
Jessica duduk diatas kasur dengan kaki yang disilangkan, tatapannya kosong. Ya, wanita yang pulang setiap pagi ini sedang melamun, tiba-tiba saja bibirnya menarik simpul tersenyum tipis. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sedang asik melamun, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring sehingga membuat Jessica bergerak mencari ponselnya.
“Ah, anak ini lagi” Jessica menatap nama yang terpampang di layar ponselnya sambil memicingkan kedua mata.
Ting
Sebuah pesan masuk ke nomornya, pesan itu berasal dari pemanggil yang baru saja ia abaikan.
Kau jadi datang kesini kan ?
Mata Jessica lagi-lagi mengecil membaca pesan itu. Sherina. Sherina tiba-tiba mengirimkan pesan yang tidak pernah dimengerti oleh Jessica.
“Ah, aku lupa mereka mengajakku makan malam di rumahnya.” Jessica tiba-tiba teringat sesuatu yang disampaikan oleh kakak Sherina beberapa hari yang lalu lewat telpon. Tangan wanita itu dengan cepat mengetikkan sesuatu di ponselnya, dalam hitungan detik pesan yang dikirimkan oleh Jessica langsung terbalas.
“Akh. kenapa dia ceroboh sekali ? bagaimana kalau aku benar-benar tidak datang ?” Ucap Jessica kesal.
Ting
Kalau begitu tidak apa-apa, aku akan menyuruh pembantuku untuk tidak melanjutkan memasak makan malam ini.
“Akh. sialan” umpatnya lagi.
Bagaimanapun Jessica merasa tak enak pada Sherina karena sudah mulai memasak makan malam untuk mereka. Dengan malas Jessica bangkit dari kasurnya, mengambil handuk yang ia jemur di balkon kemudian masuk ke kamar mandi sambil membanting pintu.
Mata Sherina berbinar menatap wanita yang kini berdiri didepan pintu rumah nya. Ia mengerjapkan mata, memastikan bahwa wanita yang ada didepannya itu adalah Jessica.
“Kau jadi datang ?” Sherina menarik simpul bibirnya.
“Kau sudah mengirim alamatmu dan memasak, bagaimana mungkin aku tidak datang ?”
Jessica melipat kedua tangan didepan dada dengan wajah dingin.
“Hehe, aku pikir kau tidak akan terpengaruh dengan itu. Tapi ternyata kau datang juga” Sherina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hmmm, lalu apa aku disuruh berdiri disini sampai besok ?”
“Aduh. Maaf.. maaf, ayo masuk” Sherina memegang pundah Jessica, mendorongnya masuk kedalam rumah. Jessica menatap rumah itu dengan perasaan kagum, sebenarnya dia sudah terpesona dengan rumah megah dan mewah itu saat kakinya pertama kali menginjakkan gerbang namun siapa sangka, ternyata didalam rumah itu benar-benar luas biasa mewah nya.
Wahh, aku baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah mahal seperti ini. Batin Jessica namun wajah wanita itu tetap dingin, ia sudah terbisa tidak menunjukkan ekspresi apapun saat melihat atau menerima sesuatu yang ia sukai.
“Nah, duduk dulu disini. Aku tinggal sebentar.” Sherina meninggalkan Jessica di ruang tamu sendirian.
Tapi kenapa rumah sebesar ini sangat sepi ? Lagi-lagi Jessica membuat pertanyaan sendiri di kepalanya.
Sherina muncul dengan wajah sumringah sambil membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi. Ia meletakkan cangkir itu di hadapan Jessica dan duduk di sebrang wanita itu. Jessica menatap dingin kearah Sherina yang duduk dihadapannya. Berbagai pertanyaan ingin ia lontarkan kepada wanita itu, namun ia berusaha menahannya. ITU BUKAN URUSANKU ! Begitulah kira-kira Jessica memperingatkan dirinya untuk tidak terlalu ingin tahu tentang kehidupan oranglain.
__ADS_1
“Sudah jam 7 tepat” Akhirnya Jessica membuka obrolan sambil melihat jam tangannya
“Ah, kau sudah lapar ya ?” Tanya Sherina agak gugup.
“Tidak terlalu, tapi aku ada urusan lain setelah ini.”
“Aduh. Tapi.....”
“Tapi apa ?” Jessica mengangkat sebelah alisnya, menunggu lanjutan kalimat gadis yang didepannya itu.
“Emmm, anu...hehe” Cengir Sherina ragu menjawab pertanyaan Jessica.
“yang jelas Sherina” tekan Jessica pada kalimatnya.
“Eh iya, sebenarnya aku belum masak apa-apa. Maafkan aku” Sherina mengatupkan kedua tangannya didepan dada, berharap agar Jessica tidak kesal padanya.
“HUH” Jessica menghembuskan nafas kasar, menjatuhkan punggungnya disandaran sofa empuk itu.
“Biar lebih cepat ayo kita langsung masak saja” Sherina menarik tangan Jessica kedapur. Mau tak mau, Jessica mengikuti perempuan itu melakukan kegiatan masak memasak yang menurutnya sama sekali tidak menarik. Ya, sejak kecil Jessica tidak pernah melakukan hal-hal yang berbau dapur kecuali sudah genting. Namun walaupun begitu, wanita ini mampu melakukan hal-hal sederhana di dapur, menggoreng telur misalnya.
“Ah kita pesan makan aja deh, ini benar-benar susah. Mana kak Erik belum pulang-pulang” Sherina menyerah sambil meletakkan bawang dan pisau yang ia pegang. Jessica yang memandanginya sedari tadi tersenyum menahan tawa, menyaksikan adik tingkat nya itu mengeluarkan air mata karena mengupas bawang.
