
Jessica keluar dari apartemen lelaki itu dengan wajah menahan tangis, ia tak bisa menangis sekarang harus menunggu sampai di kosan agar tak ada yang melihatnya menitikkan air mata. Sesampainya di kosan, Jessica membanting pintu, melemparkan tas ke sembarang arah lalu berjalan kearah tempat tidur, semua benda yang ada disana dilemparkan hingga hanya tersisa kasurnya saja. Jessica mendudukkan tubuhnya di lantai, bersandar pada dipan tempat tidur. Ia menarik rambutnya kebelakang menggunakan kedua tangan, matanya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata, Jessica menangis dengan setengah suara menahan agar tetangga tak terganggu karena ini sudah larut. Bahkan saat kacau seperti ini ia masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain.
“Sampah. Aku benar-benar sampah.” Gumam nya lirih
“Apa aku mati saja ? tak ada gunanya juga hidup seperti ini, lagi pula siapa yang peduli padaku ? hahahaha” Tiba-tiba Jessica tertawa miris, matanya tajam terlihat sangat menyeramkan.
“Tidak ada yang peduli sama sekali.” Kini tawa itu berubah menjadi senyum pahit. Ia melirik ponsel yang sudah keluar dari tasnya, entah mengapa ponsel itu berada disana mungkin karena tadi ia melempar tas nya sembarangan hingga benda pipih itu keluar.
“Dia lagi.” Senyum pahit Jessica menghilang saat melihat notif dari ponsel nya, Wisnu. lelaki itu mengiriminya banyak pesan dan beberapa panggilan tak terjawab.
“Apa yang dia inginkan dariku ? bukankah dia juga sudah menikmati tubuhku ? apa dia juga sama seperti lelaki lain yang ketagihan pada tubuhku ?” Derai air mata lagi-lagi membasahi pipi nya.
TOK...TOK..TOK...
Jessica menoleh kearah pintu, siapa yang mengetuk pintunya malam-malam seperti ini ? Jessica tidak berkutik dari duduknya dan tetap menoleh ke sumber suara.
TOK...TOK..TOK...
“Jessica, aku tahu kau di dalam tolong buka pintunya. Ini aku” Ucap seseorang dari luar. Jessica penasaran namun tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit kearah pintu.
“Jessi, tolong buka pintunya.” Jessica memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri, dengan pelan ia berjalan membukakan pintu itu.
“Jessica ?” Lelaki itu terkejut melihat penampilan wanita yang ada dihadapannya, berantakan. Rambutnya yang acak-acakan hingga menutup sebagian wajahnya, bajunya yang sudah kusut seperti tidak dirapikan sama sekali. Kini lelaki itu menatap wajahnya, lembam dan dipenuhi dengan air mata. Ada apa sebenarnya ? Ia ingin bertanya kepada Jessica apa yang sedang terjadi, namun entah mengapa mulutnya tidak bisa berkata-kata.
“Hiks” Jessica terisak mengalihkan mata sendunya ke arah lain. Lelaki itu menutup pintu, kemudian memeluk Jessica erat seakan merasakan kesakitan yang dialami oleh wanitanya.
“Jangan khawatir ada aku.” Bukannya tenang, Jessica semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik lelaki itu, menangis hebat.
Kenapa setiap aku kehilangan arah seperti ini kau selalu datang ? kenapa wisnu ? Batin Jessica.
Wisnu membawa wanita itu duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan sambil tersenyum tipis. Ia menatap mata sendu milik wanita itu, dari matanya ia bisa merasakan bahwa wanita itu sedang kacau seperti tidak memiliki kehidupan.
KRAUK
Jessica menarik tubuhnya dari dekapan Wisnu, memegang perutnya yang kelaparan. Jika bisa ia ingin sekali memukul cacing-cacing didalam perutnya karena sudah membuatnya malu didepan Wisnu. Wisnu tersenyum lagi sambil meraih ponselnya dari saku.
“Mau makan apa ?” Tanya Wisnu lembut.
“Terserah” Jessica tersipu malu, ia tahu Wisnu ingin sekali tertawa namun lelaki itu menahannya.
__ADS_1
“Oke sudah kupesan. Sekarang pergi mandi dulu, kau sangat bau.” Ucap Wisnu sambil menatap kaosnya yang basah karena tangisan dan ingus wanita itu.
“Ma-maaf. Aku punya pakaian yang bisa kau pakai, sebentar kuambilkan dulu.” Jessica bergegas dari duduknya namun kepanikan dari dirinya membuatnya jatuh dihadapan Wisnu.
“Kau tak apa ?” Wisnu membantu wanita itu berdiri,
Sialan, bahkan dalam keadaan seperti ini aku masih bisa-bisanya membuat malu diri sendiri.
