
Sebulan telah berlalu sejak Jessica menginjakkan kaki di New York dengan status sebagai pengangguran. Jessica melihat saldo rekeningnya yang semakin menipis, sebulan belakangan ini ia tak melakukan apa-apa dan hidup dengan pas-pas san. Ia dan Jeffry sudah lama tidak berinteraksi, lelaki itu menghilang setelah pulang dari rumah sakit, Jessica yang dipenuhi dengan kekhawatiran hanya bisa mendengar kabar Jeffry dari Gabby, teman wanita adiknya.
“Sherina ?” Pekik Jessica saat melihat wanita itu menelponnya, ia langsung mengklik tombol berwarna hijau agar dapat bicara dengan Sherina.
“Halo, Sherina ? kemana saja, kenapa baru menelponku ?” Tanya Jessica.
“Halo, aku tidak kemana-mana. Hanya mengurus sedikit hal disini.” Jawab Sherina lewat sambungan itu.
“Bagaimana kabar mu ?” Tanya Jessica basa-basi.
“Ya lumayan membaik, hubunganku dengan kak Erick sudah sedikit membaik.” Ucap Sherina.
“Ah, syukurlah. Jadi sekarang kau bekerja di Dez grup ?” Tanya Jessica mengingat perusahaan yang dikelola keluarga itu adalah Dez grup.
“Hah ? Bagaimana kau tahu ? perasaan aku tidak pernah membicaran ini dengan mu ?” Tanya Sherina terkejut. Bagaimana tidak, Erick dengan rapi menyembunyikan identitas keluarganya termasuk Sherina. Jadi sangat sedikit orang yang tahu bahwa ia adalah salah satu anak dari pengusaha terkenal Dez grup, palingan hanya orang-orang terpercaya keluarga itu saja yang tahu.
“Jessi, jawab. Darimana kau tahu Dez grup adalah perusahaan yang dikelola kak Erick ?” Ucap Sherina mengulang pertanyaan nya.
Ahh, sial. Kenapa aku bisa seceroboh ini ? Batin Jessica mengutuk dirinya.
“Ah, itu.... Tentu saja aku tahu, memangnya siapa yang tidak tahu Dez grup ? kalau kau lupa, kau pernah mengajak ku ke rumah mu dan bertemu dengan kakak mu.” Ucap Jessica dengan nada menyakinkan, seolah-olah tidak ada yang ia sembunyikan dari ucapannya itu.
“Ohhh, iya aku lupa.” Ucap Sherina.
“Lalu sekarang apa yang kau lakukan di New York ? kau juga pergi begitu saja tanpa memberitahuku terlebih dahulu.” Ucap Sherina dengan nada kecewa.
__ADS_1
“Maafkan aku, kau masih ingatkan aku punya seorang adik ?” Tanya Jessica.
“Adik ? oh iyaiya, kenapa ?” Balas Sherina mengingat dirinya pernah tak sengaja mendengar Jessica mengingau saat pulang dari bar dengan keadaan mabuk.
“Aku menghadiri acara wisuda nya disini”
“Jadi kau akan pulang kapan ?”
“Aku belum tahu, mungkin akan menetap disini.”
“Oh baiklah kalau begitu, semoga kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan.” Balas Sherina tidak penasaran seperti biasanya, wanita itu seakan-akan tidak peduli lagi kepada Jessica. Namun Jessica bodoh amat dengan sikap Sherina yang sekarang, ia sangat membutuhkan bantuan saat ini jadi ia membuang semua rasa enggan nya demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Iya, tapi Sher...”
“Iya, kenapa ? aku tak punya waktu banyak, sebentar lagi ada meeting.” Ucap Sherina terburu-buru. Jessica menarik nafas dalam, meyakinkan diri hanya inilah jalan yang terbaik demi kelancaran hidupnya.
“HAH ?” Apa yang dia katakan ? pinjam uang ? apa ini Jessica ? Jessica yang ia kenal dengan sifatnya yang dingin dan tertutup itu ? Tidak. Tidak mungkin ini Jessica, wanita itu sangat sombong dengan kekuatannya, merasa paling bisa, paling kuat merasa bisa hidup sendiri tanpa seorangpun teman di sisinya, pikir Sherina.
“A-apa ? kau siapa ?” Tanya Sherina terkejut, ia tak yakin Jessica mengatakan kalimat itu untuknya.
