
Sherina yang diam-diam mendengarkan pembicaraan Ayah dan kakak nya dari balik pintu hanya bisa menahan tangis. Ia tak menyangka perubahan Erick sampai ke papa mereka hingga berani membentak lelaki tua yang sakit-sakitan sejak dua tahun terakhir ini. Sang ayah butuh terapi setiap hari sehingga ia terpaksa tinggal beda rumah dengan kedua anaknya. Tuan Edison Fernandez, begitulah orang lain memanggil sang ayah.
“Apa hanya itu yang ingin papa sampaikan ?” Tanya Erick setelah bersusah payah merendam kembali emosinya.
“Bagaimana kabar adik mu ?” Tanya lelaki itu dengan nada yang semakin melemah namun Sherina masih bisa mendengar nya dari balik pintu.
“Kenapa papa tidak tanyakan saja padanya langsung ?” Tanya Erick cuek.
“Nak, ayah sudah berpesan agar kau menjaga Sherina. Walau bagaimana pun dia adalah saudaramu sendiri, dia akan tetap menjadi keluarga mu sampai kapan pun.” Ujarnya lagi, kali ini suara nya agak meninggi.
“Hahaha.... Saudara apaan ? wanita seperti itu papa bilang saudaraku ? kalau bisa diulang, aku tak ingin punya adik perempuan seperti dia. Gara-gara dia bunda harus meninggalkan kita disini, gara-gara dia aku jadi tidak punya ibu.” Ucap Erick merasa sesak ketika mengetahui penyebab ibunya meninggal karena melahirkan Sherina ke dunia ini.
“Erick. Jaga ucapan mu. Apa kau pikir bunda akan senang melihat ke egoisan mu selama ini ? Kita semua sama-sama kehilangan bunda dan perlu kau ingat kalau itu semua bukan salah Sherina.” Tegas Tuan Edison menatap tajam kearah putra nya.
“Bullshit. Sudah jelas-jelas dia yang salah, dia penyebab dari semuanya. Kenapa dia harus lahir ke dunia ini ?” Teriak Erick masih tidak terima akan pengakuan ayahnya beberapa bulan lalu bahwa kematian Nyonya besar di keluarga Fernandez karena melahirkan seorang putri yang selalu mereka nanti-nantikan hadir dalam keluarga mereka. Namun siapa sangka, saat ingin melakukan operasi ternyata hanya bisa menyelamatkan satu nyawa. Sang ibu yang meninggal atau seorang bayi perempuan yang selama ini mereka nantikan ? Entah apa yang terjadi, Nyonya besar meminta dengan sepenuh hati agar bayi nya diselamatkan, seperti ibu-ibu lainnya pasti akan melindungi darah daging nya terlebih dahulu. Sejak mendengar pengakuan itu sifat Erick berubah drastis kepada sang adik, ia sangat kesal mengapa selama ini di tutup-tutupi oleh sang ayah dan yang paling menyakitkan itu karena kehadiran adik nya, ia terpaksa tumbuh dewasa tanpa dampingan seorang ibu.
Sherina tak bisa menahan sesak di dadanya, matanya sudah memanas sedari tadi namun masih ia tahan, tapi kali ini ia tak bisa membohongi diri lagi. Sherina berlari keluar rumah dengan terisak, mendengar apa yang dikatakan oleh Erick sangatlah menyakitkan dan ia sadar bahwa dirinya sama sekali tidak bisa berharap akan perubahan Erick padanya.
“Hiks.. kenapa jadi begini ? jadi bunda meninggal karena aku ? bunda meninggal karena rela menyelamatkan anak perempuannya ini ?” Isak Sherina saat mobilnya sudah menjauh dari rumah itu.
Erick yang melihat mobil Sherina menjauh dari rumah itu hanya bisa membuang nafas kasar. Ingin marah karena wanita itu berani-beraninya menguping pembicaraan nya namun belum tentu juga kan dia mendengar apa yang ia bicarakan dengan ayahnya tetapi kenapa dia tiba-tiba datang dan pergi begitu saja ? Erick menarik rambutnya menggunakan kedua tangan, ia sangat frustasi, emosinya sedang naik turun seperti sedang naik roller coaster.
“Sialan. Berani-beraninya dia kesini.” Berdecak kesal.
Setelah memastikan sang ayah sudah minum obat dan tidur, Erick pun memutuskan untuk pulang dan menitipkan ayahnya kepada perawat dan asisten yang berada disana. Erick mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, ia sudah tidak sabar ingin sampai di rumah dan menarik rambut wanita itu. ia ingin sekali mendengar tangisan menyakitkan dari mulut wanita yang ia anggap sudah merengut nyawa ibunya.
