KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Siapa yang Mengajak Mu Foya-Foya ?


__ADS_3

Setelah kejadian di toko sepatu, Jessica masih tak berhenti tertawa. Sherina yang mendengarnya sekali-kali memukul lengan wanita itu karena merasa kesal.


“Terakhir.” Ucap Sherina tiba-tiba sehingga menghentikan langkah mereka, saling meleparkan pandangan.


“Tujuan kita kesini” Sherina sedikit berbisik, Jessica terkejut, mata dan mulutnya secara bersamaan terbuka menatap Sherina.


“What ?” Jessica tak percaya dirinya bisa seboros ini saat bersama oranglain. Sherina memutar bola matanya dengan malas, kemudian menarik tangan Jessica ke toko skincare.


Setelah membeli apa yang menjadi tujuan mereka kesana, Jessica dan Sherina masuk ke mobil untuk melanjutkan rencana lain mereka.


“Huh. Bisa-bisa nya kau mengajakku foya-foya seperti ini.” Jessica mendumel tak terima.


“Hah ? siapa yang mengajak mu foya-foya ? Tadi kau sendiri yang menarik tanganku kesana kemari memilih pakaian mu yang banyak itu.” Sherina melirik belanjaan mereka di bagian tengah.


“Yasudahlah, apa boleh buat. Ayo cepat pergi dari sini, aku sudah tak tahan ingin minum alkohol.” Ucap Jessica tak sabaran, Sherina mengerucutkan bibir mendengar pengalihan topik yang dibuat oleh Jessica.


Sherina melajukan mobilnya ke tempat biasa, dimana mereka terakhir kali minum alkohol. Jessica sebenarnya tak terlalu suka tempat itu, namun karena Sherina sudah biasa kesana ia terima-terima saja.


“Minta satu gelas lagi” ucap Sherina sambil mengangkat gelasnya yang sudah kosong, barista yang sedang berjaga disana datang dengan sebuah botol bir, meletakkan di meja kedua wanita itu.

__ADS_1


“Ahh, bagaimana kalau kita mabuk dan pingsan disini ?” Tanya Jessica yang mulai menenggelamkan wajahnya diatas meja.


“Ma...na mung..kin, kita cuma minum sedikit.” Balas Sherina ikut menenggelamkan wajahnya, suaranya perlahan mulai hilang.


“Ahh, ayo kita pulang saja. Aku ingin rebahan di kasur empukku.” Ucap Jessica memegang tangan Sherina, namun wanita membalas perkataannya dengan suara yang tidak jelas.


“SHERINA ?” Erick terkejut melihat dua wanita yang sudah tak berdaya itu seperti orang yang memiliki masalah hidup banyak. Erick segera menghampiri meja, mendekati Sherina yang sedang memegang ponselnya. Ya, tadi Erick memang menghubungi Sherina menanyakan dimana gadis itu berada. Dalam keadaan setengah sadar, Sherina memberitahu apa dan dimana mereka saat ini hingga Erick bergegas kesana bersama supirnya.


“Huh!! Kenapa kau bisa seperti ini ?” Omel Erick sambil membopong gadis itu, kemudian ia memerintahkan supir yang sedang bersamanya untuk membawa Jessica juga kedalam mobil.


“Huh!! Gadis-gadis ini merepotkanku. Kenapa dia tak bersama supir ? apa dia pikir dia sudah sangat hebat sekarang ?” Erick lagi-lagi mendengus kesal melihat adiknya dan Jessica duduk di bagian tengah.


“Maaf tuan, ini kita kemana ? apakah kita langsung pulang ?” Tanya supir melirik lelaki yang sedang kesal disebelahnya.


“Ke kosan cendrawasih sekarang” perintah Erick yang di balas dengan anggukan kepala oleh sang supir.


Sesampainya di parkiran kosan Jessica, Erick membuka pintu bagian tengah. Ia menatap gadis yang sudah terkapar disana, membuang nafas berat lalu membopong tubuh Jessica.


“Pak coba tanyakan dimana kamar kosan wanita ini kepada orang itu.” Perintah Erick kepada supirnya.

__ADS_1


“Di lantai 2 No. 206 pak.” Jawabnya sambil berjalan mendahului Erick.


Erick merebahkan tubuh Jessica di atas ranjang dengan hati-hati, ya walaupun Erick dikenal sebagai lelaki yang dingin dan sombong, tapi ia masih punya hati nurani kepada wanita.


“Untung kau teman adikku.” Ucap Erick sebelum menutup pintu kamar itu.


Namun saat hendak menutup pintu, Erick terkejut saat melihat Sherina sudah dibelakangnya dengan tatapan tajam.


“Sherin, kau membuatku terkejut.” Ucapnya berpindah tempat, memperhatikan adiknya itu.


“Ahh, hahahha. Aku mau menginap disini, kakak pulang saja.” Ucap Sherina sambil masuk kedalam kamar Jessica.


“Tidak boleh.” Erick menahan lengan gadis itu hingga membuat wajah wanita itu tampak memelas.


“Kakak.... Tolonglah sekali ini saja, hari ini kak Jessi wisuda aku ingin menemaninya sebelum dia akan sibuk dan jarang bertemu denganku. Yaaa ?” Ucap Sherina yang entah sadar atau tidak karena nada bicaranya sudah tak seperti biasanya. Erick merasa heran dengan sikap Sherina yang tetap kekeh ingin menginap di tempat itu.


“Yasudah, besok pagi hubungi kakak.” Erick akhirnya menyerah karena merasa iba melihat wajah gadis itu.


Ya, benar Sherina pasti akan meras kesepian lagi jika Jessica sudah sibuk bekerja nantinya. Erick pasti akan jarang mendengar cerita-cerita tentang teman baru adiknya itu, Erick juga pasti akan jarang mendengar rengekan Sherina untuk memberinya ijin pergi minum bersama Jessica. Memikirkan itu semua, Erick merasa pikirannya terganggu. Ia khawatir, jika Jessica tak lagi didekat Sherina, adiknya itu akan kembali merasa kesepian dan terus-terusan mengurung diri di kamar karena tidak punya teman lagi. Sedangkan Erick, ia juga semakin sibuk dengan urusan kantornya. Apalagi akhir-akhir ini ia menang tender dan beberapa investor sudah menawarkan berbagai penawaran untuk perusahaannya. Erick juga bingung mengapa sangat sulit untuk Sherina bergabung dengan orang lain, bukannya ia tak mampu membayar orang-orang yang akan selalu siap siaga menemani Sherina, tapi Sherina juga sama dengannya sangat keras kepala dan tidak suka dikasihani. Terkadang Erick berpikir bagaimana nasib mereka berdua nantinya, karena semakin hari usia mereka juga akan bertambah sedangkan keinginan keduanya untuk memulai dengan orang baru tidak ada.

__ADS_1


“Pak, cari latar belakang wanita itu.” Ucap Erick secara tiba-tiba sehingga mengejutkan supir yang sedang mengemudi disebelahnya.


“Baik Tuan, akan segera saya laksanakan.”


__ADS_2