
Jessica berlari ke kamar dengan perasaan campur aduk. Sedih ? sepertinya tidak perlu ditanyakan lagi, kecewa, marah ? sudah jelas, ia kecewa pada lelaki yang selama ini ia perjuangkan setengah mati namun ia juga marah pada dirinya yang tidak mampu memberikan kebahagiaan untuk sang adik. Semuanya terasa begitu gelap, kisahnya, dunianya semuanya gelap. Ia tak dapat memahami dirinya sendiri kenapa harus seperti ini akhirnya. Semula yang ia kira akan bahagia bersama sang adik disini hanyalah bayangan semata, tak ada yang membuat dirinya bahagia setidaknya menghargai usahanya selama ini dan itu tidak akan pernah ada.
“Sekarang semuanya semakin berantakan.” Jessica memukul keras bantal yang sudah dibasahi air matanya. Tak lama kemudian, ia bangkit dan menghapus air mata yang membasahi pipinya, mengambil ponsel dan membuka salah satu aplikasi yang dapat membuatnya menghubungi seseorang yang berada di negara asalnya.
“Sherina ?” Gumam Jessica mengingat wanita yang ia tinggalkan.
“Aku akan meminta bantuannya kali ini saja.” Tekad nya sambil mengetikkan pesan lewat media sosial kepada Sherina. Ia ingin membuang sifatnya yang selama ini enggan meminta bantuan kepada orang lain, ia akan melakukan apapun demi orang yang ia sayangi meskipun akan mendapat respon yang kurang enak dan bahkan menyakiti orang lain sekalipun ia tak akan peduli lagi. Ia hanya ingin egois kali ini saja, tidak peduli risiko yang akan ia tanggung nantinya, bolehkan ? setidaknya selama hidupnya ia sudah melakukan yang terbaik untuk seseorang yang ia sayangi, itu saja. Setelah itu ia bisa bebas meninggalkan hidupnya, ia tak akan pernah mau lagi hidup di dunia ini sekalipun malaikat memintanya untuk hidup kembali.
Sedangkan disisi lain, Jeffry yang baru saja pulang ke apartemen melihat teman-temannya sedang berkumpul disana. Ia menghentikan langkah kakinya untuk membuka pintu karena pasti mendapat pertanyaan dari teman-temannya yang akan membuatnya bingung untuk menjawab. Jeffry malu mengakui kalau ternyata kakak nya tidak mampu membelinya bugatti impiannya, sangat malu mengakui kalau ternyata ia tidak setara dengan mereka. Jeffry menghembuskan nafas kasar, kemudian membalikkan badan pergi entah kemana, yang penting tidak bertemu dengan teman-temannya yang hidupnya penuh dengan kemewahan itu.
“Sialan, katanya dia akan melakukan apapun untukku. Katanya dia akan selalu menjadi orang yang bisa kuandalkan, tapi lihatlah sekarang dia sama sekali tidak punya usaha sedikit pun. Semua yang dia katakan itu hanya omong kosong, pembohong. Dasar tidak berguna, sampah.” Umpat Jeffry menghembuskan asap yang ada didalam mulutnya. Ia menatap sekelilingnya yang penuh dengan wajah bahagia, anak-anak yang berlari kesana kemari bersama orang tua nya, pasangan kekasih yang sedang bermesraan dengan orang yang mereka cintai, sekumpulan orang yang sedang bercanda ria bersama sahabat-sahabatnya, semuanya terlihat bahagia tidak seperti dirinya yang malang ini.
“Mereka enak masih punya orang tua yang bisa memberikan kebutuhan mereka, sedangkan aku ?” Jeffry tersenyum kecut membuang pandangannya dan kembali menghisap rokok di tangannya.
