
Sherina terisak saat mendapati dirinya dikunci dalam sebuah gudang rumahnya. Sherina sudah tahu ini pasti ulah sang kakak. Ia memeluk kedua lututnya yang nampak terluka, sambil berdoa meminta pertolongan dari Tuhan.
Cklek
Pintu gudang itu terbuka, Sherina buru-buru menyeka air matanya. Ia terkesip saat melihat orang yang berdiri di pintu dengan wajah sarkas, kemudian mendekatinya perlahan.
“Bagaimana rasanya hidup di tempat seperti ini ?” Erick berjongkok sambil menatap mata sayu milik Sherina.
Plak
“Kau tidak punya mulut ? kenapa tak menjawab pertanyaanku ? Hah ?” Tanya Erick dengan penuh emosi. Entah kenapa setiap melihat Sherina tampak menderita seperti ini membuatnya bahagia.
“Ada apa lagi ? apa kakak belum puas menyakitiku ?” Jawab Sherina setengah mati menahan tangisnya. Lagi-lagi Erick tersenyum sarkas menatap adik semata wayang nya itu.
“Kau tahu ? Aku tak akan pernah puas melihatmu menderita, bahkan jika nyawamu habis aku akan tetap menyiksamu hingga jadi debu” Erick tersenyum puas.
“Oh... bahkan saat dirimu berwujud debu pun aku akan tetap mencari cara bagaimana debu itu tidak ada lagi.” Tawa Erick membuat bulu kuduk Sherina berdiri, ia sungguh takut melihat wujud kakaknya yang seperti itu.
Tiba-tiba Erick membuka kanci bajunya satu per satu. Sherina yang melihatnya pun langsung mendorong tubuhnya ke belakang, takut kejadian sebelumnya terulang kembali. Namun hal itu malah membuat Erick semakin mempercepat aksinya, ia menarik tengkuk Sherina dan menatap bibir adiknya yang sudah terluka akibat ulahnya kemarin.
“K-kak... To-tolong jangan lakukan itu.” Suara getar Sherina membuat Erick semakin bersemangat melancarkan aksinya.
“Lakukan apa ? Kau pikir aku tidak tahu tingkah laku mu di luar sana ? kau bahkan sudah menggunakan obat itu bukan ?” Jelas Erick yang membuat Sherina terpaku. Erick menangkup bibir Sherina dengan kasar, ia benar-benar kesurupan melihat ketakutan dalam diri Sherina.
“Balas, Br*ngs*k.” Bisik Erick disela-sela aksinya. Sherina tetap diam dalam tangis, membiarkan kakaknya itu melakukan sesukanya. Ingin melawan pun sudah tak ada gunanya lagi, Erick benar-benar sudah hilang akal.
Karena tak mendapatkan respon dari Sherina, Erick melayangkan satu tamparan keras di pipinya. Sherina meringis kesakitan memegang bekas tamparan itu, tak mau menatap mata sang kakak. Sherina benar-benar muak melihat sikap Erick, dimana-mana tidak ada istilah seorang kakak kandung meniduri adiknya sendiri. Persis seperti apa yang telah dilakukan Erick padanya.
“Tadi tidak bisa bicara, sekarang apa kau juga tidak bisa mendengar ?” Suara berat milik Erick sangat menyakiti Sherina, ia merasa lebih baik cepat mati daripada mendapat perlakuan seperti ini apalagi orangnya adalah saudara sendiri.
“Si*lan, kau benar-benar tidak berguna.” Erick mendorong tubuh Sherina hingga wanita itu jatuh.
“To-tolong jangan lakukan ini. Aku janji akan mengikuti semua perintahmu.” Pinta Sherina meminta belas kasihan, berharap Erick tidak melakukan hal-hal tak senonoh padanya. Erick yang mendengar itu tersenyum mengejek, kemudian berdiri menatap Sherina yang sudah tak berdaya.
“Kali ini kau selamat, awas saja jika kau tidak becus.” Erick mendekat, bibirnya mendekati telinga Sherina.
“Kau akan habis saat itu juga” Bisiknya, kemudian pergi dari tempat itu.
“Dasar Baj*ngan.” Umpat Sherina setelah memastikan Erick benar-benar sudah menjauh dari sana.
__ADS_1
“Lihat saja, kau juga pasti akan menanggung akibat dari perbuatannmu itu.” Gumamnya dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Sherina akhirnya keluar dari gudang, diluar ia bisa melihat Bi Asih tengah menatapnya sendu. Mata wanita yang sudah mengabdi kepada keluarga mereka itu tak bisa bohong. Ia sangat kasihan melihat putri yang dulunya sangat disayangi di keluarga itu seperti gadis yang tidak terawat.
