Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 47


__ADS_3

Anin masih dengan posisinya yang sama. Berdiri dan memandang wanita yang sepertinya tak asing di matanya. Wanita itu seperti tak canggung dengan sikapnya terhadap suaminya. Shan memang terlihat tak nyaman dengan sikapnya itu, namun ia tak bisa terlalu berbuat apa-apa karena masih banyak orang di rumah mereka.


“ Mentari!” Terdengar sebuah nama yang sangat tidak asing baginya.


“ Jadi, dia adalah Mentari. Tapi, kenapa aku merasa pernah melihatnya sebelum ini,” gumam Anin.


Anin sontak shock saat Mentari memandangnya. Senyuman yang ia berikan terlihat sangat tidak bersahabat. Ia seperti sangat senang dengan tindakannya itu.


Perlahan ia mendekati Anin. Entah apa yang akan dilakukannya kali ini. Anin hanya berharap wanita itu tak akan memprovokasinya berbuat sesuatu.


“ Lama tidak bertemu,” sapanya. Anin mengernyitkan dahinya. Lama ia mengamati, akhirnya ia pun menyadari kalau wanita ini adalah wanita yang tempo hari pernah ia temui secara tak sengaja.


“ Kamu...”


“ Iya, aku,” potongnya. “ Kamu baru menyadarinya?”


Anin hanya diam.


“ Aku turut berduka cita atas meninggalnya Om Adi,” ucapnya berbasa-basi.” Aku sangat sedih karena Om sudah tidak ada. Padahal om orang yang sangat kuat”


“ I-ya.”


“ Sepertinya kamu tidak senang melihatku.”


“ Itu hanya perasaaanmu saja.”


“ Benarkah?”


“ Ya. Lagi pula apa kamu sepenting itu untuk membuatku sampai tidak senang melihatmu?”


“ Apa?”


“ Kamu mengenalku kan sebelum pertemuan kita waktu itu. Apa kamu sengaja mendekatiku?"


“ Apa sekarang kamu baru menyadarinya? terlalu lama, kamu bahkan tidak menyadari musuhmu. ”


“ Ya, kamu benar , aku baru saja menyadarinya. Dan bodohnya aku malah begitu polos mendengarkan ucapanmu.”


Mentari tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Anin menatapnya tajam. “ Aku bahkan sempat bertengkar dengan Shan karena pertemuan kita, saat aku melihat Shan dan Nada waktu itu,” gumam Anin.


Ya, saat Anin melihat Shan dan Nada waktu itu, ia secara tak sengaja bertemu dengan Mentari. Anin memang tak tahu bahwa wanita yang bersamanya waktu itu adalah wanita yang selama ini selalu ia dengar namanya. Entah sudah direncanakan atau tidak, Mentari selalu muncul di saat yang tak terduga.


Saat Anin melihat Shan dan Nada bersama, saat itu Mentari hadir. Anin memang terlihat sangat sedih dan kecewa, ia tak mengerti mengapa Shan lebih memilih bersama Nada ketimbang bersamanya. Anin menyembunyikan kesedihannya saat wanita itu datang menghampirinya, namun Mentari langsung menyadari kesedihannya itu.


“ Apa kamu baik-baik saja,” tanyanya saat itu. Anin hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. “ Benarkah? Kenapa aku melihatmu seperti orang yang sedih seperti itu?” ujarnya.


“ Aku tidak apa-apa,” ucap Anin sambil melihat ke arah Shan di sana.


“ Apa yang kamu lihat? Apa itu pacarmu?” tanyanya. Anin hanya terdiam. “ Kenapa dia bersama wanita lain? Apa pacarmu selingkuh?”


“ Ha?”


“ Kamu tahu, kenapa seorang pria bertemu dengan wanita lain di belakang kekasihnya?” Anin menggelengkan kepalanya. “ Itu tandanya ia sedang mencari kebahagian lain. Mungkin saja dia tidak bahagia bersama denganmu.”


Sontak Anin memandanginya.


“ Ah, bukan maksudku menjelekkanmu,” ujarnya begitu menyadari pandangan Anin yang tidak bersahabat. “ Atau mungkin itu adalah mantannya. Dia belum bisa move on atau bisa jadi kamu hanyalah pelampisannya saja.”


“ Dia tidak seperti itu.”


“ Seharusnya kamu tidak berbicara seperti itu, kita bahkan tidak saling kenal.”