“Duduk dulu, biar aku saja yang mengambilnya. Bajunya dimana ?” Ucap Wisnu
“Eh, tidak apa-apa ? maaf aku lagi-lagi merepotkanmu.”
“Baju ku sudah sangat basah, kalau kau bicara terlalu lama yang ada aku semakin bau.”
“Di lemari itu, bagian kedua dari atas banyak kaos disana.” Ucap Jessica menunjuk lemari yang tak jauh dari tempat tidurnya.
Wisnu mengangguk lalu bergegas membuka lemari pakaian Jessica. Saat membuka lemari itu, ia terkejut ada banyak rambut palsu serta pakaian minim disana namun Wisnu bersikap biasa saja tak ingin membuat sang pemilik merasa tidak nyaman.
“Ini boleh kupakai ?” Tanya Wisnu menunjukkan kaos oversize kepada Jessica.
“Iya, kamar mandi ada di lorong sebelah mu.”
Setelah makan malam, keduanya duduk di lantai dengan suasana canggung. Wisnu yang kedinginan karena tak terbiasa duduk di lantai seperti itu terpaksa menahan dirinya agar tidak memberi komentar. Hujan diluar semakin deras hingga membuat Jessica tak enak menyuruh lelaki itu pulang.
“Pak Wis..”
Keduanya saling memanggil secara bersamaan.
“Kau duluan saja” Ucap Wisnu mendahulukan Jessica.
“Ehh ? tidak apa-apa ?” Jessica menatap canggung manik lelaki itu.
“Yes, ladies first” Suara lembut Wisnu membuat dirinya ingin berada didekat lelaki itu setiap saat.
“Maafkan aku” Ucap Jessica lemah
“Untuk ?”
“Sikap ku akhir-akhir ini yang mungkin membuatmu merasa tidak nyaman.” Jessica menundukkan kepala, mencari fokus kemana saja asal tidak ke lelaki itu.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, aku mengerti kau sedang tidak ingin di ganggu.” Wisnu menarik nafas panjang.
“Tapi aku juga pernah bilang padamu kalau aku akan selalu siap jika kau membutuhkanku.” Wisnu melirik wanita yang berada di sampingnya.
Hening
Baik Jessica maupun Wisnu tidak tahu harus mengatakan apa lagi, keduanya sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hanya terdengar suara derasnya hujan di luar sana bersama rengekan kucing liar yang ada disekitar kosan itu.
“Aku juga ingin mengucapkan terimakasih padamu” Lirik Jessica mengangkat sedikit kepalanya namun masih tak berani menatap lelaki itu.
“Terimakasih untuk semua waktu dan kesempatan yang kau berikan hanya demi memastikan kalau aku baik-baik saja.” Jessica menggigit bibir bagian bahwah, menahan tangis.
“Ah, apakah aku sudah seperti pahlawan sekarang ?” Tanya Wisnu yang langsung mendapat pukulan di lengannya.
“Hahaha, kau kecil-kecil begini tenaganya besar juga.” Ucap Wisnu meringis kecil
Kedua nya tertawa lepas hanya karena candaan Wisnu, mungkin jika orang lain berada disana akan merasa heran karena humor mereka sangat rendah. Ya, walau bagaimana pun Wisnu tertawa karena melihat Jessica bahagia walau hanya sebentar saja.
“Emmm... boleh aku menanyakan satu hal ?” Tanya Jessica tiba-tiba.
“Tentu saja.”
“Mungkin ini akan terdengar sedikit aneh atau aku yang kepedean. Tapi aku merasa kau bersikap berlebihan padaku bahkan akhir-akhir ini aku selalu menjauhi mu dan tak jarang juga berkata kasar. Namun sampai saat ini kau masih tetap ada disini dan anehnya....” Jessica menghentikan kalimatnya.
“Maaf, tapi aku merasa aneh kenapa tiba-tiba kau datang kesini saat aku dalam keadaan kacau.” Jessica menatap mata Wisnu dengan tatapan seribu macam pertanyaan. Wisnu tahu suatu saat ia pasti akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Jessica.
“Hmmmm... aku juga tidak tahu ? aku tiba-tiba kepikiran saja dengan mu dan langsung pergi kesini menemuimu. Setelah sampai disini ternyata felling ku memang benar bahwa kau sedang tak baik-baik saja.” Balas Wisnu lancar.
“Dan untuk sikap mu akhir-akhir ini yang berubah aku sama sekali tidak masalah, selagi aku tidak merasa terganggu itu tidak akan pernah menjadi masalah Jessica.” Jelas nya tersenyum.
“Benarkah ?” Wisnu mengangguk cepat disertai senyuman yang mengembang di bibirnya.
Entah Jessica percaya atau tidak, Wisnu tidak peduli. Yang penting kata-katanya bisa membuat Jessica nyaman bersamanya dan tidak menangis sendirian. Walaupun kalimat yang keluar dari mulutnya itu tidak sepenuhnya benar.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