
Semenjak Sherina tahu bahwa Jessica lebih tua setahun dari dirinya, ia semakin dekat dengan wanita itu. Jessica juga tak masalah dengan Sherina yang banyak bicara dan tertawa. Kadang sikap Jessi yang tak acuh membuat Sherina semakin ingin lebih mengenal Jessica lebih dalam. Tapi bagaimana dengan Jessica ? Entahlah, dia juga saat ini bingung bagaimana harus menyikapi sikap Sherina yang sudah menganggapnya saudara.
“Oh iya, habis kelas main yuk. Kemarin aku lihat didekat sini ada kafe baru, katanya makanannya enak-enak dan suasananya juga bagus banget.” Ajak Sherina saat mereka berdua di kantin kampus. Jessica yang sedang membaca buku, mengalihkan padangannya sebentar lalu kembali menatap bukunya.
“Boleh, tapi aku hanya bisa sebentar.” Jawab Jessica
“Serius ? okayy, nanti ku tunggu di mobil ya.” Balas Sherina bersemangat. Jessica mengangguk dengan wajah yang tak menggambarkan ekspresi apapun.
Semakin lama, bahasa nya semakin tidak formal padaku. Batin Jessica sambil melirik gadis yang tengah tersenyum ria di depannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Jessica yang tengah asik ngobrol dengan Sherina akhirnya pamit pulang. Ia tiba-tiba teringat ada job malam ini, ya meskipun dia akan datang ke bar agak malam tetapi Jessica ingin istirahat terlebih dahulu di kosannya.
“Yahhh, padahal masih jam 7.” Sherina seperti tidak rela melepas Jessica.
“Masih banyak hari-hari, kenapa kau merengek seperti anak bayi hanya karena aku pulang.” Omel Jessica sambil membereskan barang-barangnnya.
Sherina hanya mengerucutkan bibirnya tanda tidak setuju, karena ia sangat yakin Jessica sangat susah diajak pergi seperti ini.
“Cepat telpon supirmu, aku ingin segera pergi.” Ucap Jessica
“Aku bawa mobil kalau kamu lupa.” Lagi-lagi Sherina kesal Jessica melupakan hal itu karena tadi mereka naik mobilnya pergi ke tempat itu.
“Ohhh iya, aku lupa”Cengir Jessica.
“Yasudah, selamat malam. Aku pergi duluan, hati-hati nanti kalau pulang jangan kemaleman. Kalau bisa suruh jemput supirmu saja.” Ucap Jessica beranjak dari duduknya. Sherina hanya menatap gadis yang didepannya itu pergi meninggalkannya.
Dasar aneh, bisa-bisa nya dia mengomeliku seperti itu.
Batin Sherina merasa kesal namun, belum beberapa detik wajah nya langsung ceria kembali karena jika Jessica cerewet berarti dia sudah menyukai gadis itu hadir di dalam hidupnya.
Sherina memutuskan untuk pulang karena ponselnya sudah berdering sedari tadi, Sherina yakin itu adalah panggilan telpon dari kakak lelakinya.
Pasti dia seperti harimau sekarang.
Batin Sherina menyalakan mesin mobilnya.
Sherina berjalan memasuki rumah megah itu dengan wajah ceria sehingga membuat Erick sang kakak merasa bingung. Tidak biasanya wanita yang sangat disayangi nya itu pulang dengan wajah penuh kebahagian seperti yang sedang ia tatap ini.
“Kakak sudah lama ?” tanya Sherina sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang erick, lelaki itu membalas pelukannya lebih erat.
“Tumben pulangnya lama ? lagi banyak tugaskah ?” tanya erick sambil mengacak-acak rambut wanita di depannya itu.
“Ihhh kakakkkk” Sherina mengerucutkan bibir mungilnya mendengar pertanyaan sang kakak.
“Kan tadi Sherina sudah ijin mau main ke kafe sama teman.” Ucap Sherina sebal, merasa sang kakak melupakan kegiatannya di luar sana.
“Hahahaa, jangan cemberut seperti itu. Kamu udah jelak malah tambah jelek dengan wajah seperti itu.” Erick mencubit pipi Sherina.
“Terserah” Sherina menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Tadi mainnya seru ya ?” Erick duduk disebelah Sherina. Mencoba membujuk si adik agar menyudahi rasa kesal nya.
“Hmmmm”
“Oh iya, kakak belum pernah mendengar kau punya teman dekat. Tadi beneran mainnya sama teman ?” Erick memicingkan matanya, curiga dengan pengakuan si adik.
“Ihhh, apaan sih. Tadi itu Sherina emang sama teman. Eh.. bukan teman sih.” Ucapnya ragu.
“Terus ? Pa...”
“Ini cewek kakak ku sayang.” Sherina buru-buru memotong ucapan Erick yang mengarah ke hal yang tidak ingin didengarnya.
“Hmmm... Terus kok kamu bilangnya bukan teman ?”
“Jadi dia itu setahun lebih mudah dari aku, tapi aku sering liat dia sendirian kemana-mana. Nah, aku pikir kan dia dikucilin gitu, terus aku deketin. Eh ternyata galak bener kak.”
