Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 27


__ADS_3

Anin berulang kali mengusap kedua matanya. Badannya terasa berat karena sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia pun langsung menyadari siapa pemilik tangan itu.


Anin menghela napasnya lalu dengan perlahan ia memindahkan tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia tak ingin Shan terganggu dengan tidurnya.


Ia melangkahkan kakinya pelan, namun entah mengapa Shan malah menangkap tangannya lalu menariknya jatuh ke pelukannya.


" Kamu mau kemana?"


" Sudah pagi, bangunlah", ujar Anin memalingkan wajahnya.


" Hm." Shan malah menatapnya tajam membuat Anin salah tingkah. Wajah Shan terasa sangat dekat hingga ia tak tahu harus melakukan apa. " Kenapa wajahmu malah memerah begitu?"


" Sudah ku bilang aku kepanasan."


" Ah...."


Anin langsung mengatup bibirnya. Ia ingat betul kejadian semalam, dengan kata-kata yang sama mungkin akan terjadi aksi yang sama juga.


" Kenapa mengatup bibir mu seperti itu?"


" Antisipasi", jawabnya cepat.


" Kamu takut aku mencium mu lagi."


" Aku tidak mau tertipu lagi. Sekarang lepas kan aku!"


" Tidak mau."


" Shan sudah jangan main-main lagi, bukankah kamu harus pergi bekerja."


" Apa kita tidak bisa berdua seperti ini saja?"


" Aku juga ada jam pagi, Shan."


" Aku akan melepaskanmu, tapi berjanjilah padaku."


" Janji apa?"


" Kalau kita akan berbagi tempat tidur seperti ini."


" Ha?"


" Ha, kenapa? aku hanya minta tidur di satu ranjang, aku bahkan belum menyentuhmu."


" Shan..."


" Kalau tidak mau aku tidak akan melepaskanmu dan aku sangat senang bila itu terjadi."


" Shan!" Anin jadi kesal sendiri. " Baiklah, sekarang lepaskan aku."


" Baik apa?"


" Kita akan berbagi ranjang."


" Dan mencium mu seperti ini," ujar Shan mengecup bibir Anin. Sontak Anin kaget. Ia pun memukul dengan keras sangkin kesalnya karena sudah di permainkan oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


-----


Sekitar pukul 07.15, Shan dan Anin buru-buru berangkat dari rumah. Tidak ada sarapan kali ini karena Anin hampir terlambat ke kampusnya.


" Ini semua karena kamu, Shan, kita hampir terlambat."


" Iya, maaf."


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Lalu lintas sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan. Anin berulang kali melihat jam tangannya, terpancar sedikit kekhawatiran di raut wajahnya.


Shan yang sadar dengan sikap Anin itu lalu menggenggam tangannya agar Anin tetap tenang. Pegangan tangan Shan itu membuat Anin kaget. Ia memandang suaminya itu dengan pandangan bingung.


" Tenanglah," ucapnya tiba-tiba. " Kita akan sampai dan tidak akan terlambat. Malah yang aku khawatirkan kamu yang belum sarapan dan harus melewatkannya karena pelajaran mu."


" Tidak apa-apa, nanti setelah pelajaran usai, aku akan mengisi perutku."


" Jam berapa?"


" Jam 12."


" Jam 12?? itu namanya bukan sarapan Anin. Kalau begitu kita berhenti dulu membeli sarapan."


" Jangan, nanti Anin telat. Anin janji deh, bakalan ambil waktu untuk sarapan, soalnya jadwal kuliah hari ini padat."


" Aku akan meneleponmu jam 9 nanti, kalau aku tahu kamu belum mengisi perutmu, aku akan menghampirimu ke kampus, mengerti!"


" Iya," ujar Anin pasrah.


Mobil itu pun berhenti sesaat tiba di depan gerbang kampus. Anin bergegas pergi setelah berpamitan, hanya ada sedikit waktu untuknya masuk ke dalam kelas.


Perhatian Shan langsung teralih karena sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Shan menghela napasnya, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kalau ia tak segera tiba di kantornya.


Sejurus kemudian ia melajukan mobilnya. Deringan ponselnya terus menderu. Shan hanya melirik dan tak memedulikannya. Sekarang ia hanya fokus mengendarai mobilnya ini.


Begitu sampai, Shan bergegas menuju ruangannya. Di luar sudah terlihat Reno tengah menunggunya. Sang sekretaris itu langsung menghampiri dan menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam.


" Tuan, saya sudah mengusahakan untuk membuat Nona Mentari keluar, tapi dia tidak mau dengar."


" Aku mengerti, kamu sudah melakukan sebisa yang kamu mampu."


