
Susana di ruang kerja Erick terasa sangat menegangkan bagi Sherina. Matanya sekali-kali melirik Erick yang sedang mengotak-atik layar yang ada di tangannya.
“Tahu kenapa aku memanggilmu kemari ?” Tanya Erick dengan nada tegas.
Deg
Sherina menundukkan kepala , ragu untuk menjawab pertanyaan sang kakak. Tangannya saling mengaitkan di bawah meja dengan keadaan gemetar. Jantung nya berdetak semakin kencang, nafasnya memburu, bibirnya terasa sangat sulit untuk bergerak.
“Sherina”
Ah, sial. Lelaki itu menyebut namanya berapa kali pagi ini ?
“Kau mendengarku ?” Matanya melotot menatap Sherina yang sedang menunduk ketakutan.
“I-iya kak ?” perlahan mengangkat kepala, memberanikan diri menatap lelaki yang sedang ada di depannya. Mungkin sebentar lagi lelaki itu akan menghabisinya dengan berbagai kata kasar ?
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari ?” mengulang pertanyaan yang di sampaikan dari awal.
“E-eemmm maafin Sherina kak.” Menunduk, butir tetasan air mata jatuh detik itu juga. Hati wanita ini sungguh lemah jika itu berkaitan dengan sang kakak, bahkan jika Erick hanya bertanya seperti ini saja ia sudah menahan tangis.
Hening. Keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing.
“Sherina sudah buat kakak marah, semalam itu Sherina nggak sengaja minum banyak. Apalagi kak Jessica tumben mau sama Sherin seharian itu, jadi Sherin nggak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sekali lagi maafin Sherin kak.” Ucap nya dengan nada bergetar. Erick yang mendengar pengakuan adik semata wayangnya itu diam, pikirannya benar-benar berisik kali ini.
Apakah Sherina sangat kesepian ? Ia adalah Wanita kaya raya, punya segalanya, punya kakak yang sangat pintar dan kaya. Jadi kurang apalagi ? Masalah teman untuk menemani hari-hari Sherina ? Tidak perlu di tanya, Erick bahkan menambah asisten rumah nya yang tidak jauh dari usia adiknya hanya untuk Sherina, agar gadis itu tidak kesepian saat dirinya tidak ada di rumah. Tapi kembali lagi ke Sherina, apakah ia benar-benar bahagia dengan keadaan seperti itu ? Untuk jawabannya, Erick bisa tahu dari pengakuan adik nya saat ini. Erick menghembuskan nafas berat, terlihat ia merasa gagal menjadi kakak saat ini.
__ADS_1
“Sherina, maafin kakak.” Entah kenapa tiba-tiba laki-laki itu meminta maaf.
“K-kak ?”
“Maafin kakak yang belum bisa jadi orang yang layaknya tempat, dimana kamu sedang kesepian seperti ini.”
“Kak ? ada apa ? maafin Sherina sudah buat kakak sedih gini, Sherina nggak bermaksud buat kakak merasa gagal. Selama ini kakak sudah jadi orang yang paling Sherin andalkan, Kakak itu ibaratkan.....”
Erick yang tak kuasa mendengar ucapan Sherina menghampiri wanita itu sambil memeluknya erat.
“Maafin kakak ya, kakak akan belajar mengerti keadaan kamu. Tidak hanya bekerja sampai lembur di kantor”
“Kak ? Sherina sayang sama kakak” Sherina mengeratkan pelukannya, entah kenapa dengan posisi seperti ini bisa membuat Sherina tenang dan nyaman, begitu juga sebaliknya.
Erick menyuruh Sherina keluar dari ruang kerja nya dengan alasan ingin melanjutkan pekerjaannya. Sherina yang sudah paham akan kesibukan kakaknya segera pergi ke kamarnya. Kini hanya tinggal Erick yang masih duduk disana, menahan kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu diatas meja.
Jessica berlari kecil masuk kedalam bar, dimana ia mencari nafkah selama ini. Nyonya Sandra yang melihatnya, langsung menyambut dengan wajah gembira. Sepertinya Jessica memang sudah di tunggu-tunggu sedari tadi telihat dari layar ponselnya yang masih memampangkan nomor Jessica.
“Ah, akhirnya sang primadona sudah datang.” Sambutnya dengan wajah sumringah, Jessica yang merasa basi dengan kata-kata itu hanya memutar bola mata keatas. Sepertinya tidak ada waktu baginya untuk menanggapi pujian dari Nyonya Sandra.
“Kenapa memanggilku dengan terburu-buru ?” tanya Jessica meneguk minuman kaleng yang baru saja ia ambil dari kulkas.
“Ah, kau ini seperti tidak tahu saja bahwa pelangganmu sangat merindukanmu. Apalagi kau sudah cuti beberapa hari ini, mereka terus-terusan meneleponku mengenai kabarmu.” Ucapnya dengan nada khas.
Mereka yang menerrormu atau kau sendiri yang merasa pendapatanmu berkurang akhir-akhir ini ? Batin Jessica merasa muak. Bukannya ia tak berani bicara secara langsung kepada Nyonya Sandra, hanya saja itu akan membuang waktu. Apalagi hanya berdebat dengan wanita licik yang didepannya ini ? Sungguh, Jessica harus berpikir 10 kali.
__ADS_1
“Yasudah, sana ganti baju dulu didalam. Aku sudah membelikan mu pakaian-pakaian terbaru, itu sangat mahal jangan sampai kau merusaknya.” Pesan Nyonya Sandra dengan nada yang terdengar meremehkan di telinga Jessica.
Bilang saja ini dari lelaki-lelaki sialan itu. batin Jessica kesal. Ia sangat yakin baju-baju terbaru yang dimaksud oleh Nyonya Sandra merupakan hasil pemberian dari laki-laki yang sering menidurinya. Lalu Nyonya Sandra bilang ia sendiri yang membelinya ? Huh!! Entah sudah berapa kebohongan yang diciptakan wanita licik dan mata duitan itu. Namun walaupun seperti itu, Jessica masih merasa beruntung bisa mencukupi kebutuhannya dari Nyonya Sandra. Ya, meskipun pekerjaan yang ia lakukan ini sungguh-sungguh hina.
Jessica membelakangi pria yang baru saja ia layani, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak berbalut apapun. Namun pria itu sepertinya belum puas, ia menarik selimut itu dengan kasar, membalik tubuh Jessica agar menatap dirinya.
“Sudahlah Tuan Anton, aku sudah capek” ucap Jessica lemah.
“Iya sayang, tidurlah. Aku akan bermain sendirian” ucapnya dengan nada genit.
Jessica mendengus kesal, bagaimana bisa ia tidur jika pria itu terus-terusan meraba area sensitifnya ? Jessica pasrah, mau tak mau ia harus membuat lelaki paruh baya itu kelelahan, agar dirinya bisa tidur tenang. yang dilayani skhirnya tersenyum lebar melihat gerakan-gerakan yang dilakukan Jessica.
“Ya, terus sayang. Mmphhh” Ucapnya dengan mata terpejam.
“Ahhh, kau memang hebat. Pantas saja kau punya banyak langganan.” Pujinya sambil memeluk tubuh Jessica.
Sungguh menjijikkan. Batin Jessica
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa feedback nya sayang 😘