“Teman-teman ku semuanya punya uang banyak, bisa membeli ini itu, apapun yang mereka inginkan pasti dituruti orang tua nya. Kenapa hanya aku yang tidak punya orang tua ? kenapa ayah dan ibu cepat mati ? kenapa mereka tidak seperti orang tua yang lain ? Huh”
Jeffry merasa dirinya lah orang yang paling malang di dunia ini saat melihat orang-orang disekitarnya. Ia merasa tidak ada yang peduli akan keinginannya, merasa tidak ada yang memahaminya. Padahal selama ini ia hidup bahagia, kesana kemari dengan teman-teman nya, beli ini itu tanpa memikirkan habis ini ia harus makan apa, tidak memikirkan bagimana selanjutnya hidupnya. Pokoknya jika nominal di kartu nya sedikit lagi ia hanya perlu menghubungi sang kakak untuk mengisinya segera. Apakah Jeffry mengingat itu semua ? Tidak sama sekali. Bahkan barusan apa yang ia pikirkan ? tidak ada yang memahaminya, ia berpikir nasib nya paling malang di dunia ini ? Mungkin jika orang lain tahu, ia akan segera memukul Jeffry sampai babak belur, mungkin mereka akan memakinya, tidak tahu diri sama sekali. Namun yang namanya Jeffry hanyalah Jeffry, ia tidak akan pernah melihat sisi orang baik yang selalu berusaha untuknya, tidak pernah merasakan bagimana malangnya nasib orang yang memikirkan dirinya, Jeffry terlalu egois, tidak punya rasa empati sedikit pun.
Dua hari berlalu setelah kejadian di ruang tunggu hotel yang ditempati Jessica, ia terkejut mendengar apa yang disampaikan seseorang lewat telepon. Nafas nya tercekat, dadanya sesak mendengar berita itu. Untungnya ia cepat sadar dan segera bangkit menyambar tas miliknya kemudian pergi dari sana.
__ADS_1
“Jessica ya ? kakak nya Jeffry ?” Tanya seorang wanita yang lebih muda darinya menggunakan bahasa inggris. Jessica mengangguk cepat dan bertanya dimana adiknya.
“Dia baik-baik saja kok, tadi sudah diperiksa dokter. Katanya besok juga sudah boleh pulang namun tetap istirahat dulu di rumah.” Ujar wanita itu menjelaskan apa yang disampaika dokter tadi.
Jessica membuang nafas lega, bersyukur tidak terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa sang adik. Wanita itu mengajak Jessica duduk di depan ruangan Jeffy, memberikan sebotol air mineral kepadanya agar bisa tenang sebelum menemui sang adik.
“Thank you.” Ucap Jessica setelah meneguk air yang diberikan wanita itu.
“Namaku Gabbyviola panggil saja Gaby.” Ucap wanita itu memperkenalkan diri.
“Ah, terimakasih banyak Gabby. Aku Jessica kakaknya Jeffry.”
“Tentu saja” Balas Jessica lembut. Tunggu, ini bukan seperti Jessica yang dulu, lihatlah ia sudah bisa berinteraksi dengan baik kepada orang asing yang baru saja ia temui.
“Jeffry dan teman nya itu sama-sama bersalah, tidak perlu terlalu khawatir kak.” Ucap Gabby menjelaskan kejadian sebelumnya dimana Jeffry berantam dengan temannya.
“Boleh aku tahu bagaimana kronologi nya ?” Tanya Jessica penuh harap.
“Tentu saja, kebetulan aku juga ada disana.” Gabby mengubah posisi menghadap Jessica, siap untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Jeffry bisa masuk rumah sakit.
__ADS_1
Gabby menjelaskan kalau salah satu temannya mengatakan Jeffry pembohong karena tak bisa menunjukkan hadiah yang diberikan kakak nya untuknya. Jeffry yang akhir-akhir ini sedang kesal terbawa emosi sehingga terjadi pukul-pukulan antara mereka. Namanya juga laki-laki yang sedang emosi, jadi pasti ia menumpakan semuanya dalam setiap pukulan itu sehingga keduanya babak belur hingga masuk rumah sakit. Mendengar itu Jessica merasa sakit, kecewa pada dirinya sendiri, berkali-kali ia menyalahkan diri sendiri atas kejadia ini.
“Terimakasih Gabby sudah membawa Jeffry kesini. Aku tidak tahu jika kau tak ada mungkin adikku entah bagaimana sekarang.” Ucap Jessica kepada Gabby.
“Sama-sama kak, kalau begitu aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi untuk mengantar Jeffry ke apartemen nya.” Gabby berpamitan untuk kembali.
“Iya, hati-hati.” Jessica menatap kosong kearah dinding, matanya memanas namun ia terpaksa menahan itu dan bangkit untuk menemui adiknya di dalam ruangan.
(btw Jessica dan Gabby ngomong pake bahasa Inggris ya, cuma aku langsung pake bahasa Indonesia aja biar nggak bingung)
.
.
.
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘
__ADS_1