepat melepaskan dasi itu agar jarak di antara mereka tak dekat seperti tadi. Ia memalingkan wajahnya karena malu dengan perbuatannya tadi, sedangkan Shan menyunggingkan senyumannya.
" Aku akan membuatkan mu kopi."
" Buatkan saja air putih hangat."
" Baiklah, cepatlah turun."
" Oke."
Anin berlalu meninggalkan Shan di kamar. Berulang kali ia merutuki dirinya atas perbuatannya tadi. Niat untuk mengerjai malah berakhir memalukan.
" Anin, Shan mana?" tanya bunda begitu melihat putri bungsunya itu turun.
" Masih di atas Bun," jawabnya sembari ke dapur.
Anin mengambil sebuah gelas lalu menuangkan air panas yang ada di termos. Bunda dengan saksama memperhatikan anak kesayangannya itu tengah membuat sesuatu.
" Mau buat apa?" tanya bunda heran.
" Oh, lagi melayani suami, gitu dong Nak, suaminya di perhatikan."
" Ih Bunda "
" Anak Bunda malu-malu. Sudah sana, Shan sudah turun tuh."
" Iya Bun," ujarnya membawa gelas berisi air putih hangat itu ke meja tempat Shan berada.
Anin mengambil sebuah piring lalu mengisinya dengan nasi goreng dan juga telur mata sapi yang sudah di siapkan bundanya. Ia pun memberikannya pada Shan untuk di santap nya.
" Kuliah Nin", tanya Agni begitu melihat Anin sudah rapi.
" Iya kak, soalnya hari ini ada ujian," jawabnya.
" Kamu juga Shan, hari ini masuk kerja?"
" Iya."
" Kalian berdua ini, baru semalam nikah, sudah sibuk dengan aktivitas. Memangnya tidak bisa libur apa! Setidaknya kalian pergi ke suatu tempat, honeymoon."
" Kakak bicara jangan seenaknya, memangnya ujian bisa di tunda."
" Ya minta keringanan lah sama dosen, kalau kamu menikah, pasti mereka mengerti."
" Kan Anin nikah cuma Alex, Yogi sama Tasya yang tahu. Minta keringanan gimana, kakak ini!"
Agni menghela napasnya. Tak ada yang salah dengan ucapan adiknya itu, memang Anin dan Shan menikah tidak mengundang siapapun, hanya keluarga dan teman dekat karena memang pernikahan mereka tidak mengelar resepsi apa pun. Alhasil Anin dan Shan harus melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya.
__ADS_1
" Tidak hari ini, lain waktu juga bisa kan mengambil libur," timpal Bimo. " Shan, kamu bisa libur kan?"
" Bisa saja, tapi semua tergantung Anin karena dia masih kuliah dan saat ini masih dalam keadaan ujian."
" Tuh dengar Nin, kamu bisanya kapan?" celetuk Agni.
" Nantilah, masih banyak waktu kan," ujarnya. " Lagi pula Shan pasti masih sibuk. Bukannya kak Disti mau meluncurkan rancangannya sebentar lagi".
" Kamu mengkhawatirkan pekerjaanku?"
" Ha???"
" Kalau soal peluncuran rancangan terbaru Disti, sudah ada Adrian yang menanganinya. Tapi yang jadi masalah itu kamu, Nin. Disti pasti akan menahan mu karena kamu adalah kesayangannya."
" Apa kamu jadi modelnya Disti, Nin?" Anin mengangguk menjawab pertanyaan kakaknya itu. " Wah....hebat kamu, sudah jadi model."
" Hebat apanya, rasanya Anin mau kabur kak. Anin takut."
" Ihh kamu ini, kalau kamu di kasih kepercayaan, kamu harus yakin bisa melakukannya. Anggap saja kamu lagi tanding taekwondo kayak dulu."
" Ya bedalah kak, masa di sama kan."
" Samalah Dek, sama-sama menghadapi orang. Yang penting kamu itu yakin. Lakukan teknik menenangkan diri kamu sebelum bertanding, kan sama saja."
" Iya sih, nanti Anin coba."
" Bagus, itu baru namanya adiknya kakak."
" Iya deh," celetuk Anin.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Anin merapikan semua tempat makan yang mereka pakai tadi lalu mencucinya. Setelah selesai, ia meminta Shan untuk segera berangkat.
" Shan kita berangkat sekarang, nanti Anin terlambat."
" Ya sudah, aku tunggu di mobil."
" Oke, Anin ambil tas dulu di atas ya,"ujarnya naik ke atas.
" Shan, nanti jangan lupa jemput Anin, terus kalian ke rumah sakit," ujar bunda mengingatkan menantunya itu.
" Iya Bun."
" Shan ayo," seru Anin begitu turun dari kamarnya.
" Iya."
" Bunda, Anin pamit."
" Iya Nak."
" Shan juga Bun."
" Hati-hati di jalan."
" Kalian berdua hati-hati di jalan," ujar Agni.
" Iya, pamit," seru Anin.
__ADS_1