
Jessica kini tengah berdiri didepan bandara dengan sebuah koper berukuran sedang ditangan kirinya, beberapa menit yang lalu taxi yang mengantarnya ketempat itu sudah pergi meninggalkannya disana. Jessica mulai melangkahkan kakinya memasuki bandara untuk melakukan check-in terlebih dahulu, ia sengaja lebih cepat ke bandara agar bisa menikmati waktunya. Setelah melakukan check-in, Jessica menatap kearah luar dengan mata sendu. Sebentar lagi ia tak akan lagi merasakan makanan di kota itu, tidak ada lagi drama-drama nya dengan Nyonya Sandra, Erick dan Wisnu, tidak ada lagi pertemuannya dengan Sherina secara diam-diam, sebentar lagi ia akan benar-benar meninggalkan negara ini. Jessica menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, kemudian berjalan kearah area boarding mencari tempat duduk selagi menunggu keberangkatan nya sebentar lagi.
Ia kembali melihat ponselnya yang sudah sunyi akhir-akhir ini, biasanya ada Nyonya Sandra yang setiap saat menanyakan keberadaanya, Wisnu yang selalu mengirimkan pesan tak penting namun dapat membuatnya senyum-senyum sendiri. Jessica tersenyum tipis, ia simpan kembali ponselnya kedalam saku kemudian mengeratkan jaket zipper kulit berwarna hitam itu ditubuh mungilnya.
Satu jam kemudian, Jessica mendengar nomor pesawat ketempat tujuannya sudah dipanggil untuk segera naik ke pesawat. Jessica segera antri bersama penumpang lain, ia mencari seat tempat duduknya yang kebetulan tepat didekat jendela. Jessica langsung memakai sabuk pengaman dan menon-aktifkan ponselnya walaupun pesawat yang ia tumpangi itu sebenarnya sudah canggih dan tidak mengharuskan untuk mematikan ponsel namun ia tetap saja pada kebiasaan nya jika berpergian lintas udara. Pesawat sudah mengumumkan bahwa pesawat itu akan landing, semua pemumpang duduk rapi ditempatnya masing-masing. Jessica menatap pemandangan dari jendela, terlihat lampu-lampu yang berpijar malam itu, lagi-lagi bibirnya terangkat membentuk simpul.
Selamat tinggal. Batinnya sambil menyandarkan punggung di seat miliknya, lalu memejamkan mata menikmati perjalanan panjang itu.
Pesawat yang ditumpangi Jessica mendarat dengan sempurna di bandara internasional John F. Kennedy. Jessica sengaja mencari jadwal penerbangan yang sesuai agar bisa sampai disana pagi hari. Untungnya ia sudah pernah berpergian ke luar negeri saat masa-masa kuliah untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa serta pengetahuannya akan bahasa asing lumayan baik, jadi tidak terlalu sulit baginya berbicara dengan orang baru.
Seminggu kemudian
Jessica keluar dari kamar hotel dengan pakaian rapi, ia tak mengenakan kacamata lagi karena merasa tak akan ada yang mengenalinya di negara itu. Jessica mengirimkan sebuah pesan kepada adiknya untuk menemuinya di suatu tempat.
“Kak ?” Suara seorang lelaki menyadarkannya dari lamunan.
“Jeffry ?” Balas Jessica sambil bangkit dari duduknya, memeluk adik lelaki nya itu dengan segala kerinduan.
“Kenapa tak mengabariku dulu ? aku kan bisa menjemputmu ke bandara.” Ucap Jeffry membalas pelukan sang kakak.
“Tidak apa-apa, kau pasti kelelahan mengurus ini itu.”
Jessica tersenyum bangga melihat Jeffry yang sebentar lagi akan meninggalkan status sebagai mahasiswa. Meskipun sebenarnya ia tidak tega melihat adik lelakinya itu bekerja keras untuk melanjutkan hidup sendiri, rasanya ingin selalu merawat lelaki itu, selalu mendengar kabar kalau uang bulanannya sudah habis, selalu menjadi tempat yang bisa diandalkan. Namun waktu terus berjalan, mau tidak mau Jeffry akan terus tumbuh menjadi sosok lelaki yang akan dipanggil ayah oleh keponakannya nanti. Jessica masih tak menyangka perubahan Jeffry, bocah ingusan yang dulu selalu merengek minta ini itu tanpa memikirkan apapun kini sudah tumbuh lebih tinggi darinya mungkin jika mereka berjalan bersama orang-orang akan menyangka Jeffry lebih tua darinya.
“Benar banget, aku memang sangat sibuk mengurus banyak hal untuk syarat wisuda.” Jeffry
“Bagaimana kabarmu ? tubuhmu masih sama saja seperi dulu, tidak ada perubahan” Ucap Jeffry menyeruput kopi cup nya.
“Hmmm... Tak ada yang berubah.” Balas Jessica tersenyum tipis.
__ADS_1
“Tapi mungkin dompet mu selalu semakin gendut ya, hahaha” Goda Jeffry terkekeh.
“Dasar tidak jelas.”
“Kak, aku lapar. Boleh pesan makanan nggak ? tapi aku lupa bawa dompet.” Jeffry menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu menatap Jessica.
