
Anin terlihat canggung berada di dalam mobil bersama dengan Shan. Ia tak menyangka akan mengalami kejadian ini. Bunda dan kakaknya, Agni, sudah membuatnya harus bersama dengan pria di sampingnya ini. Membuatnya semakin kikuk apalagi kalau mengingat kejadian semalam dimana ia memeluk Shan tanpa berpikir panjang. Anin bahkan tak berani memandang wajah Shan dan hanya melihat ke arah samping jendela.
Shan yang sadar dengan sikap Anin itu lalu memutarkan sebuah lagu agar suasana tidak mencekam seperti film horor ini.
" Kamu suka lagu ini?" tanya Shan. Anin hanya mengangguk. " Kamu suka makan pizza". Anin mengangguk lagi. " Kamu suka makan burger." Anin pun mengangguk lagi.
Shan pun punya ide untuk mengerjai Anin yang selalu mengangguk ketika menjawab setiap pertanyaannya.
" Anin, kamu suka padaku?" Anin mengangguk lagi.
" Benarkah?'' Shan menatap Anin. " Kamu menyukaiku?"
" Ha??" Anin pun tersadar. " Shan kamu mengerjai ku ya," kesal Anin memukul Shan.
" Itu kan salah kamu. Dari tadi jawabnya mengangguk terus."
" Ya jangan di kerjai juga lah.”
" Ya sudah maaf. Tapi kan sekarang kamu jadi bicara, dari tadi diam terus."
" Habisnya Anin kesal."
" Anin kenapa kesal? karena pergi denganku?"
" Bukan."
" Bukan bagaimana? padahal memang begitu kan?"
" Shan...."
" Anin....."
Anin menghela napasnya. " Anin cuma merasa canggung saja."
" Kenapa? apa karena pelukan semalam."
" Ha!! Shan!!!" teriaknya. Shan tertawa puas karena berhasil menggodanya. Wajah Anin seketika memerah. " Shan keterlaluan!"
" Iya maaf ."
" Shan kenapa suka sekali sih buat Anin kesal."
" Karena aku menyukaimu."
" Mulai, jangan bercanda deh."
" Siapa yang bercanda. Anin saja yang tidak peka."
" Oh ya!"
" Iya."
--------
Mobil itu berhenti di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Anin sedikit bingung kenapa Shan memberhentikan mobil di tempat itu.
" Shan kita mau apa disini?" tanya Anin dengan wajah serius.
" Mau ganti ponsel kamulah," jawab Shan enteng.
" Loh, kenapa Shan yang ganti ponselnya Anin?"
" Terus siapa Nin....yang copet kamu itu ?"
" Ya bukan gitu Shan."
" Lalu? Bunda sama Ayah atau Agni?"
" Ya itu pasti lama gantinya. Anin lagi tunggu tabungan penuh."
__ADS_1
" Ya itu lebih lama lagi."
" Anin tidak bisa Shan."
" Kenapa?"
" Ya....pokoknya Anin tolak lah."
" Cinta di tolak, ponsel juga di tolak, terus apa dong yang bisa Anin terima dari Shan?"
" Itu.....". Anin kehabisan kata-kata menjawab perkataan Shan. " Kalau Anin tolak, Shan pasti paksa Anin buat terima juga kan?"
" Iyalah."
Anin menghela napas panjang. " Kalau begitu Shan yang pilih ya, apa pun pilihan Shan, Anin pasti terima."
" Yakin Anin enggak mau pilih sendiri?" Anin mengangguk. " Ya sudah pokoknya apa pun yang di pilih nanti, Anin tidak boleh menolak, oke."
" Oke."
" Ya sudah sekarang kita turun."
" Iya."
Shan dan Anin pun turun dari mobil itu. Anin berjalan di belakang Shan, ia tampak canggung berjalan berdua dengan pria yang bersamanya ini. Shan menoleh ke belakang lalu menarik tangan Anin agar berjalan bersamanya. Tentu saja Anin menjadi kaget, apalagi Shan tidak melepaskan tangannya dan malah semakin menggenggamnya.
" Loh Shan kenapa kita malah ke tempat makan?" tanyanya bingung padahal tadi rencana mereka hanya membeli ponsel.
" Memang Anin enggak lapar?" tanya Shan balik.
" Ya...lapar sih," jawab Anin terbata-bata.
" Ya sudah kita makan dulu," ujar Shan mengajak Anin memasuki restoran.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan menu pada Shan dan Anin.
