
“Aku memintamu kesini tiba-tiba karena aku ingin menyampaikan permintaan maafku dan terimakasih padamu. Mungkin, setelah ini aku tidak akan pernah merepotkanmu lagi. Haha, memangnya aku siapa berani-beraninya merepotkanmu.” Jessica terkekeh
“Mungkin ini juga pertemuan terakhir kita, aku harap kau semakin berkembang dan selalu sukses dengan apa yang kau lakukan. Semoga kau selalu bahagia” Ucap Jessica, kali ini wajahnya tidak bisa bohong ia sangat sedih mengatakan kalimat itu kepada Wisnu.
“Jessi, jangan bicara seperti itu kau membuatku merinding seperti ini perpisahan terakhir saja.” Ucap Wisnu merasa takut.
“Mungkin ? bukan mungkin tapi sudah pasti.” Jessica tersenyum kecut.
“Jessi, kau baik-baik saja ?” Tanya Wisnu sambil memegang pundak wanita itu. Jessica hanya diam menundukkan kepala menatap flatshoes nya.
“Aku mau mendengarkanmu, mau disini atau tempat biasa dulu ?” Tanya Wisnu lembut.
“Bahkan untuk bercerita pun aku tak tahu darimana.”
“Ayo cari angin” Wisnu beranjak dari duduknya sambil menggandeng tangan wanita itu menuju mobil.
Di taman
Pohon-pohon yang tumbuh disekitar kursi panjang itu bergerak kesana kemari menyapa pengunjung yang sedang mencari udara malam. Jessica dan Wisnu tengah duduk disalah satu kursi tepatnya kursi yang sering mereka tempati saat berada disana. Keduanya sama-sama diam, tak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu seperti sepasang kekasih yang baru saja memulai kisah cinta mereka.
“Aku selalu kesini setiap memiliki beban yang mungkin orang lain tidak akan paham walaupun aku menceritakannya pada mereka.” Ucap Wisnu akhrinya mengeluarkan suara.
“Tapi ketika bercerita pada bintang dan bulan disaksikan pohon-pohon ini membuatku merasa lega, setidaknya masih ada tempat bercerita meskipun mereka tak akan bisa memberikan saran padaku.” Wisnu membuang nafas perlahan, melirik wanita yang disampingnya.
“So, ceritakan saja pada mereka apa yang kau rasakan sekarang. Mereka tak akan memintamu memulai dari awal, kau bisa menceritakan secara random pada mereka.” Ujarnya lagi.
Jessica tersenyum tipis mendengar ucapan Wisnu, cara itu menurutnya efektif juga karena jika dipendam sendiri pun hanya akan membuat dirinya menangis setiap malam di kamar kos nya.
“Aku capek” Kalimat pembuka dari Jessica membuat senyum Wisnu mengembang seketika.
__ADS_1
“Aku merasa kacau sekarang, bahkan apapun yang kulakukan tak akan mengubah semuanya menjadi lebih baik lagi.” Air matanya mulai membanjiri pipi.
“Aku tidak pernah berharap dilahirkan ke dunia ini, tapi....”
“Kenapa Tuhan tega mengirimku ketempat jahat ini ? yang membuatku iri pada orang lain ketika mereka tertawa lepas karena bahagia, tersenyum saat berfoto dengan orang-orang tersayangnya. Hiks...” Jessica tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia menarik nafas sebentar lalu menatap kembali ke langit.
“Semua ini berawal dari kedua orangtuaku yang tidak aku harapkan menjadi orang yang ku sebut ibu dan ayah. Mereka tidak seperti orangtua yang lain, mereka hanya bisa menekanku seperti seorang babu yang tak berdaya, aku kesakitan dengan semua yang kudapatkan di dunia ini. sejak awal aku tak pernah merasa dianggap, bahkan aku lupa kapan terakhir aku tertawa tanpa merasa ada beban.”
Jessica meluap dengan penuh emosi, untungnya tidak ada orang yang lewat disana. Sedangkan Wisnu hanya diam mendengarkan cerita Jessica bersama alam.
“Bahkan di hari kematiannya pun dia masih bisa menitipkan perintah-perintah yang harus kulakukan. Aku sebenarnya tak ingin melakukannya tapi entah kenapa aku merasa harus melakukan perintah itu.”
“Dulu aku masih kecil, usiaku masih satu angka tapi kenapa pikiranku seperti anak dua puluh tahunan ? sejak itu aku sudah memikirkan nasibku dan adikku, aku memikirkan bagaimana mencari uang untuk makan, aku memikirkan bagaimana kalau agar adikku merasa senang, memikirkan bagaimana caranya menghibur adikku yang merindukan ibu dan ayah nya. Aku bahkan tidak bisa menangis saat perutku lapar, saat teman-teman menertawakan ku karena memungut makanan bekas mereka.....Hiks...hiks..”
