
Seminggu kemudian
Wisnu tidak percaya hari ini ia mendapatkan informasi dari HRD bahwa salah satu staf nya mengirimkan surat pengunduran diri setelah satu minggu ini tidak ada kabar. Wisnu langsung mengecek ponselnya barang kali ada notif pesan dari wanita itu untuknya.
Bagaimana bisa dia pergi tanpa memberitahuku ? dan.. setelah seminggu ini menghilang dia bisa-bisanya pergi seperti ini ? Batin Wisnu
“Selamat sore pak Wisnu, ini barang-barang Jessica yang masih tertinggal di mejanya taruh dimana ya ?” Tanya Bora membawa beberapa barang-barang Jessica.
“Oh ? Letakkan disini saja, besok-besok manatau dia datang mencarinya.” Balas Wisnu
“Oh iya pak, kalau boleh tahu kenapa ya Jessica mengundurkan diri ? dan dalam seminggu ini dia tidak masuk apakah alasannya sudah ada ? barangkali bapak dapat info, soalnya saya dan teman-teman lain juga penasaran pak takutnya dia tidak nyaman bekerja dengan kita.” Ucap Bora mengutarakan isi hatinya.
“Hah ? Aku juga tidak tahu dan belum mendapatkan informasi, tapi kalau masalah nyaman atau tidak kurasa dia nyaman-nyaman saja disini. Toh dia juga jarang kan berbicara dengan kita semua.” Respon Wisnu membuat Bora mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
“Baiklah kalau begitu saya kembali dulu ya pak, terimakasih sebelumnya.” Pamit Bora kembali ke meja kerjanya.
Wisnu tak fokus mengerjakan tugasnya, masih penasaran kira-kira apa alasan Jessica memutuskan untuk mengundurkan diri dari sana. Semenjak dia mengantar pulang Jessica ia tidak pernah lagi melihat wanita itu bahkan sudah seminggu lamanya dia tidak juga masuk kantor sehingga tugas-tugasnya harus dibantu oleh rekan lain.
Apa mungkin dia tersinggung saat aku menasehatinya ? akh, kalau benar karena itu aku akan merasa seperti orang jahat.
Wisnu menggerak-gerakkan kursor dilayar komputer itu dengan pikiran yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan file-file yang ia buka.
“Sial, aku sama sekali tidak fokus” Akhirnya Wisnu mengambil ponselnya kemudian mengetikkan sesuatu disana dengan cepat, setelah itu ia simpan kembali ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Semoga nanti sudah dapat kabar.
Di apartemen Wisnu
“Huh. Aku sungguh tidak paham dengan isi pikiranmu, kenapa tiba-tiba kau seperti ini ? kau sudah tahu kan dia itu perempuan seperti apa dan bagaimana. Apa masih kurang jelas agar besok-besok aku langsung ambil slot saja agar bisa tidur dengannya didepan matamu.” Ucap Javier merasa lelah, kesal semuanya tergambar dari ekspresinya menatap Wisnu yang ada dihadapannya.
“Sekarang jelaskan padaku sejelas-jelasnya kenapa kau nekat seperti ini ? aku bukannya tidak ingin membantumu, tapi aku merasa kau terlalu membuang-buang uang hanya untuk wanita seperti dia.” Javier menghembuskan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
“Jaga bicaramu Javier!” Wisnu menatap tajam kearahnya.
“Hahahaha. Lihatlah kelakuanmu sekarang, bahkan kau membelanya padahal dia bukan siapa-siapamu.” Kekeh Javier.
“Siapa bilang aku tidak mengenalnya ? dia staf ku, jadi wajar saja jika aku khawatir.”
__ADS_1
“Bukankah tadi kau bilang kalau dia sudah mengundurkan diri ? lalu sekarang kau ingin beralasan apalagi ? oh, atau kau.... menyukainya ?” Javier memicingkan mata menebak apa yang ada didalam pikiran Wisnu.
“Javier, sejak kapan kau seperti ini padaku ? semakin lama tingkahmu semakin seenaknya ya.” Wisnu geram karena Javier terus-terusan mencari tahu perasaannya.
“Hahaha..... Baiklah kalau memang begitu keinginanmu, aku harap apapun yang kau peroleh nanti kau tidak akan menyesal.” Javier menghembuskan nafas kasar, lalu meraih jaketnya dan pergi meninggalkan Wisnu yang masih tenggelam dengan emosinya.
“Oh ya, satu lagi. Masih banyak wanita diluar sana yang akan menerimamu jangan terlalu larut dengan mantan pacarmu dulu, Tuan Wisnu.” Ucap Javier penuh penekanan sebelum membuka pintu apartemen.
Wisnu menggepalkan kedua telapak tangannya mengingat perkataan Javier. Ia tidak bisa mengelak kalau apa yang disampaikan Javier itu benar hanya saja hatinya sungguh masih sulit mendeskripsikan apa sebenarnya tujuannya.
