
Seperti yang sudah di janjikan, Shan akhirnya meminta izin secara resmi pada kedua orang tua Anin.
Bunda dan Ayah menyambut baik kedatangan Shan. Mereka memang mengharapkan suatu hari nanti ada pria yang datang dan melamar putri bungsu mereka . Semua harapan itu telah terjadi pada saat ini. Seorang pria yang tidak akan mereka tolak lamarannya karena memang sang pria bukanlah orang asing bagi mereka.
“ Om, Tante, mungkin ini sangat mengejutkan karena Shan tiba-tiba meminta izin pada Om dan Tante. Shan dan Anin sudah memutuskan akan menikah bersamaan dengan pernikahan Agni dan Bimo. Tidak ada pesta, kami hanya ingin ijab qabul saja karena acara itu tentu saja milik Agni dan Bimo. Shan harap Om dan Tante bisa memaklumi keputusan kami ini."
“ Om mengerti dengan situasi sekarang ini, kalau kalian sudah sepakat memutuskan tanggal pernikahan, Om dan Tante hanya mengikut saja”.
“ Iya, Shan, Tante juga seperti itu”, timpal Bunda.
“ Anin, apa kamu tidak masalah Nak tidak ada pesta di hari pernikahanmu nanti” tanya Ayah memastikan apa anaknya itu merasa keberatan atau tidak.
“ Tidak masalah Yah, Anin juga tidak ingin ada pesta, cukup keluarga saja," jawab Anin meyakinkan sang Ayah.
" Kalau memang itu mau Anin, kami sebagai orang tua cuma bisa mendukung kalian saja."
“ Dan mendoakan yang terbaik”, timpal Bunda.
“ Terima kasih Ayah, Bunda," ujar Anin memeluk kedua orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkannya ini.
“ Shan."
“ Iya Tante."
“ Tante tidak perlu janji darimu, tapi berusahalah untuk membuat Anin bahagia."
" Iya tante, Shan akan selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk Anin kelak."
" Terima kasih Shan."
Pembicaraan serius itu akhirnya menemukan kesepakatan antara kedua pihak. Hari- hari Anin dan Shan di sibukkan dengan persiapan pernikahan mereka. Mempersiapkan segala surat yang di perlukan untuk ke KUA nantinya.
Agni turut membantu adiknya itu mencari pakaian yang akan di pakai saat akad nanti. Gaun berwarna hijau jadi pilihan Anin untuk di pakainya nanti. Gaun yang sederhana namun tampak mewah.
" Nin, coba deh", ujar Agni memberikan sebuah sepatu yang di lihatnya di atas rak sepatu sebuah toko. Anin mencoba sepatu itu dan terlihat sangat cocok di kakinya. " Kamu suka?" Anin menganggukkan kepalanya. " Ya sudah tunggu di sini ya, kakak mau bayar sepatu ini dulu."
" Iya Kak."
Anin tampak melamun di kursi tempat ia menunggu kakaknya. Agni sejak tadi mengamati tindak tanduk sang adik yang sama sekali tak bersemangat. Seperti ada yang mengganggu pikirannya, namun ia pun enggan bicara.
Agni menghampiri Anin sambil memberikan barang belanjaan itu padanya. Anin tersenyum begitu melihat kakaknya yang sudah berada di sampingnya.
" Nin".
" Hm, ada apa Kak?"
" Kamu bahagia kan?"
" Tentu, memangnya Anin terlihat tidak bahagia ya Kak?"
__ADS_1
" Soalnya sejak tadi Kakak lihat kamu diam terus, bukan seperti Anin yang biasanya. Kakak khawatir sama kamu, kalau kamu tidak mau menikah, ya katakan saja pada Shan."
" Bukan begitu Kak, Anin cuma mikir dengan ucapan Anin sama Shan beberapa hari yang lalu."
" Memangnya Anin bilang apa sama Shan, sampai membuat kamu ke pikiran begini?"
" Anin mengajukan syarat sama Shan, salah satunya tidak ada hubungan antara suami istri. Kalau di pikir-pikir bukannya nanti Anin jadi istri yang durhaka ya Kak?"
" Haaa??" Agni terbengong dengan ucapan Anin yang tak pernah ia kira akan keluar dari bibir adik bungsunya ini. " Kenapa bisa bicara begitu sama Shan, Dek?"
" Soalnya Anin belum siap Kak "
" Belum siap??" ujar Agni mengulang ucapan Anin barusan. Anin pun mengangguk pelan. Lalu terdengar suara tertawa yang sedikit tertahan. Ternyata Agni tertawa karena melihat kepolosan adiknya ini.
" Kakak kenapa ketawa sih," rengek nya kesal. " Tahu gitu Anin malas cerita tadi," ujarnya memalingkan wajahnya karena ledek kan Jakaknya itu.
