KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Mau Minum Bersama ?


__ADS_3

“Kau ada kegiatan lain setelah ini ?” Tanya Jessica tiba-tiba.


“Uhuk...uhuk..” Jessica segera memberikan air minum untuk Sherina, ia menatap gadis itu minum hingga tenggorokannya kembali normal.


“Aku kaget” ujar Sherina sembari meletakkan gelas.


“Kau tadi tanya apa ? kegiatan lain setelah ini ?” Sherina mengulang pertanyaan Jessica, yang ditanya hanya mengangguk pelan. Sherina menatap lekat mata Jessica, mencoba menerka-nerka kira-kira apa yang membuat Jessica seperti ini. Tiba-tiba bertanya kegiatan lain ? Ah, sungguh. Ini bukan Jessica yang seperti biasanya.


“Tidak ada, kenapa ?” Sherina menjawab santai pertanyaan Jessica, karena ia tak ingin berharap lebih.


“Mau minum bersama ?” Tanya Jessica dengan wajah penuh harap.


“HAH?” Lagi-lagi Sherina terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut wanita itu.


“Kenapa dari tadi kau terkejut setiap aku bertanya ? apa ada yang salah ?” Tanya Jessica bingung. Sherina dengan cepat menggelengkan kepalanya, tidak ingin membuat Jessica berubah pikiran.


“Ayo minum bersama aku akan mentraktirmu.” Ucap Sherina tersenyum lebar.


“Ah tidak, aku saja yang menraktirmu sekalian sebagai bentuk kebahagiaanku hari ini.” Ucap Jessica dengan nada lembut. Adem. Itulah yang dirasakan Sherina. Andai saja Jessica begini setiap hari, sudah pasti ia minta tinggal di rumah wanita itu.


“Oke, kita langsung kesana apa kau mau berganti pakaian dulu ?” tanya Sherina


“He-em aku ganti pakaian saja dulu” ucapnya.


Setelah mengganti pakaian, mereka memutuskan pergi ke mall terlebih dahulu karena Sherina ingin membeli beberapa skincare disana. Namun sebelum melajukan mobilnya, ia terlebih dahulu menghubungi Erick untuk meminta ijin.


“Apa kau selalu minta ijin kepada kakak mu ?” Tanya Jessica agar suasana tidak terlalu sunyi.


“Ho-oh, aku melakukan ini dari dulu. Dia anaknya gampang ngambek kalau nggak dikasi tahu mau kemana, mau apa, sama siapa. Udah kaya suami yang posesif aja ya ?” Jelas Sherina sambil tetap fokus mengemudi. Jessica hanya mengangguk dengan obrolan yang menurutnya tidak penting itu.


“Aku kadang merasa kasihan dengan kak Erick, dia persis sepertimu. Tidak suka meladeni orang yang menurutnya tidak penting, tidak suka bertele-tele, sangat keras kepala. Tapi....” Sherina menghentikan sejenak ucapannya saat diperbelokan. Sedangkan Jessica hanya diam menunggu gadis itu melanjutkan penjelasannya.


“Entah kenapa aku merasa sangat nyaman jika berada diantara orang-orang yang memiliki sifat seperti kalian.” Menghembuskan nafas berat.

__ADS_1


“Terlalu gengsi untuk minta bantuan, sok paling kuat.....” Sherina diam. Kemudian melirik Jessica yang fokus menatapnya.


“Kenapa menatapku seperti itu ?” Ucap nya sambil terkekeh.


“Aku tidak setuju dengan perkataanmu yang berisi TERLALU GENGSI MEMINTA BANTUAN, SOK KUAT itu.” Ucap Jessica dengan penuh penekanan.


“Heuh ? kenapa ?” Sherina merasa berhasil memancing obrolan dengan Jessica. Dengan begitu, ia akan terbantu untuk mengetahui sifat Jessica.


“Karena itu tidak benar, lagian untuk apa kau meminta bantuan jika kau sendiri bisa melakukannya ? kenapa kau terlihat lemah seolah-olah tak punya harapan apapun sedangkan diluar sana masih banyak cara, langkah yang bisa kau lakukan untuk mewujudkan keinginan mu ? Apa dengan begitu seseorang dikatakan sok kuat ?” Jelas Jessica panjang lebar.


“Aku rasa tidak perlu berlama-lama untuk melakukan sesuatu, yang ada kau hanya kehilangan harapan didepan sana.” Ucap Jessica berapi-api. Seolah-olah ia ingin dimengerti kenapa sikapnya seperti ini. Sherina tersenyum lebar mendengar penjelasan Jessica, tanpa sadar Jessica sudah bicara banyak dengannya hari ini. Tidak seperti biasanya.


