KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Alasan


__ADS_3

Jessica terbangun dari tidurnya, ia melirik kesamping namun tidak ada Erick disana. Jessica mengecek ponselnya yang sebelumnya ia letakkan diatas nakas ada banyak pesan disana entah dari siapa saja ia juga tidak ingin tahu. 


Astaga, sudah jam sepuluh pagi ? mati aku.


Jessica membuka selimut yang menutupi tubuhnya, beranjak dari ranjang dengan terburu-buru. Namun baru selangkah, ia merasa tubuhnya sangat aneh. 


“Hah ? Oh My God ” Pekik Jessica melihat tubuhnya yang tidak menggunakan pakaian yang ia pakai semalam. Ia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, mengingat-ngat apa yang terjadi semalam.


“Akh. sial, kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku ?” Jessica memaki dirinya sendiri saat mengingat malam itu ia sangat agresif untuk bermain dengan Erick. Niat hanya merawat lelaki itu malah membawanya mempermalukan diri sendiri. Setelah menggunakan pakaian, Jessica kembali mengecek ponselnya. Terlihat pesan dan telepon dari Wisnu yang menanyakan dimana dirinya, apa yang sedang terjadi sehingga tidak masuk kantor hari ini. Jessica juga melihat pesan dari rekan-rekan nya yang juga menanyakan hal yang sama seperti Wisnu. Namun yang membuatnya bingung ia tidak melihat ada notif dari Erick, padahal ia berada disini karena merawat lelaki itu semalaman sehingga membuatnya tidak pergi bekerja hari ini.


“Sialan, bisa-bisanya dia meninggalkan ku disini ?” Dengus Jessica kesal.


“Ah, apa aku tanya saja kepada Bora apa dia melihat presdir hari ini ?” 


“Ah, tidak mungkin. Bisa-bisa dia curiga kenapa aku menanyakan itu.” Gumamnya menjawab pertanyannya sendiri.


“Huh. Setiap hari ada saja yang membuatku semakin terlihat buruk.” 


Keesokan harinya, Jessica pergi ke kantor pagi-pagi sekali bahkan bisa dikatakan dirinya adalah karyawan yang paling cepat tiba disana hari ini. Jessica menarik nafas lega sambil duduk di kursinya, ia menatap komputer yang ada didepannya. Memikirkan bagaimana ia menjawab pertanyaan yang akan keluar dari mulut rekan-rekannya dan tentunya dari Wisnu.


“Huh, aku pasti bisa melewati ini. Bukankah kemarin-kemarin juga lebih sulit.” Gumamnya menenangkan diri.


“Jessica ?” Suara lelaki yang baru saja memasuki ruangan itu membuatnya menoleh seketika.


Sialan, dari banyaknya staff keuangan ini kenapa yang pertama muncul dia ? 


“Jessi, tumben pagi sekali ?” Tanya Wisnu mendekati meja wanita itu.


“Mmmm, tidak apa-apa pak Wisnu. Ini hanya keinginan saya saja.” Ucapnya tersenyum tipis. Wisnu menganggukkan kepala, lalu menarik asal kursi yang ada disana.


“Kemarin kenapa tidak masuk ?”


“Emm.. itu. saya tidak masuk karena sedang pusing pak.”

__ADS_1


“Benarkah ? kau sangat pusing ya sampai tidak ingat ijin untuk tidak masuk ?”


“Maafkan saya pak, saya sungguh menyesal melakukan itu.” 


“Ya penyesalanmu tak akan mengubah ketidakhadiranmu kemarin.”


Ya Tuhan, aku harus menjawab apa sekarang ?


“Jessica, aku tidak masalah kau datang atau tidak. Tapi setidaknya kau harus memberi alasan yang jelas jika tidak bisa datang hari ini, kau tahu kan bekerja disini adalah impian semua orang ? kenapa kau bisa bersikap seenaknya saja seperti ini ? apa kau pikir ini perusahaanmu sendiri ? jangan karena aku peduli padamu, kau malah seenaknya saja. Kau hanya karyawan biasa yang harus memenuhi keinginan ditempatmu bekerja.” Jelas Wisnu dengan nada tegas, ia sama sekali tidak menunjukkan emosinya pada wanita itu.


“Maafkan saya pak, saya akan menerima segala konsekuensi dari perbuatan saya bahkan jika gaji saya dipotong juga tidak apa-apa asalkan saya masih bisa bekerja disini.” Ucap Jessica menundukkan kepala. Baru kali ini wanita itu memohon meminta belas kasihan dari Wisnu.