“Apa bawangnya terlalu menyedihkan ?” Jessica mendekatkan tubuhnya kearah Sherina yang sedang menghapus air mata.
“Kau ini benar-benar....bukannya membantuku, malah menertawakanku seperti itu.” Sherina sedikit kesal.
“Nona Sherin, Tuan muda sudah pulang” Sherina dan Jessica melempar pandangan kearah pemilik suara tersebut, seorang wanita muda dan cantik yang tak jauh dari usia mereka.
“Oh, iya mbak. Terimakasih” Ucap Sherina tersenyum seperti biasanya.
“Ayo. Kakak ku sudah pulang.” Ajak Sherina, Jessica mengikuti langkah kaki wanita itu menuju ruang utama.
“Kakak” Sherina berlari kecil menyambut lelaki yang dijuluki Tuan muda di rumah itu. Erick Fernandez, menyambut pelukan Sherina dengan tangan terbuka lebar, lalu memeluk erat wanita itu sambil mencium pucuk kepalanya. Perlakuan ini selalu dilakukan antara dua manusia itu setiap hari. Jessica masih berdiri dibelakang, ia melempar pandangannya saat melihat kakak beradik itu saling berpelukan.
“Kenapa lama sekali” Rengek Sherina manja, perlahan melepas pelukannya.
“Tadi ada sedikit urusan di kantor.” Erick mengacak-acak gemas rambut adiknya. Kemudian matanya berpaling menatap wanita di belakang Sherina.
“Temanku yang kau ajak makan malam beberapa hari lalu” Ucap Sherina sebelum kakaknya itu bertanya.
“Oh ya ? aku hampir lupa.” Sherina mengerucutkan bibirnya mendengar pengakuan sang kakak.
“Jessica, kenalin ini kakak ku” Sherina menarik lengan Jessica mendekat kearah sang kakak.
“Erick” Dengan nada tegas, Erick memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan. Jessica menyambutnya dengan wajah senyum paksa, sungguh sulit memberikan senyuman kepada orang yang baru ia temui.
__ADS_1
“Jessica”
Sambil menunggu karyawan di rumah itu mempersiapkan makanan yang baru saja ia bawa, mereka duduk diam di ruang tamu. Sunyi, seperti tidak ada kehidupan.
“Kakak mandi aja dulu, mbak Cecil masih siapin makanannya.” Ucap Sherina membuka obrolan, Erick mengangguk dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
“Bagaimana kesan pertama bertemu kakak ku ?” Tanya Sherina merasa tak enak karena Erick tak mau bicara apapun setelah memperkenalkan diri.
“Biasa saja” Jawab Jessica seakan paham bahwa Sherina merasa tak enak hati.
“Kak Erick memang begitu sikapnya, bukan hanya ke kamu aja. Dia cuma banyak ngomong sama aku dan karyawannya yang lagi bermasalah.” Jelas Sherina tanpa ditanya.
“Ini juga pertama kalinya kakak ngijinin aku bawa teman ke rumah ini. Biasanya dia nggak ngebolehin siapapun masuk kecuali atas ijin dia.” Lagi-lagi Sherina menceritakan sikap sang kakak.
Jessica mengangguk paham, namun jauh dari lubuk hatinya sebenarnya ia tak peduli dengan Erick. Seperti biasa, Jessica hanya menganggap orang-orang seperti angin. Berlalu begitu saja.
Setelah makan malam selesai, Jessica pamit pulang. Sherina sudah menawarkan untuk diantar pulang oleh supirnya namun Jesicca menolak tawaran itu dengan alasan sudah memesan ojek online.
“Terimakasih udah mau mampir kesini, sering-sering main ya” Sherina menatap Jessica dengan mata berbinar. Dipikirannya, mungkin saja ia dan Jessica tak akan bertemu lagi setelah nanti gadis itu Wisuda. Oleh karena itu, Sherina ingin lebih dekat lagi, agar bisa terus berkomunikasi kemanapun nanti Jessica pergi.
“Terimakasih Sherina, aku pulang dulu.” Jessica menyelipkan tas di bahunya, kemudian pergi meninggalkan rumah megah itu.
Erick yang sedang menatap adiknya di ruang tamu, merasa aneh dengan sikapnya. Setelah kepergian Jessica, sepertinya susana hati wanita itu menjadi tidak baik.
“Kenapa ?” tanya Erick
“Enggak. Aku cuma bingung kenapa kakak selalu cuek dengan orang-orang yang dekat dengan Sherin.” wanita itu menundukkan kepala sambil me*emas jarinya. Erick menghembuskan nafas berat, seakan paham akan ucapan adiknya.
“Maafin kakak ya, kakak belum terbiasa dengan orang-orang.” Erick menggenggam tangan Sherina dengan senyum tipis.
“Tapi janji lain kali jangan gini ya, Sherin nggak enak sama kak Jessica kalau kakak seperti ini. Sherin takut dia merasa tersinggung dengan sikap kakak yang seolah-olah menganggapnya tak ada.” Pinta Sherina dengan wajah penuh harap.
“Dia berarti banget ya buat kamu ?” Tanya Erick merasa perlakuan Sherina ke Jessica berlebihan.
“Sherin nggak punya teman selain dia kak” Menundukkan kepala. Erick yang paham akan sikap adiknya itu menarik tubuhnya, memeluk erat sambil mengusap kepala Sherina.
“Kita sama-sama belajar buat nerima orang baru ya” Ucap Erick pelan dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Sherina.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa feedbacknya sayang 😘🙏