“Emmm, pesan saja aku akan membayarnya.” Mendengar jawaban sang kakak, Jeffry segera pergi memesan makanan. Jessica menatap punggung lelaki itu dengan mata sendu, ia teringat kembali pada masa-masa dulu. Dimana ia tak punya uang sepersen pun namun lelaki itu merengek minta dibelikan mainan yang mereka lihat di jalan padahal dari pagi mereka belum makan sehingga membuat Jessica bingung harus bagaimana. Namun sekarang ia bisa membelikan apa yang mereka mau meskipun tidak sebanyak orang lain tetapi itu sudah cukup bagi Jessica. Melihat senyum sang adik yang berterimakasih padanya, tingkah Jeffry selalu lucu dimata Jessica. Mungkin sampai kapan pun ia akan selalu melihat Jeffry sebagai anak kecil ingusan yang manja.
Jessica terlihat sangat bahagia setiap mendengar celotohan yang keluar dari mulut Jeffry, tak menyangka sibungsu sudah bisa melucu di depannya. Jessica ingin hidup seperti saat ini dimana tidak ada orang yang ia kenal dan mengenalinya, dimana tidak ada sesuatu yang harus ia hindari dan takuti. Cukup hidup dengan melihat senyum di wajah sang adik merupakan suatu keberuntungan yang ia percaya selama hidupnya.
Jessica dan Jeffry berpisah saat hari sudah mulai gelap, sebenarnya belum puas untuk mengobrol dengan lelaki itu namun masih ada hari esok yang mungkin mengijinkannya untuk bercerita. Jeffry tinggal di apartemen bersama temannya sehingga Jessica merasa tak enak untuk menginap di tempat itu, lagipula ia juga sudah punya tempat tinggal sementara di hotel.
Tak terasa hari Wisuda Jeffry semakin dekat, Jessica sibuk mencari pakaian yang cocok untuk adiknya itu dalam pelaksanaan hari kelulusannya. Dalam keadaan seperti ini terlihat Jessica yang paling sibuk seperti ibu-ibu yang kesana kemari mencari sesuatu yang bagus dipakai anaknya. Sedangkan untuk dirinya masalah belakangan yang penting kebutuhan untuk sang adik sudah aman, pikirnya.
“Kakak bawa apa ?” Tanya Jeffry melirik paper bag yang ada di tangan Jessica.
“Untukmu” Jessica menyodorkan kehadapannya, Jeffry mengerutkan kening menerima paper bag itu.
“Oh, begitu ya.” Jeffry segera menyusun kembali kemeja yang ia keluarkan dan meletakkan paper bag itu di bawah kursi.
“Kau tidak menyukaianya ?” Tanya Jessica melihat reaksi sang adik tak sesuai ekspektasi nya.
“Hah ? Menyukai apa ?”
“Ah, tidak apa-apa. Jangan lupa besok pakai itu ya, aku sudah membelinya satu set.” Senyuman kembali mengembang di pipi sang kakak.
“Iya. Ini surat undangannya” Jeffry menyerahkan sebuah amplop yang berisi surat undangan di acara wisudanya.
“Besok berangkatnya mau jam berapa ?” Tanya Jessica
__ADS_1
“Hmmm, terserah yang penting jangan telat saja. Oh iya, kau tidak berniat memberiku hadiah diacara kelulusan ku ini ?” Tanya Jeffry penuh harap.
“Tentu saja, mau hadiah apa ?” Jessica lagi-lagi dibuat bahagia karena merasa di harapkan.
“Serius kak ?” Jeffry menatap lekat mata Jessica dengan mata berbinar, Jessica mengangguk membenarkan.
“Ah, tapi kakak punya uang ?”
“Kalau kakak tidak punya uang mana mungkin kakak setuju, lagi pula aku memang ingin memberimu hadiah.”
“Ahhh, kau memang kakak terbaik di dunia.” Puji Jeffry sumringah.
“Kalau begitu aku minta bugatti kak, beberapa minggu lalu teman-teman ku membeli keluaran terbaru tapi nanti kakak belikan yang di bawahnya saja untuk ku. Tidak apa-apa kok, aku takut uang kakak habis.” Ucap Jeffry tersenyum bangga memiliki seorang kakak yang selalu menuruti keinginannya.
DEG
Jessica merasa jantungnya berhenti berdetak, dunia seakan-akan berhenti berputar saat mendengar permintaan sang adik yang menurutnya sangat luar biasa ini. Jessica menatap Jeffry tak percaya, bisa-bisanya lelaki itu kepikiran meminta itu padanya padahal ia juga tahu hidup mereka bisas-biasa saja.
“Kak ?” paggil Jeffry karena tak mendengar jawaban dari wanita itu.
“Kakak harus pergi sekarang, besok jangan telat. Aku tiba-tiba teringat ada sesuatu yang harus ku urus, sampai jumpa besok.” Ucap Jessica meninggalkan Jeffry yang masih duduk disana, sengaja berbohong karena tak ingin merusak suasana hati sang adik apalagi besok ia melakukan wisuda.
Bukan tak ingin mengabulkan permintaan sang adik hanya saja ia tidak tahu mengabulkan itu dengan cara apa. Dia tidak memiliki banyak uang, bahkan walaupun ia bekerja seumur hidup tak mungkin bisa membeli bugatti yang harganya ratusan milliar itu. Jessica memegang dada nya yang terasa sesak, rasanya sakit sekali jika tidak bisa mengabulkan permintaan orang yang di sayangi apa lagi di hari-hari spesialnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