“ Aku hanya memberi nasihat kecil, kalau tidak mau didengar, ya, tidak apa-apa,” ujarnya meninggalkan Anin begitu saja. Anin masih terperanjat dengan ucapannya itu, ucapan dari orang asing yang malah membuatnya semakin ragu terhadap Shan.


-------


Anin tersadar dari lamunannya begitu Disti menepuk pundaknya. Wanita cantik ini tersenyum manis padanya.


“ Kak Disti.”


Disti tersenyum.


“ Apa yang kamu inginkan dari Anin,” cecar Disti pada Mentari. Ia tampak tak senang dengan kehadiran Mentari ditempat ini.


“ Hanya mengucapkan bela sungkawa,” jawab Mentari seadanya.


“ Aku harap itu benar,” ujar Disti. “ Lalu untuk apa kamu mendekati Anin.”

__ADS_1


Disti tak bisa berbasa-basi jika sudah menyangkut Mentari.


“ Memangnya kenapa? Aku hanya ingin berteman dengannya.”


“ Aku tahu maksudmu apa, jadi jangan coba-coba.”


“ Apa aku terlihat ingin mengambil Shan dari tanganmu?” Mentari menatap Anin tajam. “ Dari awal dia adalah milikku, jadi aku mengambil apa yang memang sedari awal milikku.”


“ Apa?” Anin sangat kaget dengan ucapan to the point nya itu. “ Mengambil apa yang sedari awal milikmu?” ucap Anin mengulang pernyataan Mentari barusan. “ Apa kamu sedang berhalusinasi? Atau mungkin saja sedang bermimpi? Segeralah bangun dan sadarlah, tidak ada milikmu yang direbut seperti yang kamu ucapkan. Sedari awal, dia tidak pernah menjadi milikmu walaupun kamu menyingkirkan orang yang pernah dekat dengannya.”


“ Kamu!” Mentari tersulut dengan ucapan Anin terhadapnya. Ia tak menyangka akan ada perlawanan dari gadis kecil ini. “ Apa kamu merasa bangga telah menikah dengannya. Apa kamu sehebat itu!”


“ Tentu. Apa kamu pernah merasakan kehangatan bersama dengannya, pelukannya, ciumannya bahkan belaian darinya. Tentu tidak kan? Tentu saja aku bangga karena dia memilihku bukan memilihmu.”


“ Berani sekali kamu!” Mentari mulai tersulut emosi. Ia mendekati Anin lebih dekat, namun Shan menghalaginya tanpa mereka sadari kedatangannya. “ Shan...” Sontak Mentari kaget. Entah sejak kapan Shan mengamati mereka.


“ Apa yang ingin kamu lakukan kepada istriku!” hardiknya. “ Jangan membuat kegaduhan di sini, kamu tahu kan ini masih dalam suasana kemalangan.”


“ Aku tidak melakukan apa pun. Kamu tahu kan aku datang kesini baik-baik.”


“ Lalu maksudmu kalau istriku yang membuat kegaduhan.”


“ Kamu lihat sendiri kan. Dia tidak sopan terhadapku.”


“ Apa kamu tidak salah,” timpal Disti. “ Bukankah kamu yang memulai semuanya.”


“ Tentu saja kamu membelanya karena kamu adalah temannya,” ujarnya. “ Aku seperti musuh bagi kalian.”


“ Jangan berlagak seperti korban,” celetuk Disti. " Sejak dulu kamu tidak pernah berubah. Jangan pikir akan ada yang peduli denganmu."


“ Shan, temanmu ini benar-benar keterlaluan,” rengeknya.


“ Diamlah Mentari, jangan membuat kesabaranku habis. Kalau kamu hanya ingin merusak suasana di sini, lebih baik kamu pergi saja.”


“ Shan, kenapa kamu berkata seperti itu padaku. Kamu sangat kejam Shan.”


“ Ini demi kebaikan bersama. Kalau kamu tidak bisa meredam emosimu, lebih baik kamu pulang saja. Jangan membuat tindakan yang akan merugikan,” timpalnya. “ Anin ayo pergi,” ajak Shan memegang tangan Anin.


Mentari benar-benar tidak senang dengan sikap Shan padanya. Ia malah memarahinya dan terhadap Anin, ia malah berlemah lembut padanya. Ia semakin yakin akan membuat hubungan mereka rusak.

__ADS_1


“ Lihat saja, sampai kapan kalian masih bisa seperti ini. Apa kalian masih bisa bergandengan tangan seperti sekarang ini nantinya.”


__ADS_2