KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Tidak Berguna


__ADS_3

Jessica berjalan dengan langkah gontai keluar dari aula dimana acara wisuda Jeffry dilaksanakan. Ia berdiri menatap adiknya yang sedang berfoto ria bersama teman-temannya. Jessica merasa lega ternyata Jeffry bersosialisasi dengan baik di negara orang lain sehingga memiliki banyak teman di kampus, tidak seperti dirinya yang menutup diri sehingga tidak memiliki banyak teman bahkan satu pun tidak ada yang dekat dengannya ia hanya hidup sebagai mahasiswi giat di kampus. Bukan tak ada yang mau berteman dengan baik dengan nya apa lagi melihat kepintarannya yang luar biasa, tetapi ini memang pilihan Jessica sendiri. 


“Kak, aku pergi duluan bersama teman-temanku. Besok kita bertemu lagi, aku belum menagih hadiah mu.” Ucap Jeffry mendekati Jessica.


“Jeffry...” Panggilnya lirih.


“Udah ya, teman-teman ku sudah menunggu.” Jeffry meninggalkan Jessica dan pergi bersama teman-temannya untuk merayakan hari kelulusan mereka.


“Happy graduation, proud of you” Gumamnya menatap punggung tegap milik Jeffry.


Jessica tersenyum kecut setelah mengatakan kalimat itu, mata indahnya ingin mengeluarkan air mata menatap kepergian sang adik. Sebenarnya sejak ia bertemu dengan Jeffry di aula, perasaan sedihnya sudah muncul karena melihat penampilan adiknya. Jeffry tidak menggunakan pakaian yang di belinya kemarin, tak ada satupun yang dipakai oleh sang adik sehingga ia merasa sedikit sedih. Namun ia tetap menahan itu semua demi melihat sang adik sah lulus dari kampus itu dengan senyum di pipinya. Jessica memegang dadanya yang terasa sesak mengingat semua pengorbanannya selama ini tidak pernah membuat sang adik merasa puas. Belum lagi mengingat hadiah yang diminta Jeffry padanya, rasanya ingin menghilang saja dari dunia seperti seorang pengecut.


Keesokan harinya, Jeffry datang ke hotel yang ditempati Jessica. Ia duduk di ruang tunggu setelah mengabari Jessica untuk menemuinya di bawah. Jessica yang melihat itu segera turun dan menemui Jeffry di ruang tunggu. Dengan jarak kurang lebih sepuluh meter, Jessica bisa melihat Jeffry yang duduk menunggunya dengan wajah bahagia. Jessica paham akan senyuman di wajah Jeffry, pasti sang adik sudah membayangkan apa yang akan ia dapatkan hari ini. Namun tidak bagi Jessica, ia semakin ragu untuk melangkah menemui Jeffry, ia takut senyum indah milik si bungsu akan hilang begitu dia mengatakan yang sebenarnya.


Apa aku cari cara lain dulu ? Batinnya, padahal sejak Jeffry mengatakan keinginannya Jessica sudah pusing di hotel memikirkan cara untuk memenuhi keinginan sang adik namun tak kunjung berhasil.


“Kak, kesini.” Jeffry melambaikan tangan bermaksud agar sang kakak melihatnya.


“Kau sudah lama ?” Tanya Jessica duduk di sebelah Jeffry.


“Eheem” Jawab Jeffry mengubah posisi duduknya menghadap sang kakak sedangkan Jessica duduk dengan posisi menghadap ke depan.


“Kak, bagaimana ? kapan kau akan memberikan hadiah mu ? mau beli bersama atau bagaimana ?” Tanya Jeffry melontarkan banyak pertanyaan.


“Jeff” Jessica menatap mata Jeffry dengan tatapan sendu, terlihat dimata lelaki itu harapan yang sangat besar kepadanya. Lagi-lagi hati kecil Jessica merasa sakit, seperti dunia selalu saja membuatnya tersiksa.

__ADS_1


“Atau jangan-jangan kau sudah membelinya ya ? parkir dimana ini kak ? ayo cepat, aku mau lihat.” Ucap Jeffry terdengar tidak sabaran.