“Non, bibi sudah memasak makanan kesukaanmu. Ayo makan dulu sebelum bersih-bersih. Nona pasti sudah sangat lapar.” Ucapnya dengan nada lembut. Sherina menurut dan mengikuti Bi Asih yang berjalan ke arah dapur.
“Ini ada sup daging campur wortel kesukaan Nona. Silahkan cicip dulu.” Bi Asih menambahkan sup itu ke piring Sherina yang sudah di isi nasi.
“Bagaimana Non ? Masakan bibi masih enak kan ?” Tanya Bi Asih dengan mata berbinar. Sherina menatap mata binar itu dengan penuh haru. Bagaimana bisa seorang pembantu rumah tangga begitu menyayanginya ? Sherina melihat kepedulian Bi Asih bukan karena tuntutan pekerjaannya sebagai pengasuhnya sejak kecil, namun kasih sayang yang ia rasakan itu benar-benar tulus dari hati.
“Non ?” Panggil Bi Asih karena tak kunjung mendengar jawaban dari Sherina.
“Maaf kalau masakan bibi kurang en...”
“Enak kok Bi. Masakan bibi memang enak dan akan selalu enak.” Potong Sherina dengan nada bergetar. Entah karena mendapat perlakuan baik dari Bi Asih setelah penganiayaan dari sang kakak atau apapun alasannya, Sherina tiba-tiba menitikkan air mata. Hal itu tentu saja membuat Bi Asih merasa bingung.
“Nona Sherin kenapa menangis ?” Bi Asih mendekat, menatap wajah Sherina dari bawah untuk memastikan apakah gadis itu benar-benar menangis atau tidak. Sherina yang merasa emosinya semakin memuncak pun menangis terisak. Ia menelan dengan paksa makanan yang sudah ada di dalam mulutnya.
“Nona pasti baik-baik saja Jangan khawatir bibi akan selalu mendukung Nona dalam situasi apapun.” Ucap Bi Asih memeluk Sherina dari samping.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Erick yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka hanya menarik nafas berat. Entah mengapa hatinya mudah terombang-ambing melihat Sherina. Satu sisi ia sangat membenci adiknya itu, namun disisi lain terkadang ia juga sangat menyesali perbuatannya. Ah, lelaki seperti Erick memang sulit dimengerti, bahkan dirinya saja tidak mengerti apa maunya.
Aku ingin cepat-cepat keluar dari rumah ini, tapi bagaimana dengan Bi Asih ? Aku juga tidak ingin meninggalkannya sendiri.
Batin Sherina mengingat hanya Bi Asih lah yang benar-benar peduli padanya saat ini.
.
.
.
.
Tengah malam, kamar Sherina diketuk oleh seseorang dari luar, yang membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Sherina menyingkirkan selimut yang menutupi dirinya, kemudian duduk mengumpulkan nyawa.
Pasti nafsu lelaki baj*ngan itu sedang kumat lagi.
Batin Sherina bermalas-malasan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Tok..Tok..Tok....
“Iya sebentar.” Teriak Sherina dengan suara serak.
Cklek....
“Loh ?? Bi Asih ? Ada apa malam-malam kesini ?” Tanya Sherina bingung. Karena tidak biasanya Bi Asih mengetuk pintu kamarnya tengah malam begini.
“Sssttttt....” Bi Asih mendorong Sherina masuk kedalam kamar, kemudian mengunci kembali pintu itu.
“Duduk dulu Non.” Ucap Bi Asih melihat kebingungan di wajah Sherina.
“Ada apa Bi ?”
“Tidak ada apa-apa, Bibi hanya ingin memastikan Nona Sherina baik-baik saja.” Ucap Bi Asih mengusap rambutnya.
“Ahh, Bibi ada-ada saja. Lagian aku pasti baik-baik saja Bi.” Balasnya dengan senyum penuh haru.
“Hehehe, lagi pula Bibi sudah sangat lama tidak tidur dengan Nona. Jadi Bibi kangen sekali tidur bareng lagi sambil peluk Nona Sherin.”
Sherina tertawa renyah, kemudian mengajak Bi Asih tidur bersama di kamarnya. Hari ini keadaan yang dijalani memang buruk, bahkan hari esok atau lusa mungkin lebih buruk lagi. Namun, setidaknya malam ini dapat beristirahat dengan senyum yang menghiasi wajah, walaupun besok harus menjalani betapa tidak adilnya dunia ini. Bi Asih menarik kepala Sherina kedalam pelukannya, kemudian membelai surai wanita itu dengan lembut.
Semoga hal-hal baik segera menghampiri Nona Sherina.
Batin Bi Asih memejamkan matanya.
.
.
.
.
Hai haiiii....
Masih adakah penduduk disini ?
Jangan lupa like dan komen yaaa
__ADS_1
Terimakasih