" Mbak, Sirloin Wagyu nya satu lalu minumannya Lemon Squash. Kamu mau apa Nin?"
" Kalau begitu dua ya mbak."
" Saya ulangi ya, Sirloin Wagyu dua, Lemon Squash nya dua. Apa ada tambahan lain?"
" Tidak, itu saja, terima kasih."
" Mohon di tunggu ya," ucap pelayan itu meninggalkan Shan dan Anin.
" Om bagaimana kabarnya Shan?"
" Tidak terlalu baik sih, dua hari lagi Papa bakalan balik ke sini setelah pekerjaannya selesai di sana."
" Om lagi sakit?"
" Iya."
" Tapi kenapa Om tetap kerja, seharusnya kan istirahat."
" Papa itu kalau diam saja malah tambah sakit karena sudah terbiasa melakukan ini itu. Lagi pula Papa bilang setelah ini ia akan istirahat karena sudah menuntaskan kewajibannya di sana. Aku sudah berulang kali menasihatinya tapi apa boleh buat kemauannya lebih besar untuk menyelesaikan pekerjaannya di sana supaya cepat pulang ke sini."
" Tapi ada yang bantu Om di sana kan?"
" Ya tentu saja Nin ada yang bantu Papa di sana. Aku juga selalu memantau Papa kok."
" Kalau Om pulang nanti kasih tahu Anin ya."
" Memangnya Anin mau apa sama papa?"
" Mau buat makanan. Dulu Om kan pernah kasih hadiah ulang tahun yang ke 17 buat Anin, jadi Anin mau kasih sesuatu untuk Om."
" Anin bisa masak?" Anin menggeleng. " Lalu siapa yang masak?"
__ADS_1
" Bunda lah."
Sekejap Shan tertawa melihat kepolosan Anin itu. Ia pikir Anin akan belajar memasak tapi ternyata bundanya lah yang memasak.
" Kenapa Shan tertawa?"
" Karena Anin lucu."
" Permisi ini pesanannya."Pelayanan itu meletakkan makanan dan minuman yang mereka pesan tadi. " Silakan menikmati."
" Terima kasih," ujar mereka serempak. Mereka pun menikmati makanan itu sampai selesai.
Tak lama sekretarisnya Reno datang menghampiri mereka. Anin sedikit kaget karena ia memang tidak mengenal pria yang datang menghampiri mereka itu. Reno memberikan sesuatu pada Shan yang kemudian ia terima.
" Apa ini sudah sesuai?" tanya Shan memastikan.
" Sudah Tuan, ini sudah sesuai pesanan tuan tadi."
" Oke, terima kasih."
" Apa ada lagi Tuan?"
" Tidak ini sudah cukup."
" Kalau begitu saya permisi Tuan, Nona Anin.'
" I...iya," ujar Anin menjawab sapaan Reno itu.
" Ini untukmu." Shan memberikan sebuah paper bag yang Reno berikan tadi padanya.
" Ini apa Shan?"
" Lihat saja."
Anin mengambil paper bag itu lalu membukanya. Ia pun terkejut melihat isi di dalam paper bag tersebut.
" Shan.....ini ponsel mahal."
" Kenapa?"
" Yang biasa saja Shan."
" Tadi kan Anin yang bilang kalau Shan yang pilih ponselnya."
" Iya sih."
" Apa pun yang Shan pilih Anin akan terima, apa kamu lupa?"
" Anin ingat Shan tapi.....Anin jadi tidak enak. Uang Shan pasti banyak habis cuma buat beli ponsel ini."
" Siapa bilang?"
" Anin yang bilang tadi". Shan pun tertawa melihat tingkahnya itu. " Tuh kan Shan ketawa terus, Anin serius."
" Aku juga serius Nin. Jadi jangan coba-coba untuk menolaknya, oke. Aku tidak mau ada penolakan lagi."
" Tapi....."
" Hm....."
Anin menghela napasnya. " Baiklah Shan, Anin terima ponselnya," ujar Anin pada akhirnya. " Terima kasih banyak Shan, Anin tidak tahu harus bagaimana membalasnya."
" Gampang kok."
" Ha??"
" Menikahlah denganku."
" Apa??"
__ADS_1
Tiba-tiba Shan tertawa di situasi yang serius tadi. " Aku hanya bercanda.'
" Shan ini!!!!" Anin memukulnya sangkin kesalnya karena sudah mengerjainya.