“Bahkan orang-orang tega memperalatku demi memberi mereka keuntungan padahal saat itu aku masih belum seperti remaja lainnya yang sudah mengalami pubertas. Tapi apa yang bisa kulakukan ? aku hanya menurut saja karena aku juga butuh uang itu untuk membiayai kehidupan kami.”
Diam-diam Wisnu meneteskan air mata mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Jessica. Selama ini ia tak pernah menyangka ternyata hidup wanita itu karena terpaksa. Terpaksa melakukan apapun agar bisa hidup dan merawat adiknya tanpa memikirkan dirinya sendiri kedepannya. Wisnu melirik Jessica yang terisak, sepertinya tak mampu berkata-kata lagi. Suara wanita itu merendah karena terlalu lelah mengeluarkan emosi didadanya.
“Biasanya aku menangis disini tidak ada orang yang ikut mendengarkanku, tapi lihatlah dirimu kau memiliki tubuh yang bisa kau peluk disini.” Ucap Wisnu tersenyum, Jessica menatapnya dengan air mata yang masih membasahi pipinya dalam setik itu juga Wisnu merentangkan tangan mempersilahkan wanita itu menangis dipelukannya. Merasa ditawarkan, Jessica hanyut dalam pelukan Wisnu.
“Kau hebat, kau sudah melakukan yang terbaik bahkan sejak kau lahir kedunia ini kau sudah ditakdirkan sebagai manusia paling hebat.” Ucap Wisnu mengelus punggung Jessica.
“Kau boleh merasa kacau, merasa tidak ada yang peduli dan mengerti dirimu. Tapi ingatlah, Tuhan itu sungguh ada dan selalu mengawasimu kemanapun kau pergi.”
“Tapi kenapa Tuhan membiarkanku jatuh seperti ini ?” Tanya Jessica dengan suara serak. Wisnu tersenyum tipis mendengarnya.
“Kau tidak jatuh, hanya lelah saja. Tuhan sedang bekerja membentukmu menjadi manusia yang lebih hebat lagi, Tuhan sudah punya rencana baik untukmu.”
“Rencana baik apa ? kau tahu sendiri kan aku...”
__ADS_1
“Mau aku ceritakan sesuatu ?” ucap Wisnu memotong ucapan wanita itu.
“Misalnya kau menginginkan cokelat yang sangat langka didunia ini, kau pasti melakukan apapun untuk mendapatkannya kan ?” Jessica yang ada didalam pelukannya mengangguk pelan, tangan Wisnu masih senantiasa mengelus punggungnya.
“Jika ada orang yang bilang, *itu disana ada banyak coklat langka yang kau inginkan, hanya saja butuh waktu lama untuk sampai disana dan jalannya juga sangat terjal sehingga orang-orang malas kesana tetapi jika kau sampai disana kau pasti bahagia karena disana lah pabriknya* kau pasti pergi kan, agar bisa mengambil keinginanmu itu ?” Ujarnya lagi.
“Nah, begitu juga dengan Tuhan. Jangan katakan Dia tidak ada, tidak menuntunmu kejalan yang benar, tega melihatmu hingga jatuh seperti ini. Coba sekali saja cari Tuhan, datang pada-Nya dan minta pertolongan pasti dia akan memberikannya padamu. Persis seperti cerita tadi, kau harus pergi ketempat asing yang memakan waktu lama agar bisa mendapatkan coklat yang kau inginkan.” Jessica melepas pelukannya, menghapus sisa air matanya.
“Jadi maksudmu aku yang harus mencari Tuhan ?” Tanya Jessica.
“Begitulah” Balas Wisnu tersenyum tipis.
“Hahaha... mustahil.” Ucap Jessica tersenyum miring.
“Sekarang coba katakan apa yang kau inginkan ?” Tanya Wisnu mengubah posisi duduknya.
“Aku hanya ingin cepat-cepat mati. Aku ingin waktuku didunia ini dipersingkat saja” Balas Jessica dengan nada menusuk.
Memang hidup sangat kejam, untuk itu kau harus berhati-hati dalam melakukan apapun. Terasa remeh dan kecil namun perkara besar pasti dimulai dari hal-hal kecil dulu. Terlepas dari hal itu kau juga harus bisa membedakan orang-orang yang memang benar-benar dipihakmu atau secara diam-diam ingin menjatuhkanmu sejatuh-jatuhnya. Tidak! kau tidak perlu membedakan itu karena bisa saja orang yang sekarang dipihakmu bisa jadi besok adalah musuh terbesarmu. Untuk itu hiduplah dengan kaki sendiri, tidak ada orang yang benar-benar tulus padamu. Bahkan bayanganmu sendiri juga akan meninggalkanmu saat berada dalam kegelapan.
.
.
.
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘
__ADS_1