KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Apartemen


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, saatnya rutinitas dalam kantor Dez grup di hentikan. Beberapa karyawan sudah mulai membereskan mejanya untuk segera pulang, ada juga yang masih berkutik dengan komputer didepannya mengabaikan waktu pulang sudah tiba, ada juga yang mengambil kesempatan bercanda dengan rekan-rekannya. Jessica dengan cepat membereskan mejanya dan langsung turun untuk memesan taxi, namun sayangnya saat sampai dibawah ia terjebak hujan deras. Entah mengapa hujan itu tidak menunggu dirinya sampai di rumah, pikirnya. Mau tidak mau ia harus menunggu hujan itu reda sambil menatap beberapa karyawan lain yang pulang dengan mobil masing-masing.


“Hei, kenapa disini ?” Tanya Wisnu yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Hujan” Balas Jessica singkat.


“Hmmm.... mungkin ini akan lama, mau pulang denganku ?” Tawar Wisnu merasa ini kesempatan untuk bisa berbicara dengan wanita itu.


“Tidak perlu, sebentar lagi juga reda”


“Ehem, aku sudah cek dari web hujan akan reda dua jam lagi” Ucap Wisnu memasukkan ponsel kedalam sakunya.


“Aku akan menung...”


“Selamat sore Tuan” Suara beberapa karyawan yang juga sedang menunggu disana membuat Jessica menahan kalimatnya dan  ikut menoleh kebelakang. Ia terkejut melihat presdir sedang berjalan kearah mereka beserta dengan asisten yang mengikutinya dari belakang.


Sialan, kenapa harus bertemu dia ? Batin Jessica dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“Selamat sore Tuan” Sapa Wisnu sambil membungkuk setengah badan. Yang disapa bukannya merespon dengan baik, malah menatap tajam kearah Jessica. Matanya seakan memberitahu wanita itu untuk menyingkir dari sana, Jessica yang paham langsung memundurkan badan memberi celah agar sang presdir dapat berjalan kearah pintu.


“Temui aku satu jam lagi” Bisik Erick kepada Jessica namun Wisnu masih bisa menangkap pembicaraan itu dari gerakan mulut Erick.


“Ba-baik Tuan” Balas Jessica gugup.


Setelah kepergian Erick, Jessica terlihat murung yang membuat rasa penasaran Wisnu semakin tinggi. Ingin sekali bertanya kepada wanita itu, memeluknya agar tidak perlu khawatir namun ia mengurungkan niatnya mengingat hubungannya dengan Jessica bukanlah hal yang terlalu spesial. 

__ADS_1


Kenapa susah sekali menahan diri ? aku sangat ingin memeluknya. Batin Wisnu menatap Jessica yang berdiri di seberangnya. 


“Jessi kau baik-baik saja ?” Tanya Wisnu mendekati wanita itu.


“Ayo ku antar pulang, wajahmu juga sangat pucat. Kau sakit ?” Wisnu menatap wajah pucat wanita itu.


“Tolong hentikan sikapmu ini padaku, kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Jadi jangan sok dekat denganku.” Usai berkata seperti itu Jessica keluar, ternyata taxi yang ia pesan sudah sampai. Wisnu yang ditinggalkan hanya bisa menatapnya menjauh dari kantor.


Aku bilang juga apa, apakah saatnya untuk menyerah ? Wisnu membuang nafas panjang merasa apapun yang ia lakukan tidak berguna seolah-olah ia seperti lelaki yang menyedihkan.


Jessica sampai disebuah apartment yang tidak terlalu besar namun masih terlihat mewah. Ia menapaki anak tangga, sengaja tidak menggunakan lift agar waktunya bisa lebih lama lagi. Ia mengingat dirinya dulu, dimana tidak ada masalah apapun. Bekerja dan kuliah setiap hari walaupun melelahkan setidaknya tidak ada yang terus-terusan menghantui pikirannya setiap hari. 


Kini Jessica sudah sampai didepan pintu, ia menatap lama pintu itu berpikir ia harus masuk atau kabur saja. Jessica menarik nafas panjang kemudian mengangkat tangannya menekan bel apartemen itu. Menunggu sang empunya membukanya, tiba-tiba ponsel nya berdering. Jessica mengernyitkan dahinya melihat si pemanggil memakai nomor baru.


“Halo” ucap Jessica mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


TUT


Rasanya ingin menangis setiap Jessica mendengar suara orang yang baru saja menelponnya, namun sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menangis sedih. Ia hanya ingin menyelesaikan tugasnya dengan cepat agar bisa pulang ke kosan. Jessica mengingat-ingat password apartemen itu, untuk ketiga kalinya akhirnya pintu itu terbuka memperlihatkan isi ruangan itu.


“Telat 36 detik” Ucap seseorang dari balik sofa, Jessica langsung menoleh dan mendekat kearah sofa itu.


“Maafkan saya Tuan” meminta maaf adalah solusi dari segalanya karena walaupun Jessica memberi penjelasan lelaki itu pasti tidak menerima alasan apapun.


“Berani-beraninya kau” Terdengar sangat mengerikan ditelinga Jessica apalagi lelaki itu tiba-tiba terkekeh sehingga membuat bulu-bulu halus nya naik.

__ADS_1


“Tuangkan aku satu gelas” Jessica langsung berjalan tergesa menuangkan botol yang berisi wine kedalam gelas kaca dan menyerahkan nya kepada sang Tuan. Sangat menyedihkan menjadi babu orang lain, namun apa boleh buat ia tak punya kuasa apapun untuk melawannya.


“Duduk” Ucapnya lagi sambil menyerahkan gelas kosong kepada wanita itu, padahal tempat untuk meletakkan gelas itu ada dihadapannya jika ia mau bergerak sedikit saja dari sandarannya. Jessica menerimanya dan meletakkan gelas itu di atas meja dengan hati-hati kemudian duduk di samping lelaki itu.


PLAK


Terdengar suara tamparan di pipi Jessica , rasanya sangat sakit namun ia menahannya agar tidak mengundang emosi lelaki itu. Jessica mengusap rambutnya kebelakang, tidak ada komentar sama sekali bahkan pipi merahnya ia biarkan begitu saja.


PLAK


Lagi-lagi tangan lelaki itu melayang ke pipinya, Jessica menahan emosinya dan tidak berkutik dari duduknya bahkan rambutnya yang tergerai sedikit ke pipi ia biarkan.


Ya Tuhan tolong sadarkan lelaki ini. Batinnya menahan tangis.


“Buka bajumu”


 


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2