Cklek
__ADS_1
Sherina menoleh kearah pintu, kebetulan ia baru saja selesai memakai skin care jadi masih duduk di depan meja rias.
Brak
“Kak ?” Sherina seperti orang ketakutan mendengar pintu kamarnya dibanting oleh Erick. Kejadian ini sama persis sepeti yang sudah terjadi sebelumnya, wajah Erick juga terlihat sangat menyeramkan seperti waktu itu. Waktu dimana Sherina kehilangan keperawanannya karena ulah kakak nya sendiri. Gila, Erick memang benar-benar definisi manusia gila berkedok presdir.
Brak
Lagi-lagi Erick membanting meja kecil di dekat meja rias Sherina, menatap wanita itu dengan tatapan tajam. Oh, bukan tajam. Tapi lebih kearah menyeramkan karena mata merah milik lelaki itu seperti mata seekor harimau yang ingin menerkam mangsanya. Jika itu adalah binatang, Sherina masih bisa melarikan diri mencari perlindungan namun ternyata itu adalah kakak nya sendiri mau tidak mau ia harus menghadapi badai yang datang kali ini.
“Hei *****.”Erick tertawa sarkas, ia mengangkat sebelah bibirnya dan duduk di tepi meja rias Sherina.
“K-kak....a-apa yang...”
“Kenapa ? kenapa kau ketakutan begitu ? sadar membuat kesalahan baru ya ? Dasar ja*ang.” Erick mendorong kepala Sherina menggunakan jari telunjuk yang ia letakkan di depan dahi wanita itu. Sherina ingin berontak namun ia sadar tak akan ada gunanya, malahan Erick bisa saja membuatnya lebih menderita lagi.
“Kak...? apa aku berbuat salah lagi ?” Tanya Sherina dengan nada bergetar.
“Hahaha... Fu*k... sudah pintar berbohong ya sekarang ? Oh... atau selama ini kau....” Erick melempar pandangannya kearah lain tanpa melepaskan cengkramannya di pipi wanita itu.
“Sudah banyak bohong padaku ?” Wajah Erick yang sangat dekat dengan wajah Sherina membuat wanita itu bisa merasakan hembusan nafasnya ketika berbicara.
“Maaf.” Ucapnya menundukkan kepala, ia sudah menduga pasti Erick mengetahui kedatangannya saat pergi ke rumah itu. Sherina hanya bisa meramalkan doa-doa agar sang kakak tidak berbuat hal yang paling ia takuti, seperti yang sudah ia lakukan sebelumnya.
PLAK
Terdengar tamparan keras yang mendarat di pipi Sherina, wanita itu meringis kesakitan tapi ia tak berani menyentuh pipinya karena hanya akan mendatangkan tamparan-tamparan berikutnya dari Erick.
__ADS_1
PLAK....PLAK
Kali ini dua tamparan yang Sherina dapatkan. Sakit ? jangan ditanya. Marah ? sudah pasti. Kecewa ? Sangat. Bahkan ia ingin membalas kelakuan kakaknya itu suatu saat jika ia mampu. Ia sudah tak bisa lagi hidup seperti ini.
“Sudah ?” Tanya Sherina dengan tatapan tajam, kedua pipinya terlihat sangat merah akibat bekas tamparan itu.
“Oh, mau lagi ?” Erick sudah bersiap melayangkan tamparan namun Sherina langsung menahan tangannya.
“Sampai kapan kakak akan seperti ini ? apa kakak sadar ini sangat menyakitiku ?” Teriak Sherina, tetesan air mata menghiasi pipinya.
“Sampai kau benar-benar menderita dan mati.” Balas Erick dengan nada menusuk.
“Lalu kenapa tidak langsung membunuhku saja ? kenapa selalu menyiksaku seperti ini ? Sherin capek kak, capek.”
“Membunuhmu ? kau pikir aku dan kau sama ? jangan pernah menyamakan aku dengan kau, aku ya aku, kau tetap seorang pembunuh.”
Deg
Sakit. Sangat sakit mendengar kata-kata menyakitkan itu dari mulut saudara sendiri, saudara yang selama ini selalu menyayangi nya, memanjakannya, menjaga kemana pun atau dengan siapa ia pergi. Namun kini, semuanya telah sirna, harapan-harapan dulu yang mereka impikan kini tidak akan pernah terwujud dengan hubungan yang sudah tidak sehat ini. Sherina menangis keras saat Erick pergi meninggalkannya di kamar, ia benar-benar terluka dengan sikap lelaki itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa feedback nya sayang 😘