Jessica menghembuskan nafas berat, bingung menjawab pertanyaan sang adik. Kalau dia jujur tidak mampu membelinya, Jeffry pasti sangat kecewa dan Jessica tidak mau melihat wajah tampan milik Jeffry kecewa padanya. Tapi apa yang bisa dia lakukan selain jujur ? apakah ia harus menjual organ tubuhnya di pasar gelap agar bisa mengabulkan permintaan sang adik tercinta ? Tidak, walaupun ia menjual organ tubuh itu belum tentu cukup untuk menghasilkan uang sebanyak ratusan milliar bukan ? atau ia harus mencuri banyak berlian di perusahaan BVLGARI ? Entahlah, Jessica sudah tidak waras lagi memikirkan bagaimana caranya untuk menghasilkan uang sebanyak itu.


“Kak kenapa hanya diam saja ? kau pasti ingin memberiku suprise kan ? ah, tidak perlu terlalu serius begini, aku pasti sangat terkejut walaupun aku sudah tahu Bugatti mana yang akan kau berikan.” Ucap Jeffry tersenyum lebar.


Jangan-jangan Bugatti keluaran terbaru itu ? ah, kalau iya aku pasti pingsan sebentar sangking bahagianya.


“Jeff, kau tahu kan harga Bugatti itu tidak murah ?” Ucap Jessica memaksakan mulutnya bicara meskipun itu sangatlah sulit baginya.


“Ya iya lah, kakak pikir aku sebodoh itu tidak tahu harga ?” Jeffry kesal karena menunggu terlalu lama.


“Bukan begitu maksud kakak, hanya saja...”


“Iya aku paham, pasti kakak mau bilang jangan buat lecet atau rusak kan ? ayolah kak, aku juga sudah paham akan hal itu. cepat berikan kuncinya padaku.” Pinta Jeffry merengek namun nadanya terkesan sedang kesal.


“Astaga, aku harus menunggu berapa lama lagi ? kakak niat tidak sih, ngasih hadiahnya ?” Jeffry yang sedari tadi meminta agar melihat hadiah nya sepertinya sudah kehilangan akal.


“Kak ?” panggil Jeffry lagi karena Jessica tak kunjung mengajaknya melihat bugtti impiannya itu.


“Ah, sialan.” Umpat Jeffry merasa kesabarannya sudah habis. 


“Jeff ?” Jessica membelalakkan mata mendengar umpan sang adik yang sudah jelas ditujukan kepadanya.


“Kenapa kau selalu menahan-nahan nya ? kau selalu seperti ini setiap aku meminta sesuatu, aku sudah cukup sabar menahan malu di depan teman-teman ku karena hanya aku satu-satunya yang tidak punya mobil. Sekarang cukup beri saja kuncinya padaku dan beritahu dimana ka...”

__ADS_1


“Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu ? Kau pikir kita orang kaya ?” Jessica memotong kalimat Jeffry karena merasa sesak menahan marahnya.


“Kau kan bekerja, kemana semua uang mu itu ?” Jeffry tak mau kalah, pokoknya ia harus bisa mendapatkan keinginannya itu.


“Kau pikir selama ini aku bekerja untuk siapa ?  Untuk mu Jeffry, untuk mu. Uang yang susah payah kudapatkan itu delapan puluh persen untukmu, untuk membiayai kuliah mu disini. Lalu sekarang kau tanya kemana semua uangku ?” Mata Jessica menatap lekat adiknya.


“Jadi kau tidak ikhlas ? dimana janji mu dulu yang selalu bilang akan menjadi satu-satunya orang yang kuandalkan ?”


“Jeffry, kakak sudah mencoba yang terbaik. Kakak sudah berusaha agar kau tetap bisa seperti anak-anak lainnya, bisa makan, berpenampilan dengan baik bahkan menyuruhmu untuk melanjutkan pendidikan mu hingga keperguruan tinggi seperti ini. Apa itu juga masih kurang ?” Jessica merasa tubuhnya lemas, suaranya juga seperti sudah tidak ada.


“Hah. Bilang saja kau tidak ikhlas, memang tidak ada yang mengerti aku di dunia ini. aku benar-benar sendirian, tidak punya ayah dan ibu, tidak punya saudara yang bisa menyayangiku.” Ucap Jeffry dengan nada menusuk.


“Jeff.... kau masih punya kakak.” 


“Jangan bilang kau kakak ku jika tak bisa menahamiku. Dasar pelit, tidak berguna.”


Jeffry bangkit berdiri meninggalkan Jessica yang masih menatapnya dengan mata yang sebentar lagi akan menegluarkan air. Beberapa orang yang juga sedang ada disana menatap mereka, bingung dengan apa yang mereka bicarakan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2