
Seminggu kemudian
Wisnu terlihat sangat bersemangat mengemasi barang-barangnya kedalam koper. Ia sudah tidak sabar ingin pulang secepatnya dan tentunya bertemu dengan orang yang berada dipikirannya setiap hari. Ia tersenyum menatap ruangan itu kosong kembali, artinya ia sudah bebas dari pekerjaan yang menurutnya sangat membosankan itu.
“Sudah saya masukkan semua pak.” Ucap seorang supir yang menemani hari Wisnu selama disana.
“Terimakasih” Balas Wisnu tersenyum tipis.
“Mari saya antarkan ke bandara pak.” Wisnu mengangguk dan segera masuk kedalam mobil. Sepanjang jalan, Wisnu tersenyum menatap pohon-pohon yang mereka lewati seakan berpamitan dengan perasaan bahagia dengan kota itu. Wisnu belum memberi tahu Jessica akan kepulangannya hari ini, karena ia ingin memberi suprise kepada wanita itu. ia bertekad hari ini akan mengutarakan perasaannya setelah sampai di Jakarta. Apapun hasilnya nanti, ia sudah siap menerimanya.
Karena ini hari sabtu, jalan agak sedikit renggang karena banyak perusahaan yang meliburkan pegawai di hari weekend. Sehingga perjalanan mereka ke bandara tidak membutuhkan waktu yang lama.
“Selamat tinggal Kalimantan, aku senang berada disini namun aku lebih menyukai Jakarta.” Lirihnya menatap kota itu dari jendela pesawat. Andai saja pujaan hatinya berada di sana. Ia pasti akan bilang kalau kota itu yang paling disukai. Memang dasar lelaki, jika separuh jiwanya tidak berada didekatnya maka apapun akan diusahakan agar bertemu secepat mungkin. Wisnu memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya selama melakukan perjalanan.
Membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di bandara soekarno hatta. Kini Wisnu menghirup udara panas kota itu dengan wajah sumringah. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat didepannya, yang tak lain merupakan supir pribadinya.
Wisnu memilih istirahat sebentar karena semalam ia tidak tidur karena melakukan perpisahan bersama rekan kerja disana. Tepat pukul lima sore, Wisnu bangun dan terkejut melihat ponselnya.
“Sial, kenapa aku bisa tidur selama ini ?” ia buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian pergi menaiki mobilnya yang berada di parkiran. Wisnu mengecek kembali ponselnya, mencari nama yang ia inginkan di daftar kontak nya.
“Sudah malam begini, dia pasti masih rebahan santai di tempat tidurnya.” Ucap Wisnu menatap nama yang terpampang di layar ponsel.
“Tidak diangkat ? apa dia benar-benar tidur ?” Wisnu pergi ke kolom chatnya dengan Jessica, ceklis satu.
“Apa baterainya habis lagi ?” Wisnu menggelengkan kepala mengingat pengakuan Jessica minggu lalu.
“Mbak Jessi sepertinya tidak ada mas, tadi sore dia pergi.” Ucap tetangganya yang merasa terganggu dengan bunyi ketukan Wisnu di pintu kosan Jessica.
“Dia pergi sama siapa mbak ?”
“Mana saya tahu, kenapa tidak di telpon saja ?” Wanita itu meninggalkan Wisnu yang masih bengong didepan pintu kosan Jessica. Wisnu yang mendengar respon wanita itu merasa kesal karena menurutnya sikap itu sangat tidak beradab.
__ADS_1
Tak mau berlama-lama, Wisnu segera meluncurkan mobilnya ke tempat dimana ia dan Jessica bertemu untuk pertama kalinya.
“Semoga saja aku salah” Ucapnya berharap Jessica tidak berada disana.
Wisnu mengelus dadanya ketika sudah sampai di depan pintu club, ia sangat berharap wanita yang dirindukannya tidak akan berada disana. Wisnu mencari sosok wanita yang menjadi penyalur dirinya bertemu dengan Jessica waktu itu.
“Ehh.. maaf...maaf..” Ucap seorang wanita yang tidak sengaja menabrak dirinya karena keasikan menari ria dengan segelas wine ditangan kanannya. Wisnu mendengus kesal karena merasa terganggu kemudian pergi ke belakang, dimana yang ia ketahui ruangan bos club itu berada disana.
“Selamat malam.” Sapa Wisnu tersenyum tipis, ia berdiri di depan pintu dengan tubuh tegap dan berwibawa.
“Iya selamat malam, mau booking ?” Tanya Nyonya Sandra dengan senyum khasnya.
“Ehem... Tid..”
“Masuklah, mari lihat saja daftar yang masih free Tuan.” Ajak Nyonya Sandra meletakkan sebuah binder yang berisi foto wanita-wanita penghibur di club itu.
“Ah iya, Terimakasih.” Wisnu tersenyum mengambil binder yang diberikan oleh Nyonya Sandra, ia membolak-balikkan buku itu mencari wanita yang ingin ia temui.
“Tentu saja”
“Emmm..itu... kemarin aku pernah singgah kesini juga dan menemui salah satu pegawaimu yang sering disebut...Primadona club ini ?” Wisnu pura-pura tidak mengenali Jessica agar lebih mudah mendapatkan informasi.
“Ohhh wanita itu ?” Nyonya Sandra terlihat berpikir, kemudian netranya menatap Wisnu kembali.
“Kau ingin tidur bersamanya malam ini ?”
“Iya, apa dia sedang berada di sini ?”
“Ohh... Wanit... sebentar.” Nyonya Sandra menahan ucapannya saat mendengar dering ponsel nya yang tak lain adalah Jessica.
“Hal..”
__ADS_1
“Ah sialan, kenapa langsung dimatikan ?” Omel Nyonya Sandra, tak lama kemudian muncul sebuah notif dari si penelpon barusan.
Tolong jangan bilang aku ada disini kepada lelaki itu.
Nyonya Sandra refleks menatap Wisnu yang menunggu jawaban atas pertanyaan nya.
Siapa lelaki ini ? kenapa Jessica melarangku memberi tahu keberadaannya ? apa mereka saling kenal ? apa lelaki ini datang untuk mencarinya ? tapi untuk apa? Batin nya bertanya-tanya.
“Bagaimana ?” Tanya Wisnu tak sabaran.
“Ehem... bagaiaman tadi ? wanita mana yang anda maksud ? aku sudah lupa kapan anda kesini.” Nyonya Sandra memilih aman saja.
“Emmm... wanita yang terkenal sebagai primadona disini... aku pernah tidur dengannya, bisakah kau memanggilnya kemari ?” Pinta Wisnu seperti lelaki lainnya yang sering memohon kepada Nyonya Sandra.
“Ohh.. dia. Ehem, dia sudah lama keluar dari sini. Jika kau mau aku bisa memberikan yang seperti dia.” Senyum Nyonya Sandra tidak membuat Wisnu curiga sedikitpun.
“Bagaimana ? mau ?” Tanya nya lagi.
“Sayang sekali, aku pikir dia masih ada disini. Yasudah aku kembali saja kesana, terimakasih atas informasimu.” Ucap Wisnu ramah kemudian pergi meninggalkan ruangan Nyonya Sandra.
Setelah kepergian Wisnu, Nyonya Sandra mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.
Dia sudah pergi.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa feedback nya sayang 😘