“Hahaha.. aku juga tidak setega itu, beruntunglah karena kemarin aku masih berbaik hati padamu.” Wisnu yang tidak tega melihat wanita itu langsung pergi keruangannya. 


“Sialan, meskipun aku sudah menyusun kata-kata semalaman tapi tetap saja tidak bisa marah padanya. Apa ini kasihan ? Tidak, aku sama sekali tidak merasa seperti itu. menyukainya ? Akh, yang benar saja.”


Wisnu memijit kedua ujung pelipisnya.


“Haha, padahal jam sembilan aku pergi ke kosannya tidak menemukan siapa-siapa. Apa dia masuk rumah sakit ? Tidak mungkin, aku yakin kalau dia sedang berbohong.” Gumamnya berperang dengan isi kepalanya.


Sepulang bekerja, Jessica menunggu ojek online seperti biasanya. Baru saja ingin memesan, ia terkejut melihat Erick muncul keluar dari lift. Sangkin terkejutnya ia bahkan tidak mampu melangkahkan kaki untuk menghindari lelaki itu, Jessica melihat wajah Wisnu seperti habis marah. Sangat mengerikan seperti yang pernah ia lihat saat di apartemennya.


Astaga, kenapa kaki ku sangat sulit untuk melangkah ? 


Semakin dekat, matanya dan mata Erick saling berpandangan. Mata lelaki itu terlihat menunjukkan api kemarahan namun tidak tahu untuk siapa. Mulut Jessica juga sangat sulit untuk digerakkan karena gugup melihat lelaki itu. Entah mengapa dirinya segugup ini ia juga tidak paham.


Erick melewatinya begitu saja seperti tidak pernah saling kenal sebelumnya, Jessica yang membuang nafas lega melihat mobil Erick meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian ia melihat sosok wanita yang sudah lama tak terlihat, Jessica bergegas mencari tempat bersembunyi, menghindari wanita itu.


Kenapa dia kesini sore-sore begini ? apa wajah presdir terlihat marah seperti itu karena dia ? Akh, aku ingin sekali bertanya tapi tidak mungkin sekarang. Batin Jessica mengintip langkah kaki Sherina yang terlihat terburu-buru.


“Jessi ?” 


“Haahh. Astaga, pak Wisnu kau mengagetkanku.” Ucap Jessica memegang dadanya.

__ADS_1


“Sedang apa disini ? kenapa harus mengintip-mengintip seperti itu ?” Tanya Wisnu menoleh kearah resepsionis yang sedang berbicara dengan seorang wanita.


“Ah, tidak apa-apa pak.” Jessica mengubah posisi menjadi tegak agar tidak terlihat terlalu gugup.


“Bapak sendiri sedang apa disini ?” Tanya Jessica mengalihkan pandangan lelaki itu.


“Aku mau pulang, mau bareng ?” Tanya Wisnu menawarkan.


Sudah tahu pasti bakalan ditolak kenapa masih saja mengajaknya Wisnu ? apa kau bodoh. Batinnya memaki dirinya yang sering kali tidak ke kontrol.


“Emm, boleh pak ?” 


“Haaa? Tentu saja, aku menawarkanmu.” Balas Wisnu tersenyum tipis. Ia tidak boleh menunjukkan rasa senangnya karena wanita itu mau pulang bersama tanpa di paksa atau diberi alasan yang tidak jelas. Keduanya pun masuk kedalam mobil Wisnu.


“Pak, saya mau..”


“Minta maaf lagi ?” Tanya Wisnu tetap fokus pada kemudinya. Mendengar itu Jessica langsung menunduk dan diam seribu bahasa karena tidak tahu topik yang harus dibahas dengan Wisnu. tak mendengar ucapannya direspon, Wisnu melirik kesamping melihat wanita itu sedang menunduk.


“Tidak perlu canggung seperti itu, tadi aku hanya ingin menasehatimu seperti seorang atasan. Jadi wajar-wajar saja kan aku seperti itu, lagian kau juga tidak memberi alasan yang jelas.”


“Tapi kemarin saya benar-benar pusing pak hingga akhirnya kesiangan.” Ucap Jessica membela diri.


Ya terserahmu, besok-besok entah kebohongan apalagi yang akan kudengar dari mulutmu. Batin Wisnu menahan emosi.


.


.


.


.


Jangan lupa feedback nya sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2