Ucap Sherina dengan antusias. Erick mendengarkan ucapan adiknya itu dengan seksama, mencerna setiap kata yang dia lontarkan.
__ADS_1
“Masa aku minta teman sama dia susah bener, kan Cuma mau kenalan doang. Terus nih ya, sebenarnya adek udah deketin dia selama dua bulanan deh kalo gak salah. Baru deket banget akhir-akhir ini, itupun kaya sewajarnya aja yang mau diomongin. Kayanya adek lagi pdkt sama cewek deh.” Ucap Sherina mulai ngelantur. Erick terkekeh mendengar ucapan Sherina.
“Emang kamu sukanya sama cewek ? kaya nggak tertarik sama cowok gitu ?” Tanya Erick menjahili adiknya.
“Ih, kakak lama-lama jadi nyebelin deh.” Sherina memukul pelan lengan kakaknya.
Setelah beberapa minggu pergi ke kafe, Jessica dan Sherina lebih sering menghabiskan waktu bersama. Entah apa yang membuat wanita dingin dan keras kepala itu tiba-tiba merasa nyaman pergi dengan Sherina.
“Ciee yang mau sidang.” Jessica yang sedang melamun di koridor kampus, tiba-tiba terkejut karena sesorang memukul lengannya.
“Ngelamun aja, mikirin apa sih ?” Tanya Sherina berdiri di samping wanita itu.
“Sidang besok” jawabnya singkat.
“Biar nggak deg-deg kan gimana kalau kita main bentar ?” Sherina menyenggol siku wanita itu sambil menatapnya dengan tatapan nakal.
“Apaan” Jessica membuang wajahnya kearah lain, merasa tawaran Sherina tidak jelas.
“Ehhh, jangan salah. Sekali-kali jangan terlalu dibawa serius ahh. Aku yakin kau pasti bisa melewatinya besok. Bukankah kau seorang wanita yang serba bisa ?” Sherina tersenyum bangga.
“Bisa-bisanya kau bicara seperti itu padaku.” Jessica menatap tajam kearah Sherina sehingga membuat wanita itu merasa ada yang salah dengan kata-katanya.
Aduh. Apa aku salah bicara lagi ?
“Ayo bantu aku latihan presentasi. Lalu nanti kau memberikan pertanyaan dan penilaian, biar aku ada gambaran untuk besok.” Ucap Jessica merangkul Sherin. yang dirangkul kebingungan dengan sikap Jessica tiba-tiba berubah seperti itu.
“Baik, sekian yang dapat saya sampaikan. Selanjutnya saya kembalikan lagi kepada moderator.”
“Yeeee.... Mantull... cakep abis.. nggak ada tandingannya.” Sherina mengangkat kedua jempolnya sambil tersenyum puas.
“Bagaimana ?” Jessica khawatir akan presentasi yang dia lakukan.
“Singkat Jelas Padat.” Lagi-lagi senyum itu mengembang diwajah Sherina.
“Ahhh, yang bener ?” Jessica seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sherina.
Keesokan harinya, Jessica melakukan sidang skripsi. Tahap yang akan menghantarkannya untuk menuju wisuda. Kebanyakan hidup dan mati mahasiswa berada di skripsi, jadi wajar saja Jessica merasa deg-deg kan saat ini. Jessica kini sudah berada di ruangan yang sama dengan dosen pembimbing dan penguji. Ia menekan-nekan jari jempol untuk mengurangi rasa gugupnya saat ini, kemudian dengan satu helaan nafas, Jessica melontarkan kata-kata pembuka penuh percaya diri.
“Yee selamat” Kata-kata yang pertama didengar Jessica saat keluar dari ruangan.
“Bagaimana hasilnya ? lancar kan ?” Tanya Sherina tersenyum penuh keyakinan bahwa wanita yang baru saja keluar itu dapat menyelesaikan sidang skripsinya dengan baik.
Jessica menatap wanita yang berada di depannya itu dengan tatapan sendu, tiba-tiba tangannya memeluk Sherina, menenggelamkan wajahnya di bahu adik tingkatnya.
“Gapapa nangis aja” Sherina mengelus-elus bahu Jessica dengan penuh perasaan. Layaknya seorang sahabat yang menenangkan di kala sedang hancur-hancurnya.
Setelah menyelesaikan tangisnya, Sherina mengajak Jessica merapikan kembali barang-barangnya yang masih ada diruangan. Mata Sherina tak henti-hentinya melirik Jessica yang sedang merapikan buku-bukunya.
“Makan yuk, biar aku yang traktir.” Ucap Sherina berusaha mencairkan suasanya yang tegang itu. ia merasa bersyukur meninggalkan buket bunga yang sudah ia beli di mobil. Karena jika ia membawanya, pasti suasana semakin canggung.
“Kenapa kau yang traktir ? biar aku saja, ini hari bahagia ku.” Ucap Jessica tersenyum tipis.
“Jadi ???” Mata Sherina berbinar-binar, feeling nya benar bahwa Jessica pasti lulus.