" Apa Tuan akan menemuinya? atau akan pergi ke tempat Tuan Adrian?"


" Apa Adrian dan Disti tahu dia ada di sini?"


" Sepertinya belum Tuan, karena Nona Mentari langsung datang ke sini."


" Baiklah aku akan menghadapinya, kamu lakukan tugasmu seperti biasa, tidak perlu menunggu kami."


" Baik Tuan, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi" ujarnya mengundurkan diri.


Pintu yang ada di hadapannya ini bagaikan pintu neraka, sekali terbuka akan ada ledakan yang akan menghampirinya. Tak ada yang tahu apa yang akan di hadapinya di dalam sana.


Seorang wanita tengah menunggunya dengan risau. Wajahnya berubah semringah begitu melihat sosok yang di tunggunya sejak tadi. Ia lalu menghambur menghampirinya dengan senyuman yang terbaik yang ia miliki.


" Shan, aku sudah menunggumu lama. Kenapa kamu tidak mengangkat ponselmu, sejak tadi aku terus menghubungimu."

__ADS_1


" Aku sedang mengemudi."


" Oh, begitu", ujarnya.


" Apa mau mu?"


" Aku hanya ingin bertemu denganmu, sudah seminggu kita tidak bertemu. Aku selalu di rumah, tidak ada yang aku kerjakan."


" Bukankah Reno dan manajer mu sudah mengatakannya padamu, kalau selama sebulan ini, jangan melakukan apa pun. Skandal yang sudah kamu buat belum sepenuhnya mereda. Jadi, jangan melakukan hal bodoh lagi."


" Aku tahu Shan, aku tidak akan melakukan apa pun yang membuatmu kesal. Aku hanya ingin bersama denganmu."


" Seingat ku kita tidak punya hubungan spesial, kenapa kamu jadi merengek seperti ini padaku."


" Shan, kita sudah lama mengenal satu sama lain. Kenapa kamu selalu seperti ini. Tolong izinkan aku masuk ke dalam kehidupanmu, Shan."


" Aku harus seperti apa lagi padamu. Bukankah Reno, Disti dan Adrian sudah memberitahukanmu. Sekarang ini aku sudah menikah, wanita yang masuk ke dalam kehidupanku sudah ada sejak dulu. Aku tegaskan kembali padamu kalau aku sudah mempunyai seorang istri."


" Kamu pasti bohong kan Shan."


" Aku tidak sedang berbohong dan untuk apa aku melakukannya."


Mentari terdiam, ia tahu betul bagaimana sifat pria yang ada di hadapannya ini. Raut wajahnya sangat serius dan tegas ketika mengatakan kata-kata menikah.


" Shan, kenapa kamu lakukan ini padaku. Kita sudah lama bersama, kenapa tiba-tiba kamu menikah dengan wanita lain!"


" Mentari, jaga sikapmu!"


" Shan."


" Sudah berapa kali aku menegaskan padamu kalau tidak ada hubungan di antara kita kecuali bisnis. Kalau selama ini aku membantu dan peduli padamu, itu hanya semata pertemanan. Tidak lebih dan tidak akan pernah berubah. Pergilah, jangan membuat masalah di tempatku."


" Shan."


" Manajer mu ada di luar, aku sudah menyuruhnya datang untuk menjemputmu. Pulang dan beristirahatlah. Jangan membuatku melakukan hal-hal yang kejam padamu, aku masih memandang mu sebagai teman. Jadi kumohon, pulanglah."


Mentari hanya berdiri mematung, untuk ke sekian kalinya selalu ada penolakan darinya. Dengan terpaksa ia pun mengikuti kemauan Shan.


" Baiklah, aku akan pergi."


Di depan sana sudah ada manajernya, Nita, menunggu untuk membawanya pulang. Wanita itu langsung menghampiri Mentari begitu ia keluar dari ruangan itu.


" Aku sudah bilang kan jangan ke sini, kenapa kamu tidak mendengarkan ucapanku!"


" Nita, apa kamu sudah tahu kalau Shan sudah menikah?"


" Bukankah Reno sudah memberitahukanmu sejak awal."


" Apa kamu tahu siapa wanita yang menikah dengannya?"


" Aku tidak tahu."


" Cari tahu siapa wanita itu!"


" Mentari sudah cukup! jangan lakukan ini lagi. Shan akan marah jika tahu kamu melakukan hal yang tidak-tidak."

__ADS_1


" Carikan saja info tentangnya, selanjutnya aku yang bertindak. Dulu saja berhasil apalagi sekarang. Nada saja bisa ku singkirkan apalagi wanita yang tidak jelas itu!"


__ADS_2