
Reno tengah berada di sebuah restoran seorang diri. Tumpukan berkas tersusun rapi di atas mejanya. Berulang kali ia mengecek jam yang ada di tangannya, namun orang yang di tunggu belum datang juga.
" Sudah lama?" tanya seseorang yang kemudian duduk di hadapannya. " Sudah memesan sesuatu?"
" Apa yang ingin Nona Mentari bicarakan?" tanyanya tanpa basa basi.
" Kamu ini lama-lama mirip dengan Shan, tidak ada basa basi sama sekali kalau sedang berbicara denganku."
" Maaf Nona, saat ini saya sedang sibuk. Bukankah tadi Nona bilang kalau ada hal yang penting untuk di bicarakan?"
" Memang, kalau tidak begitu, bukankah sulit memintamu bertemu."
" Sekarang saya ada di sini, tolong katakan secepatnya."
" Baiklah, Reno. Aku hanya ingin meminta bantuanmu saat ini."
" Bantuan seperti apa?"
" Bisakah kamu memberikan ini pada Shan? isinya bukan bom, kamu tidak perlu takut. Bukankah besok ulang tahunnya, aku tidak bisa memberikan hadiah ini secara langsung padanya karena aku harus pergi ke luar kota."
" Keluar kota?"
" Kenapa? apa ada yang salah? kenapa aku merasa tatapan matamu itu seperti sedang mencurigaiku."
" Kenapa Nona malah menuduhku yang tidak-tidak?"
" Cih. Kamu ini benar-benar didikan Shan, tidak pernah gentar apa pun yang aku ucapkan."
" Saya mengenal Nona dengan baik, usaha apa pun yang Nona lakukan, tidak akan berhasil terhadap saya. Tuan Shan sudah terlalu baik terhadap Nona, jangan membuatnya kesal yang akan membuat Nona menyesal nantinya. Jangan lakukan hal-hal yang tidak di sukainya bahkan di belakangnya, Nona tahu kan mata-mata Tuan banyak, jangan sampai Nona tertangkap."
" Apa kamu sedang mengancamku? menakutiku?"
" Ya."
Mentari mengepalkan tangannya, sebenarnya dia sudah sangat kesal dengan ucapan pria yang ada di hadapannya ini, tapi ia berusaha tenang agar semuanya berjalan dengan lancar.
" Baiklah Reno, karena aku juga sudah mengenalmu lama, aku tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu itu."
" Baguslah," ucapnya singkat. " Kalau tidak ada yang ingin di sampaikan lagi, Saya pamit."
Reno pun meninggalkan Mentari yang masih sangat geram dengan ucapan sekretaris Shan itu. Ia tak ubahnya Shan kedua baginya. Loyalitasnya terhadap Shan tidak akan bisa terbantahkan, apa pun akan ia lakukan demi atasannya itu.
Tak lama keluar dari tempat itu, Reno pun langsung menghubungi Shan dan menceritakan apa yang terjadi. Se detail mungkin ia ceritakan terhadapnya, bahkan hadiah yang Mentari titipkan.
" Reno, cek jadwal Mentari, seingatku dia tidak punya jadwal ke luar kota. Aku rasa dia melakukan sesuatu."
" Baik Tuan," ujarnya mengakhiri pembicaraan.
Saat mobil yang di kendarainya melaju, Reno tak sengaja melihat Anin di pinggir jalan. Tanpa berpikir panjang, Reno pun memberhentikan mobilnya tepat di depan istri dari atasannya ini.
" Nyonya," sapanya.
" Kak Reno", sahut Anin tersenyum.
" Nyonya mau kemana?"
" Mau ke toko buku."
" Kalau begitu biar saya antarkan."
" Tidak-tidak, bukankah Kakak sedang bekerja?"
" Tidak apa-apa, kalau Tuan Shan tahu saya tidak membantu Nyonya, saya yang malah tidak enak."