“Iya, tadi aku terharu karna pertanyaanmu kemarin masuk semua, makanya aku menangis. Maaf.” Jessica malu
“Yeee, apa kataku, kau pasti lulus. Ahhhh” Sherina bangkit memeluk erat Jessica yang sedang menenteng laptopnya.
“Ayo, aku ada hadiah di mobil.” Dengan penuh semangat, Sherina menarik tangan Jessica keluar dari ruangan itu.
Kedua wanita itu kini menuju bar yang sering didatangi oleh Sherina. Biasanya Sherina akan menghabiskan waktunya kala sedang stress memikirkan kejamnya dunia. Sherina memesan bir untuk mereka berdua dan berbagai makanan untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak terlalu lapar.
“Kau sering kesini ?” tanya Jessica sambil menyantap makanannya.
“Kalau sedang stress saja.” Balas Sherina dibarengi anggukan kepala. Jessica mengangguk paham, walaupun ia tahu Sherina anak dari orang kaya yang memiliki segalanya ia yakin setiap manusia punya masalah masing-masing.
“Ohyaa, ngomong-ngomong terimakasih sudah membantuku kemarin dan terimakasih juga untuk buketnya” Ucap Jessica merasa bersyukur.
__ADS_1
“Ahh, sama-sama. Bagaimana, aku pintar kan ?” Sherina mulai membanggakan dirinya di depan orang yang membuatnya penasaran selama ini.
“Hmmmm...”
“Aku perhatikan, kau selalu sendiri. Apa kau tidak punya teman lain seangkatan mu ?” tanya Jessica mulai penasaran dengan adik tingkat yang terus-terusan mengikutinya kemanapun ia pergi.
“Emmmm.... aku malas dengan mereka, muak dengan pameran barang-barang mewah yang mereka miliki. Aku tidak terlalu tertarik dengan pertemanan seperti itu.” balas Sherina jujur.
“Sekali-kali bergabunglah dengan mereka. Kau tidak boleh hidup tanpa seorang sahabat yang akan selalu ada untukmu.” Saran Jessica.
“Aku tak membutuhkannya.” Jawab Sherina cepat, sehingga membuat Jessica terpaku menatap gadis itu.
“Jika aku bisa sendiri, kenapa harus melibatkan mereka ?” Sherina mengedipkan matanya.
Ahhh, anak ini membuatku penasaran. Aku suka cara berpikirnya. Batin Jessica tersenyum tipis.
Kini mereka menghabiskan 4 botol bir dan anehnya tidak ada yang mabuk diantara keduanya. Sepertinya mereke berdua sama-sama memiliki toleransi alkohol yang tinggi.
“Ohiya, setelah lama mengenalmu rasanya aku belum tahu apa-apa tentangmu.” Sherina memulai topik baru.
“Yaaaa... aku memang sudah berjanji tidak akan mencari tahu apapun tentangmu. Tapi, aneh rasanya jika aku tak tahu tempat tinggalmu.” Ucapnya lagi
“Untuk apa ? aku tak akan mengijinkanmu datang .” balas Jessica datar.
“Yayaaa.. aku memang sudah tahu kau pasti akan berbicara seperti itu.” Sherina pasrah.
Mereka memutuskan untuk pulang karena sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sherina sudah menawarkan untuk mengantar Jessica pulang, namun wanita itu tetap pada pendiriannya. Cukup naik ojek online saja. Dengan berat hati Sherina meninggalkan wanita itu sendirian menunggu ojek.
“Dasar bocah.” Gumam Jessica menatap mobil yang perlahan meninggalkannya itu.
Tiba-tiba ponsel Jessica berbunyi, ia sedikit bingung kenapa ada orang yang menelponnya padahal ia sudah meminta cuti kepada Nyonya sandra untuk tidak bekerja. Jessica memutar bola matanya saat melihat siapa yang menelponnya.
“Halo, sudah habis ?” tanya Jessica tanpa basa-basi.
“Hehehe, tahu aja. Kapan kau akan meng...”
“Sudah masuk, silahkan cek saja.” Ucap Jessica langsung memutuskan sambungan itu.
“Huh. Bagaimana bisa dia menghabiskan uang sebanyak itu dalam waktu sekejap ?” Jessica mendumel kesal.
Bunyi ponselnya lagi-lagi membuat Jessica hilang kesabaran. Ia mengambil handuk dibalik pintu dan berjalan menuju kasur, dimana ia meletakkan ponselnya.
“Ada apa ? kenapa menelepon malam-malam beg....”
“Apa kau Jessica ? teman Sherina ?” Suara lelaki itu membuat Jessica membulatkan matanya, melihat kembali nama penelpon itu.
“Tidak ada apa-apa, saya kakak nya Sherina.” Sambungnya lagi.
“Kalau ada waktu silahkan datang makan malam ke rumah saya dengan Sherina.” Ucap lelaki itu formal.
“Ak..”
“Oke, saya tunggu kedatangan mu”
Tut..tut...tut..
“Ahh, ****.” Jessica melemparkan ponselnya diatas kasur, ia merasa kesal kenapa harus terlibat dengan keluarga adik tingkat nya itu.
.
.
.
.
Halooo jangan lupa feedbacknya ya shayyy
__ADS_1
Terimakasih 🙏