KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Berita Bahagia


__ADS_3

Dua minggu kemudian


Jessica dikejutkan dengan sebuah notifikasi dari emailnya, ia segera membuka pesan itu dengan perasaan deg-degan. Mata Jessica menatap lama layarnya, tangannya bergerak keatas kebawah, meneliti setiap kata yang diketikkan disana. Ujung bibirnya perlahan tertarik sehingga membuat wajah itu terlihat semakin cantik.


“Ya Tuhan, apakah ini benar-benar nyata ?” Jessica memeluk ponselnya dengan mata berbinar.


Tak lama kemudian, ia dikejutkan lagi dengan nada dering ponselnya. Melihat layar ponsel dengan pemanggil yang tidak diketahui siapa membuat Jessica ragu untuk menganggkatnya.


“Apakah ini dari perusahaan yang mengirim pesan dari email barusan ?” gumamnya tak melepaskan pandangan dari layar ponsel.


“Halo, selamat siang, dengan siapa ya ?” Tanya Jessica mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


“Selamat siang, dengan ibu Jessica ?” tanya seseorang dari ujung sana.


“Iya benar, saya sendiri.”


“Baik, terimakasih bu sudah menyempatkan waktunya mengangkat pannggilan ini. saya staff perusahaan dari DEZ GRUP ingin menginformasikan terkait dengan surat lamaran yang Anda kirimkan sebelumnya.”


Jessica dengan cermat mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh staff itu. Mata binar nya mengatakan bahwa ia sangat bahagia sekarang, akhirnya perjuangannya selama diperkuliahan bisa ia gunakan untuk menghidupi dirinya.


“Ahh, Terimakasih Tuhan.” Jessica menenggelamkan wajah ke bantalnya setelah sambungan itu berakhir.


“Jangan senang dulu Jessica, kau masih melangkahkan kaki pertama. Besok masih ada wawancara.” Ucapnya menetralkan perasaan bahagianya.


Jessica memutuskan pergi ke tempat dimana ia biasanya menghabiskan waktu bersama orang-orang yang menurutnya munafik, kotor dan hina. Ia menghembuskan nafas kasar saat melihat Nyonya Sandra tengah sibuk berdiskusi dengan beberapa pejabat kaya raya. Sudah pasti mereka sedang berdiskusi mengatur jadwal agar bisa mengambil slot untuk menikmati tubuh sang primadona club itu.


“Ah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang” suara itu mengejutkan Jessica yang tengah menikamati pemandangan yang menurutnya memuakkan itu. Ia menoleh sekilas pada suara yang mengejutkannya, kemudian membuang pandangannya kearah lain.

__ADS_1


“Aku lihat, makin lama kau semakin laris saja.” Ucap lelaki itu menggoyangkan gelas yang berisi wine.


Jessica tak mengindahkan ucapan itu, ia malah pergi kesalah satu kursi kosong. Lelaki itu mengikutinya dan duduk tepat hadapannya.


“Ternyata seperti ini kalau sudah menjadi papan atas, sangat tidak ramah bintang kecil.” Ucapnya terkekeh.


“Kau memilih diam atau kehilangan mulutmu ?” Ucap Jessica dingin, menunjukkan sikap tidak suka nya pada lelaki itu.


“Hahaha, sekali-kali traktir kek.”


“Diam Romi!! Lebih baik kau pergi dari hadapanku, aku muak melihat wajahmu.” Lagi-lagi ucapan menyakitkan itu tak membuat sang lelaki peduli.


Hening. Keduanya tenggelam dipikiran masing-masing.


“Apa kau tak bosan hidup seperti ini ?” Romi lagi-lagi membuat topik pembicaraan.


“Haha, aku selalu mengeluh dengan pekerjaanku. Memaki-maki tempat hina ini padahal aku bisa bertahan hidup dari sini. Ibaratnya ini adalah sumur saat aku kehausan.” Romi menarik nafas panjang, Jessica yang sedari tadi muak dengannya hanya diam mendengarkan pria itu. Ada benarnya juga, Jessica sama sekali tak bahagia dengan kehidupan yang ia jalani, sungguh memuakkan.


“Aku selalu kepikiran, kapan aku bisa berhenti bekerja seperti ini. Ya, memang semua pekerjaan itu melelahkan, bekerja keras itu sangat sulit, tapi aku selalu berpikir kenapa harus berada dipekerjaan yang kotor ini ?” Menatap Jessica sekilas, namun tak ada yang berubah dari raut wajah wanita itu.


“Jessi, kau ada rencana berhenti ?” Tanya Romi tiba-tiba.


“Bukan urusanmu.” Jawabnya dingin


“Hmmmm. Aku tahu baru-baru ini kau melaku-“


“Jessi ?” Ucapan Romi berhenti seketika saat mendengar suara Nyonya Sandra memanggil Jessica,

__ADS_1


“Ahh, kenapa kau tak menemuiku saat sampai disini ? malah berduaan dengan lelaki ini” Ucap Nyonya Sandra melirik Romi yang sedang menghirup asap rokoknya.


“Ada apa ?” tanya Jessica


“Ah, kau masih saja bertanya. Sana kebelakang, tadi mereka berdebat agar bisa mengambil mu duluan. Namun aku memutar otak mencari cara agar bisa mendapat pemasukan tinggi, dengan menambah harga kepada orang yang akan memilikimu hari ini. Untung saja aku pintar, jadi mereka terus-terusan berdebat tentang harga tertinggi, kau seperti barang lelangan sayang. Hahaha” Suara Nyonya Sandra membuat dua orang didekatnya itu saling berpandangan.


“Aku kebelakang dulu.” Ucap Jessica seraya bangkit dari duduknya. Nyonya Sandra mengangguk dan mendudukkan dirinya di kursi yang ditempati Jessica sebelumnya.


“Nyonya Sandra, kau sungguh keterlaluan bicara seperti itu. Memangnya Jessica barang lelang ?” protes Romi tak suka.


“Heuhhh, lihatlah. Apakah kau sedang marah padaku gara-gara dia ?” Nyonya Sandra menyalakan rokoknya.


Dasar mata duitan. Kau selalu memperlakukannya seperti sesuatu yang sangat hina. Batin Romi jijik melihat sikap Nonya Sandra.


Jessica masuk kedalam kamar mandi, ingin mengganti pakaian yang sudah disediakan Nyonya Sandra. Ia menatap dirinya dicermin, meneliti setiap inci wajahnya. Matanya berbinar, hatinya berteriak ingin mencakar-cakar mulut Nyonya Sandra yang selalu merendahkan dirinya secara tidak langsung.


Untuk apa aku kesal ? Bukankah aku memang seperti itu ? haha, Jessica....Jessica...tak usah mengasihani dirimu sendiri, kau memang layak diinjak-injak seperti itu, kau murahan, sampah. Batin Jessica memaki dirinya sendiri.


.


.


.


.


Jangan lupa feedback nya sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2