
Jessica menyandarkan punggungnya ke salah satu kaki tempat tidur. Ia memijat kening frustasi mengingat apa yang baru saja ia dengar dari seseorang yang menelponnya. Jessica lagi-lagi menangis sendiri di kamar minimalis itu memikirkan kehidupannya yang tidak pernah sesuai keinginannya. Beberapa menit yang lalu ia baru saja mendengar kabar bahwa adiknya akan wisuda bulan depan, tentu saja membutuhkan biaya yang lumayan demi mengurus administasi atau hal-hal lainnya. Namun bukan itu yang menjadi masalah bagi Jessica, adiknya juga meminta dirinya untuk hadir diacara bahagia itu. Sudah hampir 10 tahun ia tidak bertemu adiknya tentu saja ada rasa tidak enak untuk menolak permintaan itu. Jessica bertahan hidup bahkan membiayai adiknya selama ini penuh dengan segala upaya nya sendiri, tetapi si bungsu tetap saja menuntut banyak padanya seakan-akan dirinya sudah mendapatkan warisan yang diberikan orangtua mereka dulu.
Ponselnya menyala menandakan sebuah notif masuk. Terlihat nama Erick disana, Jessica langsung menyambar ponselnya sambil membuang nafas berat. Beban apalagi yang harus ia terima setelah ini ? tidak cukupkah air matanya menetes setiap hari serta tubuh yang selalu bertahan dalam kesakitan ?
“Damn. Lelaki sialan, apa dia tidak tahu malu ? benar-benar kurang ajar.” Dengus Jessica kesal setelah membaca pesan yang dikirimkan Erick padanya. Namun sekeras apapun, sebanyak apapun ia mengeluh mau tidak mau ia terpaksa menjalankan seluruh perintah itu.
“Bahkan aku tidak tahu lagi harus menyalahkan siapa sekarang.” Menggenggam erat ponselnya.
Dengan hati berat Jessica membenahi diri agar terlihat cantik dan mempesona karena dirinya tidak akan diterima jika berpenampilan biasa saja.
TING
Jessica menekan bel apartemen milik Erick dengan wajah tersenyum, senyuman itu juga murni paksaan dari dirinya. Memang sudah seharusnya ia hidup dalam segala kepura-puraan duniawi ini.
Cklek
Pintu terbuka memperlihatkan seorang lelaki yang bertubuh tinggi tegap, wajahnya terlihat kusut dan tidak terurus. Jessica menatap lelaki itu dengan tatapan bingung, bagaimana bisa ia terlihat seperti gembel kali ini ?, pikirnya.
“Akh kau lagi, sudah kubilang langsung masuk saja.” Erick langsung meninggalkan Jessica mematung di pintu itu. Jessica menarik nafas menerka-nerka apa yang sedang terjadi lalu ikut masuk kedalam setelah menutup pintu.
“Beri aku air” Ucap Erick dengan nada lemah, Jessica langsung bergerak mengambil permintaannya.
“Tuan, Anda kenapa ? apa saya boleh memegang kening Anda ?” Tanya Jessica ragu, Erick hanya diam setelah meminum air putih itu. Dengan ragu Jessica menyentuh kening Erick dan dugaannya benar bahwa lelaki itu sedang demam. Keningnya sangat panas serta tubuhnya terlihat kedinginan.
“Tuan, anda sepertinya demam tinggi” Ucap Jessica panik. Erick hanya mengingau tidak jelas, dirinya seperti sudah tidak kuat untuk bicara.
“Tuan, istirahat di kamar saja ya.” Tanpa menunggu jawaban, Jessica membawa Erick masuk kedalam kamar merebahkan tubuh lelaki itu disana.
“Sebentar saya panggilkan dokter kemari.” Ucap Jessica menarik selimut sampai dada Erick.
Setengah jam kemudian, seorang lelaki datang mengetuk pintu. Jessica langsung menyuruhnya untuk masuk kedalam kamar memeriksa keadaan Erick.
“Bagaimana dok ?” Tanya Jessica cemas.
__ADS_1
“Dia demam tinggi tapi tidak perlu khawatir, cukup istirahat saja sampai tubuhnya benar-benar pulih dan jangan lupa obatnya diminum dengan teratur.” Ucap Dokter yang dipanggil Jessica beberapa jam yang lalu.
“Baik, terimakasih dok.” Jessica mengantar dokter itu keluar, setelah itu Jessica membersihkan apartemen Erick yang sudah seperti kapal pecah. Ia sudah biasa melihat keadaan seperti ini, Erick tidak membiarkan orang lain yang membersihkan apartemennya dan hanya menunggu Jessica datang padanya serta membersihkan unit nya itu.
