Ketika Cinta

Ketika Cinta
BAB 44


__ADS_3

Anin berjalan dengan perlahan menuju ruangan kelasnya. Setelah drama yang dihadapinya semalam, Anin jadi tidak bersemangat untuk memulai hari, bahkan sampai sekarang Anin masih enggan bicara dengan Shan.


Saat perjalanan menuju ke kampus saja, mereka diam seribu bahasa. Walaupun sesekali Shan melirik ke arahnya, namun Anin cuek saja. Saat turun dari mobil pun, Anin hanya pamit seadanya tidak seperti biasanya ia lakukan.


Anin duduk di kursinya sesaat sampai di kelas. Belum ada teman-temannya yang lain di kelas selain dirinya. Tasya yang melihat Anin di ruangan kelas sendirian dan terlihat sedang melamun kemudian langsung menghampirinya.


“ Melamun neng,” celetuk Tasya yang langsung menyadarkan Anin dari lamunannya. “ Nanti kemasukkan loh.”


“ Bikin kaget deh. Kemasukkan apa coba,” protesnya sambil membetulkan posisi duduknya.


“ Setan.”


“ Kamu tuh setannya.”


Tasya tertawa.


“ Kenapa sendirian di kelas? Memangnya kamu tidak baca berita di group?”


“ Ha? Berita di group?” Tasya mengangguk dan Anin pun langsung mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang sudah ramai itu. “ Pantas saja tadi teman-teman yang lain pada nongkrong di kantin.”


“ Makanya fokus.”


“ Ini juga fokus loh.”


“ Jangan bohong, jelas tuh di wajah kamu tertulis lagi ada masalah. Perlu bukti?”


“ Apaan sih, sok tahu,” ujar Anin bangkit dari tempat duduknya.


“ Mau kemana? Malah di tinggal.”


“ Mau ketemu sama Pak Kemal. Tugas yang kemarin ada yang kurang pas, mau tanya biar jelas. Mau ikut?”


“ Malas, kamu saja sana sendirian.”


“ Dasar, memang tugas kamu sudah selesai?”


“ Belum, dikerjakan juga belum, bagaimana mau selesai.”


“ Makanya ayo ketemu sama Pak Kemal.”


“ Malas, sudah sana pergi. Nanti kalau sudah paham, baru deh bagi ilmu, jangan pelit-pelit.”


“ Malas,” celetuk Anin tertawa. “ Bye...”


“ Awas loh ya entar.”


Anin terkekeh sambil lalu.


-----


Anin sudah berada di depan ruangan Kemal. Ia berdiri sambil mengintip ke arah jendela, namun tidak ada seorang pun di dalam ruangan itu. Sudah ada 10 menit Anin berada di sana, tapi orang yang di tunggu tak kunjung datang.


Anin pun memutuskan untuk kembali karena kemungkinan dosennya itu sedang mengajar atau melakukan sesuatu yang pening.


Di separuh perjalanannya, dari kejauhan sana terlihat sosok Kemal. Seperti biasa selalu ada mahasiswi yang berada di sampingnya. Anin berhenti sejenak menunggu Kemal berjalan menuju ke arahnya.


Terlihat ia dan mahasiswi itu berbincang dengan seriusnya hingga harus berhenti sejenak. Anin pun harus bersabar menunggu hingga sang dosen selesai dengan urusannya.


“ Anin.” Anin langsung mendongakkan wajahnya ketika mendengar namanya di sebut. Ia tak sadar kalau Kemal sudah berada di dekatnya. “ Sedang apa kamu di sini?”

__ADS_1


“ Menunggu Bapak.”


“ Menunggu saya?”


“ Iya Pak, kalau Bapak punya waktu, ada yang ingin saya tanyakan soal tugas yang Bapak berikan.”


“ Oh begitu.”


“ Iya Pak.”


“ Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan?”


Anin pun mulai menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan. Kemal mendengarkan dengan seksama dan memberikan beberapa penjelasan mengenai kesulitannya itu.


Mereka berdiskusi dengan serius sambil di selingi tawa.


Saat Anin mengambil buku dan memberikannya kepada Kemal, terlihat Kemal agak terkejut melihat cincin yang ada di jari manisnya. Selama ini ia tak menyadari keberadaan cincin itu di jari manis Anin.


“ Anin.”


“ Iya Pak.”


" Ah tidak," ucapnya.


Anin merasa bingung dengan dosennya yang tiba-tiba tidak jadi mengatakan apa-apa, padahal ia tadi tampak ingin mengatakan sesuatu.