“Ini aku Jessica, aku boleh pinjam uangmu ? saldo ku semakiin menipis setelah sebulan disini menjadi pengangguran.” Ucap Jessica lagi.
“Jessica kau...”
“Iya Sherina, aku sangat butuh bantuan mu kali ini.” Ujarnya lagi, meyakinkan bahwa ini benar-benar dirinya.
__ADS_1
“Mau berapa ? kirimkan saja nomor rekeningmu.” Ucap Sherina tanpa berpikir panjang. Kemana Jessica yang ia kenal dulu ? apakah wanita itu benar-benar kacau saat ini ? Ah, entahlah Sherina juga tidak bisa memahami Jessica yang sudah ia kenal kurang lebih tiga tahun ini.
Setelah menerima transferan dari Sherina, Jessica langsung bergegas keluar dari hotel yang ia tempati selama ini. ia memilih untuk menyewa sebuah apartemen yang paling murah agar tidak mengeluarkan biaya yang banyak. Jessica mengurungkan niatnya meminjam uang kepada Sherina untuk membeli bugatti untuk Jefrry karena merasa tidak enak, lagi pula siapa yang ingin meminjamkan uang ratusan milliar tanpa ada jaminan ? Tidak ada. Apalagi hidupnya saat ini berantakan, tidak tahu arahnya kemana bahkan tidak punya pekerjaan sama sekali. Jadi ia memilih untuk membuka usahanya sendiri, bagaimanapun hasilnya nanti ia sudah pasrah yang penting berusaha dulu.
“Akhirnya” Jessica meletakkan kopernya dan berjalan kearah balkon apartemen itu. Unit apartemen yang ditempati Jessica tidak terlalu besar seperti apartemen yang banyak beredar di media sosial. Walaupun begitu, setidaknya bangunan ini bisa menjadi tempatnya untuk beristirahat sambil memikirkan jalan hidup ke depannya,
Saat menata isi kopernya ke lemari, Jessica mendapat sebuah kotak yang ia bawa selama ini. Kotak itu pemberian dari ibunya sebelum meninggal, ia tidak tahu isi kota itu apa karena belum pernah membukanya sama sekali. Terakhir kali ibunya berkata, bahwa ia bisa membuka kotak itu setelah berhasil membesarkan adiknya dengan baik. Jessica mengelus benda persegi yang terbuat dari kayu ringan bewarna hitam kecoklatan itu, benda itu di gembok dan kuncinya masih ia simpan di dalam dompetnya.
“Bu, aku sudah membesarkan Jeffry dengan segala kemampuan yang kumiliki. Aku bahkan bisa membuat dia lulus dari perguruan tinggi di luar negeri dan itu semua hasil dari kerja keras ku sendiri, ya walaupun kau pasti akan kecewa dengan usaha yang kulakukan selama ini. Tapi....” Matanya memanas, entah mengapa setiap mengingat perlakuan ibunya ia selalu merasakan sesak yang amat dalam.
“Tapi aku tidak benar-benar berhasil mendidik sifatnya bu, dia...dia sama saja seperti ayah...hiks”
“Dia... dia memaksa hidup dengan mewah seperti teman-temannya, dia ingin semua keinginannya selalu dipenuhi. Kau tahu bu ? dulu saat aku juga masih kuliah, dia selalu menghubungiku demi mengatakan semua keinginannya, hanya itu bu. Dia bahkan tak pernah menanyakan kabarku, dimana aku mendapatkan uang untuk biaya hidup kita berdua, dimana aku mendapatkan uang demi membiayai pendidikannya, dia tidak pernah menanyakan itu bu....” Air matanya jatuh mengenai kotak yang ada di tangannya. Jessica menghapus air mata, menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar.
“Huh!! Tapi aku yakin kau tak akan pernah mengerti itu semua, kau hanya memikirkan bagaimana kehidupan Jeffry saja kan ? bahkan di hari-hari terakhir mu kau tidak menitip pesan untuk ku agar hidup dengan bahagia, kau hanya menitipkan Jeffry, kau hanya memikirkan dia sedangkan aku....aku hanya babu disini.”
“Tapi tidak apa, karena itu semua aku tumbuh menjadi kuat hingga seperti ini” Bibirnya tersenyum tipis mengingat kehidupan pahit yang ia jalani ini.
“Aku sudah boleh membuka peninggalan mu ini kan bu ?” Gumam nya sambil mengusap air mata yang menetes di atas kotak itu.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