“Bukankah waktu itu ada adik Erick di kantor ?” Gumam Wisnu mengingat minggu lalu ia melihat Sherina berbicara dengan resepsionis.
“Jessica juga sepertinya waktu itu terlihat ketakutan, apa semua ini ada hubungannya dengan pengunduran dirinya ?” Wisnu mengeluarkan segala argumen yang ada dalam pikirannya.
“Aku akan menyelidiki ini sendirian, Javier hanya membuatku semakin terlihat menyedihkan saja.” Tekat Wisnu meyakinkan dirinya.
Jessica mengemasi barang-barangnya kedalam koper setelah mengunci pintu dan menutup jendela. Ia memasukkan barang-barang yang penting saja untuk dibawa ke luar negeri menghadiri hari wisuda adiknya nanti. Setelah menyimpan barang-barangnya Jessica duduk ditepi ranjang, seperti biasa melamun memikirkan hal-hal yang tak kunjung selesai.
“Tiga minggu lagi dia akan merayakan hari kelulusannya, semoga dari ini dia bisa hidup sendirian.” Gumamnya mengingat adik lelakinya yang selama ini ketergantungan padanya.
Dua hari kemudian
Jessica duduk disebuah kafe menunggu seseorang yang sebelumnya sudah berjanji padanya akan datang ketempat itu. Jessica termenung sambil memutar-mutar sedotan kopinya, entah apa yang ia pikirkan tak ada yang tahu, wanita ini memang sering melamun tidak jelas seperti ini atau mungkin karena beban hidupnya yang ia pendam sendiri. Entahlah, dia juga tidak pernah bertukar pikiran dengan orang lain untuk mengurangi beban yang ia pikul itu.
“Hei, maaf aku baru saja selesai.” Tepukan tangan di bahunya menyadarkan Jessica dan menoleh pada suara itu.
“Tidak apa-apa” Jessica tersenyum dan menyuruhnya duduk.
“Bagaimana kabarmu ??”
“Seperti yang kau lihat” Mata sendunya tidak bisa berbohong bahwa hari-harinya begitu sulit.
“Alright, lalu ada apa mengundangku kesini ?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin saja.” Balas Jessica cepat.
Seandainya aku memiliki hak, aku akan meneriakimu sekarang juga Jessi. Kau tidak tahu seberapa khawatirnya aku menunggu kabarmu.
__ADS_1
“Bagaimana di kantor ?” Tanya Jessica tanpa menatap lelaki itu.
“Seperti biasa, semuanya bekerja keras.”
“Ya, aku tahu. Ini kebodohanku menanyakan tentang itu, semuanya pasti akan baik-baik saja.” Jessica membuang nafas berat.
Tidak Jessi, tidak sama sekali. Semuanya tidak baik-baik saja, andaikan kau tahu bagaimana tidak fokusnya aku saat mengerjakan pekerjaanku demi bolak balik melihat ponsel hanya untuk menunggu notif darimu.
Batinnya, namun wajahnya tidak menunjukkan kesedihan sama sekali.
“Aku ingin mengucapkan terimakasih atas semua kebaikanmu padaku, terimakasih sudah mempedulikan aku selama masih jadi bawahanmu.” Ucap Jessica tersenyum paksa, namun padangannya tetap kearah cup kopi nya.
“Ya sudah seharusnya aku seperti itu.” Wisnu terkekeh pelan, tawa itu hanya pelarian agar ia bisa menenangkan dirinya.
“Maaf” Wisnu menatap Jessica saat wanita itu mengeluarkan kata-kata itu.
“Maaf ? kau tidak punya salah apa-apa Jessi, untuk apa meminta maaf padaku ?” Ucap Wisnu masih dengan senyum palsunya.
“Tidak, aku banyak salah padamu. Hanya saja aku terlalu pandai untuk menutupinya, sehingga kau tidak sadar.” Senyum dibibir Jessica membuat Wisnu ingin melahap nya sangkin kesalna karena wanita didepannya ini sangat pintar menyembunyikan apapun dari semua orang namun bukan Wisnu namanya kalau tidak paham, bahkan ia pernah dijuluki lelaki terpeka di kampusnya dulu.
“Hahaha, tidak apa-apa. Selagi aku tidak tahu dan tidak merasa rugi aku tidak akan peduli.” Balas Wisnu
“Untuk pengunduran diriku secara tiba-tiba” Wisnu tersentak, tak percaya Jessica akan membahas hal itu.
“Aku minta maaf karena tidak memberikan alasan apapun padamu seminggu sebelum surat itu kukirimkan dan malah membuat pekerjaan di kantor keteteran.” Ucapnya lagi dengan nada menyesal.
“Tidak apa-apa, aku paham.” Wisnu sama sekali tidak mencela setiap wanita itu bicara padanya, ia hanya ingin Jessica bercerita dengan nyaman padanya tanpa dipaksa.
.
.
.
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘
__ADS_1