“ Oh ya Pak, terima kasih sudah mau membantu saya.”


“ Iya, tidak masalah, saya senang bisa membantu.”


“ Kalau begitu saya permisi duluan Pak.”


“ Iya Pak, ada apa?”


“ Kamu....” Kemal terdiam tidak melanjutkan ucapannya lagi. Dia hanya memandangi Anin.


“ Ada apa Pak?”


“ Ah, tidak. Kumpulkan tugas itu tepat waktu ya.”


“ Siap Pak. Kalau begitu saya permisi.”


“ Silakan.”


Dari kejauhan sana, Anin tidak menyadari kalau ada seseorang yang diam-diam memotret dirinya dan Kemal. Seorang wanita yang sudah lama mengintainya dan selalu membawa kamera kemana pun ia pergi.


-----


Di kantor, Shan tampak sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun ia berusaha untuk fokus namun tidak bisa di pungkiri ada hal yang mengganggu pikirannya.


Disti memasuki ruangan Shan dengan hati-hati, tak seperti biasa yang selalu sesukanya kalau memasuki ruangan itu . Kali ini ada rasa bersalah menghinggapi dirinya.


Shan menyadari kedatangan Disti itu dan menyambutnya dengan senyuman.


“ Ada apa denganmu? Kenapa masuk mengendap-endap begitu. Apa kamu punya salah?”


“ Jangan menyindirku seperti itu.”


“ Jadi benar ya”

__ADS_1


“ Iya, makanya aku mau minta maaf.”


“ Tentang apa?”


“ Kamu pasti sudah tahu kan. Aku memberitahu Nada dimana kamu berada dan bodohnya, aku lupa kalau Anin menemuimu di sana.”


“ Oh.” Shan menyunggingkan senyuman. “ Yang sudah terjadi mau di apa kan lagi Dis.”


“ Apa kamu bertengkar dengan Anin?”


“ Menurutmu apa kami baik-baik saja?” Shan malah bertanya balik. “ Dia tidak mau bicara padaku.”


“ Apa kamu tidak menjelaskan padanya?”


“ Sudah, tapi tidak semudah itu Dis, perlu waktu untuk Anin menerimanya.”


“ Apa perlu aku menjelaskannya pada Anin?”


“ Tidak perlu Dis. Ini adalah urusanku.”


“ Tapi Shan...”


“ Sudahlah, aku tidak apa-apa. Ini adalah proses yang harus kami jalani.”


Disti menghela napas.


“ Aku ini bodoh sekali,” ujarnya merutuki dirinya. “ Seharusnya aku diam saja.”


“ Disti, sudahlah. Tidak perlu seperti itu.”


“ Apa Nada menemuimu untuk membicarakan tentang Anthony?”


“ Iya dan Nada juga sudah tahu siapa wanita yang menjadi selingkuhan Anthony.”


“ Benarkah? Dia tahu itu Mentari?”


“ Iya, dia tahu itu Mentari.”


“ Nada pasti sangat shock. Kenapa hidupnya harus seperti ini, seharusnya ia bahagia dengan pernihananya.”


“ Nada sedang hamil, Dis. Kehamilannya inilah yang membuatnya jadi serba salah. Dia bisa saja meninggalkan Anthony, tapi karena anak yang ada di kandungannya, ia tidak bisa melakukannya. Anaknya juga perlu ayah, walaupun awalnya Nada ingin menyembunyikannya, tapi aku sudah memberitahukannya kalau itu bukan jalan yang terbaik. Anthony juga berhak tahu mengenai anaknya, terlepas apa yang akan ia lakukan, yang penting Nada sudah melakukan tugasnya. “


“ Kamu mengatakan hal yang benar Shan.”


“ Disti kalau kamu punya waktu temuilah dia. Sekarang ini dia perlu seseorang untuk memberikannya kenyamanan.”


“ Iya Shan, aku akan menemuinya.”


“ Baguslah.”


Bunyi ponsel yang tiba-tiba berdering itu, sukses mengagetkan Shan. Ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Sebuah pesan yang entah siapa pengirimnya.


Shan membelalakkan matanya begitu melihat isi pesan itu.


Disti yang memperhatikan Shan merasa heran dengan sikapnya yang tiba-tiba terdiam setelah mengecek ponselnya.


“ Ada apa Shan?”


“ Tidak apa-apa,” jawabnya. Disti tahu Shan sedang berbohong padanya, namun ia tak ingin membahasnya lagi karena itu adalah masalah pribadi yang tidak harus dicampurinya.

__ADS_1


 


__ADS_2