" Begitu ya." Anin menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum kaku. " Ya sudahlah, maaf merepotkan," ujarnya memasuki mobil.
" Ke toko buku mana, Nyonya?''
" Toko buku yang tidak jauh dari sini."
" Oh baiklah, saya tahu tempatnya."
------
Setibanya di sana, Anin dengan antusiasnya menyusuri rak demi rak buku yang tersusun rapi itu. Mengambil satu demi satu buku yang akan di bacanya. Sudah ada 4 buku yang menarik perhatiannya. Ia pun menghampiri Reno yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Sudah dapat Nyonya?" Anin pun mengangguk. " Baguslah."
" Itu buku apa?" tanya Anin begitu melihat sebuah buku di tangan Reno.
" Oh ini, besok ulang tahunnya Tuan kan, jadi saya mau kasih buku ini untuk Tuan."
" Shan?"
__ADS_1
" Iya."
" Shan ulang tahun besok?" Anin pun mengernyitkan dahinya.
" Nyonya."
" Bahkan ulang tahunnya saja aku tidak tahu, bagaimana aku bisa jadi istri yang baik."
" Sekarang Nyonya sudah tahu kan."
" Iya sih. Tapi, aku harus memberikannya apa ya?"
" Kalau itu saya tidak tahu Nyonya."
" Baiklah, nanti akan kupikirkan, sebuah hadiah yang tidak akan pernah di lupakannya."
Reno pun menyunggingkan senyuman.
" Kenapa tersenyum? apa ucapanku ada yang salah?"
" Tidak sama sekali Nyonya, malah saya merasa senang melihat Tuan dan Nyonya jadi sedekat ini."
" Benarkah?" Reno pun mengangguk. " Aku juga senang."
" Apa Nyonya masih ingin melihat-lihat lagi?"
" Tidak, sudah cukup kok."
Reno membawa buku itu ke kasir dan membayarnya. Anin segera memberikan uangnya begitu melihat total bayaran buku itu muncul, namun Reno menolaknya lalu memberikan kartu kreditnya kepada pegawai kasir itu.
Anin jadi tak enak karena pria itu membayarkan buku-bukunya. Padahal ia sudah menyiapkan uang untuk membelinya, tapi malah uang yang ia berikan di tolak mentah-mentah.
" Ambillah uang ini," pinta Anin terus menerus.
" Tidak Nyonya, saya ikhlas membayarnya."
" Tapi, aku tidak enak Kak."
" Anggap saja seorang senior memberi hadiah untuk juniornya, bagaimana?"
" Apa bisa begitu?"
" Tentu saja Nyonya. Saya malah senang kalau Nyonya bisa menerimanya."
" Baiklah, terima kasih sudah membayar buku ini."
" Bisakah Kakak tidak memanggilku Nyonya, panggil nama saja, rasanya aneh di panggil seperti itu."
" Tidak bisa Nyonya."
" Kenapa?"
" Karena Nyonya adalah istri Tuan Shan, mana mungkin saya memanggil nama saja, bukankah itu tidak sopan. Sedangkan Nyonya memanggil saya dengan sebutan Kakak saja, saya tidak enak, tatapan Tuan Shan semakin tajam terhadap saya."
" Kenapa dia seperti itu?'
" Nyonya, perlahan mulailah memahami Tuan, pelajari gerak-geriknya, apa dia sedang marah, kesal, tidak senang atau cemburu."
" Apa aku harus melakukannya?"
" Tentu."
" Baiklah."
" Apa Nyonya mau pulang?"
" Tidak. Hari ini aku ada janji dengan Kak Agni."
" Oh begitu, kalau begitu saya antarkan Nyonya ke tempat yang Nyonya tuju."
" Ah tidak-tidak, hari ini Kakak sudah menemaniku, pekerjaan jadi tertunda, bisa-bisa Shan marah pada Kakak."
" Apa tidak apa-apa Nyonya pergi sendiri?"
" Tidak apa-apa, jangan khawatir, aku bisa menjaga diri."