" Iya, maaf Dek, Kakak khilaf," bujuknya sembari memeluk Anin. " Kakak bukannya meledek kamu, Dek, cuma Kakak jadi surprise dengar cerita kamu tadi. Ternyata Adiknya Kakak punya rasa takut juga."
" Tuh kan Kakak, mulai lagi!!"
" Bukan gitu Dek, tuh kan Kakaknya salah lagi. Gini loh Anin sayang, seharusnya kamu bicara baik-baik sama Shan bukannya buat perjanjian begitu. Ya pastilah kamu dosa, itu kan kewajiban kamu sebagai seorang istri melayani suami, termasuk itu. Mau jadi istri durhaka?"
" Jangan lah."
" Maka dari itu, tapi Kakak rasa Shan pasti tahu maksud ucapan kamu Dek, cuma ya kamu harus meluruskannya juga."
" Begitu ya Kak?"
" Serius kak?"
" Iya adikku sayang."
" Anin sayang Kakak," ujarnya memeluk Agni erat.
" Baru deh bilang sayang sama Kakaknya kalau ada maunya."
" Iya dong."
" Dasar."
------
Sore itu saat mereka pulang ke rumah, sudah ada tiga orang tamu yang sebenarnya bukan tamu yang begitu spesial, tapi mengingat wajah-wajah mereka yang sangat serius saat melihat kedatangan Anin, rasanya bulu kuduk langsung merinding.
" Kenapa tiba-tiba ada di rumah?" tanya Anin basa-basi.
" Memangnya di larang ya," jawab Alex agak ketus.
" Ya ampun, ketus banget, kenapa sih?" Anin masih tak mengerti duduk persoalan ke ketusan temannya ini.
__ADS_1
" Bakalan nikah diam-diam nih," celetuk Yogi yang langsung menusuk Anin.
" Bunda ya?" tanya Anin menebak.
" Ya iyalah," ujar Tasya. " Kita ini bukan teman kamu ya Nin?"
" Kok Tasya gitu."
" Kamu sih, mau nikah bukannya cerita."
" Ha..." Anin menghela napas. " Bukan gitu loh, ini juga dadakan, belum sempat cerita karena banyak yang harus di perjelas."
" Terus benar nih kamu nikah sama kak Shan?"
" Iya Tas, Anin nikah sama Shan."
" Dasar jahat kamu Nin, nikah sama orang terkenal malah diam-diam, malah tambah kesal jadinya."
" Sorry deh Tas."
" Ini pernikahan yang kamu mau kan, Nin?" tanya Alex memastikan keputusan temannya yang terkesan tiba-tiba ini.
" Iya, ini keputusan yang sudah Anin pikir matang-matang," jawabnya. " Doa ‘in supaya semua lancar."
" Ya tentulah kami doa ‘in yang terbaik buat kamu. Tapi, kamu tetap jalani aktivitas seperti biasanya, kan?"
" Iya Lex, setelah menikah nanti, aktivitas yang dulu tetap di jalani, cuma ya pasti ada batasannya."
" Kalau itu sih kami paham Nin," ujar Yogi yang mendapatkan anggukan dari Alex dan Tasya.
" Masih belum yakin deh, seorang Anin bakalan jadi istri orang, secara kamu tuh semaunya, sebodoh amat, eh tiba-tiba harus punya ikatan. Bakalan jadi apa coba kamu nanti," celetuk Alex sambil tertawa.
" Ketawa terus deh," ujar Anin memonyongkan bibirnya.
" Habis kamu tuh, buat orang surprise. Mulai sekarang belajar masak sama kak Agni sama bunda juga, biar calon suami makin sayang," oceh Yogi.
" Apaan sih, mulai deh."
" Benar loh Nin yang di bilang sama mereka, asal kamu tahu ya, banyak cewek-cewek yang iri sama kamu, mau bertukar posisi sama kamu. Di tambah kak Shan sendiri yang minta nikah sama kamu, mimpi apa coba nikah sama orang ganteng dan terkenal."
" Memangnya aku kurang tampan ya Tas?" Yogi menatap gadis pujaannya itu karena lebih memuji pria lain di banding dirinya.
" Tuh Yogi cemburu tuh," oceh Alex memanaskan suasana.
" Jangan nambah deh Lex", protes Tasya. " Bukan gitu sayang, Tasya bicara gitu supaya Anin lebih semangat loh."
" Bohong tuh Gi!"
" Alex!"
__ADS_1
Anin hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah ketiga sahabatnya ini. Di dalam pikirannya memang sempat terpikir kenapa Shan memilihnya yang hanya orang biasa, padahal di luar sana tentu banyak wanita yang jauh lebih baik darinya. Semua pertanyaan itu sedikit demi sedikit memang sudah terjawab, namun walaupun begitu ia ingin memastikan sendiri, apa yang sudah di ketahui nya itu, benar adanya atau hanya sebuah ucapan semata.