Satu jam berlalu, Jessica duduk sambil mengusap keringat di pelipisnya. Ia meneguk segelas air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang sudah kering.
“Oh iya, apa dia sudah makan ?” Jessica melangkah kearah kulkas melihat bahan makanan yang ada, namun dirinya lagi-lagi menarik nafas mengingat kulkas itu tidak pernah sekalipun diisi bahan makanan karena biasanya Erick hanya numpang tidur disini jika dia menginginkan tubuh Jessica.
“Apa aku harus pergi ke supermarket ?” Gumam Jessica merasa kasihan kepada Erick yang sedang sakit. Lalu ia pun bergegas mengambil tas dan ponselnya untuk membeli bahan makanan ke supermarket terdekat.
Bubur ayam buatan Jessica kini sudah tersaji diatas meja makan, serta ada beberapa buah-buahan yang sudah ia kupas. Wajahnya tersenyum melihat hasil kerja kerasnya memasak bubur itu, ia bukan seorang yang pandai memasak namun saat mencicip masakannya bibirnya tersenyum puas.
“Semoga dia suka.” Gumamnya sambil menuangkan air hangat.
“Tuan, bangun. Sudah waktunya anda makan dan minum obat.” Ucap Jessica lembut sambil menggoyang-goyangkan bahu Erick. Merasa terusik Erick membuka matanya perlahan, menatap manik Jessica yang melihatnya sendu.
“Saya sudah buatkan bubur ayam untuk Tuan, semoga Anda suka.” Jessica membantu lelaki itu duduk kemudian menyerahkan semangkuk bubur ayam kehadapan Erick yang diletakkan diatas nampan.
Walaupun sedang sakit dia masih saja punya tenaga untuk marah-marah.
“Maaf, biar saya bantu Tuan.” Jessica menyuapi Erick dengan sabar seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya yang sedang sakit. Tidak ada komentar-komentar pedas dari mulut lelaki itu, ia begitu anteng makan bubur ayam dari Jessica.
“Kau masak sendiri disini ?” Tanya Erick setelah minum obat, Jessica mengangguk merespon pertanyaan lelaki itu.
“Ya sudah, silahkan istirahat dulu Tuan. Anda butuh banyak istirahat agar segera pulih.” Ucap Jessica mengambil nampan yang berisi mangkuk dan gelas bekas Erick. Baru saja ingin beranjak dari duduknya, Jessica merasa tangannya ditahan oleh lelaki itu.
“Jangan pergi” Ucap Erick dengan nada lemah.
Apa yang terjadi padanya ? apakah jika orang sakit memang bersikap seperti ini ? Jessica terdiam mendengar ucapan Erick.
“Saya antar ini dulu ke dapur Tuan.”
“Tidak usah. Letakkan saja disitu, cepat naik kesini.” perintah Erick dengan mata terpejam.
__ADS_1
Sialan, ujung-ujungnya tidur dengannya juga ? Aku menyesal merawatmu. Jessica memutar bola matanya, pasrah akan perintah Tuan muda itu.
“Ahh, kau sangat hangat.” Ucap Erick memeluk tubuh mungil Jessica.
“Kau sangat cantik dan menggoda, maafkan aku sudah menyakitimu selama ini.”
Deg
Apa-apaan ini, kenapa tiba-tiba dia berubah seperti ini ? dan... apa yang dia ucapkan itu benar ? Akh, sadarlah Jessica paling habis ini kau akan disiksa lagi. Batinnya sambil memejamkan mata, membalas pelukan Erick dengan tulus. Setidaknya hari ini ia harus membuat lelaki itu merasa nyaman dengannya.
“Emmm... Tuan apa aku boleh bertanya ?” Ucap Jessica memberanikan diri. Erick yang membenamkan wajahnya didada Jessica hanya mendehem pelan menandakan bahwa Jessica boleh menanyakan sesuatu padanya.
“Anda sedang sakit seperti ini, apa saya harus memberitahu Sherina ?”
“Kenapa kau sempat berpikir seperti itu ?” Tanya Erick tanpa mengubah posisinya.
“Emmm, walau bagaimanapun dia adik anda sendiri. Jadi menurut saya dia harus tahu keadaan anda”
“Tidak perlu Jessica, cukup kau saja disini bersamaku. Aku akan baik-baik saja.”
Deg
Lagi-lagi jantung Jessica berdetak lebih cepat dari biasanya, ia menarik nafas pelan menenangkan diri. Hari ini Erick benar-benar bahaya, pikirnya.
.
.
.
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘
__ADS_1