" Baiklah, kalau begitu saya permisi."
" Iya, hati-hati berkendara Kak," ucapnya melambaikan tangan. Reno pun tersenyum mendengar ucapan Nyonyanya itu.
Anin melihat jam yang ada di ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, ia berjanji bertemu dengan Kakaknya sekitar pukul 4 sore.
Anin memberhentikan sebuah taksi yang akan membawanya ke tempat tujuan, sebuah mal yang tidak begitu jauh dari toko buku tadi.
__ADS_1
Sebuah pesan ia kirim kepada Kakaknya bahwa ia akan segera tiba. Tak lama ia pun mendapatkan balasan dari pesannya itu.
" Oke, Anin tunggu Kakak di tempat biasa," balasnya karena Agni masih di perjalanan dan kemungkinan akan sedikit terlambat.
Taksi yang membawanya itu pun sampai di lobi mal. Anin segera membayar dan turun dari taksi tersebut. Ia berjalan santai memasuki mal. Sedikit melihat-lihat toko-toko yang ada di sana.
Anin yang merasa haus memesan sebuah minuman di sebuah gerai kopi. Ia memesan minuman kesukaannya. Karena tak begitu ramai, ia pun dengan cepat mendapatkan minumannya itu lalu segera menyeruputnya.
" Ha, segar."
Ia pun kembali berjalan sambil memegang minumannya. Saat ia berbalik, Anin tak sengaja menabrak seseorang yang mengakibatkan tas orang itu terjatuh.
" Maaf," ucap Anin bersalah. Ia pun segera mengambil tas itu lalu memberikannya pada orang tersebut.
" Tidak apa-apa."
" Ah." Anin sedikit berteriak karena kaget melihat percikan minumannya terkena pakaiannya. " Maaf sekali lagi Kak,".
" Tidak perlu seperti itu, nanti juga hilang kok."
" Ini Kak tisu."
" Terima kasih."
" Maaf, aku terlalu ceroboh."
" Tidak apa-apa," ujarnya. " Nama kamu siapa?"
" Anin, Kak."
" Oh, Anin. Namaku Mentari."
" Men-tari?"
" Iya, kenapa jadi kaget begitu?"
" Tidak."
" Apa namaku terlalu pasaran sehingga kamu merasa bingung begitu."
" Bukan begitu."
" Ya sudah tidak apa-apa. Apa kamu sendiri?"
" Tidak, aku menunggu Kakakku."
" Begitu ya."
Anin mengamati wanita yang ada di hadapannya ini. Entah kebetulan atau memang takdir, nama Mentari terlalu sering ia dengar akhir-akhir ini. Apakah hanya kemiripan sebuah nama atau kah...
" Hei, kenapa melamun."
" Ah." Anin tersadar dari lamunannya. " Kalau tidak keberatan aku akan mengganti biaya pencucian pakaian Kakak sebagai rasa bersalahku."
" Tidak perlu hanya masalah kecil, jangan seperti itu aku yang malah tidak enak."
" Begitu ya."
" Aku harus pergi, senang bertemu denganmu. Mungkin lain kita bisa bertemu kembali."
" Ah, iya."
" Bye."
" Bye."
Anin masih terperangah dengan pertemuannya dengan wanita yang bernama Mentari ini. Ia memang belum pernah bertemu dengan Mentari yang sering ia dengar, tapi entah kenapa pertemuannya dengan wanita ini meninggalkan kesan yang berbeda.
" Mentari," ucapnya berulang kali.
" Anin!".
Anin terkaget dengan kedatangan Kakaknya yang tiba-tiba menghampirinya.
" Kakak."
" Maaf ya lama."
" Iya, sudah biasa juga."
" Aduh-aduh, sudah pintar meledek Kakaknya ya."
Anin pun terkekeh dengan ucapan kakaknya itu.
__ADS_1
" Traktir makan ya, Anin lapar Kak."
" Ya sudah, Ayo makan."