Jessica dan Sherina terlihat sibuk kesana kemari di mall. Tadi sebelum berangkat mereka hanyan ingin mampir untuk membeli beberapa skincare Sherina yang sudah menipis, namun ternyata saat sampai mereka tertarik saat melirik beberapa pakaian yang dipajang disana. Tidak hanya itu, mereka bahkan sudah menenteng beberapa pakaian dan tas. Sherina menyenggol lengak Jessica dengan sikunya, matanya memberi isyarat untuk melirik sepatu keluaran terbaru yang kebetulan diberi diskon besar-besaran. Jessica tertarik dan langsung masuk kedalam, ia tak peduli dengan Sherina yang masih diluar memandang sepatu itu.


“Wahh ini keren sekali” Jessica mengelus sepatu dengan hati-hati.


“Wah, keren. Aku harus membeli ini” Ucap Sherina dengan mata berbinar, tangannya ikut mengelus sepatu itu.


“Tidak, aku duluan yang memegangnya, ini untukku.” Secepat kilat Jessica langsung mendekap sepatu yang diinginkannya. Sherina tak mau kalah, ia menarik paksa sepatu itu dengan mata melotot.


“Tidak, ini milikku. Cari sepatu lain, masih banyak yang bagus-bagus itu.” ucap Jessica mempertahankan barang yang dia anggap hanya miliknya.


“Nggak mau, aku maunya itu. siniin.” Sherina merengek sambil tetap berusaha merebut sepatu yang ada didekapan Jessica.


“Walaupun kau yang melihatnya, tapi aku duluan yang memegangnya.”


“Apa-apaan, kau curang. Kan aku duluan yang memberitahumu.” Sherina berapi-api. Perdebatan tentang sepatu itu tak akan berhenti kalau saja pegawai disana tak melerai mereka.


“Ini memang hanya tinggal satu, jadi kalian berunding saja siapa yang membeli ini.” ucapnya dengan nada ramah.


“Saya duluan mbak, saya yang melihatnya duluan.” Ucap Sherina masih tak mau melepaskan genggamannya dari sepatu itu.


“Tapi saya duluan yang pegang mbak, jadi ini milik saya.” Tak mau kalah.

__ADS_1


“Nggak boleh begitu, aku yang melihatnya duluan. Kalau tidak kuberi tahu, tak mungkin kau memegangnya.” Sherina masih tetap mempertahankan haknya. Pegawai itu memijat kedua pelipisnya melihat tingkah dua wanita yang sedang berselisih didepannya.


“Begini saja mbak-mbak cantik, coba lihat dulu ukuran sepatu ini. Manatau ukurannya tidak sesuai diantara kalian.” Ucap pegawai itu memberi saran. Jessica dan Sherina saling menatap dengan posisi tangan yang masih berpegangan di sepatu itu.


“Kalau begitu, aku coba duluan.” Ucap Jessica tak mau kalah.


“Huh! Okeh, kau coba dulu, aku yakin itu tak muat di kaki mu.” Sherina meremehkan.


Jessica tersenyum menang dan langsung mencocokkan di kakinya. Perlahan senyuman yang mengembang di bibir mungil itu pudar, ia mengeluarkan kakinya dari sepatu itu dengan rasa kesal. Sherina yang melihatnya pun langsung tersenyum licik, ia sudah bersiap untuk mengejek Jessica dengan berbagai kalimat.


“Hahaha, apa kataku. kau tak akan bisa memilikinya karena ini memang ditadirkan untuk Sherina.” Ucapnya dengan nada sombong. Jessica mendengus kesal sambil mengerucutkan bibir.


“Ahh, kamu memang hanya milikku. Tak ada yang bisa memisahkan kita kan ? uhhh cantiknya.” Sherina menatap sepatu itu dengan mata berbinar.


“Silahkan di coba dulu mbak.” Ucap pegawai itu menyadarkan Sherina yang merasa sudah menang.


“Okay” tersenyum lebar. Namun kesombongan yang baru saja ia pamerkan, mendadak jadi boomerang sendiri untuknya. Tawa Jessica membuat Sherina menatap wanita itu dengan tatapan malas.


“Haha, ini milikmu ya ? Ohh, yasudah ambil saja.” Ucap Jessica dengan nada mengejek. Sherina mendengus kesal, sambil meletakkan kembali sepatu itu di rak sebelumnya.


“Jadi ini tidak jadi dibeli ya mbak ?” Tanya pegawai itu menahan tawanya.


“Jadi mbak, tadi kan dia sudah sombong pake bilang itu memang miliknya. Hahaha” lagi-lagi Jessica tertawa keras. Sherina yang merasa malu hanya ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala ke pegawai itu.


“Maaf yaa mbak udah buat keributan disini.” Ucap Sherina merasa tak enak.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2